--> Memahami Mekanisme Pemasaran Dalam Agribisnis - Budidaya tani

Minggu, 23 Agustus 2020

Memahami Mekanisme Pemasaran Dalam Agribisnis

| Minggu, 23 Agustus 2020

Jika bicara tentang mekanisasi bagaimanapun kita tak bisa meninggalkan 3 titik penting. Proses, produksi, dan pasar. Jadi, mekanisasi apapun yang dianggap ideal tidak akan jalan sebelum keseimbangan 3 titik itu terlaksana. 

Pasar tradisional
Pasar tradisional

Contoh, sebuah kawasan mau tanam cabai ramai-ramai pakai traktor secara bergilir. Bila dilihat sepintas sepertinya efisien, karena beban biaya yang ditanggung kecil. Nah sesudah itu apa yang terjadi? Produksinya jadi berlimpah, harga pun jadi murah.

Jadi, sebelum berpikir ke arah sana, sebaiknya dipertimbangkan dahulu tiga titik penting tersebut. Pasalnya jika para pengusaha tak memikirkan hal itu, yang terjadi bukan efisiensi malah inefisiensi besar-besaran.

Kesalahannya terletak pada pemikiran yang hanya melihat satu sisi saja. Karena itu tak benar bila mekanisasi identik dengan efisiensi. Yang dikira bakal terjadi efisiensi tinggi justru sebaliknya. Penghamburan biaya yang luar biasa.

Kecuali mekanisasi yang sederhana. Dulu padi dirontokkan dengan menginjak-injak kaki, kini dengan mesin perontok padi. Memang mau tidak mau Indonesia harus melewati itu. Di Belanda, pascapanen sudah dilakukan seluruhnya dengan mekanisasi. 

Mulai dari mengikat bunga, membungkus bunga, sampai mentranspor bunga dari satu tempat ke tempat pelelangan lain. Semua dikerjakan mesin dan cukup dengan memakai tombol saja. Hasilnya tersebar ke seluruh dunia.

Tergantung lingkungan

Dalam pertanian, yang dimaksud dengan mekanisasi tentu saja menyangkut mulai dari budidaya sampai pascapanen dan pengolahan. 

Lingkupnya amat luas, mekanisasi dalam penanaman, pemanenan, penyemprotan hama mesin panen, mesin pengeringan, pendinginan, pembekuan, gudang, mesin penyimpanan dan sebagainya.

Termasuk di dalamnya proses saat tenaga manual tak bisa diandalkan. Mengapa?Karena disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, spesifikasi mutu yang diminta pasar. Mengeringkan dengan tenaga matahari bisa, tapi sangat tergantung dengan kondisi iklim. 

Mekanisasi tak hanya bertujuan efisiensi di produksi tapi sekaligus meningkatkan mutu produk itu. Pada akhirnya bermuara lagi ke masalah pemasaran, yaitu agar bisa dijual ke pasar. Jadi tak membabi buta dengan mekanisasi otomatis dianggap semua bisa efisien.

Selain itu kapan mekanisasi diterapkan amat tergantung beberapa hal. Pertama, sangat terkait dengan lingkungan, baik alam dan sosial. Kedua, terkait kuat dengan perhitungan ekonomis yang harus dikeluarkan. Contohnya saja, di Kem Farm untuk mengolah tanah tak dibutuhkan traktor. 

Masalahnya, percuma traktor dipakai di tempat yang sebenarnya banyak tersedia tenaga kerja. Di samping buang biaya, yang diperlukan kini malah usaha untuk menjalin kerjasama dengan penduduk sekitar. Dengan cara tersebut penduduk sekitar merasa sebagai bagian dari hidup yang bisa dinikmati.

Sampai ke masalah pemrosesan, kita tak memerlukan mesin pencuci hanya untuk mencuci terung, cukup nana’ saja. Pasalnya tenaga yang tersedia relatif lebih banyak dan ekonomis. 

Namun, untuk penyediaan airnya kita tecap membutuhkan pompa air. Jadi terapan mekanisasi nta: mempertimbangkan 2 faktor di atas.

Mekanisme Pemasaran

Pertimbangan ekonomis

Pertimbangan ekonomis juga berperan penting. D; antaranya biaya investasi, biaya operasi, produktivitas, dan sebagainya. Bagaimanapun tujuan diadakannya mekanisasi harus benar-benar dipertimbangkan.

Jika pasar membutuhkan standar mutu tertentu, dan tak bisa dilakukan dengan manual, barulah muncul mekanisasi. Ambil contoh, kita bicara persaingan dengan pasar internasional, seperti jagung. Mungkin petani bisa diprogram dengan varietas, cara budidaya, sampai hasil yang sama. 

Namun, begitu pengeringan pakai matahari maka kadar airnya bisa beragam. Seratus ton kadar airnya 8%, 500 ton yang lain kadar airnya 5%. Dampaknya kontaminasi yang mengakibatkan timbul jamur, umur simpan pendek, dan sebagainya.

Di samping itu, mekanisasi juga timbul lantaran memanfaatkan komoditas yang kelebihan pasokan. Kalau dari sisi teknologi, sudah banyak teknisi dari perguruan tinggi dan dunia usaha yang mengerti. Tinggal kita bersama-sama menciptakan pasarnya. Termasuk mekanisme pasarnya.

Ironisnya, sampai sekarang konsumen pun lebih memilih segar. Yang olahan paling hanya saos cabai. Tak pernah memilih cabai kering. Padahal dengan penanganan yang benar citarasa pedas dan nilai gizi masih terjaga. 

Tak hanya itu, berbagai buah dalam bentuk kering juga bisa diciptakan dari mekanisasi. Jadi input mekanisasi bisa meliputi semua komoditas dan menciptakan produk derivatif. Dengan cara ini nilai tambah produk segar bisa ditingkatkan.

Related Posts