Kamis, 17 September 2020

Hama Penggangu Dalam Usaha Budidaya Jamur

Hama baru itu tak ubahnya pencuri. Mereka dari fase larva hingga dewasa menyerang media dan tubuh buah jamur dalam berbagai bentuk. Metabolisme larva yang sangat cepat mampu memakan miselium hingga tandas. Parahnya lagi, budidaya jamur tiram siap panen bisa habis dilalap oleh kumbang.

Bradysia ocellaris
Hama Serangga Penghancur Jamur

Biang kerok kerusakan itu penulis temukan setelah meneliti selama 3 tahun di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), jurusan Biologi, Institut Teknologi Bandung. 

Kumbung-kumbung pekebun Jamur di sekitar Desa Cisarua, Kabupaten Bandung, Diserang hama baru yang belum teridentifikasi. Hama-hama itu berkembang sangat pesat dan sampai sekarang belum diketahui cara penanggulangannya.

Macam macam Hama Perusak Budidaya Jamur

1. Lalat Bradysia ocellaris

Fase yang sangat mematikan dari hama ini adalah larva. Meski bertubuh mungil,4,0-5,4 mm, ia mampu memakan miselium hingga habis dan merusak tubuh buah. Tubuhnya memanjang, bening, dan dilengkapi kapsul kepala berwarna hitam. Ia dapat menyebar ke bagian plastik baglog dan media tanam.

Biasanya ulat menyerang media dan jamur pada instar ke-3 dan 4 atau saat berumur 5-6 hari setelah menjadi larva. Gejala serangan terlihat saat massa miselium berkurang, bakal buah rusak, tangkai buah berlubang, dan tudung buah sobek. 

Gejala serangan lalat buah lain berupa butiran feses yang lunak memanjang seperti terowongan di permukaan media.

Fase larva sangat berbahaya. Makanan yang diperoleh pada fase ini digunakan sebagai cadangan untuk pertumbuhan pada fase pupa dan dewasa. Wajar bila media tanam dan jamur bisa rusak. Setelah berkembang 10-19 hari, larva bersalin rupa menjadi pupa kemudian tumbuh dewasa. 

Serangga dewasa bertubuh kecil, 1,7-3,2 mm, berwarna cokelat kehitam-hitaman. Induk betina mampu bertelur 56-116 butir.

Lalat Bradysia ocellaris hama baru jamur tiram di dunia. Di beberapa negara ia menyerang perakaran tanaman hortikultura di rumah kaca.

Lalat Bradysia ocellaris
Lalat Bradysia ocellaris

2. Lalat Ubnotes immaculipennis

Pola serangan dan gejala hama mirip lalat Bradysia ocellaris. Fase larva memakan miselium jamur dan media sehingga produksi tidak maksimal. Lubang pada tangkai buah dan robek pada daun tubuh buah mengakibatkan kualitas buah menurun. 

Larva berwarna krem dengan panjang 10-13 mm. Setelah 8-11 hari menjadi larva, ia bermetamorfosis menjadi pupa kemudian tumbuh dewasa setelah 3 hari.

Serangga dewasa berwarna kuning kecokelat-cokelatan dan berukuran besar, panjang 6,3-9,9 mm. Serangga mirip nyamuk itu bertungkai panjang dan mudah lepas. 

Dua hari setelah melakukan perkawinan, induk betina bertelur 68-163 butir. Setelah bertelur serangga mati sehingga siklus hidup anggota famili Limoniidae itu hanya 12-27 hari.

Lalat Ubnotes immaculipennis
Lalat Ubnotes immaculipennis

 

3. Lalat Megaselia tamilnaduensis

Anggota famili Phoridae itu menyerang pertanaman jamur tiram secara besar-besaran di India dan Korea. Megaselia tamilnaduensis menjadi momok menakutkan bagi pekebun jamur. 

Tubuh larva mirip belatung, berwarna putih dengan kepala kecil. Panjang tubuh mencapai 3—4 mm. Larva berkembang selama 6—7 hari sebelum berubah menjadi pupa berwarna krem.

Setelah melewati masa pupa, serangga dewasa tumbuh dengan warna kehitam-hitaman berukuran 2,58—3,54 mm. 

Pada masa bertelur, induk betina meletakkan telur secara berkelompok pada permukaan atas ring baglog jamur . Telur menetas sangat cepat dengan jumlah telur relatif sedikit, 20—30 butir. Siklus hidup pun relatif singkat, 13—18 hari.

Megaselia tamilnaduensis log jamur tiram
Megaselia tamilnaduensis

 

4. Lalat Chonocephalus rostamani

Hama baru yang ditemukan oleh penulis ini memiliki ciri khas tersendiri dibanding hama lain. Serangga betina relatif kecil dibanding jantan dan tidak bersayap. Sedangkan panjang jantan 1,50—1,85 mm dan bersayap. Tubuh Berwarna kuning kecokelatan dengan panjang antena 0,3—0,6 mm.

Anggota famili Phoridae itu bertahan hidup hingga 20 hari. Kemampuan bertelur sangat sedikit, 1—4 butir. Walau ukuran telur besar, tetapi larva relatif pendek, 2 mm. 

Tubuh larva berwarna putih dan meruncing ke arah kepala. Ia menyerang miselium dan tubuh buah. Gejala serangan larva mirip gejala yang ditimbulkan oleh lalat Megaselia tamilnaduensis.

5. Lalat Coboldia fuscipes

Walau serangga dewasa berukuran kecil, 2,40—3,80 mm, tetapi kemampuan bertelur lalat betina sangat tinggi dibanding lalat lain, mencapai 135—215 butir. Telur diletakkan secara berkelompok dan menetas 2—3 hari kemudian.

Larva berwarna kuning kecokelatan dengan panjang 2,5—4,0 mm. Ruas tubuh jelas dan sedikit berduri. Kapsul kepala cokelat kehitaman. Pada umumnya larva menyebar ke bagian dasar media tanam. 

Di Korea, larva memakan miselium pada media baglog dan bahan organik yang sudah membusuk. Bila serangan dilakukan massal, miselium akan “hilang” sehingga media tampak cokelat seperti sediakala. Siklus hidup anggota famili Scatopsidae itu 19—30 hari.

Lalat Coboldia fuscipes jamur
Lalat Coboldia fuscipes

6. Kumbang Cyllodes bifacies

Inilah satu-satunya hama yang merusak jamur pada fase dewasa. Anggota famili Nitidulidae itu berukuran 2,77—4,11 mm dan lebar 1,94—2,94 mm. Kumbang mampu merusak tangkai jamur hingga berlubang dan menyobek daun tubuh buah. 

Tak jarang bila dilihat dari atas, tudung jamur tampak transparan akibat daun tubuh buah habis disantap. Hama bertungkai 3 pasang dan bertubuh cokelat kehitaman itu mampu hidup hingga 200 hari.

Kumbang berspot merah pada sayap itu meletakkan telur pada media jamur dan tubuh buah. Kumbang berbentuk oval dan cembung itu mampu bertelur hingga 1.693 telur. Setelah menetas dalam waktu sehari, larva memakan miselium, bakal jamur, dan tubuh buah. 

Tubuh larva berwarna putih, memanjang, dan silindris. Dengan bagian kepala berwarna hitam, dengan panjang tubuh mencapai 3,9—7,4 mm. (Ir Rostaman. MSi, dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang, NTT)