-->

Rabu, 22 April 2020

Tanaman Hias Cantik Hasil Mutasi Genetika Dari Thailand

Tanaman Hias Cantik Hasil Mutasi Genetika Dari Thailand

Philodendron istimewa itu diperoleh Anshori . Pemilik Zikita Nursery di Pondoklabu, Jakarta Selatan, itu mendapatkan filonya sebutan philodendron dari Thanachai Charusom yang berkunjung ke Indonesia. 

Kolektor tanaman hias di Bangkok itu membawa filo kecil berdaun tiga lembar. Saat itu keistimewaannya belum menonjol, tetapi Anshori berani membayar Rp5-juta. Ia menilai prospek filo itu sangat baik karena berdaun variegata.

Perkiraan Anshori ternyata benar. Penampilan kerabat Araceae itu kian cantik. Bagian daun berwarna putih semakin lebar sehingga seimbang dengan yang hijau. Mr Daeng panggilan akrab Thanachai yang kembali berkunjung ke Zikita Nursery sempat mengaguminya. 

Tanaman Unik Mutasi Genetik

Ia tak menyangka bekas koleksinya menjelma jadi luar biasa cantik. Kini anakan filo itu dilirik kolektor. Wajar jika Anshori yakin telah menemukan tambang mas baru.

Hery Saefuddin di Sawangan, Depok, juga getol mengumpulkan tanaman variegata. Namun, tidak semua variegata menjadi pilihannya. Pemilik Nggun Kulo Nursery itu mempertimbangkan tingkat kelangkaan, kesesuaian lingkungan tumbuh, dan kekerabatan tanaman itu. 

Kepiawaiannya dibuktikan saat mendatangkan sambang darah variegata 4 tahun silam. Tanaman 3 warna itu disukai masyarakat sehingga laris manis. Saat ini Hery memperbanyak Exoecaria bicolor variegata itu hingga ribuan tanaman. Satu tanaman dijual Rp25.000-Rp 150.000.

Selain Anshori dan Hery, Ukay dan Yoseph di Bogor, Chandra Gunawan di Sawangan, Depok, serta Gunawan Widjaya di Sentul getol mengumpulkan Tanaman Hias mutasi. Mereka kerap berburu ke Thailand untuk mencari “tambang-tambang” baru.

 

Crossandra jingga variegata

1. Crossandra jingga variegata

Golden candle berbunga jingga masih jarang. Kini muncul lagi varietas lebih baru dengan daun 50—75% variegata. Jenis lama berbunga kuning dan merah. Lolipop sebutan lain ini paling pantas menghias halaman terbuka.

Spathyphyllum golden

 2. Spathyphyllum golden

Sosok tanaman dari Thailand itu berdaun hijau-kekuningan. Jenis lama berwarna hijau dan hijau variegata. Ia masuk ke Indonesia pada awal 2003, tetapi jumlahnya masih terbatas. Cocok untuk penyemarak taman teduh atau penghias ruangan.

Clerodendron variegata

3. Clerodendron variegata

Meski tanpa kehadiran bunga, sosok clerodenron ini menarik. Tepi daun yang bergelombang dihiasi pigura putih sehingga terlihat anggun. Ia pantas menyemarakkan taman yang agak teduh.

Philodendron golden

4. Philodendron golden

Philodendron ini tampak menonjol lantaran daunnya yang menjari berwarna hijau-kuning. Pertumbuhan merambat sehingga harus menggunakan tiang bila ditanam di pot. Ia senang lingkungan teduh agar daun tidak terbakar.

Variegata pucuk pink

 5. Variegata pucuk pink

Sosok tanaman yang mirip asam selong itu amat cantik. Selain daun yang didominasi warna variegata 80%, juga pucuknya berwarna pink. Jadi, ia sehingga memiliki 3 warna. Tanaman ini paling cocok menghuni tempat terbuka agar keindahan daunnya semakin prima.

Soka variegata

6. Soka variegata

Selain rajin mengeluarkan bunga berukuran 5—6 cm, soka itu juga berdaun variegata mencapai 60 %. Semakin terbuka tempat, warna daun kian cerah.

Palisota variegata

 

7. Palisota variegata

Palisota dari Thailand tergolong paling langka. Ia datang ke Indonesia pada akhir 2003. Keistimewaan terletak pada corak putih mirip motif kain sutra. Ada 2 macam variegata yaitu putih dan kuning. Pendatang dari Thailand itu pas untuk tafnan teduh dan penghias ruangan.

Surga Tanaman Hias Di Negri Siam

Surga Tanaman Hias Di Negri Siam

Dalam hitungan menit, beragam tanaman itu berpindah kepemilikan. Namun, itu belum cukup. Kaki-kaki para hobiis tanaman hias kawakan dari Indonesia itu kemudian melangkah memasuki anjungan lain di lokasi pameran seluas lapangan bola. 

Lagi-lagi beragam jenis teranyar jatuh dalam genggaman. Ekshibisi akbar setiap akhir November dalam rangka memperingati ulang tahun Raja Bhumibol Adulyadej itu memang kesohor sebagai surga untuk mendapat jenis-jenis paling gres.

Surga Tanaman Hias

Tak puas dengan hasil perburuan di Suang Luang, Chandra Gunawan melanjutkan perjalanan menyambangi nurseri milik Thanachai Charusom. 

Kali ini bukan adenium yang ia cari, tapi aglaonema. Dari Thanachai, Chandra mendapatkan aglaonema anggun berdaun berbentuk hati dengan corak putih berhias totol tua. Memburu langsung ke nurseri-nurseri ternama juga jadi agenda Ny Jali dan Greg Hambali.

Rajin jalan-jalan

Bukan tanpa alasan para hobiis itu rela berlelah-lelah berkunjung ke negara yang terkenal dengan suteranya itu. “Untuk urusan tanaman hias tropis, Thailand nomor satu di Asia,” tutur Heri Syaefudin. Bak Paris, dialah kiblat mode tanaman hias tropis. 

Kala memburu tanaman hias baru, negeri yang tak pernah dijajah itu yang pertama terlintas di benak para hobiis dari berbagai negara.

Wajar saja karena negeri Gajah Putih itu kaya beragam jenis dan varietas tanaman hias. Boleh dibilang, jenis apa saja yang dicari hampir pasti ada di sana.

Musababnya, “Orang Thailand gemar tanaman dan mereka rajin jalan-jalan ke luar negeri mencari koleksi terbaru,” kata pi (kakak, dalam bahasa Thailand, red) Daeng, sapaan akrab Thanachai. Setelah mendapatkan, mereka tak sekadar mengoleksi, tapi rajin menyilang atau memperbanyak. Muncullah jenis-jenis baru yang berbeda.

Lagipula persaingan antarnurseri sangat ketat sehingga masing-masing berlomba menghasilkan jenis berbeda. Pengembangan dan perbanyakan jenis-jenis baru kian progresif karena mendapat dukungan dana dan riset dari pemerintah.

Tak heran hampir setiap 2 bulan Leman, kolektor aglaonema di Jakarta Utara, bertandang ke negeri Siam untuk melengkapi koleksi. Chandra rutin menyambangi nurseri dan penangkar tanaman hias di seputaran Bangkok hingga ke pelosok-pelosok demi mendapat jenis-jenis terbaru. 

Itu juga yang dilakukan Joseph Ishak di Tajur, Bogor; Gunawan Wijaya di Sentul, Bogor, dan Suhandono, di Ragunan, Jakarta Selatan.

Euphorbia, ngetren di Thailand, baru hijrah ke Indonesia

Surga Tanaman Hias

Perjalanan ulang-alik Indonesia-Thailand itu sudah berlangsung sejak 15 tahun silam. Kalau semula sekadar koleksi, tanaman asal negeri Ratu Sirikit itu kini diincar sebagai bisnis. Sudah banyak terbukti ia menjadi tambang emas bagi para pemilik nurseri. Selain anggrek, yang spektakuler tentu saja adenium.

Sejak diperkenalkan pada 1999 oleh Chandra, kamboja jepang asal Thailand langsung memikat banyak penggemar tanaman hias tanah air. Maklum bentuk, warna, dan corak bunga berbeda dengan adenium yang ada di Indonesia. 

Kini si mawar gurun itu membanjiri pasar lokal hingga ke kios-kios pedagang kakilima. Itu setali 3 uang dengan euphorbia yang diperkenalkan belakangan.

Kisah serupa dialami Heri dengan sambang darah variegata. Dengan modal 1 pot seharga Rp 1-juta yang diboyong 5 tahun silam, ayah 3 anak itu kini menikmati keuntungan dari penjualan minimal 10.000 pot. Harga jual saat ini Rp 10.000-Rp 150.000 per pot. Jadi bisa dibayangkan gemerincing rupiah yang masuk ke kantong Heri.

Keputusan mendatangkan anthurium hookeri variegata 3 tahun silam pun membuahkan keuntungan buat Ansori Y. Dari 6 tanaman variegata, pemilik Zikita Nurseri itu memperbanyak hingga ribuan tanaman. Modal membeli masing-masing tanaman Rp 1,5-juta-Rp3,5-juta tertutup dalam hitungan bulan.

Jangan Salah pilih Kembang

“Dari awal saya yakin anthurium hookeri variegata itu bakal profitable karena variegatanya berbeda. Kuning keemasan, bukan putih, yang kuning ini jarang,” kata Ansori. Kini dari ratusan pot yang masih tersisa di nurseri di kawasan Pondoklabu, Jakarta Selatan, ia tinggal menuai untung.

Heri tertarik mendatangkan Exocaria bicolor variegata karena penampilannya eksklusif. Sambang darah lokal berwarna “normal”: bagian atas daun, hijau; bawah,merah. Kelebihan lain, sambang darah variegata bersosok lebih kompak. Heri yakin si daun cantik dengan belang putih akan mudah memikat para hobiis lantaran sambang darah sebelumnya sudah banyak dikenal.

Kejelian dalam melihat perbedaan jenis, warna, bentuk tanaman, dan bunga dengan yang ada di Indonesia memang kunci sukses bisnis tanaman hias Thailand. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan, kemudahan memperbanyak dan kesesuaian dengan iklim di Indonesia.

Entah berapa lama dan jumlah rupiah akhirnya terbuang percuma lantaran tanaman ternyata tumbuh merana di Indonesia. Heri pernah membeli sesosok tanaman berbentuk kompak dan mini. Setiba di Indonesia tanaman justru tumbuh bongsor karena kekerdilannya dihasilkan dengan memberikan paklobutrazol. Begitu efek bahan kimia itu habis, tanaman kembali normal.

Selera sama

Kunci sukses lain yang dianggap “aman”, mengekor tren di Thailand. Pengalaman dan pengamatan para pemilik nurseri menunjukkan, selera orang Indonesia dalam hal tanaman hias mirip-mirip dengan penduduk negeri Siam. Terbukti adenium dan euphorbia yang populer di Thailand pun ngetren kala didatangkan ke Indonesia.

Pasar lokal Thailand yang mulai lesu karena hampir semua penggemar tanaman hias mengoleksi adenium dan euphorbia bergairah kembali. Para pemilik nurseri berbondong-bondong mengekspor tanaman gurun itu. 

Tak hanya ke Indonesia, tapi juga Malaysia,India, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa. Mengirim tanaman yang mulai “lesu darah” di pasar lokal memang salah satu strategi pasar yang kerap digunakan para pemain tanaman hias di Thailand.

Itu juga yang membuat para pemain tanaman hias tanah air rajin “mengintip” perkembangan di Thailand. “Tanaman hias yang diminati sekarang adalah tipe flowering plant,” kata pi Daeng “membocorkan rahasia dapurnya”. 

Ia mencontohkan bromelia yang mulai populer sejak 3 tahun terakhir. Banyak nurseri kewalahan karena permintaan tinggi dari para hobiis.

Chandra memprediksi nanas hias itu pun bakal populer di Indonesia. “Ia tanaman daun tapi indah seperti bunga. Lagipula cocok sebagai tanaman indoor dan outdoor. Bagus juga untuk taman, potplant, dan dekorasi ruangan,” tutur pemilik Godongijo Nursery itu panjang lebar. 

Dengan semakin banyak fungsi tanaman, pasar kian luas. Keuntungan lain, perawatan mudah, tahan lama di dalam ruangan, serta mudah dan murah untuk diangkut jarak jauh.

Baru tapi lama

Yang juga mulai digandrungi hobiis di Thailand ialah tanaman variegata, plumeria, dan ixora. Beberapa bulan terakhir, kolektor di negeri Siam sedang ramai memburu tanaman belang itu. Mengambil pengalaman adenium dan euphorbia, pemain lokal yang mau “mengekor” mesti menunggu tren itu turun dulu di Thailand. 

Kalau mengimpor saat puncak tren harga tanaman terlalu tinggi karena masih berupa collector item. Akibatnya harga di pasar Indonesia tidak kompetitif. Pi Daeng menghitung masa kejayaan satu jenis tanaman di Thailand biasanya berlangsung selama 5 tahunan.

Membaca kecenderungan di Thailand, Heri pun rajin mengumpulkan beraneka jenis plumeria dan soka beragam warna dan bentuk bunga. Pilihan atas kedua jenis tanaman hias itu tak semata-mata hanya mengekor tren di Thailand, tapi juga karena melihat selera pasar di dalam negeri. 

“Tren taman di Indonesia sekarang mengarah ke gaya bali atau taman tropis. Gaya seperti itu banyak menggunakan plumeria,” katanya.

Tak melulu asal negeri Siam, ia mengoleksi kamboja asal Hawaii dan jenis-jenis yang disilangkan sendiri. Soka variegata dipilih dengan alasan cantik untuk aksen taman. Kehadiran si belang itu membuat taman “berwarna” meski tanpa bunga.

Varietas teranyar dari tanaman “lama” seperti aglaonema, philodendron, dan anthurium pun tetap diburu. “Kehadiran jenis baru perlu sebagai “penyegar” untuk para hobiis,” kata Ansori. Makanya pria asal Bogor itu mendatangkan philodendron variegata asal Thailand 2 bulan silam. Ia bakal menjadi tambang emas berikutnya.

“Dengan warna eksklusif harga bisa mencapai jutaan,” ujar Ansori sambil menunjuk philodendron terdiri atas 7 helai daun dalam pot berdiameter 20 cm. Jenis serupa berwarna hijau saat ini cuma laku Rpl0.000-an.

Tanaman hias lokal

Meski menangguk untung dari tanaman hias negeri jiran, para penangkar tetap terobsesi untuk mempopulerkan tanaman lokal. “Jangan hanya menunggu sesuatu populer dulu di Bangkok, baru kita mengikuti. 

Seharusnya kita mengangkat tanaman sendiri yang kalau bisa sampai diekspor. Kalau tidak begitu kapan barang Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri?” ujar Gunawan Wijaya. Pemilik Wijaya Orchids itu menyebutkan hibiscus alias bunga sepatu yang berpotensi dikembangkan. Heri melirik puring dengan beragam bentuk dan wama daun.

Dari segi kekayaan plasma nutfah, Indonesia memang tak kalah dengan Thailand. “Tanaman Indonesia juga bagus-bagus,” ujar pi Daeng waktu Budidaya Tani temui saat sedang berburu tanaman hias variegata di beberapa nurseri di kawasan Depok, Jawa Barat. 

Ia tak sekadar basa-basi. Pensiunan karyawan sebuah perusahaan minyak itu mengoleksi cempedak Arthocarpus chempedens variegata milik seorang penangkar di Sawangan, Depok. Pun anthurium berdaun lebar dan bergelombang hasil silangan penangkar lokal dari kebun Ansori.

Ia bahkan rela merogoh kocek senilai US$ 1.000 setara Rp9-juta rupiah demi mendapatkan sepot terung-terungan variegata dari Ukay, pedagang tanaman hias di Bogor. Dari tempat sama, Pramote Rojruangsang, mendapatkan pisang-pisangan berdaun merah seharga US$ 1.300.

Di mata hobiis mancanegara, Indonesia memang dianggap surga tanaman hias setelah Thailand. Terbukti Ricard Burton, kolektor asal Miami, Florida, asyik menyambangi nurseri di seputaran Bogor dan Depok untuk mencari tanaman-tanaman baru.

Tiru Hobiis Thailand

Sayang, “kekayaan” itu belum diusahakan secara komersial. Padahal Indonesia memiliki keuntungan berupa iklim yang cocok untuk pertumbuhan tanaman. Sentra-sentra tanaman hias rata-rata memiliki suhu malam lebih rendah ketimbang Thailand yang dibarengi dengan kelembapan tinggi. “Makanya kalau tanaman Thailand dibawa ke Indonesia pasti tumbuh lebih baik,” lanjut pi Daeng.

Thailand berhasil menguasai pasar ekspor tanaman hias karena berani memproduksi dalam jumlah massal. Dengan produksi massal biaya produksi menjadi lebih ringan. Akibatnya produk-produk asal negara kerajaan itu kompetitif dalam hal harga. 

Yang menjadi andalan tak melulu tanaman hias lokal. Kerap terjadi tanaman asal impor, diekspor kembali ke negara asal setelah kualitas diperbaiki dan diproduksi massal.

Pemain di Indonesia sangat mungkin meniru jejak Thailand. Wijaya Orchids yang sempat membuat hobiis di negeri Gajah Putih terpana kala mengirim anggrek tanah Spatoglotis sp berwarna kuning 5 tahun silam. 

Sekitar 1.000 anggrek tanah hasil perbanyakan secara meriklon ludes dibeli hobiis Thailand. Para penggemar tanaman hias negara itu pun kepincut oleh kecantikan aglaonema pride of sumatera hasil silangan Greg Hambali. Jadi, boleh saja memburu tanaman hias hingga ke negeri seberang. Namun, kekayaan sendiri jangan sampai dilupakan.

Selasa, 21 April 2020

Pengembangan Dan Budidaya Pohon Matoa Di Jayapura

Pengembangan Dan Budidaya Pohon Matoa Di Jayapura

Itu cerita masa lampau. Beberapa tahun mendatang, Buah matoa bisa dijolok menggunakan galah seperti mangga di pekarangan rumah atau kebun rakyat. Sejak 2 tahun silam anggota famili Sapindaceae itu dibudidayakan sebagai tanaman komersial.

Nilai jual buah matoa yang tinggi, Rp30.000-Rp35.000/kg di pasar-pasar buah di seputaran Jayapura ikut mendorong maraknya pengembangan pohon matoa. Masyarakat Papua sudah banyak yang mulai membudidayakan,” papar Ir Apri Sukandar MDiv, calon anggota DPR RI terpilih dari Partai Damai Sejahtera ketika mengajak Budidaya Tani berkunjung ke daerah pemilihannya.

Budidaya Pohon Matoa
Matoa asal papua makin diminati

Pohon Matoa Banyak Tumbuh Di tanah adat

Menurut Sri Mining AMd, dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Papua, matoa gencar dikembangkan di pekarangan-pekarangan rumah penduduk pada awal 1990-an. Pohon-pohon tinggi menjulang hingga 20-30 m dengan percabangan pertama 4-6 m dari permukaan tanah itulah yang menjadi peneduh di halaman rumah.

“Baru 2 tahun terakhir dibudidayakan di lahan usaha secara luas,” kata Sri Mining saat ditemui Budidaya Tani di arena Agro and Food Expo 2019 di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, pada April. Pengembangan dilakukan di 2 daerah sentra, Kabupaten Jayawijaya dan Yapenwaropen, masing-masing seluas 80 ha dan 50 ha.

Hal senada diungkap Ir La Achmadi MMT, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura. Sampai saat ini pengembangan matoa kebanyakan hanya di tanah-tanah ulayat (tanah adat, red). Contohnya di kebun milik Tagay di Distrik Kemtuk Gresi, Jayapura. 

Tak kurang dari 12 ha kebun matoa dikembangkan mantan pegawai Dinas Kehutanan itu sejak beberapa tahun lalu di dusun keluarga.

“Masyarakat adat di sini punya aturan-aturan main tertentu untuk pengembangan komoditas sehingga kami tak bisa leluasa memaksa masyarakat,” paparnya.

Contoh lain di tanah adat milik keluarga besar Jacob Sokoy, di Sentani. Di sana puluhan pohon matoa berumur lebih dari 20 tahun tumbuh menghutan.

Budidaya Pohon Matoa

Budidaya Matoa

Saat Budidaya Tani berkunjung akhir Juni, tajuk-tajuk pohon rimbun setinggi lebih dari 10 m itu sedang memamerkan buah. Sayang, Budidaya Tani tak bisa mencicipi barang sebutir karena buah belum cukup tua. “Sebulan lagi baru bisa panen,” tuturnya. 

Panen raya memang jatuh pada Juni-Juli. Pada Januari-Februari terkadang terdapat panen kecil. Melihat kondisi buah di pohon, ia memperkirakan dapat memanen 150-200 kg per pohon.

Pdt Bert Koirewoa BTh, ketua Yayasan Rajawali Sentani, menanam sejak 1970-an di lahan seluas 2 ha di Distrik Masirey, Waropen. Malah, “Di desa kami ia sudah menjadi tanaman utama yang harus ada di setiap dusun (kebun milik adat, red),” ungkapnya. 

Selain dikonsumsi sendiri, hasil panen juga dijemput para pedagang. Di halaman rumahnya di kawasan Toladan, Sentani, rohaniawan Kristen itu juga mengembangkan pembibitan. Lebih dari 500 bibit kini sudah ditanam di kebunnya di daerah itu.

Umumnya pengembangan dilakukan dengan bibit matoa asal biji. “Meski asal biji, bibit disemai dan dirawat khusus dipolibag-polibag. Bukan lagi bibit cabutan dari bawah-bawah pohon atau di pinggir hutan,” kata La Ahmadi. Tanaman asal biji mulai berbuah pada umur 8 tahun. 

Belakangan bibit asal cangkokan juga ditanam. Bibit ini berbuah lebih cepat, yaitu umur 2-3 tahun. Malah ada yang mulai mencoba memproduksi bibit okulasi di bawah pengawasan Dinas Pertanian Provinsi Papua. Hanya saja, produksi bibit masih terbatas. Itu karena belum ditemukan teknik yang pas untuk okulasi.

Pohon matoa Asli Jayapura

Masyarakat Jayapura memang sudah mengenal matoa sejak lama. Namun, semula ia banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penghasil kayu. “Matoa termasuk kayu kelas 2 setelah kayu besi,” tutur Sri Mining. Kayu matoa cukup kuat untuk dijadikan kayu konstruksi. 

Belakangan masyarakat mulai menyadari potensinya sebagai buah unggul daerah. Wajar bila dinas pertanian pun mengelola matoa secara serius. Lihat saja di Kabupaten Jayapura, pada tahun anggaran 2003-2004 dinas pertanian setempat mentargetkan penambahan luas areal matoa sebesar 250 ha.

Konon, buah bernama lokal hamuo itu tanaman asli Kabupaten Jayapura. Tepatnya di Distrik Namblong dan Kemtuk Gresi sekitar 100 km sebelah barat Bandara Sentani. Dari daerah itu matoa kemudian menyebar di hampir seluruh wilayah kabupaten Jayapura. 

Penyebaran utamanya di daerah Grimenawa, Genyam, dan Kaureh. Didaerah lain ia juga tumbuh subur meski tak sebanyak di ketiga distrik itu.

Contohnya di sepanjang jalan raya menuju Bandara Sentani, 40 km dari Jayapura. Di sana matoa tumbuh subur di pinggir-pinggir jalan. Matoa juga berkembang di Kabupaten Serui, Yapen, Waropen, Manokwari, dan Merauke.

Dua macam

Di Papua dikenal 2 macam Buah matoa: kelapa alias hamuo skaluk dan papeda alias hamuo hayo klending. Rasa keduanya tidak berbeda, manis gurih dengan aroma durian.

Di pasaran matoa kelapa dihargai lebih tinggi dibanding papeda. Itu lantaran daging matoa kelapa lebih kenyal, kering, dan ngelotok (mudah lepas dari kulit biji, red). Papeda berdaging lembek, berair, dan tidak ngelotok.

Karena alasan itulah matoa kelapa menjadi idola untuk dikebunkan. “Hampir semua orang memilih mengembangkan jenis kelapa meski harga bibit lebih mahal,” ujar Bert. Bert sendiri hanya memproduksi bibit matoa kelapa lantaran hampir tak ada yang mencari bibit papeda.

Menurut La Achmadi, tanaman matoa gampang tumbuh di mana-mana, terutama di daerah dataran rendah berketinggian 10—500 m dpi. Baik di tanah bertekstur ringan, berat, hingga tanah bebatuan kapur. Jangankan di wilayah Papua, di tempat lain pun dia tumbuh subur. “Lingkungan hidupnya tidak jauh berbeda dengan rambutan,” ungkap kelahiran Buton, Sulawesi Tenggara, itu.

Dari pantauan Budidaya Tani, Buah matoa bukan lagi monopoli masyarakat Papua. Di Desa Sukorejo, Kecamatan Udanawi, Kediri, misalnya, buah kebanggaan masyarakat Papua itu kini menghiasi hampir setiap pekarangan rumah penduduk. Di kebun milik Bernard Sadhani di Cianjur ia juga tumbuh subur dan berbuah baik.

Di halaman rumah milik Eddy Wondal, warga Kelurahan Pakowa, Kecamatan Wanea, Manado, 2 pohon matoa asal Papua sudah berbuah sejak umur 2 tahun. 

“Ia berbuah 2 kali setahun,” ungkap Velma Wondal, putri sulung Eddy. Kini tanaman berumur 4 tahun itu mampu berbuah hingga lebih dari 50 kg per musim. Padahal, pohon masih setinggi 4 m. (Yudi Anto)


Senin, 20 April 2020

Analisis Usaha Perkebunan jeruk siam

Analisis Usaha Perkebunan jeruk siam

Waktu Budidaya Tani berkunjung pada akhir Maret, dahan pohon-pohon jeruk siam di kebun itu terlihat doyong ke bawah lantaran sarat buah. Satu tangkai digelayuti 5-8 bulatan berwarna hijau tua. Beberapa pohon malah disesaki buah hijau kekuningan, siap dipanen. Meski panen raya jatuh pada Juli dan Desember, tanaman hampir tak berhenti berbuah.

 

Perkebunan jeruk siam

Budidaya Tani mencicipi siem yang dipetik dari tanaman yang bibitnya didatangkan dari Malang. Rasanya manis sekali. Kadar air pun banyak. Puluhan buah menggelayuti masing-masing pohon berumur 2,5 tahun.

Kualitas Jeruk Siam yang Diminta Pasar

Jeruk siam sebenarnya sudah bisa dibuahkan pada umur 1,5 tahun tapi tanaman belum cukup dewasa. Makanya buah-buah sebelumnya dirompes untuk memacu pertumbuhan vegetatif. Ir Hendrik Virgilius, MS, pengelola kebun memprediksi saat panen dituai 25 kg per pohon. 

“Kelihatannya sedikit ya? Tapi jeruk itu aneh, kalau dilihat sepertinya buah sedikit, begitu dipanen baru terlihat banyak,” kata Hendrik sambil menunjuk pohon-pohon di sekelilingnya.

Berdasarkan pengalaman membuahkan siem tebas, produksi naik rata-rata 50 kg per pohon per panen. Master bidang agronomi dari Institut Pertanian Bogor itu tak sekadar berhitung di atas kertas. Pada panen raya Desember ia menuai 35-40 keranjang per hari. Satu keranjang berisi 55—65 kg siem yang dipanen dari 2.121 pohon berumur 4 tahun.

Tak melulu kuantitas, kualitas buah yang dihasilkan pun prima. Sekitar 60-85% hasil panen masuk kelas A dan B. Itu berarti setiap kilogram berisi 4-5 buah berpenampilan mulus. Sisanya masuk kelas C dan D. Dari masing-masing kelas itu diperoleh peningkatan harga Rp 1.000 per kelas.

Perawatan Harus intensif

Wajar saja hasil panen jeruk siam dari kebun terletak di dekat lokasi wisata Bukit Bugenvil itu prima. Tanaman asal bibit tempel yang ditanam dengan jarak 5 m x 5 m dirawat secara intensif. 

Tanah disekitar pohon bebas rumput ilalang yang kerap menjadi kompetitor mendapatkan hara. Rumput sedikit “dibiarkan” ketika musim kemarau untuk menjaga kelembapan tanah.

Sambil membersihkan rumput, piringan tanah berdiameter 1 m dirapikan dengan cara menaikkan bumbunan. Itu mudah dilakukan lantaran Hendrik menerapkan sistem pembagian kerja per blok. Satu blok terdiri atas 400 pohon menjadi tanggung jawab satu pekerja. 

Untuk memasok kebutuhan air, dibangun instalasi penyiraman. Pipa-pia PVC ditanam di dalam tanah untuk mengalirkan air dari sungai di dekat kebun.

Setiap 4 bulan dibenamkan 400 g pupuk NPK per pohon. Sebanyak 4-5 kg bokashi terbuat dari jerami padi disebarkan di piringan tanah 2 kali setahun. Bokashi kaya asam amino yang membuat buah lebih manis. 

Lagipula warna daging lebih menarik dan kulit mudah dikupas. Kondisi tanah yang kurang “bersahabat”  podzolik merah kuning dengan topsoil hanya 10-12 cm membutuhkan banyak bahan organik.

Selang 2 minggu kemudian perangsang bunga Nutrifam AG dan perekat pupuk APS A disemprotkan. Dosis pemakaian 0,5 cc Nutrifam dan 1/8 cc APSA per liter air. 

Belakangan Hendrik juga menggunakan perangsang tumbuh Novelgro. Hasilnya, tanaman jeruk siam tumbuh sehat terlihat dari daun yang hijau mengkilap dan berbuah lebat.

Biasanya 2 minggu setelah penyemprotan pupuk perangsang, bunga berwarna putih muncul serempak. Persentase fruitset pun lebih tinggi. “Memang tidak ada data kuantitaf, tapi itu bisa digambarkan dengan hasil panen pertama yang bisa mencapai 30 kg perpohon,” ujar kelahiran Bandung 13 September 1950 itu.

Analisis Perkebunan jeruk siam
Perkebunan Jeruk

Banyak jenis Dan Varietas

Kini dari total populasi 6.000 tanaman, baru 2.121 pohon berproduksi. Sisanya masih berupa tanaman muda. Penanaman bertahap lantaran sulit mendapatkan bibit dalam jumlah besar. Di kebun itu ditanam siem tebas asal penangkar lokal Kalimantan Barat dan Malang. 

Selain itu terdapat 330 tanaman siem madu dari Malaysia dan siem landbow berkulit tebal dengan rasa sedikit getir ketika baru dipetik. Masing-masing jenis ditanam dalam blok terpisah untuk menghindari penyerbukan silang.

Kebun yang merupakan perkongsian beberapa orang itu juga mengoleksi beragam jenis keprok. Contoh densi yang memiliki 6 variasi. Keistimewaan densi,warna kulit kuning kejinggaan kala matang dan mengeluarkan aroma harum. Uniknya ia justru enak disantap kala kulit masih kehijauan. Daging lembut dan berair dengan citarasa sedikit asam. Bila terlalu matang, kandungan air tinggal sedikit dan daging ngapas.

Ancaman Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) yang sempat menjadi momok tak membuat gentar. “Yang penting tindakan preventif dengan cara budidaya yang sehat,” kata ayah 4 anak itu. Apalagi bibit yang digunakan bersertifikat. Secara berkala seluruh tanaman dikontrol untuk mendeteksi kehadiran CVPD. Bila ada tanaman terserang, segera dimusnahkan dengan cara dibakar sebelum penyakir menyebar.

Nilai Ekonomis budidaya jeruk

Ternyata pilihannya tak salah. Setiap musim panen tiada hari tanpa kegiatan memetik buah. Jeruk-jeruk yang sudah dipisahkan di lahan berdasarkan kelas dikirim kepada para pedagang yang antre meminta jatah pasokan. Dari hasil panen itu, “Sejak setahun terakhir saya tidak pernah lagi minta uang pada pemegang saham,” tutur Hendrik.

Hasil penjualan 1,5 kali panen sanggup menutup biaya operasional perawatan tanaman dan gaji karyawan setiap bulan. Pria yang besar di Palembang itu meghitung setelah 2 tahun panen atau tanaman mencapai umur 4 tahun titik impas dicapai. Di Desa Pangilang, jeruk siem memang terasa manis.

Sentra Produksi Camilan Olahan Durian Thailand

Sentra Produksi Camilan Olahan Durian Thailand

Rumah Wanee Boonsawad di Kabupaten Thamai, Provinsi Chantaburi, ibarat potret keperkasaan Thailand di bidang diversifikasi pertanian. Betapa tidak, durian mentah yang di pelosok desa di Jawa Barat dimakan untuk teman makan nasi, di sana justru diolah menjadi berbagai produk camilan durian seperti keripik, dodol, tepung, dan semprong durian. Wanee dan rekan-rekannya semua ibu rumah tangga kemudian mengekspor kreasi mereka ke Hongkong, Cina, dan Eropa.

 

Camilan Olahan Durian Thailand
Para Pekerja Rumahan

Jangan membayangkan tempat Wanee dan kawan-kawannya seperti pabrik-pabrik besar yang lengkap dengan beragam mesin canggih dan pegawai ratusan orang. ‘Pabrik’ mereka hanya sebuah rumah sederhana di pedesaan. Di beranda tampak kursi dan meja panjang terbuat dari kayu. Di sini durian dibelah dan ponggenya dibersihkan.

Setelah itu, pongge dibawa ke ruang lain yang juga hanya dilengkapi meja dan kursi kayu. Setelah diiris-iris tipis memanjang, dibawa lagi ke ruang sebelah. 

Di ruang itu perlengkapannya bertambah. Selain meja dan kursi kayu, di salah satu sisi tampak jejeran 6 wajan besar yang bertengger di atas kompor minyak tanah. Hasil gorengan kemudian dimasukkan ke dalam oven agar kian kering. Keluar dari oven, keripik dimasukkan ke dus dan ditumpuk di gudang, siap dijual.

Atasi surplus buah durian setelah panen raya

Kiprah para nyonya rumah yang jumlahnya cuma 20-an orang itu memang mencengangkan. Bahan bakunya durian mentah. Di tempat pekebun yang melontarkan ucapan penyesalannya itu, durian yang dibuang ialah yang daging buahnya magel, tidak matang sempurna. Warnanya putih, kering, hambar, dan kriuk… kriuk….ketika digigit. 

Sebuah kerusakan fisiologis yang kerapkali menimpa durian-durian di sini. Dan biasanya durian seperti itu langsung dibuang. Di Thamai, produk olahan camilan durian itu bukan berasal dari buah dengan kerusakan fisiologis. Namun, justru diambil dari buah yang sengaja dipetik muda. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menanggulangi risiko kelebihan pasokan yang menjatuhkan harga.

Kabupaten Thamai tempat Wanee sibuk memproduksi 100.000 boks camilan durian per bulan itu terletak di Provinsi Chantaburi, sekitar 300 km dari Bangkok. Ini adalah provinsi dengan luas penanaman durian terluas di Thailand. Tercatat ada 240 rai, setara 38,4 ha kebun durian.

Ketika para peserta tur agrowisata buah budidaya tani berkunjung ke sana pada Mei, panen raya durian sedang berlangsung. 

Camilan Durian
Camilan Durian

Demikian banyaknya durian yang dipanen, sehingga saat bus yang ditumpangi budidaya tani berhenti karena lampu merah, ada 23 mobil bak terbuka melintas cepat, semua bak penuh tumpukan durian. Durian-durian itu dikirim ke pasar ekspor durian terbesar di Thailand, yang juga ada di Chantaburi yang kemudian sebagian di olah menjadi bermacam produk olahan camilan durian .

Sejumlah pekebun, seperti Wanee dan kawan-kawan, memilih mengolah duriannya sebelum dijual. Pilihan itu memang tidak salah. Monthong matang di sana dijajakan 10-15 baht per kilo (Rp2.300-Rp3.450). 

Jika rata-rata bobot durian 3 kg, harga per butir hanya 30-45 baht (Rp6.900-Rpl 1.730). Seandainya dijadikan keripik, harga per kilo menjadi 300 baht (Rp69.000). Untuk membuat 1 kg keripik dibutuhkan 10 kg durian segar. Nilai tambah dan lamanya daya jual produk olahan itulah yang mendorong Wanee mengolah duriannya menjadi aneka ragam produk. (Onny Untung)