Potensi Pembudidayaan Kayu Gaharu di Kawasan Timur Indonesia

Populasi Kayu Gaharu di alam menipis lantaran eksploitasi berlebihan. Pria separuh baya itu cukup memanen gubal di halaman rumah. Di sana ia menanam puluhan Kayu Gaharu Delapan pohon di antaranya berumur 4 tahun dan siap disuntik cendawan.

Dorem Yoku di Dusun Hena, Flavo, Kecamatan Sentani Tengah, juga menanam gaharu di halaman rumah. Setidaknya 50 pohon gaharu beringin Aquilaria filaria tumbuh di sekeliling halaman rumah pria 42 tahun itu. “Semula hanya ditanam 3 bibit cabutan bibit yang tumbuh alami dari buah yang jatuh dari hutan di lereng Gunung Siklop,” papar Dorem Yoku.

Dari 3 tanaman itulah ia kemudian mengembangkan bibitnya. Selain di halaman rumah, Dorem menanam sekitar 100 pohon di kebun Siklop.

Menurut Pdt Bert Koirewoa BTh, tokoh masyarakat setempat, menanam gaharu bukan lagi hal baru bagi masyarakat Sentani. “Gaharu sudah marak dikembangkan sejak 2000,” papar Bert. Tak heran jika ukuran tanaman di pekarangan penduduk cukup besar. Lihat saja di halaman rumah Fangkoy, diameter batang mencapai 16 cm dengan lingkar batang 50 cm.

Menebar aroma mewangi saat berbunga menjadi alasan ia ditanam di pekarangan. “Bila sedang bersemi tak perlu pengharum ruangan lagi,” papar Ny Fangkoy kepada budidayatani. Apalagi barisan tanaman di pekarangan memberi kesan hijau, asri, dan sejuk dipandang mata.

Marak

Pengembangan Kayu Gaharu tak hanya berlangsung di pekarangan. Kebun dan tanah adat pun kini ditanami gaharu berjarak tanam 2 m x 3 m. “Masyarakat adat di sini punya aturan-aturan main tertentu untuk pengembangan komoditas,” paparnya. Namun, bukan berarti luas penanaman terbatas. Contohnya Jai Mirja yang mengembangkan gaharu hingga 600-an ha di pedalaman Papua.

Menurut Jonner Situmorang, peneliti gaharu di Seameo-Biotrop, Bogor, upaya pengembangan gaharu memang marak di berbagai daerah di Indonesia. “Upaya itu muncul setelah gaharu alam habis akibat dieksploitasi besar-besaran,” paparnya. Eksploitasi hutan alam tropis untuk keperluan industri kayu juga menjadi penyebab berkurangnya populasi.

Di Nusa Tenggara Barat, sedikitnya 200 ha lahan di Senaru, Lombok Utara, telah ditanami gaharu. “Pengembangan dilakukan sejak 5 tahun lalu,” papar Ir Parman PhD. Menurut dekan Fakultas Pertanian Universitas Mataram itu, pengembangan dilakukan di lahan milik Dinas Kehutanan NTB.

Haji Arfan di Dusun Lembah Sari, Desa Pusuk, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, bahkan sudah membudidayakan sejak 1992. Ia melakukannya setelah melihat kenyataan hampir tak ditemukan lagi gaharu di hutan Pusuk. Padahal, kawasan itu dikenal sebagai pusatnya gaharu alam. Dengan mengumpulkan anakan dan biji dari sisa-sisa pohon gaharu yang masih tumbuh di hutan itu, ia mencoba membudidayakan.

Penghargaan Kalpataru pun diraihnya berkat kegigihannya menyelamatkan tanaman itu.

kayu gaharu
kayu gaharu Disuntik agar dapatkan gubal lebih banyak

Budidaya Gaharu Cukup Diminati Penduduk Nusa Tenggara Timur

Di Nusa Tenggara Timur penanaman Kayu Gaharu juga mulai dilakukan. Contohnya Kabupaten Alor yang aktif mempromosikan penanaman gaharu di wilayah pegunungan Alor. Maklum, di Timor, pulau tetangga yang selama berabad-abad menjadi pengekspor gaharu terbesar, kini sulit ditemukan kayu wangi itu.

Seorang eksportir gaharu di Pekanbaru, Riau, membudidayakan anakan liar Aquilaria dari hutan alam sejak 1991. Biotrop memperbanyak bibit lewat kultur jaringan dan menyebarkannya ke masyarakat sejak 3 tahun lalu. Di antaranya ditanam di lahan seluas 2 ha di Desa Muarafajar,

Pekanbaru. Penanaman gaharu juga dilakukan sebuah pondok pesantren di Sukabumi, Jawa Barat.

Upaya penyelamatan gaharu juga dilakukan Gregorius Hambali, kolektor tanaman di Bogor. Di kebunnya di kawasan Baranangsiang, Bogor, setidaknya terdapat 7 jenis gaharu hasil perburuan ke hutan-hutan Indonesia hingga Indocina. Di antaranya Aquilaria filaria dan A cumingiana yang diperoleh dari Seram, Maluku, A. microcarpa (Kalimantan Barat), A. beccariana (Kalimantan Timur), A. hirta (Batam, Riau), A. malaccensis (Kalimantan Selatan), dan A.crassna (Indocina). Bibit-bibit dari tanaman koleksi itu menyebar antara lain ke lembaga-lembaga penelitian.

Tak sulit pasar

Nilai jual Kayu Gaharu yang tinggi, mencapai Rp 10-juta per kg untuk kualitas super, mendorong maraknya pengembangan gaharu. Apalagi saat ini keberadaan pohon gaharu di hutan-hutan alam makin terkikis. “Berburu selama berbulan-bulan pun belum tentu dapat 1 kg,” papar Dorem Yoku. Itu pun harus merambah jauh ke dalam hutan-hutan pedalaman. Padahal di era 1990-an, dalam sebulan saja Dorem dan kelompoknya bisa memperoleh lebih dari 100 kg.

Selama ini gaharu Kayu Gaharu memang mudah dipasarkan. Sekitar 400 pengusaha menyebar di wilayah itu untuk mencari gaharu. “Mereka masuk hingga ke pelosok untuk mendapatkan pasokan,” urai Bert. Bahkan, berapa pun harga yang diminta pengumpul dan pemilik gaharu tetap dibayar pengusaha. Maklum, di luar negeri seperti Singapura dan Hongkong, harga gaharu mencapai Rp50-juta/kg. Bahkan, harga 1 gram bubuk gaharu setara harga emas, berkisar US$10—US$12 .

Wajar kalau harga jual Kayu Gaharu sangat menggiurkan. Kebutuhan pasar dunia masih sangat besar. Di Arab Saudi, misalnya, gaharu menjadi kebutuhan rutin setiap rumah tangga. “Sehabis membersihkan rumah, menyambut kedatangan tamu, atau pada perayaan-perayaan khusus, mereka pasti membakar gaharu sebagai pengharum,” papar Jonner.

Tak heran negeri kaya minyak itu menghabiskan SR2,5-miliar atau setara US$667-juta setahun untuk pengadaan 500 ton gaharu. Singapura, salah satu pasar gaharu Indonesia, malah menyerap 2.000 ton per tahun.

Angka itu masih jauh di atas kuota ekspor Indonesia yang hanya tinggal 300-400 ton per tahun lantaran terancam punah. Padahal, gaharu asal Indonesia sangat diminati pasar dunia. Jadi, saatnya mengembangkan gaharu. Apalagi, dengan teknik penyuntikan cendawan, gaharu dapat dipanen dari tanaman budidaya. Lihat saja di Lombok, tanaman yang disuntik sejak 2003 kini mulai membentuk gubal. Diperkirakan pada 2020 masyarakat di sana bisa memanen gubal-gubal gaharu berkualitas tinggi.