Kala sang Jenderal Terpikat Budidaya Buah Naga

Gara-gara kepincut rasa undatus yang manis segar itu, Soeyono kesengsem untuk memiliki tanamannya. Sebatang bibit anggota famili Cactaceae itu jadi kala kembali ke tanah air. Sayang, belum tahu cara menanam, kesibukan sebagai perwira tanaman gurun itu tumbuh naga pun terlupakan dari jenderal.

Sebuah artikel di majalah Trubus pada awal 2003 mengembalikan memori bungsu dari 3 bersaudara itu pada thang loy—bahasa Vietnam, artinya buah naga. Kali ini perburuan lebih serius. Maklum ketua Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR)—organisasi massa Partai Golkar—itu punya cukup waktu luang setelah memasuki pensiun. Pencarian Soeyono membawanya ke sebuah kebun pembibitan di Mojokerto, Jawa Timur. Dari sana didapat 12 bibit H. undatus yang kemudian ditanam di kediaman di Cikeas, Bogor.

Mogok Berbuah

Apa lacur, lagi-lagi sang naga belum bersahabat. “Dari 12 pohon, hanya 1 yang berbuah,” kenang kelahiran Batu itu sambil tersenyum. Maklum lantaran ingin tanaman cepat besar, Soeyono tak pernah memangkas. Alhasil, mulai dari bawah, batang dirimbuni cabang. Padahal mestinya sampai ketinggian 1,5 m cabang dibuang. Setelah itu baru sulur-sulur penghasil buah dibiarkan tumbuh.

Untung saja ayah 3 anak itu tidak patah arang. Ia justru makin terobsesi mengebunkan buah naga setelah berkunjung ke kebun di Thailand dan Israel. Deretan dragon fruit nan subur dan berbuah lebat di tanah gersang Israel melecut semangatnya. Keseriusan menantu Mien Sugandhi—mantan Menteri Peranan Wanita itu mempertemukannya dengan Sapta Surya. Dengan bantuan pelopor penanaman dragon fruit di Indonesia itulah impian menjadi pekebun buah naga mulai terwujud.

Senyum sumringah pun kini mengembang di wajah Soeyono. Sebanyak 1.191 pohon buah naga yang ditanam di kebun di Yogyakarta memamerkan buah sejak November silam. Artinya, itu saat tanaman baru berumur 7 bulan. Pada Januari ini buah-buah berwarna merah cerah dengan surai hijau siap dipanen. Itu berkat intensitas Soeyono memupuk dan memangkas cabang kunci membuahkan dragon fruit.

Pantas bila penggemar motor besar itu pun betah berlama-lama di kebun. Sambil sesekali merompes cabang- cabang air tak berguna, setiap pagi Soeyono menghirup udara segar. Saking senangnya melihat tanaman tumbuh subur, perkembangan buah naga dari bibit setinggi 60 cm hingga berbuah dijepret dalam kamera digital. Saat bunga berwarna putih yang menebarkan harum mekar di malam hari pun tak ia lewatkan.

Berawal Dari Manggis

Menjadi “pekebun” buah naga, hanya salah satu “reinkarnasi” mantan Kepala Staf Umum ABRI pada era Presiden Soeharto itu setelah pensiun. Jauh sebelumnya, Soeyono kerap bolak-balik ke kebun manggis di Wanayasa, Purwakarta. Di sana ada sekitar 350 batang Garcinia mangostana asal biji dan sambung pucuk yang tumbuh rapi dalam terasering-terasering.

Topografi kebun yang berbukit-bukit tak menghalangi pria berkacamata itu untuk mengontrol tanaman. Memasuki penghujung tahun semangat untuk mengitari kebun kian bertambah. Maklum saat itu buah-buah muda berwarna hijau terang menyembul dari ujung-ujung dahan. Biasanya Januari buah siap petik.

Dari pohon berumur 10—15 tahun dituai 10 kg buah. “Sekarang baru 20% populasi yang berumur produktif,” kata Soeyono. Sisanya yang berumur 7 tahun asal biji baru memunculkan puluhan buah. Sementara yang diperbanyak lewat sambung pucuk, meski baru ditanam 0,5 tahun mulai memunculkan pentil buah.

Masih di kebun sama, suami Sribudhi Soeyono itu menanam salak. Lantaran dirawat intensif, varietas pondoh dan nglumut telah rutin dipanen sejak setahun silam. Maka setiap kali kembali ke Jakarta atau berkunjung ke Bandung—di sana ada rumah peristirahatan—manggis dan salak menjadi buah tangan. “Cucu saya paling suka salak dari kebun kakeknya,” tutur Soeyono dengan wajah sumringah.

Pengalaman di Batu

Masa kecil di Batu, Jawa Timur, bisa jadi sumber kecintaan penggemar fotografi itu pada tanaman. Pada pertengahan 1950-an—Soeyono masih di sekolah dasar, kota berjuluk Negeri Swiss Kecil itu kerap beralih wajah. Suatu ketika Batu begitu dikenal dengan bunga potong, seperti hebras. Lalu beralih menjadi sentra semangka dan jeruk sunkis.

Terakhir Batu dikenal sebagai kota apel karena produksi Malus silvestris-nya. Soeyono yang mulai beranjak remaja melihat pekebun apel hidup makmur dari hasil kebunnya. Rumah gedung dan jalan beraspal jadi buktinya. “Mungkin lantaran sedari kecil dikelilingi lingkungan seperti itu saya jadi senang tanaman,” kata pria ramah itu.

Sayang, kecintaan itu sempat pupus kala Soeyono memasuki sekolah taruna. Apalagi setelah lulus, karirnya mulus melesat hingga menduduki posisi bergengsi di dunia militer. Kenangan semasa kecil dikelilingi berbagai tanaman bangkit kembali setelah Soeyono undur dari jabatan pada 1998. Dari sana mulailah obsesi menjadi pekebun terwujud.

Ide-ide segar

Ketua Klub Harley Davidson Indonesia itu tak sekadar iseng-iseng berkebun. Soeyono kerap mengikuti pelatihan berbagai teknologi pertanian. Kala model penanaman secara hidroponik ngetren, pria berkacamata itu pun asyik menyelami. Kesempatan bepergian ke sentra-sentra pertanian di dalam dan luar negeri pun tak pernah dilewatkan. Walhasil, Soeyono tak pernah kehabisan ide-ide baru.

Nun, di Lembang nan dingin sebuah rumah antik sedang ia desain. Bagian bawah bangunan berupa garasi untuk “rumah” motor Harley Davidson-nya. Di bagian atas pipa-pipa paralon bakal disusun rapi. Nantinya di atas pipa tumbuh stroberi yang mendapat nutrisi dengan sistem pengairan ebb and flow. Visca fragran itu cocok tumbuh di dataran tinggi yang dingin. Pilihan lain menanam sayuran daun dengan model vertikultur. “Masih mikir-mikir desain yang cocok supaya 2 hobi bisa disalurkan sekaligus,” tutur Soeyono.

Rumah berhalaman luas di Cikeas, Bogor, pun tak luput jadi ajang ujicoba. Di sana puluhan pisang tabulampot tumbuh subur. Sang jenderal dan istri kerap menuai mas, kepok, tanduk, nangka, dan raja yang gemuk-gemuk. Dari sanalah muncul ide mengembangkan dragon fruit dalam pot di Yogyakarta.

Bak prajurit yang tak kenal lelah, “petualangan” Soeyono di dunia tanaman belum berakhir. Area kosong di antara batang-batang manggis tak lagi dibiarkan menganggur. Pot-pot beton seperti untuk pisang dan buah naga dipersiapkan untuk menanam vanili. Lokasi di Wanayasa cocok untuk budidaya si emas hijau. Si pendatang baru yang fenomenal— lengkeng dataran rendah—pun memikat penasihat Paguyuban Mie Ayam itu. Kala “petualangan” itu membuahkan hasil, kepuasanlah yang membuncah di dada sang jenderal. (Evy Syariefa/Peliput: Laksita Wijayanti)