Kamis, 17 September 2020

Solusi Serba Organik Hasil Kreasi Pekebun Indramayu

Untuk tanaman sayuran sebisa mungkin tidak memakai produk kimia,” ujar M.S.A. Fathir, ketua P3T (Program Pendidikan Pertanian Terpadu) Al-Zaytun. Maklum, sayuran produk pertanian yang biasanya dikonsumsi segar atau dengan sedikit pengolahan. Kalau menggunakan pupuk dan pestisida kimia, berisiko meninggalkan residu cukup tinggi.

Perkebunan organik

 

Dengan bahan organik kualitas produk yang dihasilkan juga meningkat. Contohnya caisim dan cabai. Selain itu, bahan organik pun ramah lingkungan, misal tidak menyebabkan tanah mengeras seperti akibat aplikasi pupuk kimia. Pestisida nabati pun aman dihirup pekebun.

Organik bahan dari alam

Pantas bila Al-Zaytun terus berinovasi menemukan formula-formula baru dengan menggunakan bahan dari alam. Untuk memberantas kutu daun misalnya digunakan daun tembakau dan kulit buah mahoni. Racun dalam buah mahoni bersifat kontak. 

Daun tembakau mengandung bahan aktif alkaloid yang mempengaruhi keija syaraf. Efektivitas pestisida itu mampu bertahan selama 1 minggu di alam.

Cara membuatnya mudah. Biji dan kulit buah mahoni dipisahkan dari daging. Kemudian diblender bersama pelarut. Pada musim kemarau gunakan air sebagai pelarut; pada musim hujan deterjen, perbandingannya 1:1. 

Deterjen juga berfungsi sebagai perekat agar pestisida nabati tidak mudah hilang saat terkena hujan. Tambahkan daun tembakau, lalu diblender hingga halus. Hasilnya disaring dan disimpan dalam botol-botol plastik di tempat teduh. 

Setelah 3—4 hari air yang terpisah dengan endapan sari buah mahoni dan daun tembakau bisa digunakan.

Walaupun berlabel organik aplikasi di lapang tidak boleh sembarangan. Pada cabai, pestisida organik hanya digunakan jika ditemukan 25 aphids per tanaman. “Itu ambang batas serangan,” kata Fathir. 

Pemakaian pestisida itu juga efektif untuk terung dan pare. Penyemprotan dilakukan sore hari untuk mencegah penguraian bahan aktif oleh sinar matahari.

 

Pupuk Organik
Tanaman Terhindar dari aphids

Pestisida Alami Organik

Pondok pesantren yang dibangun pada 1996 itu juga menyulap bumbu dapur seperti lengkuas, kunyit, jahe, dan serai menjadi pelindung tanaman. Kombinasi itu terutama efektif untuk mengatasi serangan cendawan pada sayuran dan buah.

Aplikasinya mudah. Kunyit, jahe, dan serai dihaluskan bersama-sama. Setelah ditambah air, adonan diperas untuk diambil airnya. Jadilah pestisida buatan sendiri. Jika ditambahkan biji mahoni atau cabai, ampuh untuk memberantas semua hama, kecuali hama di dalam tanah.

Untuk mengendalikan hama secara umum, pesantren yang memiliki 7.200 santri itu menggunakan mimba dan mindi. Campuran mimba, lengkuas, dan serai digunakan untuk memberantas ulat di pertanaman jagung dan sayuran. 

Caranya 130 g mimba ditumbuk halus bersama 100 g lengkuas dan 100 g serai. Setelah dicampur dengan 4 liter air, larutan dibiarkan selama 24 jam. Esoknya disaring kembali dan ditambahkan 3 g deterjen. Lalu diencerkan dalam 10 liter air sebelum digunakan.

Mampu Menyuburkan Tanah Garapan (pupuk organik)

Tak hanya untuk mengendalikan hama dan penyakit, Al-Zaytun menyuburkan tanah pertaniannya dengan bahan-bahan organik. Jika menginjakkan kaki di kampus Al Zaytun, niscaya Anda tidak akan percaya bahwa dulunya daerah itu tegalan yang tidak produktif. Tanahnya miskin hara dengan kandungan bahan organik rendah. 

Di musim kemarau tanah mengeras dan retak-retak. Sebaliknya saat musim hujan terasa lengket. “Supaya rindang, ketika mulai membuka lahan pada 1996, langkah pertama kita menanam seribu pohon,” ujar Fathir mengenang.

Penambahan bahan organik terus dilakukan dengan memberi kompos dan bokashi. Kompos dibuat dari serbuk gergaji, sampah dedaunan, kotoran sapi, dan arang sekam. Helaian daun akasia yang jatuh ke tanah tidak luput digunakan sebagai asupan hara bagi tanah. 

Proses pelapukannya membutuhkan waktu hingga 2 bulan. Itu lantaran kandungan lignin daun akasia tinggi, sehingga proses penguraian berlangsung lambat.

Namun, itu tak menyurutkan langkah Al-Zaytun untuk tetap berorganik. Hasilnya kini mulai terlihat. Kampus di Desa Margahayu, Indramayu, itu hijau dengan kerimbunan jati, mangga, dan akasia. 

Bahkan sebentar lagi akan ada kebun durian dan lengkeng dataran rendah yang menambah hijau pemandangan. Sementara beragam sayuran tumbuh subur di tanah yang semula gersang. (Laksita Wijayanti)