Mangga bengkulu Dari Tanah Raflesia

Mangga Bengkulu

Mangga bengkulu dipanen 4—5 kali setahun. Pohon berbunga lebat 3 kali, pada periode Februari—Maret, Juni—Juli, dan Oktober—November. Di luar itu pohon masih berbunga dalam jumlah sedikit. Tak heran, sepanjang tahun pohon selalu digelayuti buah. “Ada yang ukuran besar, kecil, dan bunga. Begitu seterusnya,” kata Hanafi, pemilik pohon induk.

Mangga bengkulu berukuran besar. Bobotnya 0,8—2,4 kg per buah. Sebagai perbandingan, khaw niyom—varietas mangga unggul di Thailand dan campursari mangga asal Blora, Jawa Tengah dijuluki superjumbo.

Padahal ukuran keduanya berkisar 1,5—2 kg per buah. Nah, mangga bengkulu lebih jumbo lagi karena mencapai 2,4 kg per buah. Mangga seukuran itu diperoleh dengan menyeleksi buah hingga 2—3 buah per tangkai. Pantas, dengan keunggulan-keunggulan itu ia dilepas sebagai varietas unggul nasional pada 2003.

Pasar lokal

Pohon induk mangga bengkulu milik Hanafi di Kebunkiwat, Kelurahan Gadingcempaka, Kota Bengkulu, kini berumur 30 tahun. Bibit berasal dari penjual lokal di sana. “Saya ngga nyangka, berbuah sepanjang tahun dan besar,” katanya. Sebenarnya di Kota Bengkulu dan Bengkulu Utara, banyak mangga lokal yang tidak diketahui varietasnya tumbuh di pekarangan rumah warga. Namun, hanya Mangifera indica milik Hanafi yang paling istimewa.

Lantaran itu, sejak 2003 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, serta Universitas Bengkulu melakukan penelitian bersama. Hasilnya, menegaskan keunggulan mangga di kebun Hanafi.

Penampilan menarik, kulit buah halus, dan beraroma lembut. Daging buah kuning dengan ketebalan 3,5 cm, sementara biji tipis. Saking tebalnya, 80% bagian buah dapat dimakan. “Rasanya manis dan seratnya halus,” kata salah seorang peneliti. Pohon milik Hanafi pun ditetapkan sebagai pohon induk.

Kelebihan lain, mangga bengkulu tahan terhadap lalat buah dan penggerek buah. Berdasarkan pengamatan penulis, serangan penggerek batang hanya terjadi pada lahan yang kebersihannya rendah. Di luar itu, tanaman tumbuh sehat.

Cara perbanyakan

Kini mangga bengkulu mulai diperbanyak dengan cara cangkok, sambung pucuk, dan okulasi. Bibit dijual seharga Rp40-ribu—Rp50-ribu per batang. Tanaman hasil perbanyakan vegetatif itu mulai berbuah pada umur 2 tahun dan berproduksi tinggi pada umur 4 tahun. Rata-rata produksi tahunan mangga berumur 5 tahun 148,5 kg per pohon; 8 tahun (316 kg); dan 16 tahun (528 kg).

Mulai diperbanyak secara vegetatii
Mulai diperbanyak secara vegetatii

Yang unik dan perlu diteliti lebih lanjut, semua tanaman yang diperbanyak asal biji rasanya manis. Bahkan penelitian Heru Widiyono dari Universitas Bengkulu menyebutkan, belum pernah ditemukan penyimpangan rasa dari buah asal biji dengan rasa buah asal pohon induk. Pohon asal biji umumnya mulai berbuah pada umur 3—8 tahun setelah tanam.

Sampai saat ini mangga bengkulu dikonsumsi segar. Ia dijual Rp5.000 per kg di tingkat pekebun. Di pasaran, harganya naik menjadi Rp6.000— Rp7.000 tergantung ukuran buah. Primadona dari Bumi Raflesia itu kerap ditampilkan pada pameran tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Respon pengusaha perbuahan dan masyarakat umum sangat bagus. Sayang, pasokan bibit yang terbatas masih menjadi kendala. (Ir Sri Suryani M Ram b e MAgr, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Bengkulu)

Deskripsi Mangga Bengkulu

UraianDeskripsi
Tinggi pohon5 m
Bentuk tajukJorong ke samping
Lebar tajuk5—6 m
Bentuk batangBulat (gilig)
PercabanganSedang berdaun rimbun
Kedudukan cabangCondong ke atas
Warna batangCokelat
Keadaan batangAgak kasar
Bentuk daunJorong ujung runcing
Letak daunTegak
Ukuran daun27,8 cm x 6,7 cm
Warna daunHijau tua
Bentuk bungaPiramid runcing
Warna bungaKuning
Warna tangkai bungaHijau muda
kulit buahTipis, permukaan halus
Aroma buahLembut
Berat buah0,6-2,4 kg
Bagian yang dapat dimakan80%
Ketebalan daging buah3,5 cm
Keadaan seratHalus
Warna daging buah masakKuning
Bentuk bijiPanjang pipih
Ketahanan terhadap hamaTahan lalat buah dan penggerek batang
Ketahanan terhadap penyakitKurang tahan penyakit busuk lunak