Minggu, 30 Agustus 2020

Yang Pintar Melirik Prospek Bisnis Ikan Lou Han

Aquarama memang trendsetter ikan hias dunia. Buktinya lou han, salah satu ikan hias yang diperkenalkan peternak Malaysia kini mulai mendunia. Hobiis Singapura, Taiwan, Hongkong, dan Jepang tergila-gila lou han. Fenomena itu ditangkap sebagai peluang bisnis baru oleh Metro Lou Han dan Bintang Diskus Farm.

Bisnis Lou Han
Bisnis Ikan Lou Han

Di Indonesia pedagang dan hobiis siklid bercorak huruf Cina itu masih sedikit. Prospek mengais untung dalam jangka panjang pun masih terbuka. 

Ikan silangan yang asal usulnya masih misteri itu sulit dibudidayakan. Kans booming dalam waktu cepat pun mustahil. Benarkah sederet alasan itu?

Berawal Dari Hobi Ikan cupang

Bagi Iskandar, pemilik Metro Lou han di Ciledug, Tangerang, ikan hias sudah menjadi bagian hidupnya sejak remaja. Dari semula sekadar hobi, ayah 2 anak itu pernah beternak diskus. 

Mengikuti tren di Jakarta, pada 2000 Iskandar mulai beternak cupang hias. Berkat tangan dinginnya, hasil berkualitas tinggi. Ia menjadi langganan para mania cupang di Indonesia. “Harganya sudah ada yang mencapai Rpl-juta/ekor,” tutur Iskandar.

Melihat perkembangan pasar cupang hias yang cukup besar, ia memenuhi serambi rumah dengan akuarium. Karena jumlah peliharaan semakin banyak, manajer distributor consumer product itu pun tidak bisa kerja sendirian. 

Empat karyawan membantunya bekerja. Dengan bendera Metro Betta, “Selain lokal, kita juga merambah pasar ekspor,” tambah Iskandar.

Insting bisnis ikan hias pria kelahiran 1969 itu seperti tak ada habisnya, “Waktu itu kebetulan ada rekanan di Singapura yang menawarkan untuk mencoba memasarkan lou han,” tutur Iskandar. Selain itu, perhitungan kesenangan menjadi alasan utama. 

“Hitung-hitung belajar pelihara ikan baru,” kata Iskandar. Sambil menjalankan usaha ternak cupang hias, 30 anakan lou han pun didatangkan dari Singapura.

Keuntungan Yang Positif

Sekali merengkuh dayung, 2-3 pulau terlampaui. Dua komoditas diusahakan sekaligus. Tak henti-hentinya Iskandar berpromosi baik langsung maupun melalui media massa. Gayung pun bersambut, 30 lou han ludes kurang dari 1 bulan. 

“Mereka (konsumen-red) penasaran dengan ikan baru itu,” cerita Iskandar. Melihat gelagat ini, ia yakin lou han bisa menjadi komoditas baru yang berprospek. Beberapa peternak di Malaysia pun dikunjunginya.

Pertengahan September 2018,120 lou han kembali di impor dari negeri jiran. Itu pun mendapat respon positif dari pasar. Tidak tanggung-tanggung 500 ekor yang kembali diorder habis dibeli orang. Saat itulah Iskandar memutuskan total menggeluti lou han. 

“Bukannya tidak ada pasar cupang lagi, tetapi saya lebih senang konsentrasi pada satu jenis saja,” Iskandar memberi alasan.

“Saya melihat, lou han punya prospek yang lebih global,” tutur peraih gelar magister manajemen itu lebih lanjut. Tidak hanya di luar negeri, perkembangan lou han di Indonesia pun sangat bagus. “Baru sebentar saja saya sudah jual 3.000-an ekor,” tuturnya.

Pada waktu mendatang Metro Lou han yang kini diserahkan pengelolaannya kepada sang adik Lie Cu menargetkan penjualan 3.000 ekor/bulan. 

“Sebab 1.500 ekor order yang lalu saja sudah habis,” tutur Iskandar. Setiap kali akan mendatangkan siklid nongnong, Iskandar harus memilih langsung satu per satu di peternaknya untuk menjaga kualitas.

Mulai Kembangkan sayap

Berbeda dengan Metro Lou han, Bintang Diskus Farm tetap menggeluti bisnis pendahulunya. “Sejak 1997 diskus memang telah menjadi komoditas andalan kami,” tutur Suwandy Surya. 

Pada awal 2018, seorang pengusaha di Jakarta ikut bergabung. Bisnis yang dirintis di Medan itu dipindahkan ke Jakarta dan akhirnya diboyong ke Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Masuknya lou han di farm Bintang Diskus dimulai pertengahan 2017. Dalam lawatan bisnisnya ke Malaysia, Suwandy melihat siklid baru itu sangat populer. 

Salah satu kerajaan bisnis lou han terbesar di Malaysia menawarkan kerjasama mengembangkan pasar di Indonesia. Suwandy pun mempromosikan flower horn itu (nama lou han asal Meng Aquarium-red) baik melalui media massa maupun pameran-pameran.

“Sambutan masyarakat sangat antusias,” tutur Suwandy pada Budidaya Tani di pameran di Plaza Gajahmada, Jakarta Pusat. Dengan harga Rpl,3-juta/ekor ukuran 5-10 cm kualitas A, dagangan Suwandy laris. 

Bahkan ikan ukuran besar seharga Rp40-juta terjual dalam pameran selama 2 minggu itu. Bintang Diskus terus menggebrak pasar lou han di Indonesia sehingga permintaan meningkat pesat. Seminggu 2-3 kali pengiriman ke berbagai daerah dilakukan.

Saat ini pasokan lou han masih jauh dari permintaan, “Minta 10.000 ekor hanya dikasih 2000, itu pun berebut,” kata Suwandy. Namun, banyaknya permintaan bukan berarti Suwandy asal-asalan mendatangkan lou han. 

“Kita sudah punya komitmen hanya menjual lou han kualitas bagus. Biaya promosi yang besar jangan sampai rusak gara-gara ingin mengambil keuntungan jangka pendek,” tutur Suwandy panjang lebar.

Permintaan yang belum terpenuhi bukan tidak mungkin akan banyak pengusaha terjun di lou han. “Kita memang tidak berhak memonopoli,” tutur Suwandy. Sebagai kepanjangan tangan, Bintang Diksus membuka 2 perwakilan di Jakarta. “Kalau tidak datang ke mereka, di Cipanas pun kita layani,” tutur Suwandy Surya mantap. (A. Raharjo)