Minggu, 30 Juni 2019

no image

Para Jawara Di Ajang Bandung Lou Han Competition Contest 2018

Tanpa perlawanan berarti, cinhua milik William asal Bandung sukses merajai kontes. Kampiun cinhua A itu unggul telak di babak grand champion. Lima penilai asal Bandung, Salatiga, Garut, dan Semarang, sepakat menyematkan gelar grand champion, la menyingkirkan pesaing utama, kampiun cinhua B milik Wendy asal Bandung. Bandung Lou Han Competition 2018 itu juga menobatkan ryukin senior milik Kiking Zamorano asal Bandung sebagai terbaik.

Kemenangan yang digapai kampiun cinhua > 23 cm itu sudah diprediksi sebelumnya. Peraih grand champion pada Walikota Cup Bandung 2003 itu memang prima. Nongnong besar, tubuh proporsional, dan corak metalik di sisik pangkal ekor solid. “Yang istimewa tubuhnya besar,” ucap Ferfdy juri asal Garut. Panjang tubuh ikan yang memiliki sedikit taburan mutiara itu mencapai 28 cm. Bandingkan dengan pesaing beratnya, kampiun cinhua B, yang berukuran 18 cm. Lou han milik Wendy itu tak kalah prima. Tubuh proporsional, nongnong bulat penuh, dan tubuh bertabur mutiara.

Perjuangan berat sang grand champion justru terjadi saat beradu cantik dengan peserta di kelasnya. Ikan penghuni akuarium 1 itu harus bertarung keras sejak babak 10 besar melawan penghuni akuarium 3,7, dan 45. Di babak final, sang grand champion mempecundangi semua lawan dengan total nilai 244.8. Berturut-turut juara ke-2 dan ke-3 direngkuh akuarium 45 dan 3 dengan total nilai masing-masing 237,7 dan 234.

Lou Han Competition
Lou Han Competition

Singkirkan ranchu jumbo

Di kategori maskoki, perebutan grand champion berlangsung sangat ketat. Ryukin milik Kiking Zamorano asal Kota Kembang sukses menyingkirkan semua pesaing kampiun oranda senior, open, ranchu senior, dan ranchu jumbo. Yang disebut terakhir merupakan grand champion di Alfamart Fish Competition

2018 sebulan silam di Plaza Maspion, Jakarta. Ryukin peraih kampiun ryukin senior di Alfamart Fish Competition 2018 itu unggul hingga babak akhir karena terus bergerak aktif. Andai sang pesaing ranchu jumbo tidak loyo, gelar grand champion mungkin direngkuh. Maklum, klangenan yang juga milik Kiking Zamorano itu bersosok sangat prima. Lengkung punggung membentuk setengah lingkaran sempurna dan tubuh terlihat berotot.

Di kelas top view, ranchu lagi lagi milik Kiking mendulang juara ke-1 sampai ke-3. Sapu bersih juga terjadi di kelas tosakin, terbaik hingga juara ke-3 direbut Ever Tagoli dari Bandung. Maskoki-maskoki milik Kiking yang turun di semua kelas banyak meraih juara. Wajar, bila gelar juara umum pun berhasil didapat oleh pengusaha tekstil di Bandung itu.

Menurut Nandy, ketua panitia kontes, Bandung Lou Han Competition 2018 dari 15—18 April itu mayoritas diikuti peserta asal Jawa Barat, seperti Bandung, Tasikmalaya, Karawang, Garut, dan Sukabumi. Peserta luar Jawa Barat hanya datang dari Jakarta dan Temanggung. “Untuk lou han ada sekitar 250 peserta dan maskoki sekitar 100 peserta,” ujarnya.

Jumat, 28 Juni 2019

no image

Varian Ikan Palmas ( Polypterus ornatipinnis) Favorit Para Pehobiis

Wajahnya menyeramkan bagai monster. Namun, karena tampang itulah Polypterus ornatipinnis banyak digandrungi hobiis. Dari balik kaca 80 cm x 60 cmx 60 cm itu ikan bercorak hitam kecokelatan amat menawan. Di tanah air, 6 jenis polypterus berhasil ditangkarkan.

Menurut Kosasih Wibowo, kolektor di Bandung Jawa Barat, seekor P. ornatipinnis berukuran 5 cm laku dijual Rp33.000. Untuk ukuran serupa, P. senegals, Rp20.000; P. delhezi, Rp50.000; dan P. palmas, Rp 100.000. Harga—harga itu terbilang tinggi. Maklum, produksi ikan hias asal Afrika itu rendah. P. palmas, misalnya, menelurkan 500 anakan setahun sekali dengan tingkat kelulusan hidup 50%. “Yang bisa besar hanya puluhan ekor,” ujarnya. Cuaca, pakan, dan kualitas air. ikut andil untuk pertumbuhan selanjutnya.

Induk-induk polypterus langka di pasaran. Kosasih mendatangkan dar. Afnka lewat importir. Sebab itu ia enggan melepas indukan, meski ada yang menawar tinggi. Harga seekor induk berukuran 30 cm mencapai Rp 1-juta. Kini, bungsu dari 2 bersaudara itu mengkoleksi 200 ekor P. senegals, 200 R palmas, 1007? delhezi, 50 ekor P. endlicheri, 50 P. ornatipinnis, dan 25 P. retropinnis. Induk siap kawin minimal berumur 2—4 tahun atau berukuran 30— 35 cm.

Permintaan polypterus diakui tinggi. “Berapa pun yang ada pasti laku,” kata Jap Kiat Bun, eksportir ikan hias di Cibinong, Bogor. Berikut polypterus yang berhasil ditangkarkan di tanah air. Muka Monster yang Dicari Wajahnya menyeramkan bagai monster. Namun, karena tampang itulah Polypterus ornatipinnis banyak digandrungi hobiis. Dari balik kaca 80 cm x 60 cmx 60 cm itu ikan bercorak hitam kecokelatan amat menawan. Di tanah air, 6 jenis polypterus berhasil ditangkarkan.

Menurut Kosasih Wibowo, kolektor di Bandung Jawa Barat, seekor P. ornatipinnis berukuran 5 cm laku dijual Rp33.00. Untuk ukuran serupa, P. senegals, Rp20.000; P. delhezi, Rp50.000; dan P. palmas, Rp 100.000. Harga—harga itu terbilang tinggi. Maklum, produksi ikan hias asal Afrika itu rendah. P. palmas, misalnya, menelurkan 500 anakan setahun sekali dengan tingkat kelulusan hidup 50%. “Yang bisa besar hanya puluhan ekor,” ujarnya. Cuaca, pakan, dan kualitas air. ikut andil untuk pertumbuhan selanjutnya.

Induk-induk polypterus langka di pasaran. Kosasih mendatangkan dar. Afnka lewat importir. Sebab itu ia enggan melepas indukan, meski ada yang menawar tinggi. Harga seekor induk berukuran 30 cm mencapai Rp 1-juta. Kini, bungsu dari 2 bersaudara itu mengkoleksi 200 ekor P. senegals, 200 R palmas, 1007? delhezi, 50 ekor P. endlicheri, 50 P. ornatipinnis, dan 25 P. retropinnis. Induk siap kawin minimal berumur 2—4 tahun atau berukuran 30— 35 cm.

Permintaan polypterus diakui tinggi. “Berapa pun yang ada pasti laku,” kata Jap Kiat Bun, eksportir ikan hias di Cibinong, Bogor. Berikut polypterus yang berhasil ditangkarkan di tanah air.

1. Polypterus ornatipinnis

Tubuh bulat panjang dengan kepala mirip ular. Sekujur tubuh ikan asli sungai Monsembe dan Kassai di Kongo itu diselimuti totol-totol kuning keemasan menyerupai batik. “Sisiknya paling keras dibanding jenis lainnya,” papar Kosasih. Panjang tubuh dewasa mencapai 75 cm.

2. Polypterus palmas

Guratan vertikal kuning keemasan tampak di sekujur tubuh. Corak mirip P ornatipinnis, tapi lebih samar. Ikan dewasa mencapai 65 cm. Ia berasal dari sungai-sungai di Sierra Leone, Liberia, dan Kongo.

3. Polypterus senegals

Jenis ini agak mudah dijumpai di gerai-gerai ikan hias di Jakarta. Kepala sedikit membulat mirip ular menjadi ciri khasnya. “Hasil silangan bisa memunculkan albino,” ujar Kosasih. Ikan mutasi itu dihargai lebih tinggi, Rp500.000 per ekor.

Ikan yang mencapai ukuran 20—25 cm itu dikenal tahan banting dalam pemeliharaan.

4. Polypterus retropinnis

P. retropinnis pendatang anyar di tanah air. Ia bertubuh bulat panjang dengan bintik—bintik kuning di sekujur tubuh. Di Indonesia sedikit yang punya. Kosasih mendatangkan 25 ekor berukuran 25 cm 3 bulan silam. Lantaran langka, harga seekor induk mencapai Rp 1-juta.

5. Polypterus delhezi

Ia disukai hobiis. Sosoknya cantik lantaran totol-totol kuning berpadu warna cokelat dan semburat hitam di sekujur tubuh. Jenis yang mudah ditemukan di sungai di Kongo itu bisa mencapai panjang 75 cm.

6. Polypterus endicheri endlicheri

Tubuh pipih bercorak loreng-loreng hitam cokelat di sekujur tubuh. Jenis ini paling diminati hobiis mancanegara. Variasi lain berwarna lebih terang, P. endlicheri congicus.

 

no image

Manfaat Burung Merpati , Sebagai Alat Pembantu Manusia Dan Komoditi Bisnis

Burung merpati Columba livia sangat penting bagi setiap mahasiswa yang mengalami perploncoan pada awal 1970-an. Dengan susah payah saya mendapatkan yang betul-betul putih untuk dilepaskan di halaman kampus Universitas Indonesia. Mahasiswa baru Fakultas Sastra memang diharuskan membawa merpati putih. Mahasiswa Fakultas Hukum membawa yang merah atau gambir. Sedangkan Fakultas Teknik biru atau kelabu. Lainnya bebas. Boleh blorok, blirik, atau belang-belang. Harapannya, dalam satu atau dua generasi mendatang, taman-taman di Jakarta penuh merpati seperti lazimnya taman-taman kota di negeri maju.

Columba livia
Burung Merpati Karang

Setelah 30 tahun berlalu, burung merpati tak kunjung memenuhi taman-taman kota di Indonesia. Padahal ribuan teman mereka berhamburan di Central Park, New York; Trafalgar Square, London; maupun Dam Square, dekat stasiun sentral Amsterdam.

Meskipun begitu, berbagai jenis merpati hias, merpati balap, merpati tinggi, merpati pos, dan merpati goreng, dapat dilihat dan dinikmati di desa dan kota Indonesia. Di Yogyakarta, saya mengenal pengusaha restoran burung dara goreng yang paling sedikit menyajikan 200 ekor dalam seminggu, atau 30 porsi setiap malam.

Belum lagi penyalur daging merpati beku di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka bukan saja mengirim ke luar negeri (khususnya Singapura dan Hongkong), tapi juga ke kota-kota kecil di Kalimantan dan Pekanbaru, Riau.

Mengenai merpati goreng mentega ini, saya punya kenangan pilu. Seorang mahasiswi sefakultas yang kemudian menjadi ibu anak-anak saya, mengajak makan di restoran untuk merayakan lulusnya sebagai saijana. Saya memesan burung dara goreng, sebagai isyarat untuk mengajaknya terbang ke langit.

Waduh! Ternyata dia hanya makan irisan mentimun dan tomat. Burung dara goreng itu sama sekali tidak dilirik, apalagi disentuhnya. Ya, Tuhan… maafkan saya. Ternyata tidak semua orang Indonesia pemangsa unggas. Apalagi pelahap burung dara!

Masih banyak yang suka merpati tapi tidak mengkonsumsi telur apalagi dagingnya. Di Jakarta Timur saya mengenal kolektor merpati hias, Sayogo, namanya; yang rela keluar berjuta rupiah untuk memiliki merpati impor. Ternyata bentuk, warna, dan perangai merpati ada banyak macam. Dewan Omitologi—badan dunia yang mengurusi perburungan— memamerkan profil lebih dari seratus jenis merpati hias dari 318 spesies burung dara yang hidup di bumi.

Merpati Sebagai Kurir Surat Pada Periode perang

Pada mulanya, burung dara hidup di gua-gua karang di tebing pantai. Mulai sekitar 4.500 tahun sebelum Masehi mereka dipelihara oleh ibu-ibu sebagai cadangan daging, sementara para suami pergi berburu. Karenanya jangan heran, kalau monumen dan kandang-kandang merpati paling legendaris merupakan warisan wanita terkenal. Misalnya kandang merpati dari batu, peninggalan Elizabeth Arden, ibunda sastrawan terkemuka,    William Shakespeare di desa Stradford Upon Avon, Inggris. Selanjutnya peran merpati meningkat sebagai pengantar pesan. Masih ingat Cleopatra? Ratu Mesir di zaman purba itu juga mempekerjakan merpati untuk menghubungi Markus Antonius, kekasihnya. Dinas pos paling tua dalam sejarah manusia memang ditunaikan oleh merpati.

Itu sebabnya mereka bisa menjadi pahlawan. Contoh lain yang terkenal adalah Cher Ami, dara jantan hitam yang banyak mendapat bintang penghargaan.

Dalam satu kisah, merpati Cher Ami menyelamatkan 194 pasukan yang terjebak. Pada tahun 1919 Cher Ami gugur karena luka-luka perang yang diderita. Jasadnya diawetkan dan dipamerkan di museum nasional AS di Behring Center. Pada 1931, ia mendapatkan medali emas dan masuk dalam Hall of Fame merpati balap, dengan jasa-jasa yang luar biasa.

Sebagai simbol Burung cinta

Satu reputasi burung dara yang paling klasik adalah sebagai simbol cinta. Mengapa? Mitos mengatakan merpati adalah pendukung monogami. Kalau pasangannya mati, yang tinggal akan terus menduda atau menjanda sampai mati. Betulkah begitu?

Pemerintah negara bagian Connecticut, kawasan yang merpatinya paling banyak di Amerika Serikat, mengakui hal itu. Memang uniknya, di alam bebas, tiap kerumunan burung dara terdiri dari jantan dan betina dengan jumlah seimbang, bahkan cenderung sama.

Di Jawa kesetiaan merpati dimanfaatkan untuk lomba. Merpati betina ditinggalkan di rumah, jantannya dibawa pergi. Nah, dalam kerinduan yang menggebu-gebu, terbanglah si jantan mencari tambatan hatinya.

Budidaya Merpati Ladang bisnis

Bisnis apakah yang tercipta oleh hubungan manusia dan merpati? Cukup banyak, meski Pigeon Watch belum pernah memperhitungkannya. Pigeon Watch adalah badan pemerhati merpati yang didirikan oleh Pusat Omitologi Universitas Cornell di New York, Amerika Serikat.

Jangan lupa, bagi masyarakat Jawa, burung (kukila) termasuk satu di antara lima pelengkap hidup seorang pria. Empat lainnya adalah rumah (wisma), istri (wanita), kendaraan (turangga = kuda), dan senjata (curiga = keris).

Makanya di banyak kota dan desa kita sering melihat pasar burung. Bukan hanya perkutut dan burung direkayasa demikian rupa, sehingga membuat burung terbang lebih cepat. ( Baca : Usaha Pembiakan Merpati Balap Modal Kecil )

Datangkan devisa

Di berbagai negeri maju, burung dibebaskan hidup di alam luas. Memiliki burung, tidak harus berarti membuatkan sangkar. Namun di banyak pulau di Nusantara, mencintai burung bisa berarti membuatkan sangkar semahal-mahalnya. Untuk memanjakan sepasang merpati aduan, ada kalanya diperlukan sangkar dengan harga beijuta-juta rupiah.

Industri wisata berburu merpati, secara tradisional berjalan paling bagus di Uruguay, Amerika Selatan. Populasi merpati liar disana sangat besar dan stabil. Dengan uang 2.000 dolar Anda bisa mengikuti paket berburu merpati selama empat atau lima hari. Sayangnya tarif ini bukan dari Jakarta, melainkan dari New York, Los Angeles, atau Austin, Texas, dan kota-kota lain di AS.

Populasi merpati di Uruguay paling stabil sepanjang tahun. Ini menciptakan pekerjaan untuk warga desa. Mereka bisa menjadi “bird boy”, semacam cady, kalau kita main golf; bayarannya 30 dolar sehari.

Di kota-kota besar yang kewalahan dengan populasi merpati, bisnis jebakan dan racun juga berjalan. Maklumlah, betapapun indahnya, kalau berlebih-lebihan ia bisa menjadi wabah.

Ada banyak cara untuk memberantas merpati sebagai hama. Ada rumah yang memasang balon berisi helium, semacam bebegik (orang-orangan sawah) yang berfungsi untuk menakut-nakuti mereka di langit. Banyak lagi yang memasang alat elektronik dengan rekaman suara burung hantu. Merpati paling takut pada suara burung hantu, karena itulah predatornya. Di Jawa bukan hanya burung hantu, alap-alap dan elang pun memburu merpati.

Merpati, bagaimana pun telah mempunyai tempat tersendiri di hati kita. Boleh kenangan masa kecil, kenangan semasa menjadi mahasiswa, tamasya ke luar negen: maupun hobi setelah memasuki usia senja. Merpati bahkan bisa menjadi identifikasi seorang pribadi. Bukan hanya seorang manusia, tapi juga seluruh dunia. Ketika bumi bersayap, semua terbang merdeka dalam perdamaian.

no image

Prospek Keuntungan Dan Nilai Bisnis Dari Budidaya Perkutut

The most beautiful bird. Bila ada survei tentang unggas paling merdu dan termahal, mungkin perkututlah jawabnya. Walau harga tinggi, burung ini banyak dicari. Harganya yang gonjang-ganjing tak menyurutkan langkah orang untuk menangkarkannya.

Tren memelihara dan menangkar perkutut merambah ke Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Palembang, Lampung, Batam, Bali, Lombok, Banjarmasin, bahkan Balikpapan. Untungkah menernakkan perkutut? Bila dilakukan survei terhadap para pemainnya, pasti semua menjawab bulat dengan satu kata, “ya”.

Bisnis Perkutut Itu Bagaikan tambang emas yang terus mengalirkan gemerincing rupiah kepada H Mochammad Huzaini. Demikian pula PS N.20 yang menggelembungkan pundi-pundi emas kakak beradik Candra dan Edo Sutanto. Harganya tak tanggung-tanggung, Rp 25 juta untuk darah Susi Susanti dan Rp 10-juta untuk trah PS N.20. Mendapatkannya pun tak mudah. Antrean panjang para hobiis dan penangkar lain menanti jatah keturunan kedua burung itu. Nurbuat Srimulat dari Jakarta misalnya, baru bisa menerima keturunan PS N.20 setelah menunggu selama 11 bulan. ( Baca : Harga Indukan Perkutut Mahal, Hobiis Siasati Dengan Arisan Perkutut )

Geopelia striata
Keuntungan Budidaya Perkutut

Berkah Rupiah Dari Bisnis Perkutut

Maraknya lomba perkutut mendorong hobiis mencari burung bagus. Farm penghasil trah juara jadi incaran. Beberapa hobiis kini mulai melirik bisnis penangkaran. Mereka yakin peluang bisnis perkutut masih terbuka lebar dengan prospek cukup menjanjikan.

Ibarat bunga, dunia perkutut sekarang ini tengah mekar-mekarnya. Aromanya semerbak menyebar ke daerah-daerah. Indikasi berkibarnya dunia perkutut adalah kian banyaknya peternak. Frekuensi lomba pun meningkat. Tanpa dua hal itu dunia perkutut bisa dikatakan melempem. Keduanya saling bertautan.

Karena lomba pula, aspek-aspek lain di dunia perkutut bisa tersentuh. Perajin sangkar banjir order. Tak ketinggalan peracik pakan serta pil perkutut. Juga untuk pendeteksi kelaminnya dicetaklah bandul. Demikian pula perajin cincin kian banyak pesanan. Belum lagi para penerbit yang mengeluarkan berbagai buku panduan tentang teknik budidaya dan seluk- beluk perkutut. Pendeknya, semua memperoleh berkah dari maraknya perkutut. Tuhan memang Maha Pemurah dan Maha Besar. Satu makhluknya saja telah bisa mendatangkan rezeki dan peluang bermacam-macam.

Bisnis Yang Menguntungkan

Perkembangan perkutut di tanah air pada tiga tahun terakhir sungguh menggembirakan. Ribuan peternak sudah berdiri bak jamur di musim hujan. Baik yang berskala gurem maupun peternak besar. Peningkatan penggemar pun demikian. Nyaris tiap kali lomba selalu saja ada pendatang baru.

Penggemarnya datang dari banyak kalangan. Mulai dari mahasiswa, guru, petani, pedagang, pegawai negeri, hingga kalangan elit pengusaha. Turut pula di bisnis ini kerabat keraton Yogyakarta seperti GBPH Prabukusumo, SPsi, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bahkan, GKR Hemas, sang permaisuri pun menaruh minat terhadap satwa klangenan ini. Ia selalu mengikuti perkembangan perkutut karena banyak aspek bisa tergarap.

Itulah sebabnya, hobi perkutut kini telah bergeser ke bisnis dan bukan lagi hobi mumi. Dibanding dengan bunga deposito bank, percepatan kembali modal di perkutut jauh lebih tinggi. Coba simak hitung-hitungan sederhana berikut ini. Misalnya kita membeli sepasang perkutut umur 4 bulan seharga Rp6-juta. Empat bulan kemudian sudah menghasilkan sepasang anakan pertama. Taruh kata piyiknya dijual Rp 1 -juta sepasang. Maka dalam setahun minimal diperoleh Rp 12-juta. Ini baru dari 1 kandang. Kalau kita punya 5 kandang, bisa diprediksi nilai angka perolehannya.

Hitungan itu baru pada harga penjualan minimum. Sebab, dari 5 kali tetasan pasti ada 1 atau 2 ekor yang hasilnya istimewa dan laku dijual seharga Rp5-juta – Rp l0-juta per ekor. Piyik-piyik istimewa itu pun tak sulit dipasarkan, bahkan banyak diburu orang. Lihat saja di farm milik Edo Sutanto. Sebanyak 15 dari 70 kandang yang ada menjadi favorit pembeli karena menghasilkan piyik-piyik berkualitas. Malah, tak jarang peminat harus antre untuk mendapatkan piyik keluaran Cando BF itu.

Kandang Perkutut
Kandang Perkutut

liga segmen

Peternak kecil dengan modal terbatas tidak perlu berkecil hati. Sebab, pangsa pasar perkutut juga terbelah dalam beberapa segmen, yakni segmen bawah, menengah, dan atas. Jika tetap ingin beternak perkutut tapi modal pas-pasan, bisa main di kelas “ringan”. Sebab, perkutut dengan harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah pun banyak dicari. Perkutut harga murah bukan berarti jelek. Asalkan indukan bertrah bagus, tetap ada peluang untuk menurunkan anakan bagus.

Sampai saat ini tampaknya pasar lokal masih mampu menyerap produksi piyik yang mutunya beragam. Bertambahnya penangkar baru tak membuat pasar sulit. Toh. penggemar baru pun terus meningkat. Bahkan, yang sempat berhenti pun kini bermain lagi. Tak heran jika bisnis seputar perkutut tetap menarik.

Unggas ini memang mudah diternak dan cepat berproduksi. Apalagi bila yang ditangkar mempunyai suara dan darah bagus. Makin sering melahirkan perkutut bagus, keuntungan yang ditangguk pun semakin besar. Selain itu, beternak perkutut dapat dilakukan di lahan sempit. Biaya pakan juga tergolong murah. Seekor perkutut hanya menghabiskan biaya pakan Rp3.000 bulan. Dijual seharga Rp50.000, ekor berumur 1 bulan pun masih untung. Bandingkan dengan ternak ayam. Pakan mahal, tetapi harga jual murah.

Untuk memulai bisnis perkutut hingga meraup untung memang tak mudah. Nama besar juga harus dimiliki farm, karena penggemar kelas berat hanya memburu perkutut yang sudah kondang dan dari farm yang sudah punya nama. Yang penting rintislah dulu, baru uang datang kemudian

no image

Budidaya Sayuran Dengan Metode Greenhouse

Spektakuler. Begitulah kata Ir Sutrisno Soemodihardjo, direktur Direktorat Tanaman Sayuran, Hias, dan Aneka Tanaman, Depatemen Pertanian ketika melihat hamparan kebun berjaring seluas 112,2 ha di Riau. Kebun berkelambu itu tersebar di Pekanbaru 49 ha; Kampar, 32,8 ha; Pelalawan, 15 ha; dan Siak, 14, 4 ha. Beragam sayuran daun ditanam di “greenhouse”, masing-masing 2.000 m2 itu. Dalam sebulan dipanen 18—20 ton sayuran untuk diekspor ke Singapura.

Pengembangan sayuran itu dirintis Dinas Pertanian Provinsi Riau sejak 2001. Yang mengelola kebun berkelambu itu para pekebun. Hasil panen ditampung koperasi Dinas Pertanian yang telah ditunjuk oleh instansi terkait. “Sayuran itu dibutuhkan konsumen di Singapura. Kebetulan Riau berdekatan dengan negara itu sehingga sangat prospektif untuk penanaman beragam sayuran dataran rendah.” kata Basriman. kepala Sub Dinas Pengembangan Hortikultura. Dinas Pertanian Provinsi Riau.

Proyek itu pun mendapat sambutan dari Agrifood and Veterinery of Singapore—mitra yang memberikan pembinaan teknologi. Tak heran, bila megaproyek itu dibiayai pemerintah daerah setempat melalui APBD. Pilot proyek seluas 1,2 di Marpoyan, Pekanbaru, menelan dana senilai Rp2-miliar. Begitu berhasil, areal penanaman pun diperluas. Sebanyak Rp22,5-miliar digulirkan kembali untuk pengembangan lahan seluas 110 ha.

Setiap pekebun mendapat pinjaman Rp45-juta. Uang itu untuk membeli dan membangun net berikut peralatan senilai Rp37,5-juta. Sisanya untuk mendanai penanaman selama 3 kali. “Pelunasan kredit mencicil dari hasil panen,” kata Basriman. Sebanyak 556 pekebun ikut dalam proyek itu. Setiap pekebun mendapat jatah lahan seluas 2.000 m2.

Tertata rapi

Rumah-rumah berkelambu itu berjajar rapi di berbagai lokasi. Sekeliling kebun dipasang net 15% sebagai pelindung serangan hama. Saat hujan, air tidak langsung menetes membasahi tanah, melainkan membuat efek berkabut sehingga sayuran mulus.

Jaring atau kelambu ditopang 36 bambu masing-masing setinggi 2,8 m dengan interval 8 m x 8 m. Dua pintu keluar-masuk berukuran 1,5 m x 2 m terletak di ke-2 dinding. Masing-masing pintu dibuat 2 lapis untuk mencegah serangga masuk.

Di dalam rumah berukuran 40 m x 50 m itu dibagi dalam 2 blok, masing-masing 28 bedengan. Sistem irigasi dengan menggunakan sprinkle berupa pipa vertikal setinggi 60 cm yang ditancapkan interval 3 m x 3 m. Di ujung pipa diberi sprinkle yang memancarkan butiran-butiran air untuk menyiram tanaman. Setiap mata sprinkle menyirami tanaman sejauh 3 m. Untuk mengoperasikannya digunakan alcon—pompa air mekanik berbahan bakar bensin.

Sayuran Bebas residu Bahan kimiawi

Sayuran yang dihasilkan bebas residu sesuai standar mutu yang ditetapkan Singapura. Ukuran pun harus seragam. Misal untuk caisim panjang 38—42 cm; ba cai, 23—27; sawi, 33—37 cm; dan xiao ba cai 23—27 cm. Agar standar itu bisa dipenuhi, pekebun menanamnya mengikuti petunjuk penyuluh.

Biasanya sayuran diperiksa kadar residu oleh AVA di Singapura. Maklum peralatan untuk mengecek derajat residu tidak tersedia di Pekanbaru. “Kami menganjurkan agar pekebun tidak menyemprot insektisida seminggu sebelum panen,” kata Basriman. Dengan cara seperti itu kualitas sayuran terjamin dan lolos ekspor.

Berdasarkan pengalaman pekebun, meski sudah terlindungi net, serangga acap menerobos masuk menggerogoti tanaman. Demikian ulat terbang dan penggorok daun, seringkali merusak tanaman. “Makanya kami tetap melakukan penyemprotan. Kalau dilos (tidak disemprot sama sekali, red), tanaman pasti rusak,” tutur Untung yang sudah 2 tahun berkebun. Ia menyemprotkan insektisida ketika tanaman berumur 10 hari dan diulang seminggu kemudian.

 

Pola Tanam Secara gilir

Pengolahan tanah dan penanaman hampir sama dengan pekebun sayuran dataran rendah pada umumnya. Begitu tanah selesai diolah, dibuat bedengan berukuran 10 m x 1,5 m. Lalu benih disebar secara merata di permukaan bedengan. Jenis yang ditanam secara bergilir. “Pemilihan jenis dan luasan diatur oleh petugas lapangan,” kata Untung.

Sebagai contoh kebun milik Untung di Marpoyan. Pada saat budidayatani berkunjung akhir Maret 2004, 10 bedengan tampak kosong lantaran caisim sudah dipanen. Lima bedeng lain baru ditanami ba cai 20 hari lalu. Sisanya, sedang disiapkan untuk penanaman berikutnya.

Tanah hanya seminggu diistirahatkan. Setelah itu ditanami kembali. “Dengan pola seperti itu dicapai indeks penanaman 8 kali per tahun. Ini indeks tertinggi di Indonesia. Di Jawa saja hanya 3 kali per tahun,” kata Basriman. Hal itu bisa dicapai lantaran selain yang ditanam jenis sayuran berumur pendek, juga perawatan intensif. Misalnya ba cai dan xo bai cai dipanen pada umur 33 hari. Selada dan kailan dipetik pada umur 45 hari.

Yang dimaksud perawatan intensif antara lain frekuensi penyiraman 3 kali sehari, pukul 09.00, 13.00, dan 15.00 sebelum tanaman berumur 1 minggu. Selanjutnya frekuensi penyiraman diturunkan menjadi 2 kali sehari hingga umur tanaman mencapai 15 hari.

Setelah itu cukup sekali sampai tanaman dipanen. Sedangkan pemupukan diberikan pada hari ke-10 setelah tanam dengan NPK 16:16:16. Dosisnya 600 g/petak ukuran 10 m x 1,5 m. Pemupukan diulang 10 hari kemudian dengan dosis sama.

 

Pengawasan Ketat

Singapura bukanlah pasar yang mudah ditembus. Oleh karena itu para pekebun sangat hati-hati pada saat memanen. Yang rusak langsung diapkir. Hasil panen dimasukkan ke keranjang, lalu disetor ke ruang pendingin. Di sana puluhan tenaga kerja memotong bonggol, dan menata di keranjang.

Untuk pesanan khusus dari pasar swalayan di Singapura, sayuran dikemas dalam kantong plastik berlabel “Fresh Farm”. Selama pengemasan, temperatur ruangan 4°C agar sayuran tetap segar.

Keberhasilan Riau mengembangkan sayuran dataran rendah menjadi sorotan berbagai kalangan. Tak heran bila beberapa kelompok tani dari daerah lain dikirim ke sana untuk mengikuti pelatihan. “Kita boleh berbangga karena pekebun mampu mengadopsi teknik pertanian modem dan menghasilkan sayuran berkualitas ekspor,” kata Basriman.

Makanya pengembangan areal terus dilakukan. Sarana dan prasarana, seperti jalan, transportasi, mang prosesing, dan pengemasan tengah disiapkan. Bahkan, pemerintah daerah berencana untuk membeli kapal khusus untuk mengangkut sayuran.

“Kami belum puas, terutama yang menyangkut produktivitas. Saat ini setiap petak baru menghasilkan 2,5 ton sayuran per siklus. Ke depan targetnya 4 ton/siklus,” kata Basriman. Toh pasar terbuka luas, tidak sekadar pasar ekspor tapi juga lokal potensi untuk dibidik. Buktinya Dumai, Selat Panjang, Pekanbaru, dan Batam mulai meminta pasokan. “Pasar Jakarta pun akan ditembus bila ada yang berminat,” tambahnya.

Kamis, 27 Juni 2019

no image

Budidaya Kangkung Mengggunakaan Sistem hidroponik Talang bertingkat

Kangkung siap panen tampak segar menghampar di atas talang bertingkat. Ipomoea reptans itu tumbuh di atas styrofoam 80 cm x 90 cm yang menutup talang. Sebuah styrofoam terdiri atas 48 lubang tanam. Di greenhouse mini ukuran 2,8 mx26 m  terdapat 66 styrofoam. Dari sebuah styrofoam, dituai 2,8 —3,5 kg kangkung segar dalam tempo 21 hari.

Pengelola greenhouse itu adalah PT Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya Agrowisata sejak 2000. Ketimbang sulit mengingat, sebut saja Kusuma Agrowisata. Lokasinya di lereng Gunung Panderman. Kotamadya Batu, Jawa Timur. Perusahaan yang didinkan Ir Edy Antoro itu mengelola 7 greenhouse serupa. Selain itu terdapat 2 greenhouse berukuran masing-masing 5,6 m x 26 m. Total jenderal ada 9 greenhouse yang diperuntukkan bagi budidaya sayuran daun.

Selain kangkung, 6 sayuran daun lain yang ditanam adalah bayam hijau, bayam merah, sawi daging, sawi hijau, dan sawi putih. Semua ditanam dengan jarak padat di talang bertingkat. Begini duduk perkaranya disebut padat. Luas sebuah styrofoam hanya 7.200 cm2 (diperoleh dari 80 cm x 90 cm) atau setara 0,7 m2. Jika sebuah styrofoam mempunyai 48 lubang tanam, artinya “kavling” rata-rata per tanaman hanya 140 cm2.

Bandingkan dengan pekebun hidroponik lain yang menerapkan rata-rata per “kavling” 225 – 300 cm2. Pekebun hidroponik yang menerapkan sistem jarak longgar rata-rata memetik 2 kg kangkung per m2. Meski jarak tanam padat, tetapi sosok tanaman di Batu amat prima. Kangkung tumbuh tegak, tampak kokoh, dan daun hijau segar. Di greenhouse lain, sawi dan bayam pun terlihat sehat.

Tukar tempat

Primanya penampilan sayuran, “Karena fotosintesis dan respirasi balance positif,” tutur Yos Sutiyoso. Maksudnya, proses foto sintesis berlangsung maksimal (biasanya dicapai pada suhu 25°C, tetapi respirasi tertahan lantaran rendahnya suhu. Selain prima, pertumbuhan tanaman pun cepat. Puncak respirasi terjadi pada suhu 25°C. Temperatur di Batu—lokasi greenhouse Kusuma Agrowisata—jelas sangat kondusif bagi perkembangan tanaman. Suhu pada siang hari di Batu yang berketinggian 1.100 m dpi 20—25°C; malam 16—18°C.

Sistem hidroponik talang bertingkat sebetulnya bukan model baru. Dua tahun silam, beberapa pekebun pernah mengadopsinya. Contoh, Ismet Hakim di Sukabumi dan PT Pangan Lestari di Pasuruan. Talang bertingkat diterapkan semata-mata untuk efisiensi lahan. Dengan talang bertingkat lonjakan produktivitas sekitar 40%. Keduanya menerapkan hidroponik Nutrient Film Technique (NFT).

Di balik kelebihan itu, menurut Ir Yos Sutiyoso, pengamat hidroponik, sistem talang bertingkat amat riskan. Musababnya, teknologi itu berisiko menghambat pencahayaan. “Apalagi yang ditanam kangkung. Kebutuhannya sinar matahari amat tinggi. Kalau cahaya kurang, bisa-bisa (kangkung, red) etiolasi,” ujar alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Kusuma Agrowisata bukan tak menyadari ancaman risiko itu. Oleh karena itu saat tanaman berumur 7 hari dan 14 hari, styrofoam di talang atas dan bawah dipertukarkan.

8 jam

Agak merepotkan memang menukarkan puluhan styrofoam. Namun, demi mutu akhirnya cara itu tetap ditempuh. Kusuma Agrowisata mengadopsi teknologi DFT alias Deep Flow Technique. Bedanya adalah kedalaman aliran nutrisi di talang DFT mencapai 8 cm; NFT, 3—4 mm. Menurut Yos Sutiyoso sistem DFT berisiko terjadi deoksigenisasi. Artinya, tanaman kekurangan oksigen akibat aliran air menghambat oksigen terlarut.

Lagi-lagi lokasi greenhouse di Batu diuntungkan oleh rendahnya temperatur. Menurut Yos semakin rendah suhu, oksigen terlarut dalam air kian tinggi. Pada suhu 25°C, misalnya, oksigen terlarut di permukaan air sekitar 10 ppm. Ketika suhu turun menjadi 20°C oksigen terlarut sekitar 12 ppm; 15°C, 13 ppm. Semakin ke bawah dari permukaan air, oksigen terlarut pun kian kecil.

Menurut Manajer Operasional Ir Teguh Suprijanto, nutrisi diberikan hanya 8—10 jam per hari. Pompa nutrisi diaktifkan pukul 08.00—17.00. Meski belum dihitung akurat, operasional pompa yang terbatas mampu menghemat biaya produksi. Di farm hidroponik lain, nutrisi didistribusikan 12 jam, bahkan 24 jam nonstop.

Talang Tripleks

Talang yang digunakan Kusuma Agrowisata bikinan sendiri dari tipleks 10 mm. Lebar 80 cm, tinggi 10 cm, panjang 26 cm. Seluruh permukaan tripleks dilumuri serat fiber sehingga diperkirakan tahan hingga 5 tahun. Jarak talang bawah dari permukaan tanah 25 cm. Sedangkan jarak antartalang 75 cm. Supaya kokoh, setiap interval 1 m dipasang tiang besi sebagai penyangga.

Kedua talang dihubungkan pipa PVC sebagai jalan untuk mendistribusikan nutrisi dari talang atas ke bawah. Styrofoam kemudian menutupi talang. Di atas gabus itulah beragam sayuran daun ditanam. Khusus kangkung dibudidayakan tersendiri di beberapa greenhouse. “Kangkung itu perlu banyak nutrisi sehingga kalau dicampur dengan tanaman jenis lain akan mempengaruhi pertumbuhan,” kata Drs Soemanto dari Kusuma Agrowisata.

Selain itu permintaan kangkung paling tinggi ketimbang sayuran lain. Saat ini Kusuma Agro baru dapat melayani 120 kg kangkung, komoditas lain, 50 kg per pekan. “Ada rencana menambah sebuah greenhouse khusus kangkung karena permintaan terus bertambah dan belum terpenuhi,” ujar Teguh. Kusuma Agrowisata menjual sayuran hidroponik Rp 10.000—Rp 12.000 per kg. Menurut Soemanto, biaya produksinya relatif kecil.

no image

Padi Fatmawati, Varietas Padi Tahan Penyakit Dan Hama

Ibunda Presiden Megawati Soekarnoputri, Fatmawati, diabadikan namanya untuk padi baru. Malainya panjang terdiri atas 300 butir. Salah satu keistimewaan padi fatmawati adalah tingginya produktivitas, mencapai 9 —10 ton per hektar. Artinya 2 kali lipat dari rata-rata produktivitas padi nasional.

Di kalangan pekebun, padi fatmawati menjadi harapan baru. Mudjiono, pekebun asal Bantul, Yogyakarta, misalnya, menuai 9 ton dari lahan 1 hektar yang tersebar di 3 lokasi. Di Singosari, Malang, pekebun binaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur memanen 9,2 ton/ha gabah kering giling. Dengan pengolahan lahan yang sama, hasil itu dua kali lebih tinggi dibandingkan varietas IR64 dan memberamo yang hanya 4 ton/ha.

Selain itu fatmawati juga ditanam di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Padi dengan kadar amilosa 23% itu telah lulus uji melalui Program Peningkatan Produktivitas Padi Terpadu (P3T) di 8 provinsi dengan 28 lokasi. Hasilnya produktivitas luar biasa. Dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), produktivitas padi dengan anakan 8—12 batang itu mencapai 7,9—10,6 ton/ ha dengan rata-rata 8,9 ton/ha atau 41,1%. Itu lebih tinggi dibandingkan varietas unggul baru yang hasilnya rata-rata 7,8 ton/ha.

padi fatmawati

 

Panen perdana

Fatmawati merupakan varietas unggul tipe baru (VUTB) pertama. Ia dilepas pada Hari Pangan Sedunia (HPS), 24 Oktober 2003 di Ambarawa, Jawa Tengah, oleh Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Pelepasan fatmawati sebagai jawaban meyakinkan memecahkan rendahnya produktivitas dan produksi padi nasional.

VUTB fatmawati tercipta lewat penelitian panjang Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) Sukamandi, Subang. Ia hasil persilangan padi gogo dan jenis padi maros. Keduanya dikenal sebagai padi unggul. Batang tak mudah rebah warisan padi gogo.

Varietas baru itu memiliki sifat genetik lebih unggul dibandingkan varietas lain. Fatmawati cocok di tanam di sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpi. Padi dengan tinggi 100 cm itu tahan terhadap wereng cokelat biotipe 2 dan bakteri hawar daun strain 2—3. Persentase gabah hampa mencapai 20% dan agak susah dirontokkan. Itu bisa diatasi dengan pemupukan intensif.

padi fatmawati

Panen perdana fatmawati dihadiri Menteri Pertanian Bungaran Saragih bersama Mohammad Jafar Hafsah. Dirjen Tanaman Pangan dan pejabat pemerintah Jawa Barat. “Semoga fatmawati dapat berkembang cepat sehingga pada 2005 kita tanam 1 juta ha,” kata Bungaran Saragih setelah memanen fatmawati

no image

Cara Meningkatkan Kualitas Produksi Padi Organik

Di lumbung Joko Tarub, padi seperti tak ada habisnya. Maklum, sebulir gabah di tangan Nawang Wulan, istri Joko Tarub, diolah menjadi sedandang nasi. Persediaan padi pekebun di Berbah, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, kini juga habis lebih lama. Soalnya, produktivitas lahan mereka meningkat dari 5 ton menjadi 6,6 ton per ha. Itu tercapai setelah mereka menaati 7 syarat.

Peningkatan produktivitas itu dicapai setelah 47 pekebun beralih ke sistem budidaya organik. Mereka tergabung dalam Kelompok Tani Sidorukun yang mengelola lahan 5,7 ha. Sejak 6 tahun lampau mereka meninggalkan pupuk dan pestisida kimiawi yang kerap menyisakan residu beracun. Meski demikian produksinya malah melonjak, menjadi 6,6 ton dari semula rata-rata 5 ton per ha. Produksi stabil setelah tahun ke-3.

Selain produktivitas, keistimewaan lain aroma nasi wangi dan tahan lebih lama. Kegembiraan pekebun tak hanya berhenti di situ. Soalnya, harga jual gabah kering panen padi organik lebih tinggi ketimbang padi nonorganik. Harga padi organik pada akhir Februari 2004 mencapai Rp3.200; nonorganik, Rp2.300 per kg. Lonjakan produksi yang diikuti penambahan omzet tak digapai begitu saja.

Padi Organik

Pupuk kandang

Menurut Ir Ahmad Musofie MS yang mengkampanyekan budidaya padi organik, 7 syarat disodorkan kepada mereka. Itu mengacu pada kriteria International Federation of Organic Agriculture Movement. “Padi organik harus memenuhi 7 syarat,” ujar ahli peneliti utama Balai Pengkajian dan Teknologi Pertanian Yogyakarta.

Pertama, menggunakan pupuk organik sekurang-kurangya 70% dari dosis total. Artinya 30% lainnya boleh anorganik. “Semakin banyak persentase (pupuk organik, red), semakin bagus,” ujar alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Pekebun di Berbah yang umumnya juga beternak, memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk kandang.

Syarat berikutnya, penanaman berlangsung terus-menerus sepanjang tahun. Boleh saja penanaman diselang komoditas palawija. Mereka memilih kacang tanah dan kedelai sebagai tanaman penyelang, karena sedikit membutuhkan pupuk anorganik. Bahkan penggunaan pupuk anorganik dapat diabaikan. Kalau jagung membutuhkan Urea untuk menggenjot pertumbuhan vegetatif. Rotasi antara padi dan kacang tanah atau kedelai sekurang-kurangnya 24 bulan.

Pembatas

Dalam sistem budidaya organik, bera sangat ditabukan. Yang dimaksud bera adalah lahan tidak ditanami sama sekali. Ketiga, harus ada batas antara lahan organik dan anorganik. Batas itu dapat berupa galengan yang diperlebar. Tanaman perdu seperti beluntas Plucea indica, gamal Glyricidia sepium, dan orok-orok Crotalaria ferruginea juga dapat sebagai pemisah lahan.

Tanaman-tanaman pembatas itu menahan semprotan pestisida kimiawi di lahan anorganik. Selain itu daun tanaman pembatas tetap dapat dimanfaatkan sebagai lalap atau insektisida nabati. Soal luasan lahan, tak ada batasan minimal. Namun, dengan luasan memadai, misal 5—10 ha yang terisolasi, kerja keras pekebun terbayarkan. Kerepotan membuat pupuk alami dan benih sendiri, serta memanen dan mengeringkan padi, sepadan dengan hasil yang diperoleh.

Keempat, air irigasi tidak boleh melewati bagian lahan anorganik secara langsung. Kalau melewati, harus dilakukan fdtrasi. Caranya dengan menancapkan beberapa bambu dan ijuk sehingga air yang keluar dari filter itu tidak bau dan bebas bahan kimia. Kelima, benih berasal dari lahan organik. Waktu tanam mesti berbarengan untuk memutus rantai serangan hama dan penyakit.

Dicontoh

Pekebun di Berbah memilih sintanur, IR 64, dan mentik wangi. Serangan hama dan penyakit diatasi dengan pengendali hayati. Syarat keenam, pascapanen harus sesuai dengan ketentuan organik. Misal, padi dijemur tidak terlalu kering supaya tidak pecah saat digiling. Sifat padi organik, bila terlalu kering pecah. KUD Berbah menentukan kadar air 15—16%. Kurang dari itu hancur.

Kriteria terakhir, pelabelan. Saat ini yang berhak memberikan label antara lain Lembaga Sertifikasi Mutu Pertanian Persada. Di Berbah, Yogyakarta, baru padi produksi di 2 dusun—Cetang dan Klampengan— yang mendapat label organik. Sukses itu diikuti oleh pekebun di Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulonprogo yang mengolah 20 ha.

Rabu, 26 Juni 2019

no image

Penyortiran Kualitas Bibit Kentang Untuk Menghindari Penyakit Dan Kerugian

Kentang tak lolos sortir dijadikan bibit. Akibatnya, produktivitas granola hanya belasan ton per ha. Itulah sebabnya, mengetahui kentang yang tak layak tanam, menjadi kunci utama pekebun. Ir Wildan Mustofa, pekebun di Pangalengan, Bandung Selatan, membuktikan. Ia memanen granola minimal 25 ton per ha.

Banyak pekebun tak mempedulikan kualitas bibit. Sehabis panen mereka memilih kentang berukuran besar dan berkualitas untuk dilempar ke pasar sebagai kentang konsumsi. Sisanya baru dipilih lagi untuk bibit di musim tanam berikutnya. “Kalau begitu, gampang cari yang sakit dibanding yang sehat,” ujar Wildan mengomentari pekebun yang melakukan hal itu.

Alumnus Jurusan Tanah Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, idealnya pekebun mempunyai kebun pembibitan sendiri yang steril. Bila rata-rata pekebun punya luas 5 ha, harus disediakan minimal 0,5 ha untuk pembibitan. Itu perlu dilakukan agar tanaman kentang bebas hama, penyakit, dan kerusakan mekanis. Umbi yang dihasilkan pun layak untuk ditanam kembali.

Kudis Pada Kentang

Namun, Wildan mentolerir pekebun tanpa kebun pembibitan khusus asalkan selektif memilih bibit dan bukan kentang tak lolos sortir. Berikut ini ciri-ciri umbi tak layak jadi bibit:

1. Busuk cokelat

Penyebabnya bakteri Ralstonia solanacearum. Bibit yang menggunakan umbi seperti ini akan mati muda. Bahkan dapat hancur sebelum tanaman muncul ke permukaan tanah. Dapat juga terjadi infeksi laten pada areal bersuhu rendah. Umbi ini dihasilkan dari tanaman yang sebelumnya mengalami kelayuan.

Busuk cokelat
Busuk cokelat

2. Busuk lunak

Biang keladi busuk lunak adalah Erwinia sp. Umbi yang ditanam tak selalu memunculkan tanaman sakit. Soalnya ia termasuk patogen lemah. Namun, bila lingkungan mendukung berkembangnya bakteri ini mengakibatkan tanaman kerdil, daun menguning, dan menggulung ke atas.

Hawar daun
Hawar daun

3. Kudis

Streptomyces scabies pemicu munculnya common scubb alias kudis di permukaan umbi. Bila umbi terserang ditanam, tak mempengaruhi produksi. Namun, hasil panen mempengaruhi kualitas umbi, seperti kudisan.

4. Hawar ubi

Penyebabnya Phytophthora infestans. Di lingkungan bersuhu rendah, berembun, dan hujan, penyakit ini cepat berkembang. Tak akan muncul bila kondisi tidak memungkinkan cendawan berkembang.

5. Kudislak

Akibat serangan Rhizoctonia solani produksi turun 50%. Bila umbi terserang ditanam di lingkungan yang cocok dengan cendawan, muncul penyakit kaki hitam.

Kudislak
Kudislak

6. Busuk keping

Bila kondisi tanaman menguntungkan patogen, penanaman umbi ini menyebabkan busuk. Tanaman lemah, bahkan gagal tumbuh. Semua itu disebabkan oleh Fusarium sp.

8. Penggerek ubi

Umbi seperti ini sangat berbahaya ditanam pada musim kemarau. Penyakit tak berkembang bila umbi ditanam pada musim hujan.

Penggerek ubi
Penggerek ubi

8. Nematoda bintil akar

Tanaman kentang asal umbi ini mudah ditulari bakteri layu dan layu verticillium. Dampaknya produksi turun drastis.

 

Nematoda bintil akar
Nematoda bintil akar

9. Kerusakan mekanis
Biasa disebabkan karena umbi tergores cangkul saat panen. Lapisan yang rusak mudah diinfeksi penyakit lain, seperti busuk lunak.

Kerusakan mekanis
Kerusakan mekanis

10. Pertumbuhan sekunder

Terjadi karena gangguan fisiologis. Belum diketahui pengaruhnya terhadap produksi bila menggunakan bibit seperti ini.

Pertumbuhan sekunder
Pertumbuhan sekunder

11. Menghijau (Greening)

Umbi menghijau disebabkan terjemur. Dikhawatirkan tertular penyakit tubber moth.

no image

Meningkatkan Produktifitas Perkebunan Melalui Pola Tanam Rotasi

Awal musim hujan pada November 2018 banyak pekebun berhenti menanam tomat. Namun, Masriyo malah memperluas areal tanam hingga 3  4 ha. Saat panen 3 bulan berselang, pekebun di Garut, Jawa Barat, itu mengantongi Rp 200-juta. Harga tomat melambung menjadi Rp 4.700 per kg dari sebelumnya Rp l.000

Keberhasilan Masriyo mengebunkan tomat bukan datang tiba-tiba. Ia sudah bergelut dengan kerabat kentang itu sejak 10 tahun lalu. Wajar bila karakter tomat diketahuinya di luar kepala. Begitu juga fluktuasi harga yang selalu menyelimuti bisnis Lycopersicon esculentum. “Kuncinya coba dan terus mencoba. Di samping itu lihat pengalaman pekebun lain,” ujar suami Mariam itu. Itu sebabnya, di kala pekebun lain gagal panen tomat di musim hujan akibat serangan penyakit, ia justeru menuai untung.

Masriyo mengebunkan tomat gara-gara tertarik melihat Entis Sutisna, pekebun dari Lembang, Bandung, yang hijrah ke Garut pada akhir 1993. Ketika itu banyak pekebun dari Bandung Selatan memperluas areal tanam ke Kota Dodol.

Langkah Entis ternyata diikuti oleh Haji Ingi, pelopor pekebun tomat di Desa Langeunsari, Kecamatan Tarogong, Garut. Anggota famili Solanaceae itu mengubah keluarga mereka. “Saya kaget. Baru panen beberapa kali, keduanya langsung punya kendaraan roda empat. Bahkan lebih dari satu,” ujar pria kelahiran Garut, 53 tahun silam itu.

Ditanam Beragam Varietas Pada Satu Hamparan

Raup untung Lewat Perkebunan

Ayah 6 anak itu sebetulnya juga sudah berkebun. Namun yang ditanam tomat lokal garut—dijuluki tomat goler. Dalam satu musim tanam ia membudidayakan tomat goler seluas 1 ha. Produktivitas rata-rata per tanaman kurang dari 1 kg. Padahal harga di pasaran hanya Rp50—Rp 100, sehingga keuntungan tipis.

Itulah sebabnya tanpa keraguan sedikit pun, pria berkulit sawo matang itu meninggalkan tomat goler dan beralih ke tomat introduksi. Peralihan itu teijadi pada awal 1994. Teknologi budidaya seperti pemberian mulsa, ajir, dan obat-obatan pun dipelajari dari kedua pekebun pelopor di desanya. Maklum, tomat goler yang ditanam sebelumnya, tidak dirawat intensif.

Oleh karena itu ia harus belajar lagi soal budidaya. Acap kali ia menanyakan karakter benih yang ditanam langsung ke produsen benih. Hasilnya 2 kg dipanen dari setiap tanaman. Itu artinya setara dengan pekebun pendahulunya. Keuntungan diraup Rp2-juta saat harga tomat Rp300 per kg.

Laba itu dirasakan amat tinggi dibanding saat ia mengebunkan tomat goler pada luasan yang sama. Paling banter Masriyo meraup untung Rp500-ribu dari tomat goler. Karena keberhasilan itu, ia menambah areal penanaman 1 ha per tahun. Sayang, harga tomat ternyata berayun-ayun, kadang melonjak naik, kadang turun. Bahkan tak jarang anjlok di bawah harga produksi. Itulah sebabnya, ia juga menanam komoditas lain, seperti kol, caisim, dan cabai. Biasanya kala harga tomat turun, komoditas itu nilainya tinggi. Komoditas penyangga itu ditanam di lahan lain.

Ia biasa menjual tomat hasil kebunnya langsung ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur dan Pasar Cibitung, Bekasi. Akhirnya tanpa sadar pria berkulit sawo matang itu dikenal sebagai pengepul di desanya karena nyambi menjual tomat pekebun lain. Waktu itu ia mempunyai usaha dagang. Setiap harinya ia bisa mengangkut 1 truk penuh tomat. Kini usahanya menjadi pengepul diwariskan pada 3 anaknya yang telah berkeluarga.

Campur benih

Bagi Masriyo dan Mariam, mengamati karakter tomat dan pasar menjadi kunci sukses meraup untung. Menurutnya, tomat sulit berproduksi optimal di musim hujan karena rawan penyakit layu. Namun, di saat itulah kerabat kentang harganya melonjak. Jadi, Masriyo memperluas areal tanam di awal musim penghujan walau berisiko tinggi.

Total penanaman 3—4 ha setiap 1 bulan di musim itu. Sebaliknya di awal kemarau, saat para pekebun lain beramai-ramai menanam, Masriyo justru hanya menanam 1 ha per bulan. Saat itu organisme pengganggu relatif sedikit sehingga tanaman berproduksi optimal. Dampaknya produksi membanjiri pasar sehingga harga cenderung menurun.

Untuk menangkal serangan layu, ditanam 4 varietas tomat—yang berbeda karakter—di 1 hamparan. Ada yang tahan cendawan, bakteri, dan kualitas buah beragam. Tujuannya agar heterogen dan teijadi kawin silang antarvarietas. Hasilnya pertanaman tomat terhindar dari penyakit. “Saya amati pekebun lain yang hanya menanam 1 varietas terserang penyakit layu,” ujarnya. Walau begitu, pemberian pestisida tetaplah penting.

Varietas heterogen juga menguntungkan selera pasar. Pasalnya, konsumen di pasar tradisonal terbiasa mendapatkan tomat beragam. Bentuknya ada yang lonjong dan bulat. Begitu juga warnanya ada hijau muda, hijau kemerahan, dan merah cerah. “Selera pasar itu nggak seragam. Konsumen bebas memilih,” ujarnya.

Walau Masriyo sukses mengebunkan tomat, bukan berarti setiap menanam selalu untung. Tahun lalu di kala musim kemarau ia menanam 1 ha per bulan. Populasi per ha sekitar 20.000 tanaman. Bila rata-rata produktivitas 2 kg per tanaman ia menuai 40 ton per ha. Celakanya saat dijual harga menukik tajam, cuma Rp300 per kg. Saat 40 ton tomat itu dijual,kerugian Rpl 8-juta sulit dihindari. “Biaya produksinya saja Rp 1.500 per tanaman. Makanya, boro-boro untung,” tuturnya. Untung ia punya komoditas lain sebagai pelapis. Namun, bila ditotal secara keseluruhan dalam setahun, Masriyo masih bisa menikmati manisnya harga tomat.

Mengikuti Pola pekebun Lembang

Tujuh hektar

Berbekal keyakinan itu Masriyo tetap setia bermain tomat. Kini ia mengusahakan kebun seluas 7 ha di Desa Pananjung dan Desa Langeunsari Kecamatan Tarogong, Garut, yang terletak di kaki Gunung Guntur. Lahan seluas itu tak diolah sendiri. Ia mempekerjakan 50 orang. Mereka dipercaya mengolah tanah, merawat, menyemprot, dan memanen. Ia sendiri merencanakan areal tanam, pola rotasi, dan pengawasan pascapanen.

Dari lahan itu, sepekan 2 kali Masriyo memasok minimal 2 truk tomat atau setara 4 ton ke Pasar Cibitung dan Kramatjati. Cucuran keringatnya tak sia-sia. Dua rumah besar setara tipe 72 bertingkat di 2 desa menjadi tempat berteduh. Tiga putranya yang telah berkeluarga bisa berbisnis secara mandiri. Dua putrinya mampu mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Garut. Tomat yang asam manis itu mengubah kehidupan Masriyo.

Selasa, 25 Juni 2019

no image

Analisis Kendala Dan Keuntungan Budidaya Tomat Skala Besar

Dari Denpasar Ida Ayu Martini menuju Malang. Sebelumnya Ida ke Bedugul—sentra sayuran di Bali. Ia terpaksa bergerilya mencari tomat hingga ke Jawa Timur karena tomat langka. Sayang, pemasok beragam sayuran itu gagal memperoleh tomat. Permintaan 500 kg hanya dapat dipenuhi 50 – 100 kg per hari.

Saking langkanya, manajer PT DIF Nusantara itu melakukan pembelian tomat skala kecil 25 -50 kg. Tomat lokal yang dibelinya dengan harga Rp 6.000 itu untuk menambah tomat kualitas super yang dipesan pasar swalayan dan hotel. “Akibat pasokan kurang, yang lokal pun diterima,” ujarnya.

Tak hanya Pulau Dewata yang merasakan kelangkaan. Pemasok di Garut. Lembang, Cianjur, dan Sukabumi (Jawa Barat) mengalami hal sama. Musababnya, luas penanaman pada Januari—Februari 2018 menurun. Misalnya, di Garut hanya 500 ha, padahal penanaman tahun sebelumnya mencapai 5.000 ha.

Budidaya Tomat
Tomat diburu bandar

Penurunan itu dipicu oleh anjloknya harga pada Oktober 2003. Saat itu harga cuma Rp200 per kg. Pekebun jelas babak belur dihajar anjloknya harga. Soalnya untuk memproduksi 1 kg tomat dibutuhkan biaya Rp750 – Rp 1.000. “Banyak pekebun yang mengurangi luas tanam,” kata Margono, pengamat usaha tani tomat.

Sepanjang 2003 harga hanya bagus di 2 minggu terakhir pada Maret, yakni Rp 2.500 per kg di Pasar Induk Kramatjati. Setelah itu harga terus-menerus turun di bawah Rp 500. Di tingkat pekebun, harga tentu lebih menukik Toh banyak pekebun tak jera menanam kerabat terung itu. Mereka kembali membudidayakan tomat 3 bulan menjelang Lebaran.

Harapannya saat panen pas Idul Fitri, harga bakal terdongkrak. Faktanya harga cuma terkerek menjadi Rpl.000 per kg. Trauma itulah yang menyebabkan pekebun mengurangi areal penanaman tomat.

Berani dan bermodal

Hanya pekebun berani dan bermodal kuat yang setia menanam tomat pada November 2003. Pasalnya, pertanaman saat itu yang kerap diguyur hujan rawan terserang penyakit layu. Pekebun pun hanya mampu menanam setengah dari luasan semula karena kehabisan modal.

Pekebun yang menanam pada November 2003 itulah yang menangguk untung. Contoh, Supendi. Pekebun di Desa Pasawahan, Kecamatan Takokak, Cianjur, itu menanam 13.000 bibit di lahan 1 ha. Saat panen perdana, ia menuai harga Rp2.500 per kg. Lonjakan harga seolah tak tertahankan. Seiring dengan meningkatnya volume panen, harga terus membumbung menjadi Rp4.700 per kg.

Pantas bila pundi-pundi Supendi menggelembung. Saat ditemui budidayatani, ia memperlihatkan segepok kuitansi hasil penjualan. Total jenderal laba bersih yang diraup ayah 3 anak itu Rp80-juta.

Puncaknya, harga tomat di Pasar Induk Kramatjati mencapai Rp5.000 per kg pada minggu terakhir Maret 2018. Bila dirata-rata, harga di bulan itu Rp3.000/kg. Bahkan, tomat kualitas swalayan lebih mahal, mencapai Rp6.000—Rp7.000/kg. Di Malang, Jawa Timur harga tak jauh berbeda. Akhir Februari mencapai Rp3.500 dan turun di akhir Maret, Rp2.000/kg. Namun, itu masih menguntungkan karena biaya produksi pekebun Jawa Timur, hanya Rp500 per tanaman. Biaya bisa ditekan karena menggunakan lahan bekas cabai.

Harga tomat pada 2018 ini memang menakjubkan. Sebab sejak 5 tahun terakhir belum ada lonjakan setinggi itu. Buktinya, harga pada Lebaran 2002 saja hanya Rpl.000 per kg. Begitu pula pada tahun-tahun sebelumnya tak pernah menembus angka Rp2.500. Wajar pemain tomat bersukaria pada tahun monyet ini.

Tengok saja keuntungan yang diraih oleh Mamat Witarsa, pekebun di Desa Mekarwangi, Kecamatan Tarogong, Garut. Hanya dengan luasan 0,5 ha ia mengantongi Rp80-juta. Empat hari sekali pria berkumis itu mengirim 1 truk tomat atau 4 ton ke Pasar Cibitung, Bekasi. Laba yang diperoleh Masriyo, pekebun di Desa Langeunsari, lebih besar lagi (baca: Perkebunan Membuahkan Untung) Rp200-juta dari luasan 4 ha.

Yang juga mencecap manisnya bisnis tomat adalah Cucup AC. Bandar tomat berbendara UD Sayur Mayur Asgar, di Kecamatan Pasirwangi, Garut, itu pun meraup laba besar. Saat harga tomat di Pasar Kramatjati Rp5.000 per kg, ia membeli tomat seharga Rp3.500 – Rp4.000 dari pekebun di Kecamatan Pasirwangi, Sukaresmi, dan Samarang. Setiap hari 5 – 6 ton tomat dikirim ke Kramatjati. Keuntungan kotor Rp 5-juta –  Rp6-juta dikantongi per hari.

Budidaya Tomat
Penanaman meluas dikhawatirkan harga anjlok

Harga Benih naik

Keuntungan tinggi yang diperoleh pekebun tomat itu memacu pekebun lain untuk menanamnya. Itu tercermin dari meningkatnya penjualan benih. PT East West Seed Indonesia misalnya, selama triwulan pertama 2018 sudah menyalurkan 40 kg benih atau setara 500 ha untuk wilayah Garut. “Saya prediksi hingga semester pertama bisa mencapai 2 kali lipat,” kata Margono, manajer area wilayah Jawa Barat. Menurut Yohanes Sukoco, manajer PT East West Seed Indonesia, penjualan benih tomat untuk seluruh sentra pada saat normal hanya 50 kg/bulan. Sekarang mencapai 100 kg per bulan.

PT Tunas Agro Persada yang memasarkan benih dari perusahaan Taiwan, Qiang Nong Seed merasakan hal yang sama. Menurut, Ir Nurjaya, manajer area Jawa Bagian Barat dan Sumatera, permintaan benih triwulan pertama 2018 di wilayah Cianjur dan Sumatera meningkat hingga 30 – 40% dibanding tahun lalu. Ia bisa menyumbangkan 25% benih tomat di kedua kabupaten itu yang luasnya mencapai 100 – 200 ha. Prediksinya 3 – 6 bulan mendatang, areal penanaman tomat di daerah itu meningkat hingga 300—400 ha.

Naiknya permintaan benih tomat tidak hanya dirasakan di Jawa Barat, tapi juga secara nasional. PT Joro telah merasakan hal itu sejak Januari 2018. Pada bulan itu perusahaan menjual 320.000 benih. Padahal rata-rata penjualan benih per tahun 620.000 benih. Artinya penjualan di bulan itu sudah mencapai separuh volume penjualan selama 1 tahun. “Pasar mulai tumbuh,” kata Edi Sugiyanto dari Joro. Lampu kuning

Berkembangnya areal pertanaman tomat akibat naiknya harga selama Februari hingga April itu mesti diwaspadai. Pasalnya, bila pekebun lain latah ikut menanam, produksi bakal berlimpah sehingga harga kembali anjlok. Padahal, kemampuan pasar menyerap tomat tak banyak berubah dari tahun ke tahun.

Menurut Dede Mulyana, bandar besar di Cianjur dan Sukabumi. Pasar Induk seperti Kramatjati, Tanahtinggi, Cibitung masing-masing hanya menyerap 200 ton per hari. Memang ada peningkatan permintaan tomat pada hari-hari tertentu, seperti Lebaran, Natal, dan Imlek. Namun, itu tidak signifikan menaikkan harga. “Pada hari besar permintaan hanya meningkat 2% di setiap pasar,” ujar pria bertubuh tinggi besar itu.

Kelebihan pasokan pun pernah dirasakan pada awal April 2018, harga di pasar turun menjadi Rp2.000-an karena tak ada yang membeli. Kelebihan pasokan akan semakin tak terbendung bila pekebun di Tanggamus dan Liwa (Lampung), Malang (Jawa Timur) bergairah kembali menanam tomat.

Bila itu terjadi, tragedi banjir tomat tahun lalu akan terulang lagi. Bukan tak mungkin harga kembali jatuh sampai Rp200 per kg. Pekebun yang saat ini sedang menanam siap-siaplah untuk rugi. Walau begitu, beberapa pengamat tomat yakin harga masih stabil di kisaran Rp3.000 hingga Juli dan Agustus 2018. Soalnya, ratusan hektar lahan tomat di Garut yang menggunakan lahan Kehutanan berhenti menanam. Menurut mereka, harga di atas Rpl.000/kg pekebun dapat untung. Sebab biaya produksi per tanaman Rp 1.500 – Rp2.000. Produksi per tanaman lebih dari 2,5 kg.

no image

Kreasi Unik Tanaman Gantung Minimalis Untuk Mempercantik Rumah

Scirpus annuus yang biasa tumbuh liar di hutan tampil eksklusif. Batangnya yang hijau mengkilap tumbuh di atas pot berupa ruas bambu sepanjang 30 cm. Sedangkan cabangnya yang amat lentur berwarna keemasan menyebar ke berbagai penjuru mirip kembang api. Sosok itu tampil di sudut toko tanaman hias di Waterdrinkler, Aalsmeer, Belanda.

Pot memang sangat menunjang penampilan tanaman. Menurut Rizal Djaafarer, pakar tanaman hias, pot tak hanya berfungsi sebagai wadah tanaman. Namun, juga menambah nilai estetika suatu tanaman. “Bahkan tanaman kurang bernilai sekalipun, bisa lebih berharga jika dikemas dalam wadah yang baik,” tuturnya.

Misalnya, harga violces atau kaktus di pot plastik biasa Rp5.000/pot. Setelah pot diganti kayu atau rotan, harganya terdongkrak menjadi Rp 25.000 – Rp 30.000/pot. Padahal harga wadah itu hanya Rp l0.000/buah. “Hal seperti itu berlaku untuk semua jenis tanaman,” papar Rizal. Bahan lain yang bisa digunakan, bambu, batok kelapa, besi, kawat, atau barang bekas lain yang tak terpakai. Berikut ini pot unik lain yang dijumpai budidayatani.

Cantik dengan pot kaca

Ivy penghias lampu

Ivy merambati sebuah pergola mini yang melengkung di atas pot. Pergola indah itu terbuat dari rangka besi. Di tengahnya ditempatkan sebuah wadah lampu dari kaca bening. Tepat di atasnya tergantung sebuah tameng. Jadilah ia sebuah lampu taman indah berhiaskan daun-daun ivy. Di bandrol tertera angka 6,80 Euro setara dengan Rp 67.000. Tanaman yang banyak tumbuh di daerah dingin itu biasanya dijual murah.

Pot kaca

Saat budidayatani berkunjung di salah satu kios pada pameran tanaman hias di Suan Luang, Bangkok, Thailand, ada pemandangan menarik. Anthurium mungil berbunga merah muda diwadahi kaca bekas lampu tempel berisi air. Wadah itu tergantung di sebuah rangka besi berbentuk tangga nada G. Penampilannya semakin elok lantaran seluruh akar tanaman terlihat dari balik pot. Hiasan itu sangat pas dipajang di teras rumah.

Kelapa  gantung

Di tempat yang sama pot gantung dari batok kelapa juga menyita perhatian pengunjung. Sebutir batok kelapa bulat dilubangi di beberapa bagian membentuk mulut, hidung, dan mata layaknya labu halloween. Di bagian bawahnya terdapat lubang cukup besar. Dari lubang itu muncul rangkaian ekor tupai panjang menjuntai menyerupai jenggot. Pot itu memang dirancang untuk tanaman menggantung yang menjuntai.

Di Tanah air, pot serupa dimanfaatkan Rizal Djaafarer sebagai wadah anggrek dan kaktus. Namun, bagian atas terbuka dan tertutup di bagian bawah. Bentuk pot semacam itu bisa digantung atau diletakkan di atas meja sesuai selera.

Seperti kembang api

Anyaman kawat

Janggut musa dikenal sebagai tanaman yang bisa tumbuh meski tanpa media. Di negeri Gajah Putih tanaman itu ditempelkan di sebuah anyaman kawat menyerupai mangkuk bulat. Pot kawat itu kemudian digantung agar tanaman leluasa menjuntai. Berkat pot itu penampilan Tillandsia usneoides yang sederhana menjadi kian eksotis menyerupai sarang burung.

no image

Keunikan Dendrobium Ekapol Queen Dragon Mutasi Anggrek Berlidah Tiga

Namanya ekapol ‘queen dragon’. Yang membuat luar biasa penampilannya adalah ia mempunyai 3 lidah. Betul, berlidah tiga! Padahal hampir semua kerabatnya berlidah satu. Sebuah lidahnya menjulur sepanjang 4 cm, lebar 2 cm, dan berwarna merah keunguan. Sedangkan 2 lidah lainnya mengapit lidah pertama, tetapi lebih besar. Gara-gara lidah ia tampil atraktif.

Dendrobium ekapol ‘queen dragon’ salah satu kebanggaan Wirakusuma. Di kalangan penganggrek, nama Wira—panggilan akrabnya amat kesohor. Maklum, ia puluhan tahun menggeluti tanaman hias anggota famili Orchidaceae itu. Lalu, soal queen dragon, pemilik Edward & Frans Orchids itu, mendapatkan di Thailand pada 2002.

Dendrobium queen dragon
Dendrobium queen dragon

Selain berlidah 3, ratu naga itu juga berwarna menarik, merah terang. Ukuran bunga relatif besar, 8—10 cm sehingga tampil mencolok di tangkai sepanjang 30 cm. Dibanding induknya, anggrek sejenis, sosoknya sangat istimewa.

Sang ratu naga itu merupakan dendrobium ekapol yang mengalami mutasi. Anggrek potong itu memang sering mengalami mutasi. Namun, hanya queen dragon yang berlidah tiga. Pemilik di Thailand menyebutnya queen dragon untuk menyaingi king dragon. Bentuk penyimpangan raja naga itu lidah amat lebar sehingga mirip cattleya.

Hati-hati bila mencari anggrek queen dragon. Bisa-bisa anggrek berlidah biasa yang didapat. Sebab, pemilik nama resmi dan terdaftar di Royal Horticultural Society (RHS) adalah anggrek yang berlidah tunggal itu. Saporita R.D, pakar anggrek dunia menyilang dan mendaftarkannya ke Lembaga Biologi di Inggris pada 1995.

Lain lagi anggrek lidah tiga milik Moling Simardjo, penganggrek di Prigen, Jawa Timur. Sepintas, penampilannya malah tanpa lidah. Itu lantaran sosok lidah mirip kedua petal. Anggrek unik itu dinamai dina agus soeyitno. Pada 2001 Moling “menjodohkan” dendrobium waianae stripe dan dendrobium brighton pansy. Ukuran bunga brighton pansy, misalnya, cuma 6 cm. Sedangkan dendrobium waianae stripe mewariskan sifat batang kokoh dan tegak

Anggrek Vanda douglas

Jantan bundar

Untuk memperoleh anggrek berlidah aneh itu, Moling memilih jantan bentuk bunga bundar. Jantan tipe itu berpeluang besar untuk menurunkan sifat bunga besar dan berlidah tiga. Bentuk bunga bintang menurunkan sifat bunga lebih kecil sehingga jangan dipilih. Oleh karena itu dendrobium brighton pansy dipilih sebagai indukan jantan.

Dendrobium brighton pansy lahir dari pasangan d’bush pansy dan kuranda classic pada 1994. Moling pertama kali melihat brighton pansy di Singapura pada 1995 Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Meski warna belum begitu bagus dan ukuran kecil, Moling tetap memboyongnya ke Prigen.

dendrobium waianae memiliki kelebihan warna cerah. Kedua induk itu lantas disilangkan. Dari puluhan anak, hanya satu yang berlidah 3. Turunan lain berlidah sama dengan dendrobium pada umumnya, lidah satu, warna merah, dan tebal.
Langka

Doritis peloric
Doritis peloric

Menurut ketua Umum Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) itu, persentase terbentuknya anggrek berlidah 3 hanya 10%. Artinya, dari 10 anakan paling banter satu yang berlidah tiga. Oleh Moling, dina si lidah tiga itu terus diperbanyak dengan pemisahan anakan. Hasilnya keturunan dina pun tetap berlidah 3. Lantaran langka, kelahiran Medan itu menjual dina agus soeyitno Rp 50.000 per pot. Harga dendrobium lain sekitar Rp 20.000.

Menurut Wirakusuma ada 2 bentuk mutasi lidah. Pertama petal berubah menjadi lip atau sebaliknya lip menjadi petal. Bentuk pertama jauh lebih unik karena terbentuk tiga lidah pada satu bunga akibat kedua petal berubah wujud. Yang unik, lidah yang menjadi petal, dapat pula disilangkan dengan anggrek lain. Sebab di lidah itu juga terdapat tepung sari dan putik. Sayang di dendrobium, ’’Kebanyakan pollen cup (kantong tempat tepung sari, red) hanya satu dan kebanyakan jantan bersifat steril,” tutur Wirakusuma.

Pada kasus kedua bentuk bunga amat sederhana karena bunga seolah hanya terdiri dari 3 sepal dan 3 petal. Contohnya seperti dendrobium milik Moling di atas. Anggrek sejenis bisa pula dihasilkan dengan induk dendrobium classic gem atau turunannya.

Selain pada dendrobium, kasus mutasi lidah 3 itu dapat pula terjadi di phalaenopsis, doritis, oncidium, dan paphiopedilum. Penyimpangan itu muncul saat diperbanyak secara massal. Misal oncidium gower ramsey yang sering diperbanyak lewat kultur jaringan. Akhirnya satu saat muncul kelainan yakni berlidah tiga. Kasus itu juga terjadi pada vanda douglas.

Little princess

Walau rumusan menghasilkan anggrek berlidah tiga telah diketahui, tetapi keberadaannya belum diakui American Orchid Society. Kehadirannya dalam kontes selalu melalui debat panjang. Sebagian menginginkan ia didiskualifikasi sesuai peraturan. Sebagian lagi menginginkan anggrek peloric dibuatkan kelas tersendiri karena jumlahnya kian banyak.

Di Indonesia, kehadiran anggrek lidah 3 belum menimbulkan kontroversi. budidayatani belum pernah menyaksikan kehadirannya dalam lomba. Menurut Wirakusuma, bila mutasi anggrek itu ke arah bagus, harga anggrek itu bisa disejajarkan dengan anggrek eksklusif lain. Kebanyakan masih memiliki tepi mengerut.

no image

Koleksi Bunga Anggrek Terlengkap Dari Pehobiis Maniak

Sepatu dan dasi belum ditanggalkan usai pulang kerja. Begitu tiba di rumah, Muslim Mahfudz segera ke halaman belakang. Di gazebo ia mencermati cattleya chunyeah ‘goodlight’ #17. Sebelum layu, direktur CV Dirga itu ingin menikmati sepuasnya keindahan anggrek jawara lomba Asia Pacific Orchids Converence VIII di Taiwan.

Muslim sangat tergila-gila pada anggrek itu. Saat pertama kali melihat sosok cattleya chunyeah, hobiis di Pondok Belimbing Indah, Malang, itu langsung jatuh cinta. Bunganya memang menarik, kuning berlidah merah selebar 20 cm dan terdiri atas 6 kuntum selebar 14 cm. Makanya, ia enteng saja menebusnya meski berharga 7 digit. ( Baca : 5 Varietas Anggrek Import Terpopuler )

Bersama sang juara, Muslim Mahfudz membawa haser black jack, spring jewel miki, dan Cattleya Hwa Yuan. Total pembelian saat itu mencapai belasan juta rupiah. Kini anggrek dari Taiwan itu ditempatkan di teras belakang dan sebagian di gazebo bersama cattleya berbunga ungu terdiri atas 8 kuntum dan vanda sarat bunga.

Koleksi anggrek

 

Anggrek terbaik

Dari sekian banyak koleksi, cattleya dan vanda menjadi favorit Muslim Mahfudz. Alasannya, keduanya berbunga indah, bentuk menarik, dan gampang dirawat. Tak heran untuk melengkapi koleksi cattleya dan vanda, komisaris Yayasan Al Azhar Semarang itu rajin menghubungi teman-teman di Jakarta, Surabaya, Malang, dan Bandung.

Setiap ke Jakarta, waktu luang diisi dengan mengunjungi Taman Anggrek Indonesia Permai. Toh. di pusat anggrek itu tidak selalu ada anggrek terpilih. Pemilik CV Dirga di Bali itu baru membeli bila anggrek berbatang utuh, tanpa pemah di-split, serta berbunga lebat dan indah. Harga tidak menjadi masalah, sejauh seimbang dengan kualitas. Lomba-lomba anggrek di berbagai tempat juga rajin disambangi untuk mencari anggrek idaman.

Beberapa koleksi diperoleh langsung dari pakar anggrek dari Thailand sewaktu bertandang ke Indonesia. Adisak Hongsilp dan Noppom Buranaraktham, keduanya penganggrek top di Nakhonpathom, Thailand, pernah berkunjung ke rumahnya. Dari mereka Muslim mendapat 20 vanda juara di negeri Gajah Putih, di antaranya rattana x mahakkapon. Anggrek itu memiliki 3 tangkai sekaligus sepanjang 50 cm, ukuran bunga besar mencapai 10 cm. Setiap tangkai digelayuti 8—10 kuntum berwarna merah kekuningan.

Selain itu ada vanda nancy brown x kasem delight berwarna cokelat. Ia istimewa lantaran berbunga 4 tangkai umumnya hanya 1 – 2 tangkai. Di Indonesia, anggrek sekualitas itu dijual Rp l.500.000. (Baca : Raup Untung Jutaan Rupiah Lewat Budidaya Anggrek Dilahan Sempit )

Koleksi lain yang mengagumkan ialah Dendrobium spectabile. Penampilan anggrek itu amat prima. Pantas kalau ia tampil sebagai the best of show di lomba Malang Orchids Show pada pertengahan April 2004. Anggrek kribo itu memiliki 5 tangkai yang dipadati bunga bercorak cokelat kemerahan tua. Daun lengkap dan sehat sekali.

Koleksi anggrek
Muslim Mahfudz, tiap saat rindukan anggreknya

Rawat sendiri

Anggrek-anggrek berkualitas itu tidak sekadar dikoleksi. Tanaman dirawat sendiri sepenuhnya sehingga tampil prima. Sedangkan perawatan anggrek nonkoleksi diserahkan ke karyawan. Anggrek nonkoleksi berasal dari anggrek koleksi yang biasanya: malas berbunga, bunga tidak prima, warna kurang cerah, cepat layu, jumlah kuntum sedikit, dan rumpun tidak utuh.

“Saya tidak suka beli kalau rumpun sudah dipecah,” ungkap sarjana Hukum alumnus Universitas Gajah Mada itu. Alasannya, ukuran bunga kecil. Setelah rimbun baru bisa besar, tetapi perlu waktu lama, minimal 7 bulan.

Perhatian Muslim terhadap anggrek memang luar biasa. Meski tengah tidur lelap, tetapi saat hujan disertai angin kencang, ia akan bangun dan segera naik ke dak rumah berlantai 2. Setelah yakin anggrek aman, baru ia balik ke peraduan. Keesokan pagi, ayah Dian Kumiawan itu kembali menjenguk sang peliharaan.

Koleksi anggrek
Koleksi anggrek berbunga selalu memenuhi tamannya.

Kalau urusan anggrek ia memang tak kenal capai. Suatu ketika pejabat di salah satu lembaga keuangan itu menghadiri beberapa pertemuan penting. Aktivitasnya yang menyita tenaga dan pikiran itu ternyata tak menurunkan semangat untuk mengontrol anggrek.

Adalah pemandangan sehari-hari bila sehabis pulang kantor, malam hari, suami Nurul Sa’diah itu langsung menikmati kemolekan bunga anggrek. “Dengan menyambangi anggrek, rasa jenuh dan capai hilang begitu saja,” ucapnya. Apalagi ketika melihat cattleya dan vanda berbunga. “Itulah saat paling indah,” tutur pria kelahiran Blitar 56 tahun silam itu.

Senin, 24 Juni 2019

Mengintip Koleksi Bonsai Pehobiis Dari Amerika Latin

Mengintip Koleksi Bonsai Pehobiis Dari Amerika Latin

Penampilan bonsai Ficus microcarpa dan Guapira fragrance seperti magnet yang menyedot perhatian pengunjung pameran di Dorado del Mar Beach and Golf Resort San juan, Puerto Riko. Percabangan beringin iprik Ficus microcarpa kompak, lebat, dan amat menawan dalam gaya informal. Itulah bonsai koleksi Pedro Morales, master bonsai Amerika Latin.

Di samping dua bonsai itu. panitia juga memajang jenis black pine yang tergolong langka di Indonesia. Chinese hat dengan daun semu mirip bunga berwarna merah muda ikut menyemarakkan ruang pamer. Tampak juga jenis fruta yang digelantungi buah kecil berwarna merah seperti melinjo. Pohon beringin dan asam pun turut hadir. Pameran bonsai itu merupakan rangkaian acara Kongres Bonsai Tropika yang berlangsung di ibukota negara San Juan.

Pehobiis Bonsai

Selama di Puerto Riko (bahasa Spanyol artinya berpotensi besar, red) saya berkeliling ke beberapa nurseri. Yang paling mengesankan adalah pemandangan di Jardin Selecto Garden and Bonsai Store 744 Ave Infentaria, San Juan. Pedro, sang Bonsai bagus juga dijumpai di rumah Gustavo di San Juan yang memiliki banyak jenis. Hobiis itu meletakkan koleksinya di pinggiran kolam renang.

Yang istimewa adalah sea grapes, tanaman berdaun lebar yang banyak tumbuh di pantai Puerto Riko. Penampilan bonsai itu tampak sangat tua dan tertata alami. Ia pun memajang beberapa Ficus subulata yang konon bibitnya justru berasal dari Sulawesi. Itu tergambar dari namanya laurel de Celebes. Kerabat beringin itu menarik lantaran batangnya seperti berbonggol dan tak ditumbuhi akar udara sebagaimana ficus lain.

Jose Luis, anak muda yang menggeluti bonsai sejak usia sepuluh tahun juga memiliki bonsai yang tak kalah menarik, Neea buxifolia. Begitu pula cemara udangnya, termasuk bagus bahkan untuk kelas Indonesia. Beberapa tanaman masih berupa bahan dan dibiarkan tumbuh liar untuk membesarkan cabang. Kolektor lain di San Juan adalah Gadiel yang memiliki banyak Neea buxifolia dan ficus.
Ebb and flow

Bonsai Chinese hat
Bonsai Chinese hat berdaun seperti bunga

Nurseri di sebuah pegunungan, sekitar 30 km dari San Juan, menerapkan teknik yang belum dilakukan di Indonesia. Pot bonsai diletakkan dalam bak yang digenangi sedikit air. Seperti metode ebb and flow dalam budidaya hidroponik. Rupanya tempat ini adalah milik seorang pengumpul bahan bonsai. Bahan bonsai yang dijumpai antara lain Neea buxifolia, jeruk kingkit, hokian tea, dan bermacam ficus. Di tempat ini saya mencoba membuat bonsai dari pohon cerry raksasa.

Dalam perjalanan ke selatan di sekitar Ponce, kota terbesar kedua di Puerto Riko, ada nurseri milik Alexis Feliciano. Di nurseri itu bonsai ditata di atas tumpukan batako setinggi 0,5 m. Pohon di sini berbeda dengan yang ada di daerah utara. Di sini banyak botton wood dan Bucida spinosa yang belum ada di Indonesia. Struktur daunnya seperti ketapang, tetapi berukuran amat kecil. Selain itu ada loog wood, cemara angin, Tabebuia heterophylla dan beberapa tanaman lokal lain. Mereka diambil dari daerah kering di selatan pulau.

Bonsai
Bonsai Neea buxilolia

 

Kaya bahan bonsai

Puerto Riko kaya akan bahan bonsai. Hutan kering di sepanjang pantai banyak ditumbuhi sea grapes yang menawan dibonsai. Selain itu, santigi yang juga ada di Indonesia banyak tumbuh di tepi karang. Tumbuhan laut itu dilindungi sehingga tak bisa diambil sembarangan seperti di Indonesia. Di daerah barat daya pulau terdapat Guanica, taman Nasional kering yang dilindungi. Pepohonan yang tumbuh sangat memikat hati penggemar bonsai. Berbagai pohon tua eksotis banyak dijumpai. Di antaranya botton wood, loog wood, casuarina, melocactus, dan tabebuia.

Di taman Nasional El Yunque, satu-satunya hutan tropis di Amerika Serikat, jika kedapatan mencabut satu tanaman akan didenda US$ 1.000. Namun, hutan yang ditata seperti taman itu dapat dinikmati keindahannya oleh masyarakat. Hutan ini terletak di daerah timur pulau dengan curah hujan tinggi, 200 inci per tahun. Tanaman beraneka warna banyak tumbuh di daerah itu. Ia hutan tropis terkaya jenis floranya.