Kala Buah Merah Melejit Di Pasaran

buah merah

Mata Victor penuh selidik kepada setiap penumpang pang turun dari bus atau taksi di pertigaan Arsokota. Maklum, dari sanalah kantongnya akan menggembung dipenuhi lembaran rupiah. Orang-orang asing yang singgah di Arsokota dipastikan tengah mencari buah merah. Kepada mereka buah dijual dengan harga tinggi Rp50.000—Rp100.000 per buah.

Ekspos media cetak dan elektronik tentang khasiat buah merah beberapa bulan silam menggiring para pencari kesembuhan
bertandang ke Papua. Mereka tidak saja datang dari luar pulau, tapi juga dari Jayapura dan sekitarnya. “Setiap hari ada saja orang yang mencari buah merah ke sini,” ucap Adang Azis, pengojek yang selalu nongkrong di pertigaan Arsokota. Namun, lantaran jumlah buah merah terbatas, kebanyakan dari mereka pulang dengan tangan hampa.

“Kalau lagi musim setiap hari saya bisa bawa 3—5 buah merah ke Arsokota. Tapi saat tidak musim, dalam 3 hari paling terkumpul 2—3 buah,” kata Victor, yang selalu menjajakan buah merah di Arsokota. Buah-buah merah itu berasal dari 34 tanaman miliknya di 2 lokasi terpisah, Obiyao dan Sawayamas. Pohon ditanam pada 1996 dan 1998. “Setahun hanya 1 kali berbuah. Panen besar pada Juni—Agustus,” tambah pria 67 tahun yang juga menjabat ondoafi—tetua adat—di Desa Obiyao.

Buah Merah Lapis manis

Victor mengaku, buah Pandanus conoideus laku keras sejak Oktober 2004. Saat ini berapapun jumlah buah yang ia bawa pasti habis tanpa sisa. Berbeda ketika belum dikenal masyarakat luas, untuk menjual 1—2 buah saja ayah 8 putra dan 4 puteri itu harus sabar menanti hingga larut malam. Dulu harga jual juga rendah, yang besar berbobot 2,5—3 kg cuma dibandrol Rp20.000; kecil, berbobot 1,5— 2 kg Rp 15.000 per buah. Sekarang yang berbobot 2—-2,5 kg dijajakan Rp50.000— Rp 100.000, bahkan ada yang mematok hingga Rp350.000 per buah.

Oleh karena itu pula, buah merah lebih sering dikonsumsi keluarga ketimbang dijual. Atau dimakan bersama warga saat upacara menyambut kelahiran anak, pernikahan, dan pembuatan rumah atau sarana umum. Apalagi buah merah dipercaya berkhasiat mengobati berbagai penyakit. “Badan terasa segar dan sehat sehabis makan buah merah,” tutur Martinus anak Victor. Warga Obiyao biasa mengkonsumsi buah merah dalam bentuk pasta (baca: Olahan Yenggen, Cara Ondoafi Obiyao Buat Pasta, halaman 24). Untuk mengolahnya menjadi minyak dinilai terlalu lama karena dibutuhkan waktu 3—5 jam, di samping mereka tak mengetahui teknologinya. “Yang penting manfaatnya sama toh,” ujar Victor. Buah merah selama ini dipercaya sangat baik untuk menjaga mata agar tetap bening, menghaluskan kulit, mengatasi sakit perut, dan mengobati luka gores atau potong.

“Di Wamena, pemanfaatan buah merah lebih luas, ada yang dibuat saus, sambal, dan selai,” kata Mellyanus Worwawe, kelahiran Wamena yang tinggal di Arsokota. Malah suku-suku di pedalaman menjadikannya sebagai makanan cadangan pada saat berburu. Dengan ngemil biji-biji buah merah, tenaga mereka seakan tak pernah surut. Biji yang diselimuti daging merah itu memang kaya gizi, kadar proteinnya sangat tinggi.

Stok Cepat  habis

Tak hanya Victor yang kebanjiran rezeki pasca buah merah naik daun. Para pengolah di Abepura dan Kotaraja kelimpungan memenuhi pesanan minyak buah merah. “Transferan uang yang masuk ke rekening banyak sekali membuat saya pusing. Stok habis, sementara pesanan terus berdatangan,” ujar Maria Maniagasi, ketika ditemui Trubus di rumahnya di Perumnas II, Kelurahan Yabansay, Kecamatan Abepura.

Rombongan dari Mabes Polri baru saja datang menemui Bu Rambah— demikian Maria Maniagasi dikenal di Papua—sebelum Trubus datang. Mereka memesan 10 paket atau 40 botol, tapi hanya 16 botol yang terlayani. Jumlah pengolah memang masih terbatas, hanya hitungan jari. Itu pun kualitas beberapa produk diragukan karena ada yang berasa manis dan seperti ada campuran minyak goreng.

“Mereka hanya memanfaatkan tren, tapi tidak mempertimbangkan dampak negatifnya. Padahal, jika pengolahan salah bisa berbahaya,” ujar Rambah. Ia mencontohkan, penggunaan api terlalu besar pada saat memanaskan pasta menyebabkan gosong. Akhirnya minyak yang dihasilkan rendah yodium dan kandungan asam tinggi. Itu berbahaya bagi penderita maag.

Pantas, para pembeli minyak buah merah sangat selektif memilih produsen. “Saya pernah menawarkan kepada calon pembeli untuk mencari produsen lain, tapi dia menolak,” ungkap Comellis, pengojek yang mangkal di sekitar jembatan STM Kotaraja. Mereka ketakutan kalau-kalau khasiatnya tidak sama dan cepat bau tengik. “Daya tahan minyak buah merah andai pengolahan apik dan bersih sampai 1 tahun. Kuncinya, jangan sampai ada pasta masuk botol,” papar Rambah. Makanya sewaktu memisahkan pasta dengan minyak, jangan dituang langsung ke botol, tapi diambil dengan sendok.

Pengembangan Buah Merah

Lantaran lonjakan permintaan yang luar biasa, beberapa kabupaten di Papua tergerak untuk mengembangkan buah merah. Di Kabupaten Keerom, misalnya, kini ada yang mengebunkan secara khusus. Sebelumnya kendati tanaman tersebar di banyak Distrik dan Desa, populasi sangat terbatas. “Setiap musim paling 150 buah yang kami hasilkan dari Obiyao. Begitu juga dari desa-desa lain tidak lebih dari 100 buah,” papar Victor.

Desa-desa lain yang dimaksud adalah Sawayamas, Waris, Ubruk, dan Senggi. Sebagaimana di Obiyao, di keempat desa itu tanaman-tanaman buah merah hanya dimiliki sang ondoafi. Tanamannya tidak terawat karena memang tumbuh liar di rawa-rawa dan lereng perbukitan. Wajar kalau sepohon berumur 9 tahun yang tingginya mencapai 15 m digelayuti paling banyak 8 buah. Ia mulai berbuah umur 3 tahun. Buah dari pentil hingga petik butuh 6 bulan.

Padahal, “Untuk menghasilkan 1 liter minyak buah merah dibutuhkan 4—5 buah merah berbobot 2,5—3 kg. Bayangkan, berapa pohon yang harus ditanam untuk mencukupi kebutuhan 30 liter per bulan?” tutur Rambah yang kini merasa kesulitan mendapatkan buah merah dari Wamena. Rambah masih fanatik pada buah merah asal Wamena lantaran dari sana lah buah berbentuk gada itu berasal. Ia yakin komposisi kadar zat yang terkandung dalam buah merah dataran tinggi berbeda dengan dataran rendah. Wamena adalah dataran tinggi; Arso, dataran rendah.

Perbedaan komposisi kandungan zat pasti ada, tapi mudah-mudahan tidak mempengaruhi khasiatnya. Drs I Made Budi, MS, yang meneliti kandungan buah merah menemukan perbedaan mencolok angka tokoferol. Buah merah yang tumbuh di dataran tinggi mencapai 600 mikrogram per gram; yang di dataran rendah, terutama di pinggir pantai, minim sekali hingga nol. Tokoferol adalah senyawa antioksidan yang memiliki efek antikanker.

Kendati begitu, bagi masyarakat Papua, buah merah adalah buah merah. Ia menjadi buah khas Papua, keberadaannya harus dilestarikan. “Dengan nilai ekonomis tinggi, saya yakin gairah masyarakat untuk menanam semakin terpacu,” ujar Ir Ruben Kombonglangi MM, kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Keerom. Toh soal bibit tak menjadi masalah, karena buah merah mudah sekali diperbanyak dengan tunas maupun biji. (Karjono)