-->

Jumat, 19 Juni 2020

budidaya ikan diskus

budidaya ikan diskus

Ia memang hobiis berat ikan diskus. Rumah bertingkat 2 di bilangan Kelapagading, Jakarta Utara, laksana akuarium raksasa berisi ribuan diskus. Lantai 2 seluas 100 m2 sesak dengan akuarium berukuran jumbo. 

Lima akuarium berukuran 1,2 m x 1 m x 0,8 m beijajar rapi dibuat khusus demi ikan diskus kesayangan. Itu belum termasuk ratusan akuarium berukuran sedang yang mengisi pojok-pojok ruangan. Di sanalah Santoso Liman merawat indukan-indukan diskus.

ikan diskus
ikan diskus

Selesai merawat indukan di lantai 2, pria berpostur tinggi itu menyibukkan diri dengan anakan diskus di lantai 1. Dibantu 3 karyawan, ratusan akuarium berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm di luasan 150 m2 dibersihkan. 

Sejam kemudian cacing bloodworm dilemparkan ke dalam akuarium dan langsung menjadi rebutan ikan bertubuh pipih itu. “Ada perasaan senang saat menikmati diskus,” katanya kepada Budidaya Tani di sela kesibukan memberi pakan. ,

Jutaan rupiah tak sungkan ia gelontorkan dari pundi-pundi untuk berburu dan merawat diskus koleksi dari Malaysia itu. Meski ada juga koleksi arwana dan lou han, pria kelahiran Tegal 62 tahun silam itu sudah cinta mati pada si ikan cakram.

Permintaan ikan diskus cukup tinggi

Santoso Liman tak sendirian fanatik pada diskus. Djuju Anthony menggeluti diskus sejak 1998. Walaupun louhan berjaya dengan mutiara dan nongnongnya, kelahiran Palembang 48 tahun silam itu tetap bertahan di dunia diskus. 

Bisnis rekaman kaset yang digeluti selama 25 tahun pun rela ditinggalkan demi si tubuh ramping itu. Beratap Marina Diskus, Djuju merambah dunia melalui kontes-kontes diskus internasional di Jerman dan Eropa.

Kesetiaannya berbuah manis. Saat kejayaan lou han perlahan memudar, para hobiis ikan diskus mulai melirik kembali ikan-ikan “lama”. Salah satunya, diskus. 

Sejak pertengahan 2003, dering telepon yang menanyakan stok ikan cakram di farm Djuju melonjak. Itu mendorongnya kembali memboyong indukan-indukan dari Malaysia dan Vietnam. Setidaknya setiap bulan 300 leopard dan leopard snake skin masuk ke farmnya.

Yang dilakukan Santoso Liman dan Djuju Anthony sungguh beralasan. Dunia diskus kini dirasakan kembali memanas. Hasil lacakan Budidaya Tani ke sentra-sentra ikan hias di Jakarta, Surabaya, dan Bandung menunjukkan adanya lonjakan permintaan. 

“Diskus mulai ngetren lagi. Permintaan melonjak sejak 5 bulan lalu,” ujar Tonny Berthiolios, pemilik Amazon Aquatic di Surabaya. Semula ia hanya mampu menjual 200 ekor per bulan, kini pesanan 10-12 boks berisi 300-500 ekor ukuran 2 inci setiap bulan membuat Tonny kelimpungan.

Lonjakan permintaan ikan discus murah juga dirasakan Robert Susanto, pemilik Robert Discus Farm, juga di Surabaya. Permintaan yang datang kepadanya mencapai 2.000 ekor per bulan. Padahal, saat lou han booming hanya 20-30 ekor per bulan. 

Keputusan mengisi akuarium kosong yang ditinggalkan lou han dengan redmelon, leopard snake, marlboro, dan white diamond tidak sia-sia. Di Plasa Maspion dan Kelapagading, Jakarta, para pedagang pun mulai memajang diskus sebagai pengganti.

Tren ikan diskus pun dirasakan di Bandung. Gerai-gerai diskus mulai menjamur di Kota Kembang. Di bilangan Karapitan, 4-5 gerai menjual diskus aneka jenis mulai ramai dikunjungi calon pembeli. “Setiap bulan 20 ekor jenis redmelon dan leopard rutin diminta,” kata Keke Suryapamata, salah seorang pemilik gerai. 

Pedagang dari Semarang, Purwakarta, dan Yogyakarta berebut pasokan dari Keke. Menurut kelahiran Bandung 48 tahun silam itu jenis leopard snake, leopard, redmelon, goldenmarlboro, pigeonblack, cobalt, dan bluediamond tetap diminati. Harga bervariasi mulai Rp50-ribu hingga jutaan rupiah.

Ke daerah

Menurut beberapa peternak, pasar ikan diskus pun meluas. Daerah-daerah yang sebelumnya “tidak mengenal” si cakram, kini mulai menggandrunginya. Para pedagang di Surabaya, kebanjiran permintaan dari pedagang di Manado, Makassar, Bali, serta kota-kota di Sumatera dan Kalimantan. Permintaan jenis eksklusif seperti leopard dan leopard snake dari luar pulau melonjak mencapai 500-1.000 ekor per bulan. Padahal sebelumnya hanya 200 ekor per bulan.

Selain Yogyakarta, Salatiga, Solo, Surabaya, dan Jakarta, Tonny mengirim leopard snake, leopard, redmelon, bluediamond, dan jenis lain ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dari diskus, ia meraup omzet Rp2-juta-Rp3-juta setiap bulan.

Pasar ekspor pun terbuka lebar. Benny Herman yang menggeluti ikan pipih itu sejak 1998 kewalahan memenuhi permintaan pelanggan dari Perancis, Jerman, Finlandia, Rusia, dan beberapa negara lain. 

“Dari 4.000 ekor permintaan pasar ekspor, cuma separuhnya yang mampu dilayani setiap bulan,” kata Benny. Menurut pemilik Discus Specialist di Serpong, Tangerang, itu permintaan melambung 20—30% ketika Oktober tiba. Indukan langka

Terkendala Pasokan Yang Minim

Sayangnya, besarnya permintaan tidak diiringi pasokan memadai. Di ruang pribadi seluas 10 m2, Tonny mulai giat memperbanyak anakan diskus. Sekitar 10 akuarium berukuran 50 cm x 40 cm x 30 cm penuh burayak hasil temakan. 

“Ini stok untuk menutup kekurangan pasokan,” kata alumnus Perikanan Universitas Dr Soetomo, Surabaya, itu sambil mengecek kondisi 2 pasang inang asuh.

Para peternak ikan diskus tidak bisa langsung jor-joran memproduksi karena kesulitan mendapat indukan berkualitas. Maklum saat era kejayaan lou han, indukan diskus bak tak bertuan. Pemeliharaan dan perawatan diabaikan. 

Biang diskus kualitas tinggi hanya dihargai Rp200-Rp300 ribu per ekor. Nilai itu tak sebanding dengan besarnya biaya perawatan.

Wajar bila kini indukan berkualitas diburu. Beberapa peternak rela merogoh kocek Rp750-ribu—Rp 1-juta per ekor untuk jenis leopard snake. Keke membandrol biang kualitas tinggi hasil temakan sendiri dengan harga mahal. 

“Di bawah Rp500-ribu tidak akan saya lepas. Sekarang indukan berkualitas jarang ditemukan,” kata ayah 3 putra itu sembari menunjuk leopard snake andalannya.

Pantas bila harga jual anakan ikan discus ikut-ikutan mahal. Redmelon 1-2 inci dilabeli Rp50.000 per ekor; bluediamond, Rp25.000 per ekor. 

Makin besar ukuran ikan, harga kian mahal. Leopard dan leopard snake ukuran 2 inci dijual di atas Rpl00-ribu per ekor leopard snake 4 inci mencapai Rp2-juta. “Bluediamond ukuran 5 inci berani diborong Rpl,5-juta per ekor,” kata Albert R Suwono, pemilik Villa Diskus.

Sabtu, 13 Juni 2020

Desain Sistim Filter Kolam Koi Minimalis

Desain Sistim Filter Kolam Koi Minimalis

Kolam koi minimalis yang dibangun menggunakan Sistim Filter Kolam Koi sederhana itu terletak di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang itu mirip kolam pamer di Negeri Sakura. Dibangun di dalam ruangan berukuran 12 m x 36 m. 

Di sana terdapat 17 kolam. Ada 12 kolam berukuran 2 m x 5 m dan 5 kolam berukuran 5,5 m x 10 m. Semua berbaris rapi di sisi kiri dan kanan ruangan secara paralel. Total jenderal air yang dibutuhkan untuk mengisi kolam itu mencapai 800 ton.

Sistim Filter Kolam Koi Minimalis

Tidak ada satu pun kolam yang saling berhubungan. Setiap kolam koi memiliki aliran air sendiri, lengkap dengan sistem filternya. desain kolam koi menggunakan Sistem filter dibentuk berupa parit mengelilingi separuh petak kolam. Ia menjadi pembatas antarkolam.

Selain kolam utama itu terdapat pula kolam penampungan dan pengolahan air berkapasitas 40 ton. Sebelum mengisi kolam, air diproses terlebih dahulu di kolam itu. Dengan begitu kualitas air benar-benar layak pakai. “Sistem pengolahannya mirip pengolahan air PAM,” tutur Erick.

Susunan filter kolam koi dibuat permanen dengan tinggi dinding mencapai 5 m. Sekitar 2/3 tinggi bangunan menggunakan beton. Sisanya berupa kawat ram. Rangka-rangka atap menggunakan metal. Atap berupa bahan solarguard dilapisi shading net sebagai plafon tempel.

Sistim Filter Serba otomatis

Erick Jonathan membangun Kolam Koi Minimalis di sudut halaman gudang bahan baku pabriknya. Chiller pendingin air, alat pengontrol volume air, dan filter yang bekerja sistem vortex, melengkapi kolam. 

Semuanya bekerja secara otomatis untuk menjamin kualitas air tetap baik sepanjang hari.
Pendingin air yang dipasang di setiap sudut kolam aktif sepanjang pagi hingga sore. Fungsinya menjamin air tetap dingin seperti di tempat asalnya di Jepang. Sedangkan pengontrol volume air dipasang di dinding setiap kolam. 

Alat yang bekerja dengan sistem komputerisasi itu dihubungkan dengan katup pengeluaran dan pemasukan air. Alat itu juga mengaktifkan unit pompa pada saat katup pengeluaran dan pemasukan
air dibuka.

Alat buatan Jerman itu otomatis akan membuka saluran pembuangan dari kolam setiap 4 jam. Air selanjutnya dialirkan masuk ke unit filter. Selesai difiltrasi air tidak langsung kembali ke kolam melainkan masuk ke kolam penampungan. Pada saat bersamaan air baru masuk
menggantikan air yang keluar. Dengan begitu volume air tetap stabil. “Paling tidak setiap 4 jam 5% air kolam berganti,” kata ayah 3 anak itu.

Filter Kolam

Sistem vortex Delapan bilik

Kolam koi milik Erick menggunakan sistem vortex. Hanya saja, ia mengkombinasikan dengan sistem filterisasi yang banyak dikembangkan di Amerika Serikat. Menurut Erick, sistem yang dipakai merupakan pengembangan mutakhir dari sistem vortex. “Model ini kini banyak dipakai di kolam-kolam Jepang,” paparnya.

Sistem filter kolam koi yang dibangun Erick menggunakan 8 chamber (bilik, red) yang tersusun seri. Artinya, chamber pertama dihubungkan dengan pipa PVC ke chamber kedua, chamber kedua berhubungan dengan chamber ketiga, begitu seterusnya. Dipasang pula pipa pembuangan di dasar masing-masing chamber untuk membuang kotoran yang mengendap di dasar chamber.

Air dari Kolam Koi Minimalis terlebih dahulu masuk ke chamber pertama yang dibuat berbentuk segi empat. Tidak terdapat materi filter apa pun di situ. Fungsinya hanya untuk menampung air sebelum masuk ke sistem filter. Dari sana air masuk ke chamber kedua yang dibuat membulat melalui bagian samping dinding. Otomatis air berputar di dalam chamber dan membuat kotoran mengendap di bagian dasar untuk dibuang keluar.

Air di bagian atas disaring di chamber ketiga yang sudah dipasangi brush pada bagian atasnya. Bentuknya masih membulat untuk memungkinkan air berputar. Sisa kotoran berat akan mengendap, sedangkan kotoran ringan yang mengapung menempel di bulu-bulu brush. Selanjutnya air masuk ke chamber keempat yang berbentuk persegi empat.

Filter Air

Ada 3 lapisan filter di chamber itu. Di bagian dasar terpasang zeolit, bioball di tengah, dan brush di lapisan atas. Setelah itu air masuk ke chamber berisi zeolit dan bioball lalu disaring lagi dengan bioball dan brush di chamber keenam. Dari sana air masuk lagi ke chamber berisi bioball dan zeolit.

Terakhir air melewati tumpukan batu apung yang ada di chamber delapan sebelum dipompakan masuk ke kolam penampungan. Pada keempat sisi dinding setiap chamber itu masih dipasangi brush untuk menjaring kotoran yang masih lolos. Praktis air hasil filterisasi benar-benar bersih dan air kolam koi terjamin kualitasnya.

Dengan kondisi air seperti itu Erick tak ragu melepas koi-koi berkualitas di sana. Buktinya, ratusan koi bernilai total lebih dari Rp 1-miliar dari sebuah farm di Maruyama, Jepang, kini menghuni kolam-kolam itu. 

Lebih dari 11 jenis koi berbagai ukuran ada di sana. Mulai dari kohaku, sanke, showa, ogon, hingga budo goromo. Mereka tampil maksimal di kolam showroom terbesar di Indonesia itu. Itu karena kualitas air yang tetap terjaga sepanjang hari