Rabu, 09 September 2020

Khasiat Buah Merah Dalam Melawan Virus AIDS

Penelitian Aaron Ciechanover, Avram Hershko keduanya dari Israel, dan Irwin Rose asal Amerika Serikat, mengungkap tubuh manusia automekanisme pelindung dari penyakit maut.Ubiquitin sebuah protein kecil dengan 76 asam amino ada di mekanisme itu. 

Khasiat Buah Merah
Khasiat Buah Merah

Menurut para peneliti, tubuh manusia setiap saat bekerj mengubah, mensintesis, menghancurkan protein. Dalam proses itu, sebagian protein menjadi jahat sehingga mesti dihilangkan. 

Kalau tidak, tubuh bakal terserang penyakit, misal kanker. Maka sebuah ciuman maut bernama ubiquitin “dikecupkan” pada protein jahat.

“Tanda bibir” itu menjadi sinyal bagi mesin transpor sel untuk memindahkan protein itu ke proteasom. Di sana si jahat dipotong-potong menjadi bagian kecil, lalu didaur ulang menjadi sel baru yang ramah. Dengan modal penemuan itu, sebuah perusahaan farmasi meluncurkan obat kanker tulang bermerek Velcade.

Penelitian Buah Merah

Penelitian tak kalah spektakuler mencuat dari ujung timur Indonesia. Dari Papua, buah merah Pandanus conoideus bak setetes embun harapan bagi para penderita HIV/AIDS. 

Di bawah pengawasan Drs I Made Budi, MS, 3 dewasa dan 1 balita penderita AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) serta 2 dewasa penderita HIV (Human Immunodeficiency Virus) mendapat pengobatan dengan meminum sari buah merah. 

Masing-masing 3 sendok makan per hari untuk dewasa penderita AIDS, 2 sendok untuk penderita HIV. Perlakuan dimulai pada April 2014.

Ternyata hasilnya luar biasa. Agustina Sawery, pasien AIDS dengan kondisi paling berat stadium III berangsur pulih. Dalam 5 bulan bobot tubuh yang semula hanya 28 kg naik menjadi 48 kg. 

Penyakit ikutan akibat menurunnya kekebalan tubuh karena infeksi virus, seperti kerusakan pada jaringan tubuh di dekat anus,gangguan fungsi hati dan paru-paru, serta infeksi jamur di mulut membaik.

Menurut Made Budi, kandungan karoten dan betakaroten  semuanya antioksidan berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh. Itu karena adanya interaksi antara vitamin A bersumber dari karoten dan betakaroten dengan asam amino pada protein. 

Dengan asupan sari buah merah, protein dari makanan yang dikonsumsi diikat supaya diserap tubuh dan tidak terbuang lewat feses. Maklum, penyerapan pada penderita HIV/AIDS sangat lemah.

Pada 5 bulan perlakuan, virus yang diamati tidak lagi tampak. Musababnya, senyawa antioksidan pada buah merah mengubah struktur asam amino protein tertentu. Padahal protein itu dibutuhkan oleh virus AIDS sebagai “makanan utama” untuk berkembang biak. 

“Lantaran struktur asam aminonya berubah, virus tidak mengenali lagi,” tutur pengajar di Universitas Cendrawasih, Jayapura, itu. Akibatnya, virus “mati” kelaparan dan tak mampu beranak-pinak.

Penggunaan Tabir surya

Kandungan tokoferol buah merah pun cukup tinggi mencapai 11.000 ppm. Layaknya vitamin E, tokoferol merupakan sumber antioksidan penangkal radikal bebas seperti plumbum. 

Fungsinya memperlambat penuaan, meningkatkan kesuburan reproduksi, dan mencegah timbulnya penyakit degeneratif, seperti kanker, diabetes, dan jantung koroner.

Pantas saat Dr Chairil, Apt, peneliti pada Puslitbang Biologi LIPI, melakukan riset pada 1970-an menemukan penduduk Wamena berkulit halus dan mulus. Padahal daerah itu berada di ketinggian 2.000 m dpi. 

“Di daerah yang semakin tinggi sinar ultraviolet lebih tajam, akibatnya kulit dan jaringan mudah rusak,” kata alumnus University of Osaka City itu. Ternyata warga Wamena mengoleskan sari buah merah yang berfungsi sebagai tabir surya sebelum bepergian.

Masih di tahun sama, penelitian Dr Muhilal, periset pada Puslibang Gizi, Bogor, menunjukkan prevalensi kekurangan vitamin Adi Papua lebih rendah daripada di Jawa. Itu lantaran konsumsi rutin buah merah yang mengandung betakaroten dan karoten, sumber vitamin A.

Penemuan Gen penting

Penemuan Made Budi tentang H I V / AIDS melengkapi berbagai riset yang dilakukan peneliti di berbagai belahan dunia. Meski riset intensif sudah berlangsung lebih dari 20 tahun, obat ampuh penanding HIV/AIDS masih jauh api dari panggang. 

Virus yang ditemukan pertama kali oleh Michael S Gottlieb itu seperti sulit dikalahkan. Beragam hasil temuan baru sebatas pada memperbaiki kualitas hidup penderita dan mengurangi penderitaan mereka.

Sebut saja obat antiretovirus. Obat itu mengeblok kemampuan virus memperbanyak diri. Ia menunda kehadiran AIDS dengan memperlambat kehilangan sel CD4 pasien, tapi tidak menyembuhkan. Jumlah sel CD4 merupakan salah satu indikator adanya HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS memiliki jumlah CD4 di bawah 200.

Riset terakhir gabungan para peneliti dari University of Oxford (Inggris), Massachusetts General Hospital (Amerika Serikat), dan University of KwaZulu-Natal (Afrika Selatan) yang dilansir United States Department of State pada Desember 2004 berhasil mengidentifikasi gen yang menjadi kunci dalam menghadapi HIV.

Fokus utama penelitian pada molekul tubuh bernama human leucoctye antigen (HLA). Kerja HLA mirip ciuman maut ubiquitin memberi sinyal pada sistem kekebalan untuk mengenali sel terinfeksi HIV yang mesti dilenyapkan. Dari 3 jenis HLA, tipe B yang paling agresif. 

Temuan itu penting sebagai modal membuat vaksin pencegah infeksi HIV. Dari Papua sebuah asa lagi berbilang. Suatu keniscayaan sang virus maut takluk pada ciuman sauk eken—sebutan buah merah di Lembah Baliem.

Mengenal Virus AIDS

Saat merasuk ke dalam tubuh, Human Immunodeficiency Virus (HIV) menggerogoti sel darah putih si pelindung tubuh terutama sel bernama CD4. Si penyusup membajak sel, memasukkan gennya ke dalam DNA sel, dan memanfaatkannya untuk berkembang biak. HIV beranak-pinak, CD4 sang inang pun mati.

Saat jumlah CD4 turun, kemampuan tubuh memerangi gangguan dari luar, misal bibit penyakit, berkurang. Sistem kekebalan tubuh pun sulit membedakan antara virus HIV yang sudah menyebar dalam tubuh dengan sel sehat. 

Hal Itu lantaran dengan lihai si penyusup meniru “isi” sel sehat. Pada kondisi itulah, AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) hadir menggantikan HIV.

Akibat kehilangan sistem kekebalan, tubuh menjadi rentan berbagai serangan infeksi dan penyebab kanker. Pantas bila penderita HIV/AIDS menderita berbagai penyakit ikutan. 

Sebut saja TBC, malaria, pneumonia alias infeksi paru-paru, dan ruam saraf. Mereka pun gampang mendapat luka.

Gangguan infeksi akibat bakteri, cendawan, dan parasit itu biasanya muncul ketika nilai CD4 penderita di bawah 200. Pada CD4 di bawah 100, pasien terancam infeksi otak. Gejalanya sering mengeluh sakit kepala, problem penglihatan, sulit berbicara, dan meningitis. Penyakit-penyakit bawaan itulah yang biasanya menyebabkan kematian.

Virus AIDS
Cara Kerja Virus AIDS

Kombinasi obat obatan penting

Untuk mengurangi penderitaan ODA (orang dengan AIDS), berbagai obat untuk mengatasi HIV maupun penyakit-penyakit ikutan terus dibuat. Sebut saja yang telah disetujui oleh Komisi Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat (Food and Drugs Administration, FDA), seperti AZT, ddC {zaicitabinby ddl {dideoxyinosinby d4T (stavudinby 3TC) (iamivudinby abacavir (ziageby dan tenofovir (viread). Obat-obatan itu bekerja memperlambat penyebaran HIV dalam tubuh dan menunda infeksi.

Obat lain, seperti Ritonavir (Norvir), Saquinivir (Invirase), Indinavir (Crixivan), Amprenivir (Agenerase), Nelfinavir (Viracept), dan Lopinavir (Kaletra) menghambat duplikasi virus. Pemberian obat-obatan itu mesti disertai pola hidup sehat, seperti mengkonsumsi makanan bergizi dan cukup istirahat.