-->

Rabu, 31 Juli 2019

Aglaonema Penghias Taman Dan Pekarangan Rumah

Aglaonema Penghias Taman Dan Pekarangan Rumah

Enam tanaman aglaonema berbagai jenis menghiasi jendela dapur rumah Ny. Alun di Kebonjeruk, Jakarta Barat. Paling menonjol varietas berdaun merah asal Bangkok setinggi 30 cm dan berdaun 10 lembar. 

Tanaman aglaonema
Dry garden di antara taman berbunga
Pasaran aglaonema teranyar itu minimal Rp7,5-juta. Puluhan aglaonema dikoleksi sejak 1993. Semua tampil prima: bongsor, cmakan banyak, dan daun mengkilap.

Puluhan jenis tanaman lain dikoleksi pula seperti 50 jenis kembang sepatu dan 80 varietas adenium. Hobiis itu juga mengumpulkan palem, anggrek, euphorbia, aneka sukulen, dan tanaman merambat. Mereka ditata membentuk taman yang indah dan semarak bunga.

Sebagian besar koleksinya diperoleh dari nurseri di Jakarta. Bagi pedagang, Ny Alun salah satu pembeli potensial. Istri Santoso, pengusaha cat mobil “Isamu” itu berani membeli jenis baru saat harga masih tinggi.

Bila bepergian ke luar negeri, ibu 3 anak itu lebih senang mengunjungi nurseri dibandingkan ke tempat hiburan atau mal. Namun, di sana dia jarang membeli tanaman, tetapi peralatan berkebun seperti gunting dan pupuk. 

Dari Amerika Serikat ia membawa rak, Singapura; mulsa kayu dan penghalang tanah melebar. Di Thailand, pilihannya jatuh pada adenium. Selebihnya ia membeli di tanah air karena lebih terjamin hidup. Saking cinta pada tanaman, Ny Alun tak berani meninggalkan rumah lebih dari 2 minggu. Selain sayang tanaman, 4 pudel, teman tidurnya membutuhkan perhatian.

Koleksi aglaonema dari Segala jenis

Ny Alun memang tidak memilih tanaman aglaonema jenis tertentu, tetapi halaman rumahnya didominasi tanaman berbunga. Ambil contoh kembang sepatu. Hibiskus itu dikoleksi sejak 3 tahun silam dan jumlahnya mencapai 50 jenis. 

Mereka bergantian memunculkan bunga beraneka ragam, bentuk, dan warna . Jenis baru yang sebagian besar dari Amerika Serikat itu dibeli dari nurseri di Bogor seharga Rp200.000-Rp500.000.

Di bagian tengah dihadirkan berbagai jenis tanaman berbunga. Ada mandevilla merah dan pink, soka, sertaa plumeria yang amat rajin berbunga. 

Di antara bunga tadi hadir beberapa palem. Yang cukup menonjol, Coccothrinax crinita, yang berambut panjang. Dengan sosok setinggi 1 m, diperkirakan harga tidak kurang dari Rp5-juta.

Di teras, puluhan anggrek eksklusif berbagai jenis juga bersaing pamer kemolekan. Paling menonjol dendrobium di pot berdiameter 50 cm. Puluhan batang setinggi 1 m silih berganti berbunga. Batang sampai doyong karena tangkai bunga sepanjang 30 cm dipenuhi bunga ungu putih.

Anggrek mini seperti cymbidium dan cattleya juga membuat pengunjung berdecak kagum. Cymbidium yang notabene malas berbunga di daerah panas, di tangannya rajin memamerkan bunga kuning cerah. Sedangkan cattleya mini merunduk lantaran tangkai tak kuasa menahan belasan bunga.

Ny Alun pun memajang puluhan varietas adenium yang dikumpulkan sebelum tren seperti sekarang. Koleksinya lebih dari 80 varietas dengan bonggol rata-rata istimewa. Kolektor itu juga mengumpulkan euphorbia. Sukulen berduri tetapi berbunga cantik itu menghuni dinding pagar hingga ketinggian 4 meter.

Kekaguman semakin bertambah bila melihat halaman belakang. Halaman seluas 100 m2 itu ditata sebagai taman. Pinggir tembok diisi deretan aneka jenis, seperti euphorbia, adenium, dan anggrek. Tanaman-tanaman itu disangga rak buatan USA. Di sudut, Ny Alun menghadirkan gazebo sebagai pusat pandang. 

Di pelataran berbagai jenis digantung, dan puluhan Raphis excelsa variegata berbagai motif. Di bawah pelataran, lagi-lagi wanita yang gemar melukis itu memajang puluhan aglaonema yang dikumpulkan sejak 1993. Karena jarang dipotong daun donna carmen berukuran 18 cm x 30 cm. Yang umum hanya 8 cm x 20 cm.

 

Tanaman aglaonema Penghias Taman
Tanaman aglaonema Penghias Taman

Aneka Tanaman daun

Meski penggemar bunga, tetapi tanaman daun pun dikumpulkan. Sebuah dry garden seluas 25 m2 di bagian tengah dihadirkan untuk menampung tanaman asal daerah gurun. Di situ, kelahiran Pontianak itu menghadirkan agave, encephalartos, kaktus, dan aneka sukulen. Ny Alun seolah tak sayang menanam di tanah Encephalartos horridus berbonggol 20 cm berharga di atas Rp5-juta.

Di dalam rumah. Ibu dari Purwanto, Yanto, dan Yuni itu memajang belasan tanaman aglaonema dalam pot. Semua tampil eksklusif sebab daun utuh serta mengkilap. Meski ada 100 daun/pot, “Saya tetap mengelap lembar per lembar agar penampilan prima.” Bila harga pride of sumatera Rp25.000/lembar berarti satu pot senilai Rp2,5-juta.

Tanaman Hias Bebas Serangan daun kuning

Perempuan 58 tahun itu mulai aktivitas di kebun setiap pukul 06.00 setelah berjalan kaki. Ia mulai dengan memetik daun-daun kuning. Satu per satu tanaman di halaman seluas 500 m2 disibak. Kembang sepatu, anggrek, mandevilla, palem, adenium, bunga burung, dan aglaonema harus bebas dari daun tua. Pemupukan dilakukan setiap Minggu pukul 05.00 Dipilih waktu subuh untuk menghindari terik matahari.

Meski berbeda jenis dengan beragam keinginan, tanaman jarang mati. Misalnya untuk tanaman gurun dilakukan persiapan khusus. Tanah digali sedalam 1 m. Di dasar lubang besar itu disusun batu kali, lalu ijuk, dan campuran humus dengan pasir putih. Dengan media demikian koleksi tidak bakal terendam.

Anggrek oncidium Lidah Tiga Koleksi Hobiis Anggrek Dari Salatiga

Anggrek oncidium Lidah Tiga Koleksi Hobiis Anggrek Dari Salatiga

Ada keindahan di balik bentuk menyimpang. Itu berlaku bagi anggrek oncidium koleksi Lila Natasaputra, penganggrek di Kotamadya Salatiga, Jawa Tengah. Lazimnya anggrek asal Karibia itu memang berlidah tunggal, tetapi kedua sepal oncidium Lila membesar sehingga seolah berlidah tiga.

Hobiis dari Taiwan yang bertandang ke kota di lereng Merbabu itu langsung jatuh hati melihat sosok anggrek oncidium itu. Harga berapa pun bukan masalah. Sedangkan penggemar lokal berani menawar Rp500.000 per pot terdiri atas 3 bulb. 

Anggrek oncidium Lidah

 Harga pasaran untuk oncidium “normal” saat ini paling pol Rp4.000. Namun, mantan dosen Universitas Kristen Satya Wacana itu tetap mempertahankannya.

Sebetulnya performa anggrek oncidium itu mirip kerabatnya golden shower atau gower ramsey. Tangkai sepanjang 30 cm disesaki bunga berwarna kuning cerah sehingga tampak kompak. Yang membedakan, hadirnya 3 lidah akibat mutasi gen. 

“Terjadi mutasi karena dikulturjaringankan secara massal. Misalnya, satu eksplan diperbanyak menjadi puluhan ribu tanaman,” ujar pemilik Nurseri Greenleaf itu.

Itulah yang terjadi ketika Kaseem Bunchu Orchid penganggrek kenamaan di Bangkok mengkultur jaringankan oncidium gower ramsey. Oncidium yang bersemarak bunga itu hasil persilangan goldiana dan guinea gold

Hasilnya, selain mirip dengan induk, muncul pula beberapa tanaman menyimpang, yakni kedua sepal membesar membentuk lidah. Anggrek itulah yang diburu Lila.

Oncidium excavatum Banyak Dicari Pehobiis

Beruntung akhirnya Lila mendapatkan 10 pot di sebuah nurseri di Jakarta. Dari jumlah itu ia membeli 5 pot yang diperkirakan kelainannya permanen. Tentu saja tak ada rumusan kriteria soal stabilnya gen itu. 

“Saya hanya mengambil berdasar feeling,” katanya. Beberapa bulan berselang ia kembali mengambil 5 pot. Harga excavatum per pot terdiri atas 3 bulb Rp 150.000.

Kesepuluh anggrek oncidium berjuluk doll dancing itu dipelihara meliputi penyiraman rutin dan pemupukan secara periodik. Dari jumlah itu hanya 5 pot yang benar-benar permanen. Lima pot lainnya labil sehingga akhirnya dijual kembali. 

“Kadang muncul 3 lidah, bunga berikut hanya 1 lidah,” katanya. Seleksi lebih dari setahun lantaran menanti tanaman beberapa kali berbunga. Tanaman yang 3 kali mengalami perubahan divonis labil.

Lila lantas memperbanyak tanaman permanen secara hati-hati. Harap maklum, biasanya tanaman mutan mudah berubah ke bentuk semula. “Setelah muncul 6 bulb saya baru berani memisahkan. Ada 5 bulb saja saya tak berani (memisahkan, red),” ujar ayah 2 anak itu. 

Tiga individu “baru” hasil pemisahan itu ditanam di sebuah pot berdiameter 10 cm. Media tanam berupa cacahan pakis.

Anggrek potong

Saat ini Lila yang memburu anggrek oncidium sejak 1982 itu mengoleksi 100 pot oncidium berlidah 3. Oleh Lila dimanfaatkan sebagai bunga potong. Soalnya, bunga mampu bertahan lebih dari sepekan usai pemetikan. Tangkai cenderung tegak nilai lebih lain. Itu saja belum cukup untuk memenuhi syarat anggrek potong. Kriteria lain: produksi tinggi pun dimiliki si lidah tiga.

Menurut Lila 1-2 bulan setelah pemetikan, muncul bulb yang disusul kehadiran bunga baru. Perpaduan kelebihan itu plus diterima pasar menyebabkan ia ideal sebagai anggrek potong. 

Bandingkan dengan golden shower dan grower ramsey yang bertangkai lentur dan hanya tahan 4 hari. Itulah sebabnya mereka tak dijadikan sebagai bunga potong.

Senin, 29 Juli 2019

Raup Untung Berlipat Lewat Bisnis Dan Budidaya Jagung Manis

Raup Untung Berlipat Lewat Bisnis Dan Budidaya Jagung Manis

Setahun terakhir Sigit Djuwarso mempunyai kesibukan baru. Ia memanfaatkan waktu luang untuk berkebun jagung manis. Pada tingkat harga Rp400 per kilo, ia mencapai titik impas. Padahal, Sigit menerima Rp2.000 per kg sehingga jutaan rupiah menggelembungkan pundi-pundinya.

 

Budidaya Jagung Manis
Jagung hibrida Mulai diusahakan pekebun di luar Jawa Barat

Ia tertarik dalam Budidaya Jagung Manis itu lantaran risiko dan biaya produksi relatif kecil serta harga stabil. Kestabilan itu setidaknya berlaku di Sukoharjo, Jawa Tengah, tempat menanam jagung manis. 

Di tingkat pekebun harga berkisar Rp 1.500-Rp2.000 per kg boleh jadi lantaran di sana baru berkembang, sehingga sedikit pekebun yang mengusahakan kerabat padi itu. Wajar jika pasar di Sukoharjo, Surakarta, dan sekitarnya menyerap pasokan pekebun dengan harga memadai.

Luas penanaman 1,5 ha tersebar di 3 tempat, Karangpandan, Bekonang, dan Gawok. Sigit menanam Jagung Manis dengan interval sepekan agar panen berkelanjutan. Dengan jarak tanam 25 cm x 75 cm, total populasi mencapai 48.000 tanaman per ha. 

Prospek Dan Peluang Bisnis

Memperhitungkan tingkat mortalitas 20%, yang dapat dituai 38.000 tanaman. Setiap tanaman varietas Sugar dipertahankan 2 tongkol. Pekebun di Jawa Barat umumnya memilih varietas hawaii, hanya menyisakan sebuah tongkol per tanaman.

Pembungaan pertama dibuang; kedua, dijadikan jagung bakar. Baru pada pembungaan ke-3 dijadikan “jagung manis” untuk pasar swalayan. Rata-rata bobot tongkol mencapai 300 g, sehingga sekilo terdiri atas 3-4 buah. 

“Saya pernah memasok pasar swalayan ditolak karena tongkol terlampau besar,” ujar sarjana Pertanian alumnus Universitas Negeri Sebelas Maret itu. Pasar swalayan menginginkan sekilo isi 5 tongkol.

Lahan perkebunan jagung semakin Diperluas

Karena ditolak, Sigit akhirnya memanfaatkan pembungaan ke-3 sebagai jagung bakar yang juga dilempar ke pasar tradisional. Lagi pula harga yang diterima dari pasar swalayan hanya Rp2.250 per kilogram. 

Bandingkan dengan di pasar tradisional yang mencapai Rp2.000. Keistimewaannya, pasar tradisional menerima jagung manis utuh, tanpa pemotongan kedua ujung tongkol. Pemotongan itu menyita 10-15% dari bobot semula.

Dengan rata-rata bobot 300 g Sigit menuai 9 ton per ha. Artinya, Rp 12-juta ditangguk saat harga jual Rp2.000 per kg. Itu laba bersih setelah dikurangi biaya produksi Rp3,6-juta. Biaya terbesar antara lain untuk pengolahan tanah, Rp 1.250.000 per ha. 

Namun, biasanya pada penanaman kedua biaya itu tak dikeluarkan lantaran pekebun meniadakan pengolahan tanah. Kiat itu tak mempengaruhi produktivitas.

Menurut perhitungannya, keuntungan dari budidaya jagung manis tercapai saat harga jual Rp400. Kemudahan memasarkan dan harga memadai mendorong ayah 5 anak itu berhasrat memperluas penanaman. 

Pasar jagung manis diakui Ibrahim Rony Kusnady, pekebun sekaligus pengepul di Bogor, makin tumbuh. Pada 1984 ketika pertama kali ia memperkenalkan jagung manis di Indonesia, komoditas itu sangat eksklusif.

pasokan jagung manis
Kresek serang daun, produksi turun

 Minim pasokan jagung manis

Sembilan tahun kemudian Budidaya Jagung Manis kian populer. “Pasar akan terus tumbuh. Suatu ketika makan jagung identik jagung manis,” katanya. Jagung nonmanis tergeser hanya untuk industri tepung dan pakan ternak. 

Menurut perkiraan Rony, Jakarta membutuhkan minimal 70 ton per hari. Kini jagung manis tak melulu ditemukan di pasar swalayan. Pasar tradisional pun turut menyerapnya. Rony, misalnya, memasok 1 ton per hari untuk beberapa pasar di Bogor dan Jakarta.

Volume sama juga dikirim untuk pasar swalayan setiap hari. Sebuah restoran cepat saji di Bandung dan Jakarta membutuhkan masing-masing 400 dan 1.000 tongkol per pekan. 

Standar mutu yang diinginkan panjang minimal 14 cm, diameter 5-7 cm, kulit dipertahankan 2 helai. Sayang, tak semua permintaan terlayani. Minimal 2 ton permintaan gagal terpenuhi per hari lantaran keterbatasan pasok.

Terbukanya pasar pun dirasakan Jajang Saeful Hidayat. Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki di Garut itu mengirimkan 1-2 ton per hari ke berbagai pasar di Jakarta dan Tangerang. Pasar Induk Caringin di Bandung dipasok 1,8 ton per hari. 

Pria 34 tahun itu mengandalkan pasokan 8 pekebun plasma di Cisurupan, Garut, yang mengelola 3 ha. Luasan sama juga ditanami jagung manis oleh ayah 2 anak itu.

Semakin Meluas

Sedangkan Rony memperoleh pasokan dari pekebun plasma di Garut dan Sukabumi, di samping mengandalkan kebun sendiri di Ciawi, Bogor. Meski demikian ia kesulitan memperoleh pasokan akibat kemarau panjang pada tahun silam. 

Dampaknya teijadi penurunan luas tanam. Itu tercermin dari volume penjualan benih. Rony yang menyediakan benih jagung varietas hawaii, misalnya, hanya melepas 3 kuintal biasanya, 5 kuintal per bulan. Luasan 1 ha membutuhkan 6 kg benih.

Keadaan itu disusul curah hujan tinggi sejak November-Maret silam, menyebabkan produksi melorot. Karena itiftah pasokan berkurang sehingga harga melambung mencapai Rpl.800 per kg. Seperti komoditas lain.

harga tinggi itu juga mendorong spekulan untuk menanam jagung manis. Artinya, di sentra penanaman harga sewaktu-waktu terancam melorot. Kecuali di daerah penanaman baru seperti Sukoharjo, Surakarta, Boyolali harga diprediksi relatif stabil.

budidaya jagung manis belakangan ini memang menyebar ke luar Jawa Barat. Semula hanya di Bogor, lalu menyebar ke Sukabumi, Garut, Bandung. Menurut Ir Widodo setahun terakhir komoditas itu mulai dilirik pekebun di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Catatan Region Sales Manager Syngenta Indonesia, itu penjualan benih di kedua provinsi masing-masing berkisar 30-100 kg per bulan setara 6-16 ha penanaman.

Jagung Manis Kemasan Beku

Pasar Jagung Manis Kemasan Beku

Selain dijual segar, pasar ekspor olahan mulai terbuka. Ibrahim Rony Kusnady yang bermitra dengan Kemfarm, Juni mendatang mulai mengekspor jagung beku ke Jepang. Semula negeri Matahari Terbit itu mengandalkan pasokan dari Selandia Baru. 

Sayangnya, negara di timur Australia itu memipil jagung manis dengan mesin, sehingga sebagian biji tertinggal di tongkol. Padahal, yang diinginkan Jepang biji pipilan utuh dengan jari tangan.

Itu tak dapat diwujudkan eksportir Selandai Baru. Soalnya, negara yang ditemukan pelaut Belanda, Abel Tasman, itu tersandung sumber daya manusia. Indonesia yang berlimpah penduduk jauh lebih siap. 

“Cina sebetulnya juga bisa. Tapi, jagung asal Cina mengandung pestisida tinggi,” tutur Rony. Jepang memesan 8 ton pipilan per pekan atau setara 32-35 ton dengan memperhitungkan bobot tongkol.

April sekarang Rony mulai menggandeng pekebun di sekitar Semarang. Maklum, lokasi pabrik pembekuan memang di ibukota provinsi Jawa Tengah. “Keuntungan petani, semua produk dapat terserap karena tak ada standar mutu. Pokoknya asal ada biji, pasti diterima,” ujar Rony.

Tentu saja tak melulu kisah manis yang dialami pelaku Budidaya Jagung Manis. Tiga hari hujan tak kunjung mereda pada penghujung tahun lalu menyebabkan kualitas jagung melorot. Dampaknya harga yang diterima pun menukik sehingga laba menipis. 

Ganyangan penyakit “keresek” meminjam istilah pekebun di Garut acapkali meluluhlantakkan harapan pekebun. Serangan ditandai dengan mengeringnya daun. “Kalau terserang, kita susah panen,” ujar Jajang. Sekitar 0,5 ha ladang jagung yang ia kelola, akhir tahun lalu tak luput dari serangan penyakit itu.

Bagi pekebun pemula menghasilkan tongkol bermutu relatif sulit. Setidaknya itu dialami pekebun Cisurupan, Garut. Mereka mengenal jagung manis baru pada 2000. Banyak tongkol yang dihasilkan berbiji menumpuk, biji tak penuh, atau tongkol yang pendek. Akibatnya, harga yang diterima relatif rendah, Rp600 per kg. Pada tingkat harga itu, laba pekebun tipis, hanya Rp200 per kg

Pertanian Aeroponik Dengan Greenhouse

Pertanian Aeroponik Dengan Greenhouse

Pria perlente itu baru saja meneken kerja sama pengolahan limbah dengan sebuah pabrik aluminium di Ngoro Industrial Park, Pasuruan. Walau hari masih siang, Allen Hartono, nama pria itu, tak langsung ke kantor di Surabaya. Ia malahan mengarahkan mobil ke Trawas, Mojokerto. Di sana, setelah melepas sepatu ia asyik-masyuk di greenhouse. Beberapa selada mengering yang ditanam 2 hari lalu disulamnya.

Meski mengenakan pakaian kerja ia tak canggung berkebun. Paling baju lengan panjangnya digulung sebatas siku. Selain menyulam, aktivitas lain adalah meramu nutrisi, mengecambahkan benih, dan memanen beragam sayuran. 

Budidaya sayuran hidroponik kita
Budidaya sayuran hidroponik

Sore itu hingga mentari tergelincir di cakrawala pengusaha itu masih memanen kangkung aeroponik. Satu tray besar yang disesaki Ipomoea aquatica diusung ke bagasi mobil.

“Sekarang istri saya jarang belanja sayuran,” katanya. Itu terjadi sejak Allen menekuni hobi baru: berkebun sayuran. Tentu saja, tidak saban hari keluarganya menyantap sayuran sejenis. Panen kangkung sore itu, misalnya, juga dibagi-bagikan kepada kerabat dan tetangga. Dijual? Belum terpikirkan pekebun sayuran hidroponik sejak Juni 2015 itu.

Ia mengelola 2 greenhouse memang sekadar melampiaskan hobi bercocok tanam. Hobi itu bermula dari keisengan pria bersosok tinggi besar itu. 

Di halaman belakang kantornya di bilangan Kenjeran, ia mengadopsi teknologi aeroponik untuk menanam beragam komoditas seperti kacang tanah dan pulepandak. Lantaran kebablasan ia memutuskan membangun rumah tanam di sekitar vilanya di Trawas.

Modal Awal memulai Pertanian Aeroponik

Untuk mewujudkan keinginan bercocok tanam, jutaan rupiah terkuras dari kocek Allen. Ia membangun 2 greenhouse berkerangka besi dengan ukuran masing-masing 10 m x 4 m dan 12 m x 4 m. Biaya membuat greenhouse berkerangka kayu saja, mencapai Rp50.000 per m2. 

Artinya, lebih dari Rp4-juta dibelanjakan untuk membangun 2 greenhouse. Fulus yang mengalir kian deras jika memperhitungkan biaya pengadaan perangkat Pertanian Aeroponik.

Harap maklum, saat ini biaya pembelian tetek-bengek peranti aeroponik atau hidroponik berkisar Rp65.000-Rp75.000 per m2. Mau tak mau Rp5,8-juta harus dikeluarkan ayah 2 anak itu. 

Belum lagi ia mesti mengupah seorang karyawan untuk menjaga greenhouse itu. Hanya itu? Ternyata tidak. Soalnya, Allen juga harus membeli rockwool sebagai media persemaian, benih beragam sayuran, dan nutrisi.

Sayangnya, ia tak mempunyai data besarnya masing-masing kebutuhan itu. Menurut Agus Misbah, pengelola farm aeroponik dan hidroponik di Bogor, untuk luasan hampir 56 m2, kebutuhan rockwool berkisar 2 slaps per bulan setara Rp36.000. Angka 56 m2 itu merupakan 70% lahan efektif dari total luas 2 greenhouse yang dikelola Allen.

Kebutuhan benih dan nutrisi Rp 150.000. Jadi, setiap bulan minimal pundi-pundinya terkuras ratusan ribu. Namun, tak serupiah pun yang ia peroleh dari komoditas yang diusahakan. Lazimnya greenhouse memang hanya untuk kebun produksi.

Gado-gado

Demi kepuasan, ia tak hirau akan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk membiayai hobinya. Di greenhouse itu ia menanam beragam sayuran. Komoditas yang dipilih, “Pokoknya saya suka makan apa, ya itu yang saya tanam,” tuturnya. 

Saat muncul keinginan menikmati pakcoy, ia pun segera membenihkan Brassica chinensis. Itulah sebabnya di greenhouse mini itu aneka sayuran dibudidayakan. Beberapa di antaranya selada keriting, batavian letucce, romance letucce, horenzo, dan bayam merah yang dikembangkan dengan teknologi hidroponik NFT (nutrientfilm technique).

Selain itu di Pertanian Aeroponik miliknya, ada pula tomat dan paprika. Tanaman sekerabat anggota famili Solanaceae itu ditanam dengan hidroponik substrat. 

Sedangkan sisi kiri dan kanan di tepi greenhouse dimanfaatkan sebagai parit selebar 60 cm. Oleh Allen parit itu difungsikan sebagai lokasi budidaya kangkung dengan mengadopsi sistem deep floating rafi alias rakit mengapung.

Di atas parit itu diapungkan styrofoam 60 cm x 60 cm yang terdiri atas 36 lubang tanam. Satu lubang tanam diisi 3—4 bibit. Sepanjang parit itu terdapat 7 styrofoam. Agar panen berkelanjutan, ia menanam secara periodik. Sekali tanam lazimnya 2—3 styrofoam. Kangkung memang pilihan pas lantaran mudah tumbuh meskipun oksigen terlarut rendah.

Itu akibat Allen tak melengkapi aerator. “Saya pernah coba pakcoy, pertumbuhannya lambat. Tanaman kelihatan kurus,” katanya. Dua greenhouse itulah yang disambangi pria baruh baya 2-3 hari sekali. 

Biasanya pukul 15.00 ia meluncur ke Trawas yang berketinggian 600 m dpi. Setiap kali kembali ke Surabaya selalu ada sayuran yang dibawa pulang. Di rembang petang ia baru pulang.

Kacang Tanah Bebas Tanah

Lumpur yang terbawa saat penjualan polong kacang tanah mencapai 22%. Allen Hartono berkesimpulan seperti itu ketika berkunjung ke sentra di Tuban, Jawa Timur. Pengusaha itu tergelitik untuk mengaeroponikkan semak asal Amerika Selatan itu. 

“Selama ini Pertanian Aeroponik umumnya hanya untuk sayuran daun. Saya meyakinkan diri saya, masak sih kacang tanah bisa,” ujar ayah 2 anak itu.

Langkah pun diayunkan pada 17 Januari 2002. Anak ke-6 dari 10 bersaudara itu membeli 0,5 kg kacang tanah sebagai benih di Kedungcowek, Surabaya. Sebelumnya ia membuat sendiri bak nutrisi fiberglas berbahan resin 157. Ukuran bak 3 m x 1 m x 0,2 m. 

Benih dipilih yang bernas dengan menyeleksi dalam rendaman air. Lima hari di persemaian rockwool, bibit dipindahkan ke papan styrofoam berjarak tanam 15 cm x 12 cm. Bak diletakkan di halaman belakang kantor di bilangan Kenjeran, Surabaya Timur.

Allen meracik sendiri nutrisi dengan mengelompokkan menjadi 3 fase. Masing-masing 2 pekan pertama, minggu ke-5—ke-8, dan pekan ke-9 panen. EC (electro conductivity) terus ditingkatkan. Pada fase I tercatat EC 2; fase II, 3; dan III; EC 3. 

Tingkat keasaman dipertahankan 6,5. Pemberian nutrisi diatur timer dengan interval 15 menit. Sekali penyemprotan nutrisi 1 menit. Pada umur 1,5 bulan anggota famili Papilionaceae itu berbunga.

Empat pekan kemudian polong terbentuk. Warnanya putih bersih. Kekurangan aeroponik kacang tanah adalah lemahnya rockwool menahan beban polong yang kian membesar. Allen memperkuat dengan menelusupkan lidi di bawah rockwool Sayang, 

Allen tak sabar menanti polong siap konsumsi sehingga tak diketahui total produktivitas. “Ini kan hanya iseng-iseng dan saya merasa sudah berhasil ‘membuahkan’ kacang tanah,” ujarnya

Padi Transgenik Rojolele Tahan Hama Penggerek batang

Padi Transgenik Rojolele Tahan Hama Penggerek batang

Perut Tryporyza intertulas mendadak berlubang dan ia pun langsung terkapar. Sepuluh menit lalu penggerek batang itu mengisap pakan kegemarannya, padi. 

Sayang ia salah sasaran. Yang disantapnya padi rojolele yang mengandung Bacillus thuringiensis. Itulah tanaman transgenik keluaran Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

padi transgenik
padi transgenik tahan hama

Di tengah-tengah suara pro-kontra kehadiran teknologi transgenik, Inez Hortense Slamet-Loedin justru tekun meneliti padi rekayasa genetika. Ia bersama timnya mengembangkan tanaman padi tahan hama penggerek batang. April 2013 bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi akan dilakukan uji lapangan. Perjuangan Kepala Divisi Biologi Molekuler Puslit Bioteknologi LIPI itu, agar gagasan padi transgenik diterima tidaklah mudah.

Banyak peneliti memperdebatkan keamanan pangan dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Misal ketakutan berkembangnya gulma super dan bakteri baru yang kebal antibiotik. 

Padahal, “Kemungkinan itu hanya 10’16. Peluang kebal antibiotik lebih besar pada pengkonsumsi obat-obatan antibiotik,” ujar ibu sepasang putri kembar itu. Bahkan ada pendapat, rekayasa genetika itu menyalahi aturan Tuhan.

Semua perdebatan itu tidak membuat Inez gentar. Ia yakin produk transgenik akan diterima. Contohnya Amerika Serikat, hampir 70% produksi kedelainya hasil rekaya genetika. 

Benih transgenik di negara Paman Sam yang terkenal ketat terhadap keamanan pangan itu lolos uji Food and Drugs Association (FDA). Produksinya kini menyebar ke seluruh dunia. Berarti tidak tertutup kemungkinan padi transgenik diterima konsumen.

Gen Bt

Inez menekuni padi sejak ia belajar di University of Nottingham. Setelah menyelesaikan program doktor ia melakukan riset post-doctoral selama 2 tahun di Universitas Leiden, Belanda. Subjek penelitiannya padi rojolele transgenik.

“Merekayasa gen menjadi bagian hidup. Fenomena itu rumit tapi mengasyikkan,” ujarnya. Tidak heran begitu kembali di tanah air, akhir 1994 Inez langsung merintis penelitian bioteknologi. Ia harus berjuang untuk membangun laboratorium biotek hingga menemukan kultur jaringan yang responsif. Lebih dari 40 varietas padi diseleksi.

Ternyata hanya varietas padi rojolele yang paling pas tumbuh di media kultur jaringan. Penelitian pun memasuki tahap isolasi gen. Mula-mula gen cryl AB alias gen Bt diisolasi dari bakteri Bacillus thuringiensis. Agar terekspresi di padi, gen Bt harus diberi mesin atau promotor. Mesin itu menentukan bagian tanaman dan jumlah ekspresinya. Setelah diperoleh vektor DNA lalu diperbanyak dalam bakteri dan diisolasi.

Benih rojolele dibiakkan dalam media kultur jaringan. Dua minggu kemudian embrio padi membentuk jaringan sel yang belum terprogram. Kalus padi itulah yang kemudian disisipi gen Bt dari bakteri.

Tanaman transgenik Aman dikonsumsi

Ada 2 cara memasukkan gen Bt, ditembak atau memanfaatkan agrobacterium tumefaciens. Cara penembakan, partikel emas dilapisi DNA kemudian ditembakkan ke jaringan. Setiap vektor DNA membawa gen target dan gen penyeleksi. 

Jika berintergrasi maka sel akan membelah dan membawa DNA baru. Dikatakan berhasil jika gen penyeleksi bekerja menunjukkan perubahan warna. Alat tembak tidak dapat membaca kromosom target sehingga penembakannya random. Akibatnya copy gen menyebar di semua kromosom.

Menggunakan agrobacterium lebih mudah, murah, dan copy gen sedikit. Lantaran ia dapat membaca kromosom target. Bakteri itu secara alami menginfeksi tanaman dan memindahkan DNA-nya ke dalam tanaman. 

Namun, setelah 3 hari bakteri itu harus dimusnahkan dengan antibiotik khusus, dosis 100-400 mg/ml. Jika bakteri dibiarkan hidup, pertumbuhannya lebih cepat dibanding selnya. Agar bakteri bekerja optimal harus diciptakan suasana asam pH 5,5.

Penyisipan gen Bt tidak membuat tanaman berubah karena hanya 1 gen saja yang dirubah. “Rasa tetap pulen dan putih,” ujar Inez. Lagipula padi transgenik aman dikosnumsi manusia. 

Gen Bt di padi bersifat protoksin yang berubah menjadi toksin dalam suasana alkali. Pencernaan manusia bersifat asam sehingga ia tidak lebih hanya protein yang tidak berbahaya. Toh, ketika dimasak kurang dari 1 menit protein itu rusak.

Tahan Hama Penggerek batang

Tanaman transgenik Dari Los Banos ke Sukamandi

Padi rojolele transgenik bisa dibilang padi sakti yang tahan serangan hama penggerek. Jika ingin Oryza sativa berproduktivitas tinggi, padi transgenik bukan pilihan. Pekebun biasanya menyandarkan harapan pada maro dan rokan. Mereka padi hibrida pertama di Indonesia hasil penelitian Dr Suwarno. Pemulia di Balai Penelitian Tanaman Padi Sukamandi itu meriset padi hibrida sejak 1998.

Penghujung 2002 pekebun sudah dapat menjajal keistimewaan mereka.Rokan menjanjikan produksi 9,24 ton per ha. Sedangkan maro 8,85, ton. Artinya, pekebun memetik hampir 2 kali lipat jika menanam varietas lain. Varietas IR 64, misalnya, hanya mampu berproduksi 5—6 ton per ha.

Pekebun cukup menancapkan sebatang bibit di setiap lubang 5 tanam. Oleh karena itu kebutuhan benih padi rojolele separuh lebih kecil ketimbang benih padi lokal atau 10 j kg per ha

Untuk padi lokal pekebun f biasanya membenamkan 2 bibit per lubang tanam. Seperti jamaknya, harga benih hibrida tentu lebih mahal, yakni Rp20.000 per kilo. Soalnya, untuk mendapatkan benih hibrida peneliti mesti menempuh jalan panjang lagi berliku. Menentukan sepasang indukan dari 2 galur berbeda yang mampu menyerbuki bukan perkara gampang (baca: Meningkatkan Kualitas Dan Produksi Padi Dengan System of Rice Intensification).

Rentan wereng

Doktor alumnus IPB itu menggunakan padi introduksi dari IRRI (International Pice Research institute) yang berpusat di Los Banos, Filipina. Galur Mandul Jantan (GMJ) IR58025A akhirnya dipasangkan dengan Galur Pemulih Kesuburan (GPK) BR827-35. Kedua induk itulah yang akhirnya “melahirkan” rokan. Maro diturunkan dari pejantan sama, GMJ IR 58025A dan GPK IR53942. Nama sungai di Riau itu diabadikan untuk menyebut 2 varietas baru.

Sosok mereka tegak dengan tinggi 98-107 cm. Per tanaman mampu menghasilkan 20 anakan. Sebuah malai menghasilkan 150-200 bulir gabah. Biaya benih yang relatif mahal, tertutupi dengan produktivitas yang tinggi. Dengan harga gabah Rp1.000 per kg, pekebun padi hibrida menangguk Rp3,2-juta (per ha) lebih banyak ketimbang pekebun padi nonhibrida.

Di balik keistimewaan itu, padi rojolele hibrida menyimpan kelemahan. Mereka rentan wereng cokelat dan hawar daun. Oleh karena itu sebaiknya mereka ditanam di lahan sawah irigasi dan bukan daerah endemis wereng.

Kekurangan tanaman transgenik itu sedang diperbaiki oleh peneliti Balitpa sehingga kelak muncul padi hibrida tahan hama dan penyakit Karena benih hibrida, pekebun hanya dapat sekali tanam. Pada penanaman berikut, pekebun harus membeli benih lagi, jika tidak ingin produksi melorot.

Padi hibrida memang bukan barang baru. Beberapa negara seperti Vietnam, India, Filipina, dan Cina lama menanamnya. Namun jenis padi hibrida mancanegara kurang cocok ditanam di Indonesia. “Semakin dekat khatulistiwa padi hibrida itu tidak menunjukkan keistimewaannya,” papar Suwarno.

Varietas Cabai Hibrida Dan Lokal Yang Siap Bersaing Dipasaran

Varietas Cabai Hibrida Dan Lokal Yang Siap Bersaing Dipasaran

Pasar benih Cabai Hibrida Indonesia dibanjiri produsen benih dari mancanegara. “Ada 60 jenis cabai merah dari berbagai merek berkeliaran di lahan pekebun,” ujar Agus Setyono dari PT East West Seed Indonesia. Hiruk-pikuk persaingan itu kini kian ramai dengan hadirnya 3 pendatang baru. Mereka adalah 2 benih hibrida dan 1 lokal.

Ketatnya persaingan itu tampak dari kebiasaan pekebun memilih varietas. Ambil contoh di dataran tinggi. Lahan cabai di sana didominasi hot chili.

Cabai Megahot
Cabai Megahot, ekstra pedas dan irit pupuk

 Sedangkan di dataran rendah hot beauty. Namun, “Asal diiming-imingi produktivitas tinggi, resisten hama, dan biaya produksi rendah mereka akan cepat berpaling,” ujar Agus.

Pekebun di Brebes dan Bantul lebih menyenangi varietas lokal seperti tit super dan jatilaba. Alasannya lebih tahan penyakit sehingga biaya produksi dapat ditekan. 

Sedang jenis hibrida jadi primadona di Magelang dan Blitar. Pasalnya, tanaman responsif terhadap pemupukan, berumur genjah, dan keseragaman buah tinggi. Asal dirawat intensif hama dan penyakit cabai bakal menjauh.

“Penanaman cabai merah hibrida mencapai 70% dari total lahan cabai merah di Indonesia. Sisanya ditanami jenis lokal,” ungkap Agus. Setahun terakhir bermunculan 3 varietas cabai merah baru. Semakin panjang pula daftar benih cabai di Indonesia.

Sultan, si gemuk tahan angkut Sultan, cabai merah hibrida keluaran PT East West Seed Indonesia (EWSI). Tidak ada makna khusus dari nama itu. “Supaya mudah diingat saja,” ujar Agus Setyono. Ia cocok ditanam di ketinggian 600 m dpi. Namun, di bawah 400 m dpi pun tanaman tumbuh baik. Sejak Agustus 2002 beberapa pekebun di Malang mengganti jenis hibrida lama dengan sultan.

Cabai Sultan
Cabai Sultan, buah gemuk dan besar
Cabai sultan

Sosok sultan, buah gemuk, diameter mencapai 2 cm, dan panjang 16 cm. Sayang, rasa buah kurang pedas. “Ia hanya digunakan sebagai ‘pemanis’ makanan,” ujar Handoko, bagian penjualan EWSI. Keunggulannya buah cepat merah, padat, dan berisi. Warna merah terbentuk 10 hari atau 2 petikan lebih cepat dibanding varietas hibrida lain. Kulit buah keras dan tebal saat ditekan, menandakan kadar air rendah. Wajar jika ia tahan pengangkutan jarak jauh. Sultan juga tahan phytophthora, yang selalu jadi momok pekebun.

Potensi hasil 1,5 kg per tanaman. Jika perawatannya intensif pekebun akan menikmati buah kedua. Pekebun mulai panen pada umur 85-90 hari setelah tanam (HST) dan berlangsung hingga 60 hari.

Menanam jenis hibrida berarti harus berani merogoh kocek untuk biaya penyemprotan pestisida. Lantaran ia jadi sasaran empuk tungau dan trips. Minimal seminggu 2 kali tanaman cabai harus disemprot agar hama tidak bertandang. Begitu terlambat tanaman tidak akan tertolong.

Megahot, ektrapedas

Sesuai namanya, komoditas cabai hibrida baru ini sangat pedas. Ia dirilis tahun lalu oleh Known You Seed, produsen benih dari Taiwan. Idealnya ia ditanam di dataran sedang, 500 m dpi. Namun, di dataran tinggi pun masih bisa bertahan.

Sosok varietas cabai hibrida dengan tekstur buah ekstrabesar; panjang 18 cm, dan bobot rata-rata 22 g. Pada umur 60 hst buah dapat dipetik jika ditanam di dataran sedang; 70 hst di dataran tinggi, di atas 800 m dpi. Potensi produksi 1 kg per tanaman dengan 16.000 populasi per ha. “Perawatannya mudah. Cukup pemberian pupuk kandang dosis 1 kg per tanaman,” tutur Ir Dwi Kartiko Ghazalie dari PT Tani Unggul Sarana, distributor benih sayuran.

Cabai Trisula
Cabai Trisula, buah lokal yang tahan banting
 

Trisula: tahan banting

Tidak melulu jenis cabai hibrida yang laris di pasaran, lokal juga. PT Riawan Tani, produsen benih sayuran di Blitar, memproduksi cabai merah nonhibrida. Benih diperoleh melalui pemurnian dari tanaman lokal. Trisula cocok ditanam di dataran rendah, 300 m dpi sampai dataran tinggi 1.200 m dpi. Sebaran penanaman mencapai Bali, Sumbawa, Mataram, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.

Sosok trisula panjang 12-15 cm, diameter 1-2 cm, dan bobot per buah 10-15 g. Warna buah matang merah tua dan tekstur keras sehingga tahan simpan selama 12 hari. Buah dapat dipetik pada 75 hst dan berlangsung hingga 8 bulan. 

Potensi produksi 17-20 ton per ha. Tanaman ini menghendaki iklim hangat dan kering, suhu berkisar 18-30°C. “Serangan antraknosa dan fusarium rendah,” ujar Pujianto dari Riawan Tani. Mereka gemar hinggap di cabai merah. 

Solusinya pohon cabai hibrida hanya disemprot minimal seminggu 3 kali. Namun, dengan trisula penyemprotan cukup seminggu sekali. Jika sekali semprot menghabiskan Rp60.000, berarti pekebun bisa lebih hemat Rp 120.000/ minggu.

Minggu, 28 Juli 2019

Serangan Virus kuning Pada Tanaman Cabai

Serangan Virus kuning Pada Tanaman Cabai

Senyum kecut menghiasi bibir Marsudi pada pertengahan 2002. Betapa tidak, 30 ha cabai luluh-lantak diterjang virus kuning keriting. Produktivitas menurun, modal pun tak kembali. “Kerugian saat ini sudah sekitar Rp200-juta,” tutur pekebun di Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang itu.

 

Virus Bulai

Marsudi tidak sendirian mengalami nestapa itu. Banyak pekebun di desa sekitarnya seperti di kecamatan Mungkid, Sawangan, dan Muntilan ikut terkena. Walau jumlah tanaman terinfeksi sedikit, tetapi rata-rata 25% dari total tanaman terpapar virus kuning kering itu. 

Sentra cabai di Jawa Tengah dan Yogyakarta, khususnya Muntilan, Sleman, serta Kulonprogo memang terkena serangan paling parah. Kerugian yang ditimbulkan bisa miliaran rupiah.

Virus kuning keriting mirip penyakit bulai pada jagung. Oleh karena itu pekebun di Sleman menyebutnya bulai amerika. Hamparan cabai bisa berubah warna dari hijau menjadi kuning menyala. Jika itu terjadi, dipastikan cabai gagal berbuah. 

Pada cabai rawit, tanaman terserang masih bisa berbuah, tetapi kualitas dan kuantitas jauh melorot.

Gejala Tanaman Terserang Virus

Kalau dilihat dengan mikroskop, virus itu memiliki 2 partikel. Jadilah ia dinamakan virus gemini. Vektornya kutu kebul atau lalat putih Bemisia tabaci (biotipe-1) atau B. argentifolia (biotipe-2). Kutu kebul dewasa yang terinfeksi selama hidupnya bisa menularkan virus. Efesiensi penularan meningkat seiring meningkat populasi serangga per tanaman.

Sifat kutu kebul yang polifagus makan beragam jenis tanaman menyebabkan virus itu gampang tersebar, bahkan pada jenis tanaman lain. Ia memiliki inang yang beragam dari banyak famili dan spesies, seperti: ageratum, kembang kancing, buncis, kedelai, tomat, dan tembakau. Meski begitu perkembangan virus di suatu areal dapat diperkirakan dengan menghitung populasi kutu kebul.

Ada tanda-tanda kehadiran virus gemini itu. Pertama, pucuk cekung mengerut berwarna mosaik hijau pucat. Pertumbuhan tanaman terhambat. Daun berkerut, menebal disertai tonjolan (blister) hijau tua. Gejala itu mirip serangan penyakit tigre di Meksiko. 

Gejala kedua, pada pucuk dan daun muda keluar mosaik kuning. Warna itu menjalar hingga seluruh daun menjadi bulai. Gejala itu menyerupai virus gemini Texas Pepper Gemini Virus di Texas, Amerika Serikat.

Pada stadium 3, urat daun pucuk atau daun muda pucat kekuningan sehingga tampak seperti jala. Warna daun lalu berubah belang kuning tetapi morfologi daun masih sama. Gejala itu serupa penyakit Serrano Golden Mosaic Virus. Stadium ke 4, daun muda atau pucuk menjadi cekung mengerut berwarna mosaik. 

Seluruh daun lalu berubah kuning cerah dengan bentuk daun berkerut cekung menjadi lebih kecil. Gejala seperti itu sama dengan penyakit Thailand Tomato Yellow Leaf Curl Virus (TYCV-Thai)

Pengobobatan Tanaman Yang Terkena virus kuning

Penyebaran virus kuning keriting dapat diminimalisasi dengan berbagai perlakuan Selain harus bebas gulma, setiap hektar tanaman cabai perlu diberi pupuk berimbang yakni: 20-30 ton pupuk kandang, 0,1-0,15 ton Urea, 0,3-0,45 ton ZA, 0,1-0,15 ton TSP, dan 0,15- 0,2 KC1. Cabai pun perlu diberi mulsa plastik terutama penanaman di dataran tinggi.

Lakukan pemantauan teratur setiap minggu, terutama pada tanaman muda kurang dari 30 hari. Bila terkena virus segera musnahkan dan sulam dengan tanaman sehat. Seandainya 10% dari total populasi tanaman muda terinfeksi lantaran ada kutu kebul beterbangan, lakukan eradikasi dan ganti dengan sayuran lain yang bukan inang kutu kebul seperti kubis dan jagung.

Populasi kutu kebul bisa dikurangi dengan melepas musuh alami parasitoid Encarcia formosa sebanyak 1 ekor per 4 tanaman setiap minggu selama 8-10 pekan. Setidaknya untuk 1 ha diperlukan 10.000 Encarcia. Predator lain, Menochilus sexmaculatus terbukti efektif memangsa 200-400 ekor larva kutu kebul per hari.

Insektisida alami alternatif untuk mengendalikan kutu kebul. Beberapa di antaranya tagetes, eceng gondok, rumput laut, dan daun nimba. Untuk kimiawi bisa dipakai insektisida berbahan aktif bifentrin, buprofezin, imidacloprid, fenpropathin, endolsulphan, cyflutrin, amitraz, deltametrin, permetrin, dan asefat.

Gemini

India merupakan negara pertama yang mempublikasikan serangan virus ini pada 1948. Maklum sekitar 80% lahan cabai di negeri Mahatma Gandhi itu rusak terinfeksi. Penyakit itu diidentifikasi sebagai anggota virus gemini lantaran partikelnya berpasangan. 

Virus di dalam astrologi menandakan kelahiran pada Juni itu pertama kali dilaporkan ada di Indonesia pada 1989.

Namun, bukan pada cabai justru tembakau penyakit kerupuk yang diserang. Capsicum annum baru diketahui terinfeksi pada 1992. Saat itu seranganya masih diabaikan karena nyaris tak berdampak. Memasuki 2001, serangan merajalela di banyak daerah dengan kisaran antara 10-100%. Awal 2003 merupakan puncak serangan. Bahkan menjadi epidemi di sentra-sentra cabai di provinsi Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera Selatan.

no image

Serangan Bulai Pada Tanaman Cabai

Sudah setahun penyakit bulai cabai dilaporkan kehadirannya. Namun, hingga kini serangannya belum teratasi. Malah, makin meluas ke berbagai sentra. Kalau tidak segera ditangani, pasar bakal mengalami kekosongan pasokan. Dalam 2 – 3 bulan ke depan, harga bakal melonjak. Kalau sudah begini, siapa yang bertanggungjawab?

beberapa daerah saya melihat, petani mulai “lempar handuk”. Banyak yang beralih ke tanaman lain. Contoh di Muntilan, Kabupaten Magelang, pelaku budidaya cabai mulai melirik tomat dan kol dataran rendah. Kalau pun masih ada penanaman, paling tak seluas biasanya. Di Lampung Barat kabarnya malah hampir tak ada lagi penanaman baru. Mereka kapok menanam cabai.

Pasalnya, serangan penyakit cabai yang sulit dibendung. Penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak membawa hasil. Upaya penanaman di lahan baru pun tak banyak membantu. Buktinya, tanaman tetap mengalami serangan dalam 2 – 3 minggu kemudian. Akibatnya, petani kehilangan modal produksi.

Di Jawa Timur yang semula aman-aman saja, kini juga mulai tampak adanya serangan. Di antaranya di Kediri dan Blitar. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, wilayah itu juga bakal mengalami nasib sama.

penyakit bulai cabai
penyakit bulai cabai

 

Penyakit berasal dari benih?

Untuk mengatasi hal itu, pemerintah dan para ahli terkait harus melakukan penelitian serius. Sebab, sampai saat ini belum jelas penyebab penyakitnya. Dari gejala serangan, jelas itu akibat serangan virus. Semula muncul bercak kuning pada permukaan daun, lalu meluas ke seluruh permukaan hingga daun menjadi kerdil dan mudah patah. Hanya saja jenis virus belum diketahui. Apakah itu jenis virus baru, atau virus lama yang sebelumnya menyerang tanaman lain.

Sementara ini banyak orang menuding virus gemini pada tomat yang hingga saat ini pun belum teratasi sebagai biang keladi. Namun di lapangan, tomat yang ditanam setelah cabai ternyata tidak terserang. ( Baca : Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai )

Logikanya, kalau virus sejenis yang menyerang, berarti penanaman tomat pun gagal. Bukti lain, tanaman cabai di daerah baru pun ikut juga terserang. Artinya, virus memang spesifik menyerang tanaman cabai.

Melihat hal itu saya menduga penyakit ini justru bawaan benih (seedborn disease). Jadi di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit. Sebab, kalau itu virus lama, berarti harus ada vektor yang menyebarkannya. Padahal, tanaman sudah terserang sejak usia dini, saat serangga vektor belum menyerang.

Itu pula sebabnya sehingga penyemprotan pestisida untuk menghambat serangan tak menyelesaikan masalah. Namun, benih mana yang mengandung virus, itu yang harus dilacak lebih detil. Dugaan saya, biang keladinya salah satu varietas cabai keriting eks impor. Sebab, kasus serangan terbanyak muncul di sentra-sentra penanaman varietas itu. Kasus yang menyerang varietas lain kurang. Itu pun karena ditanam di daerah endemik. Hanya saja perlu penelitian serius sebelum menjatuhkan vonis.

serangan virus pada tanaman cabai

 

Tanaman Cabai Masih mempunyai prospek

Akibat serangan virus baru itu, stagnasi produksi jelas bakal terjadi. Sebab, sejak beberapa bulan terakhir produsen dan distributor benih mengalami penurunan penjualan hingga 50%. Artinya, luas penanaman pun berkurang separuh. Akibat itu pula sehingga omzet penjualan pestisida ikut merosot. Itu pasti, sebab dengan matinya tanaman di usia dini volume dan frekuensi penyemprotan pun menurun.

Menurunnya luas penanaman jelas membuka peluang. Namun, penanaman sebaiknya dilakukan di daerah baru. Hebatnya serangan di wilayah Muntilan dan Lampung Barat juga disebabkan penanaman berulang-ulang di satu areal. Di daerah baru pun sebaiknya dilakukan pergiliran varietas untuk meminimalkan kegagalan. Kalau perlu, coba pikirkan penggunaan varietas lokal. Lihat saja di Brebes (Jawa Tengah) dan Rejanglebong (Bengkulu), kasus serangan tergolong rendah karena petani banyak menggunakan varietas lokal.

Jika berhasil, petani bakal menikmati harga tinggi. Bukan tidak mungkin dalam 2—3 bulan mendatang harga cabai menembus angka Rp10.000/kg akibat kurangnya pasokan. Berarti, dengan produksi 50% saja dari kondisi normal, petani masih bisa menikmati keuntungan. Jika produksi per hektar hanya 10 ton saja, berarti petani bisa memperoleh omzet Rp100-juta.

Penanaman cabai pot dalam skala komersial barangkali bisa pula dipertimbangkan. Perlu ada produsen atau lembaga yang melakukan sosialisasi. Sebab, menanam di polibag berarti mengubah kebiasaan. Lagipula, analisis ekonominya perlu dikaji terlebih dahulu sebelum kegiatan itu dilakukan. Yang pasti, cabai masih layak untuk diusahakan

Sabtu, 27 Juli 2019

no image

Virus Dan Hama Penyakit pada Tanaman Cabai

Prawito terpaksa harus gigit jari. Modal Rp200-juta lenyap tak berbekas. Sekitar 10 ha lahan cabai yang digarap bersama petani binaan amblas terserang bulai. Gejala serangan sebenarnya sudah mulai tampak di beberapa titik penanaman sejak kuartal pertama 2002.

Namun, petani di Desa Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, itu tak menduga bila serangan bakal semakin meluas. Karena itu hingga Juli ia tetap mengupayakan penanaman dengan memilih lahan baru. Nyatanya serangan virus tak terbendung. Daerah penanaman baru tak luput dari incarannya.

Tak kuat menghadapi serangan virus, Prawito terpaksa berhenti mengembangkan komoditas yang sudah 3 tahun digeluti. Tujuh bulan terakhir Prawito dan beberapa pekebun beralih mengembangkan komoditas lain.

“Sampai hari ini kami masih trauma dengan penyakit itu,” tutur Prawito. Pasalnya, serangan virus benar-benar menggila. Hampir semua macam pestisida dipakai, tetapi tak mampu menanggulangi serangan.

di Tingkat pekebun bisa tembus angka RplO.OOO/kg.

Cepat menular

Prawito tidak sendirian mengalami nasib buruk itu. Malahan saking jengkelnya menghadapi serangan, Mukalam, pekebun di Blitar, Jawa Timur, akhirnya membiarkan lahan merana begitu saja. Ayah 1 anak itu mengalami gagal panen setelah 6.000 tanaman mati terserang virus. “Penularannya sangat cepat. Dalam tempo 2 hari saja tanaman terserang bisa mati,” papar pekebun 31 tahun itu.

Di Malang, Jawa Timur, Kuswanto juga terpaksa menghentikan penanaman cabai merah dan menggantinya dengan melon setelah beberapa tanaman ditemukan menguning dan berkeriput. Hal sama dilakukan Suharyana, pekebun di Desa Banyudono, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Pada September Oktober lalu, 30% tanaman berumur 20 hari terserang virus. Untuk mengatasi meluasnya ganyangan, tanaman terserang disulam dengan tomat. Meski begitu, “Tanaman yang bertahan hingga dapat dipanen tetap turun produksinya. Paling separuh dari total populasi awal tanam,” ungkapnya. Nasib serupa menimpa rekannya, Sumarlan. Sejak Oktober lalu gejala serangan mulai tampak. Semula muncul bercak kuning di atas permukaan daun. Perlahan bercak itu meluas hingga seluruh permukaan daun. Dampaknya daun menguning, kerdil, dan rapuh. Masyarakat setempat menyebutnya penyakit bulai atau kuning. “Dalam luasan 1 ha, tanaman terserang lebih dari 400 tanaman,” papar Sumarlan.

Menurut Yoga Susila, staf Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, bulai mulai menyerang di beberapa sentra sejak awal tahun lalu. Namun, serangan terparah baru terlihat sejak Oktober 2002 di 3 sentra: Dukun, Sawangan, dan Mungkid. Sampai Januari 2003, luas serangan di ketiga wilayah kecamatan itu masing-masing 67 ha, 124 ha, dan 58 ha. Jumlah ini berarti mencapai 15%, 38%, dan 43% dari total luas tanam Januari 2002—Januari 2003 di masing-masing wilayah itu.

Di Pemalang, Jawa Tengah, salah satu sentra cabai terbesar, serangan virus juga cukup memprihatinkan. “Saat ini saja sudah sekitar 25% lahan cabai di daerah ini yang mati lantaran virus baru itu,” ujar Freddy Salim, pekebun dan eksportir cabai.

Contohnya di kebun Freddy, dari 10 ha lahan yang ditanami pada Januari dan Februari, kini tinggal 7,5 ha yang masih tegak berdiri. “Satu per satu pertanaman mati hanya dalam tempo 2—3 minggu,” kata pebisnis cabai sejak 1978 itu. Lahan milik petani binaan juga tak luput dari serangan. Sekitar 5 ha dari 20 ha yang ditanam mitra pada awal tahun kini mulai menunjukkan gejala serangan.

Virus kerupuk Pada tanaman cabai

Menurut DR Atie Sri Duriat, peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, virus baru ditemukan di beberapa daerah sejak awal tahun lalu. Ketika itu serangan dilaporkan terjadi di sentra cabai di Sumatera bagian selatan. Gejalanya, mula-mula terdapat bercak kuning di permukaan daun.

“Lama-kelamaan bercak meluas hingga seluruh permukaan daun berubah kuning,” papar Duriat. Serangan membuat daun mengerdil dan bertekstur remah. Karena daun terserang mudah patah, Duriat menyebut penyakit itu sebagai virus kerupuk, Dari pengalaman petani, virus terutama menyerang tanaman berusia di bawah 1 bulan setelah tanam. “Pada usia di atas 45 hari, tanaman masih bisa lolos dari serangan,” ungkap Suharyana.

Ir Yohanes Soekoco, Marketing Manager PT East West Seed Indonesia (EWSI), menuding lambatnya respon pemerintah membuat penyebaran virus makin meluas. Semula penyakit ini hanya dianggap kasus kecil sehingga tidak segera ditangani. “Kutu putih yang diduga salah satu vektor tidak dikendalikan. Akibatnya, serangan makin mengganas dan sulit diatasi,” papar alumnus Universitas Brawijaya itu.

Hingga saat ini jenis virus belum teridentifikasi. Tak hanya itu, biang keladi munculnya virus dan media penyebarannya juga belum diketahui. | Karena itu upaya penanggulangan yang 7 dilakukan pekebun tak membawa hasil. ° “Ini menjadi PR yang harus segera dituntaskan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi terkait,” papar Ir Final Prajnanta MM dari Aventis Corp Science yang juga pengamat agribisnis cabai. Jika penanganannya berlarut-larut, krisis cabai bisa menjadi semacam bencana nasional.

Final menuding benih sebagai biang keladi meluasnya penyakit. Karena itu di mana pun benih ditanam, pasti akan terserang penyakit serupa. Namun, pendapat itu ditampik Ir Dwi Kartiko Ghazalie dari PT Tani Unggul Sarana (TUS), distributor benih keluaran Known You Seed asal Taiwan. “Saya kira bukan seed born disease karena benih yang sama jika ditanam di daerah lain tidak terserang,” paparnya. Ia tidak melihat adanya varietas tertentu yang rentan atau resisten terhadap penyakit baru itu.

Dwi menduga pemicu meluasnya serangan justru pola tanam yang terus-menerus. Seorang pekebun mungkin merotasi penanaman. Namun, pekebun lain di sekitar lahan terus menanam cabai. Dampaknya, siklus hidup virus tak terputus.

 

Saprotan menurun

Serangan virus di berbagai sentra ternyata tak hanya dirasakan dampaknya oleh petani. Efek dominonya kini mulai menghantam bisnis penjualan sarana produksinya. Lihat saja penjualan EWSI, produsen benih sayuran bermerek Panah Merah di Purwakarta. Menurut Soekoco, sejak pertengahan tahun lalu penjualan benih cabai terus turun. “Sampai akhir tahun omzet penjualan baru turun sekitar 40%. Saat ini penurunan telah mencapai 60%,” keluh Soekoco.

Dalam kondisi normal, penjualan benih cabai berlabel Panah Merah di Sumatera bagian selatan mencapai 200— 250 kg/bulan. Satu hektar lahan hanya membutuhkan sekitar 125 gram benih. Saat ini penjualan tinggal sekitar 100 kg/ bulan. Upaya mengalihkan pemasaran ke provinsi lain baru mampu mendongkrak penjualan hingga 20%. Sebab, butuh waktu untuk merintis pasar di wilayah baru.

PT Tani Unggul Sarana di Semarang juga pernah mengalami penurunan penjualan. Namun, Dwi menampik anggapan penurunan terjadi akibat adanya serangan virus. “Penurunan penjualan benih lebih karena peralihan konsumen di Yogyakarta dan Magelang dari cabai besar ke cabai keriting,” tegas Dwi. Itu pun terjadi pada 1998.

Menurut Dwi, sampai saat ini penyakit baru secara langsung belum mempengaruhi volume penjualan benih cabai TUS. Sebab, sepanjang 2002 penanaman benih cabai TUS masih sekitar 1.000 ha, atau sekitar 250 kg benih. Setara dengan penanaman pada 2001.

Penurunan penjualan juga mulai dirasakan Aventis Corp Science Indonesia, produsen pestisida. Final Prajnanta memperkirakan penurunan omzet akibat kehadiran penyakit baru itu mencapai 30%. Sebab, pekebun cabai salah satu pasar terbesar Aventis. “Karena tanaman sudah mati sejak usia dini, aplikasi pestisida pun otomatis berkurang,” papar alumnus Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto itu. Padahal, untuk mengatasi serangan hama penyakit, cabai menghabiskan 30—50% dari total biaya produksi per ha.

Bakal kosong

Final menduga, akibat serangan penyakit itu, pasokan cabai di pasaran bakal menurun dalam 2—3 bulan ke depan. Apalagi, curah hujan di beberapa sentra masih tinggi. “Di daerah bebas serangan pun produksi bakal berkurang jika hujan terus-menerus,” paparnya. Dampaknya, harga bakal melonjak.

Freddy Salim juga memperkirakan harga cabai merah bakal menembus angka RplO.OOO/kg di bulan Juni—Agustus karena pasar mengalami kekosongan pasokan. ’’Tanaman bulan Januari dan Februari yang mestinya panen pada April— Agustus saat ini banyak yang rusak,” papar Freddy. Selain karena terserang penyakit bulai, kerusakan juga karena terendam banjir. Misal di wilayah Brebes, 60% dari sekitar 1.000 ha lahan yang ditanam Januari dan Februari rusak akibat banjir.

Menurut Freddy, kekosongan pasokan terutama teijadi di seantero Jawa. Pasalnya, lahan bermasalah justru terjadi di sentra-sentra seperti Brebes, Pemalang, Magelang, Kediri, Blitar, dan Lampung yang menjadi pemasok terbesar ke pasar Jawa. Solusi mendatangkan dari luar Jawa dan Sumatera pun tak cukup mengatasi masalah. Sebab, kebutuhan konsumsi cabai di Pulau Jawa saat ini diperkirakan mencapai 670 ton/hari.

Freddy memang termasuk salah satu pemasok yang bakal merasakan dampaknya. Sebab, dalam kondisi normal saja permintaan pasar ekspor minimal 300 ton/tahun sering tersendat pasokannya. Belum lagi permintaan pasar lokal Jakarta dan Bandung yang mencapai 1.000 ton/ tahun. Maklum, produktivitas kebun rata-rata 20 ton/ ha. Dengan luas lahan 30 ha, berarti hanya bisa diproduksi 300 ton. Apalagi dalam kondisi saat ini, “Produktivitas tanaman yang lolos serangan pasti turun hingga 30—40%,” urainya.

Karena alasan itu pula Sumarlan tak ingin meninggalkan cabai meski penyakit masih terus menghadang. Menurutnya, begitu mulai menunjukkan adanya gejala serangan, tanaman terserang langsung dicabut dan dibakar. “Paling tidak 50% tanaman masih bisa lolos dari serangan,” paparnya.

Taufik, pekebun di Desa Pojok, Kecamatan Srengat, Blitar juga tak kapok menanam cabai. Meski keadaan belum membaik hingga Februari 2003, ia tetap melakukan penanaman baru. Malah, lahan bekas cabutan tanaman sakit hanya didiamkan 1 minggu. Toh, ia yakin ketika panen bakal memperoleh harga tinggi.

no image

Pasang Surut Bisnis Impor Ekspor kayu Manis Dalam Negri

Sejak 6 kulan lalu PT Nusantara Bangla Abadi (NBA) menghentikan ekspor kayumanis ke mancanegara. Persaingan harga antar eksportir menjadi pemicu. Seperti efek domino, pekebun dan pengepul turut kena getahnya. Beruntung, nasib buntung itu tak menjalar ke eksportir di Padang, Sumatera Barat.

Gejala kelumpuhan ekspor kayu manis itu mulai terasa sejak 1990. Ketika itu terbit surat edaran Dirjen Perdagangan Luar Negeri No 14A/ Daglu-32/82/EX dan KUM804/Daglu/ 1490/87. Isinya mencabut kuota ekspor. Pemerintah tidak lagi membatasi volume ekspor keluarga Lauraceae yang sebelumnya berada pada kisaran 12.837 ton per tahun.

Di satu pihak peraturan itu memang menguntungkan. Sebab, permintaan yang merangkak terpenuhi. Di sisi lain justru menjadi bumerang. Ibarat gula, eksportir (dadakan) ramai-ramai mengirim kayumanis. Yang penting barang terjual. Perang harga pun tak terelakkan. Dampaknya banyak eksportir yang berhenti.

Ekspor kayu Manis
Gara-gara terpuruk daun dan ranting dijual

“Tipis untungnya tak sebanding dengan operasional,” ucap Indri dari NBA. Semula eksportir di Jakarta Pusat itu mengirim lOton/bulanpada 1995. Volume itu berangsur-angsur turun hingga 3 ton/ bulan, lalu benar-benar berhenti.

Pada masa keemasan sekitar 1980— 1990-an, harga kayumanis kualitas AA berkadar minyak 2,25% mencapai US$90 sen per pond (1 pond = 0,4536 kg). Begitu kuota dicabut perlahan harga merosot. Saat ini per pond menyentuh US$30 sen. Agustus—November silam harga itu terdongkrak mencapai US$42 sen per pond.

Soal jenis pun ditengarai menjadi biang keladi. Pasalnya, rata-rata ekportir yang gulung tikar khususnya di Jawa menjual Cinnamomum cassia. Jenis kayumanis asal Cina itu memiliki kadar sinnamaldehid yang tinggi sekitar 85% sehingga terasa pahit. Ia cocok sebagai bahan baku minyak asiri bukan bumbu. Itulah sebabnya pasar dunia lebih menyukai C. burmanii.

Terpuruk

Kenyataan itu terasa menyesakkan pekebun di Jawa. Bila menyusuri sentra kayumanis tertua di Jawa sejak zaman VOC di Desa Kebumen, Kecamatan Baturaden, Purwokerto, rempah manis itu mulai tersaingi albazia. C. cassia tak lagi memberi harapan. “Sejak 1985 sampai sekarang harganya sama saja cuma Rpl.500 per kg basah dan Rp2.500 per kg kering,” ucap Kaslam pekebun setempat. Dari 1.000 pohon yang dipelihara turun-temurun kini tersisa 200 pohon. Penyusutan itu terjadi karena ayah putra 2 memperbanyak sengon.

Sangadi memilih membiarkan 100 pohon yang rata-rata berumur 10 tahun. Pekebun di Desa Ngalarak, Kecamatan Jambu, Semarang itu patah arang lantaran pengepul enggan menampung kayumanis. Padahal, pada 1985—1990, justru pengepul berbondong-bondong berebut membeli. Bahkan tak sungkan turut ikut memanen.

Saat ini pengepul memang mengurangi volume pembelian. Malahan Nasruddin dan Yatin, dua pengepul besar di Purwokerto dan Ambarawa, melakukannya sejak 5 tahun lalu. Nasrudin semula rutin memasok 4—5 ton per 3 bulan ke pedagang di Cianjur, Jawa Barat. Kini cuma menerima order 3 ton/ tahun. Situasi lebih parah dialami oleh Yatin. Hampir setengah tahun 5 ton kayumanis di gudang tak bisa terjual.

Keadaan seperti itu mendorong Lukmadi mantan pengepul kulit di Desa kebonmanis, Kecamatan Baturaden, Purwokerto, memilih jadi pengumpul daun dan ranting kayumanis. Per 3 bulan sebanyak 4 ton bahan itu diambil oleh pedagang di Semarang untuk bahan baku jamu. Ayah 2 putra itu membeli Rp250 per kg ranting beserta daun kering sebelum dijual kembali Rp600 per kg.

Perdagangan

Dalam dunia perdagangan, terdapat 3 jenis kayumanis yang diperjualbelikan. Cinnamomum burmanii, C. cassia, dan C. zeylanicum. Ketiganya dikebunkan diberbagai daerah di Indonsia seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Segmen pasar C. burmani adalah industri makanan, minuman, farmasi, kosmetik, rokok, dan oleoresin. C. cassia dan C. zeylanicum lantaran berkadar minyak di atas rata-rata 3% digunakan sebagai sumber minyak asiri.

Kebutuhan dunia untuk ke—3 jenis Cinnamomum berupa kulit kini berkisar 22.000—30.000 ton per tahun. Itu tidak termasuk bahan baku untuk minyak asiri 150 ton per tahun. Sedangkan kebutuhan oleoresin—diperoleh dari ekstrak kayu dengan pelarut organik—mencapai 7—10 ton per tahun. “Setiap tahun ada kenaikan 1,5—2,5%,” ucap Sufli Yusuf, direktur pemasaran Sufindo Grup, eksportir di Jakarta.

Indonesia memang pemasok utama kayumanis. Hampir 80% pangsa pasar dikuasai Cinnamomum dari Nusantara. Sayang, karena keterbatasan teknologi, eksportir menjual dalam bentuk setengah jadi. “Itu berbeda dengan Vietnam dan Cina. Keduanya mampu menghasilkan olahan berkualitas tinggi,” ucap Ir Sofyan Rusli, ketua Kelompok Peneliti Pascapanen Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat di Bogor.

Vietnam dan Cina memang mulai tampil sebagai pesaing serius cassiavera Indonesia. Dalam situs agroviet, produksi nasional Vietnam mencapai 15.450 ton per tahun. Calon-calon kompetitor lain seperti Malaysia dan Kamboja malah mulai mengebunkan secara komersial.

Dipakai sebagai campuran makanan di mancanegara
Dipakai sebagai campuran makanan di mancanegara

Jaminan mutu

Meski begitu tetap diakui mutu kayumanis terbaik dari Indonesia. Terutama Cinnamomum burmanii dari Padang dan Kerinci. Oleh karena itu kesulitan pasar tidak menimpa eksportir kayumanis Cinnamomum dari kedua daerah itu.

PT Natrasco Spices Indonesia (7NSI), misalnya setiap bulan mengirim 600 ton kayumanis ke 35 negara tujuan. “Yang terbesar Amerika Serikat sekitar 40%. Sisanya, Eropa dan beberapa negara Asia seperti Korea, Jepang, dan Hongkong,” ucap Indra Wijaya Effendi BSc, direktur NSI di Padang, Sumatera Barat.

Total setiap tahun NSI mengekspor 7.000 ton. Volume itu bertahan sejak 1995. Sebelumnya, hanya 4.000—5.000 ton per tahun. Kenaikan volume itu disebabkan kebutuhan pembeli meningkat. Apalagi masyarakat Eropa mulai keranjingan menyeruput cinnamon capucino dan teh cinnamon.

Untuk menjaga pasokan, NSI merangkul pekebun di Batusangkar dan Kerinci. Setiap kg kering diborong Rp3000—Rp7000 tergantung kualitas dan kadar air. Menurut Indra, perusahaannya cukup mengirim ke sister company di Amerika Serikat. “Mereka yang mengerjakan bottling, labeling, packaging hingga pemasaran,” tutur putra dari Arifin Effendi itu.

Pantas jika eksportir di Jakarta seperti Sufindo Group berburu langsung ke Padang dan Medan untuk memperoleh kayumanis C. burmanii. Harga mahal pun tak masalah. “Kami membeli Rp5.000 per kg kering,” ucap Sufli Yusuf. Barang itu kemudian dipasarkan bentuk cutting (10%), tepung alias cinnamon dust (20%), dan asalan (70%). Paling tidak, perusahaan yang berkantor di Durensawit, Jakarta Timur, itu kini menyetor 30—50 ton/bulan ke Amerika, India, Korea, dan Jepang. Volume itu bertahan sejak 1999.

no image

3 Jenis Kayumanis Unggulan Sebagai Komoditi Ekspor

Sepuluh tahun menanti Mahmud, pekebun kayumanis di Kabupaten Kerinci, Jambi, dapat mengupas 3—5 kg kulit kering Cinnamomum sp. Sayang harganya cuma Rp3.000/kg kering. Setelah itu ia harus sabar menunggu 6 tahun lagi. Pekebun kayumanis merasa getir, meski tiga jenis selalu diminta pasar.

Kulit kayumanis yang diambil Mahmud itu kelak disuling menjadi minyak kayumanis. Selain kulit, ranting, dan daun juga bisa dijadikan bahan baku penyulingan. Di kulit batang C. Zcylanicum kandungan sinnamaldehida komponen utama minyak asiri cukup tinggi 2,21%. Di daun kandungan eugenol yang juga komponen utama minyak daun cengkih, paling tinggi mencapai 83%. “Eugenol membuat minyak kayumanis menjadipahit,” ujar Ir. Sofyan Rush, ketua Kelti pasca panen Balai Peneltian Tanaman Rempah dan Obat.

Pesaing Indonesia untuk pasar dunia, seperti Vietnam, Kamboja, dan Malaysia kian gencar mengembangkan kayumanis. Mereka tidak tanggung-tanggung mengebunkan Cinnamomum sp dalam skala luas. Sayang, Indonesia sebagai surga kayumanis malah tidak mengembangkan. “Penanamannya skala kecil dan tidak dirawat. Begitu tanam langsung ditinggal, pas butuh uang baru ditengok,” ujar Dr Azmi Dalimi, MS, peneliti Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian di Bogor.

Cinnamomum cassia: paling unggul

Di perdagangan dunia Cinnamomum cassia disebut juga cassia ligena atau kayu manis Tiongkok, sesuai asalnya Republik Rakyat Cina. Ia banyak dibudidayakan di Desa Kebumen, Kecamatan Baturaden, Purwokerto dan Lembang, Bandung.

Keistimewaan minyak cassia, kadar sinamaldehida paling tinggi, 85—95%. Sedang kadar minyak kulit Cinnamomum cassia berkisar 3,78%. Selain itu aroma dan rasanya menyengat. Kebanyakan digunakan sebagai rempah-rempah dan bahan baku obat-obatan.

Sosoknya berbeda dibanding Cinnamomum zeylanicum dan Cinnamomum burmanii. Batang tinggi dan lurus mirip manggis. Tajuk berbentuk piramid dan banyak cabang. Warna pucuk tanaman bervariasi dari hijau muda sampai hijau muda kemerahan. Kulit batang agak tebal, tapi mudah dikelupas. Panen pertama saat tanaman berumur 10—15 tahun.

Cinnamomum cassia
C. cassia, diperoleh mutu minyak terbaik

 

Cinnamomum zeylanicum: serba guna

Tanaman asal Srilangka itu dikenal sebagai kayumanis ceylon. Jika jenis lain diambil kulit batangnya, Cinnamomum zeylanicum dipanen kulit kayu cabang, dahan, dan ranting. Ia memberikan produksi daun dan kandungan minyak tertinggi, 3,95%. Kadar sinamadaldehida paling rendah, hanya 50%. Oleh karena itu rasa dan aromanya lebih lembut.

Ia cocok ditanam di dataran rendah, 15—500 m dpi. Sosok tanaman agak bengkok, cabang tidak beraturan sehingga nampak rimbun. Pada umur 3—4 tahun tanaman sudah dapat dipanen, walaupun yang diambil cuma 1 kg. Kulit batang paling tipis di antara ketiga jenis lain sehingga gampang dikupas.

Cinnamomum zeylanicum
C. zeylanicum, semua komponen tanaman berguna

 

Cinnamomum burmanii: kulit tebal

Inilah kayumanis kebanggaan Indonesia. Ia banyak ditanam di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jambi. Di pasar dunia kayumanis Indonesia itu dikenal dengan 2 nama dagang. Kerinci untuk kayumanis terbaik asal wilayah Gunung Kerinci di Sumatera Barat dan Jambi. Sedangkan kayumanis asal daerah lain dikenal sebagai verra. Cinnamomum. burmanii banyak dipakai sebagai bumbu atau bahan baku pembuatan oleoresin. Ia memiliki kadar minyak terendah 3,45%. Kandungan sinamadaldehida lebih tinggi dibanding C. zeylanicum, 65%.

C. burmanii, rempah-rempah kebanggaan Indonesia

Sosoknya mudah dikenali. Warna merah pada pucuk daun ciri khas tanaman tersebut. Semakin tinggi lokasi penanaman warna merah kian kentara. Bentuk daun bulat, panjang, dan tebal. Tinggi tanaman mencapai 15 m dengan percabangan lurus dan teratur. Ia cocok ditanam di ketinggian 500—1.500 m dpi. Umur 6—8 tahun dapat dipanen 4 kg. Pekebun harus ekstra tenaga untuk mengupas lantaran kulit batang sangat tebal.

Jumat, 26 Juli 2019

no image

Tabulampot pohon apel india

Dua orang yang bertamu itu berdiri tegak di beranda sebuah rumah di Wologito, Semarang Barat. Pandangan mata mereka diarahkan ke apel india tabulampot setinggi 1 m yang digelayuti 40-an buah. Sosok tanaman berjuluk indian plum itu selalu mengundang rasa ingin tahu. “Saya bilang saja apel india karena cabangnya meliuk seperti tarian india,” kata Maya, sang tuan rumah.

Buah seukuran telur ayam kampung itu berwarna kuning pucat. Buah menyebar di seluruh cabang pohon. Rasanya manis kesat dan renyah. “Persis pir australia yang hijau,” ujar istri Prakosa Haryono, kolektor tabulampot di Demak, Jawa Tengah. Mantan pekebun pepaya dan jambu biji itu mempunyai 6 putsa. Dua di antaranya diletakkan di rumahnya di Semarang; selebihnya di Demak yang berjuluk kota wali.

apel india

Hanya 4 pohon yang berbuah serempak. Dua pohon yang ditanam di tanah berkali-kali gagal membentuk fruitset. Dari sosok tanaman, Prakosa memastikan mereka berbeda spesies. Putsa memang banyak ragamnya, mencapai 400 kultivar.

Yang ditanam di tanah berbunga putih bersih menyerupai cempaka. Ukuran daun lebih besar ketimbang putsa pot. Panjang daun sekitar 5—7 cm berbentuk lanset. Sementara bentuk bunga putsa pot mirip makuto dewo, ukuran kecil, dan berwarna putih kusam.

apel india milik Prakosa yang sudah berbuah diperkirakan memerlukan para-para kelak ketika pohon kian besar. Tujuannya untuk menyangga buah yang menggelayut lantaran percabangan sangat lentur. Pemandangan serupa pernah budidayatani saksikan di perkebunan putsa di Taiwan. Selain itu di Rayong, Thailand, putsa milik Wansuchai berupa pohon berkayu yang mampu tumbuh hingga ketinggian puluhan meter. Oleh karena itu putsa itu tak membutuhkan para-para seperti kami saksikan diTaiwan.

Disungkup

Sudah lama Prakosa memendam hasrat untuk mengoleksi tanaman apel india yang populer disebut Chinese date itu. Rasa manis, perawatan mudah, dan masih langka merupakan alasan Nonot demikian sapaan Prakosa memburu putsa. Namun, keinginan itu baru terpenuhi Februari 2002. Itu berkat informasi rekannya, Chandra Gunawan, kolektor tanaman hias sekaligus pemilik Nurseri Godong Ijo di Depok, Jawa Barat.

Chandra menyodorkan sebuah nurseri di India yang menyediakan putsa. Di negeri anak benua itu putsa banyak tumbuh di Bangalore. Alumnus Universitas Islam Sultan Agung itu pun segera menghubungi nurseri yang dimaksud. Sebulan berselang, betapa suka-citanya Nonot ketika 6 sambung pucuk putsa tanpa daun tiba di Demak. Di kemasan tertera label indian jujube. Panjang batang 20—30 cm yang dibeli Rp50.000 per bibit.

Ayah 3 anak itu lantas menanamnya di 6 pot berbeda dengan diameter 20 cm. Media tanam berupa pasir kasar yang tidak lolos saringan kasa nyamuk. Setelah disiram hingga jenuh ke-6 pot dimasukkan di bawah sungkup selama 60 hari. Sungkup plastik berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi puncak 90 cm. Selama penyungkupan, penyiraman ditiadakan.

Berbuah Genjah

Untuk mempertahankan kelembapan ia menyiram permukaan tanah di sekitar sungkup. Saat musim hujan frekuensi penyiraman 2 hari sekali; kemarau, 2—3 kali sehari. Dua puluh hari setelah penyungkupan muncul banyak tunas daun berwarna hijau kekuningan. Lama-kelamaan daun berubah hijau segar. Ketika sungkup dibuka 2 bulan kemudian tanaman tetap di lokasi semula

Anak ke-2 dari 5 bersaudara itu hanya memberi hara berupa pupuk berkadar nitrogen tinggisebaiknya yang lambat penguraiannya seperti Dekastar atau Magam. Dosis 1 sendok teh per tanaman. Reaksi yang tampak muncul percabangan kecil dan daun merimbun terdiri atas 40— 50 helai. Sebulan setelah sungkup dibuka, apel india itu dipindahtanamkan ke pot berdiameter 40 cm.

Media tanam berupa campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Pupuk daun seperti Growmore atau Gandasil D disemprotkan di sekitar daun dan batang. Interval penyemprotan 7 hari. Hanya 5 kali penyemprotan langsung muncul bunga di berbagai cabang. “Perawatan mudah. Yang saya coba di Demak dengan ketinggian 10 m (dpi, red) dan Semarang 210 m (dpi, red) sama hasilnya,” katanya.

Rajin berbuah Setelah ditanam dalam pot

Prakosa mempertahankan seluruh buah, tanpa seleksi. Buah siap konsumsi setelah 3 bulan sejak munculnya bunga. Di dalamnya terdapat biji menyerupai biji kedondong tanpa rumbai-rumbai tetapi membentuk sudut. Tiga bulan sesudah pemetikan terakhir, bunga kembali muncul. Prakosa hanya memberikan 1 sendok teh pupuk berkadar kalium tinggi.

“Tanpa dimanja putsa mampu berbuah. Tanaman itu tak menuntut banyak perawatan. Setahun bisa 2—3 kali berbuah,” kata pemilik UD Satya Pelita itu. Kondisi itu, menurut sarjana hukum yang lebih senang berkebun itu pas buat hobiis sibuk. Triman, hobiis tabulampot yang mengetahui putsa ketika berkunjung ke Cina, misalnya, kesengsem putsa pot milik Prakosa. Sayang, Prakosa masih mempertahankan.

Lantaran banyak tamu yang tertarik untuk memiliki, Prakosa berencana mendatangkan batang bawah dari Thailand. “Selama ini saya menyemai lebih dari 200 biji, tak ada satu pun yang tumbuh,” ujar kelahiran Demak 45 tahun silam itu.

no image

Durian kerantungan Dari Samarinda

Cobalah Durian kerantungan asal hutan-hutan di seputar Tarakan, Kalimantan Timur. Aroma tak menyengat, daging bertekstur lembut, manis, dan tak membuat enek. “Makan 5 buah pun tak akan mabuk,” tutur Gregori Hambali, kolektor di Bogor. Yang tak kalah enak durian tarian berdaging merah.

Kami pertama kali mencicipi kerantongan saat berkunjung ke Samarinda, ibukota Kalimantan Timur. Hutan-hutan di Kalimantan, Sumatera, dan semenanjung Malaysia memang habitat Durio oxleyanus itu. la makanan favorit monyet-monyet liar. Kerantongan, kentongan, atau durian daun julukan di Tarakan, Kalimantan Timur yang memiliki populasi terbesar. Masyarakat Aceh akrab menyebutnya rutungulung.

Sosok kerantongan: duri panjang antara 2—2,5 cm, keras, runcing, dan lentik. Warna duri tetap hijau daun meski telah matang pohon. Karena bentuknya itu ia kerap dijuluki si Jabrik. Uniknya, di Kalimantan buah dibelah melintang agar mudah dinikmati. Itu lantaran kulit sangat keras dan tebal sehingga sulit dibuka dengan cara biasa.

Durian kerantongan
Durian Kerantongan, Si Jabrik asal Kalimantan

Pohon Berbuah Lebat

Toh, sulitnya membelah si Jabrik terobati waktu buah dicicipi. Daging Durian kerantungan bertekstur lembut, minim serat, manis, dan tidak membuat eneg meski dikonsumsi banyak. Sayang, daging tipis, rata-rata 2—3 mm. Padahal ukuran biji besar menyerupai Durio zibethinus lokal. Warna putih dan putih kekuningan. Ukuran bervariasi, dari kepalan tangan hingga sebesar durian biasa.

Kini menikmati kerantongan tak perlu terbang ke Tarakan. Lima pohon koleksi Gregori Hambali di Darmaga, Bogor mulai Februari berbuah lebat. Itu buah pertama dari pohon berumur 20 tahun. Jenis serupa juga dikoleksi Kebun Raya Bogor.

Lamanya masa berbuah dimaklumi lantaran perawatan tidak terlalu intensif. Produktivitas 50—80 butir per pohon, jauh lebih rendah dibanding kerantongan di habitat asli. Di hutan-hutan Kalimantan, pohon berdiameter batang 1 m setinggi 10—15 m berbuah ratusan butir. Supaya mendekati kondisi habitat asal, Greg membiarkan kebun liar tak terurus seperti hutan.

Buah Matang di pohon

Yang juga layak dicicipi, durian tarian hasil silangan D. graveolens dengan D. zibethinus varietas Sukamo. “Nama tarian saya ambil dari akronim induk, yaitu tapon dan durian,” papar Greg, sang pemulia. Satu pohon durian digelayuti 20 butir tumbuh di kebun Agus Lazarus di Parung, Bogor, hasil silangan sejak 1987.

Sosok buah saat matang seukuran bola sepak takraw, diameter 20—25 cm. Duri runcing dan keras berwarna oranye cerah. Saat matang buah sedikit terbelah meski masih menempel di batang. Daging berwarna oranye kemerahan, tebal, serta bertekstur lembut. Sifat itu titisan induk betina D. graveolens. Soal rasa, tarian manis dan lembut mirip Sukamo

Kamis, 25 Juli 2019

no image

Jalan Jalan Di Pandeglang Surga para Penikmat Durian

“Ini durian pandeglang, dijamin manis,” tutur seorang pedagang di salah satu sudut Pasar Parung, Bogor. Tanpa ragu ia buka sedikit kulit buah, lantas menyodorkan secuil daging untuk budidayatani. Hm…sipedagang memang tak bohong. Rasa manis legit langsung menggoyang lidah. Supaya lebih puas, yuk telusuri langsung ke sentra durian di Pandeglang.

Memasuki Kabupaten Pandeglang dari arah Serang terlihat deretan pedagang durian di kiri kanan jalan. Buah ditata di kios-kios sederhana atau cukup ditumpuk di pinggir-pinggir jalan. Pemandangan serupa ditemui dalam perjalanan menuju kawasan wisata Pantai Carita.

Padahal, saat budidayatani berkunjung pada awal Maret musim durian hampir berlalu. “Tahun ini panen memang lebih panjang. Dari Juli (2018, red) sudah ada yang panen, sekarang masih ada sedikit-sedikit,” kata Romansyah, PPL Kecamatan Bojong. Lazimnya musim petik berlangsung pada Desember Februari.

Dari Pandeglang sampai ke Jakarta

budidayatani mampir di salah satu kios di pusat penjualan di Kecamatan Saketi. Di tepi jalan sepanjang 500 m berjejer tak kurang 20 lapak. Durian dipasok dari desa-desa di sekitar. Setelah melalui tawar menawar yang cukup alot, buah berbobot sekitar 2,5 kg dijual Rp 15.000. Begitu dibelah terbersit kecewa lantaran daging pucat tak menarik. Namun, begitu dicoba, hm…daging terasa manis dan lembut seperti memakan es krim. Biji besar tapi bagian yang dapat dimakan cukup banyak. Satu juring berisi 4—5 pongge

Minum kopi

Kios-kios sejenis juga terdapat di sentra lain di Kecamatan Bojong, Mandalawangi, dan Cadasari. Namun, hati-hati bila memburu di kaki lima. Terkadang ada pedagang nakal yang memakai nama pandeglang untuk durian asal Sumatera. “Tapi kalau di Saketi bisa dipastikan durian asli pandeglang,” tegas Ir Agus M Tauchid, Msi, Kasubdin Bina Usaha Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang yang menemani budidayatani.

Saung-saung kebun di desa-desa di Kecamatan Cadasari malah buka 24 jam. Rupanya sambil menunggui buah jatuh, pemilik sekaligus berjualan. Harga jual lebih murah, antara Rp7.000 – Rp8.000 per butir. Bila dijajakan di pinggir jalan menjadi Rp 15.000.

Di saung-saung desa itu setiap pembeli disuguhi kopi pahit. Maksudnya supaya tak mabuk meski makan dalam jumlah banyak. Lagipula kopi menghilangkan bau Durio zibethinus itu saat bersendawa. Durian di kios-kios itu biasanya tanpa nama. Raja buah yang sudah punya nama, misal IM di Desa Tapos, Kecamatan Cadasari, langsung diborong pengepul untuk pasar luar kota.

Toh, meski tanpa nama durian asal Pandeglang memang enak-enak. Seorang pedagang buah di kawasan Muarakarang, Jakarta Utara, kerap memborong bila musim durian di tempat lain usai. Durian asal Pandeglang juga membanjiri Parung dan Bojonggede di Bogor, serta Slipi, Jakarta Selatan. Harga jual relatif murah, Rp 10.000 per 3 butir berbobot 8 ons di awal musim; panen raya Rp7.500 per 3 butir.

Wajar saja harga murah lantaran produksi di sentra sendiri berlimpah. Pada 2002 total panen se-kabupaten mencapai 162 ton. Bila rata-rata bobot buah 2 – 3 kg, itu setara 54.000—81.000 butir.

Cadasari dan Mandalawangi sentra utama. Kebanyakan merupakan tanaman “warisan nenek moyang.” Populasi per luasan lahan di sana sudah padat. “Di Cadasari mencapai 67.000 pohon, sementara total Kabupaten Pandeglang 200.000 pohon,” papar Agus. Penanaman dengan bibit hasil perbanyakan secara vegetatif mulai dilakukan di 2 sentra baru, Saketi dan Bojong.
Si holol

Lantaran sudah kesohor, durian pandeglang jadi incaran para pedagang. Pengepul desa umumnya sudah memanjar buah beberapa bulan sebelum panen raya. Yang dikejar tak melulu yang punya nama. Menurut Romansyah harga borongan tahun lalu mencapai Rp3.000 per butir. Nilai itu lantas dikalikan dengan jumlah buah di pohon.

Pengepul lantas memasarkan kepedagang kakilima di pinggir jalan. Setelah memperhitungkan upah petik dan ongkos angkut durian dijual minimal Rp8.000 per butir. Wajar bila harga jual ke konsumen mencapai Rp 10.000— Rp15.000. Kalau volume cukup besar sekitar 2 colt durian langsung dibawa ke Jakarta.

Tak semua pohon bisa diborong. Itu biasanya durian yang sudah punya nama. Sebut saja si Holol di Desa Bojong. Pohon berumur 60 tahun itu setiap musim menghasilkan 150 butir. Pada 1995 pernah mencapai 300 butir. Daging kuning pucat, beraroma tajam, rasa manis legit, dan cukup tebal. Wajar ia jadi incaran pedagang.

Lantaran sudah kesohor enak harga di kebun relatif tinggi, Rp 10.000 per butir berbobot 2—2,5 kg. Begitu panen raya turun menjadi Rp5.000. Durian incaran lain, si Botol alias si Lojor. Ia disenangi lantaran aroma dan tekstur tidak berubah meski sudah 3 hari jatuh pohon.

Durian di Kaki lima

Gudang durian Provinsi Banten tak melulu Pandeglang. Kecamatan Serang yang bertetangga dekat juga incaran para penggemar buah berbau menyengat itu.

Sebelum Anda memasuki jalan bebas hambatan ke arah Jakarta, mampir dulu dialun-alun dekat pintu keluar tol Cilegon Timur. Pedagang-pedagang kagetan menjajakan durian lokal setempat.

Kisaran harga jual Rp5.000—Rp 15.000 per butir tergantung besar buah. Bila mahir menawar, 6 butir berbobot l kg bisa diborong Rp25.000. Lantaran lokal rasa bervariasi, tapi dijamin enak-enak. Ada yang manis legit kering, manis sedikit lembek, dan manis sedikit pahit. Ingin mencicipi? Silakan berburu langsung