Pekebun Cigalontang Pilih Kembangkan Cabai Hijau

Dua puluh perempuan tenggelam dalam kesibukan memanen cabai pagi itu. Satu per satu dipetik dan dimasukkan ke karung putih. Menurut Apong, pemilik lahan, umur tanaman baru 65 hari setelah tanam (hst). Maklum, yang dituai memang bukan cabai merah, tetapi cabai hijau. Itulah kegiatan Apong sejak sewindu lalu. Setidaknya 3 ton dipanen setiap hari dari 16 ha.

Pada panen perdana paling hanya 1—2 buah yang bisa dipetik dari setiap pohon. Dari populasi 18.000 tanaman per ha, Apong memanen perdana 3 kuintal. Panen berikutnya dengan interval 7—10 hari. Menurut Apong, produktivitas mencapai 20 ton per ha. Bahkan, “Jika lahan baru produksi bisa 30 ton per ha,” ujar ayah 3 anak itu. Mutu cabai hijau dibedakan 3 kelas, kualitas super dengan panjang lebih dari 15 cm mencapai 80%, sedang 10—14 cm (15%), dan kecil kurang dari 10 cm. Namun, dalam pemasaran semua kelas dicampur.

Apong mengembangkan cabai hijau sejak 8 tahun silam. Maksudnya supaya, “Modal lebih cepat kembali karena cabai hijau lebih cepat dipanen.” Sebagai perbandingan cabai merah baru dapat dipetik pada umur 120 hst. Ia menanam si hijau itu di lahan 16 ha yang tersebar di 4 desa di Kecamatan Cigalontang, Tasikmalaya. Ketinggian lahan 700—900 m dpi. Di ketinggian lahan 700 m dpi ia menanam hot chili; 900 m dpi, jetset.

Solusi: bermitra

Mantan pekebun kentang dan kubis di Dieng, Jawa Tengah, itu juga bermitra dengan puluhan pekebun. Total hasil panen mereka—rata-rata 2—3 ton per hari— ditampung. Dengan begitu 6 ton cabai hijau ia pasarkan ke Bandung setiap hari. Awal Januari silam, harganya Rp2.000 per kg. Menurut Apong, biaya produksi per kg hanya Rp 1.500. Jika produktivitas 20 ton per ha, artinya Rp10-juta ia kantungi.

Kocek Apong kian tebal lantaran ia juga mengutip Rp200 per kg dari plasma atas jasa pemasaran. Padahal setiap hari 3 ton dipasarkan, sehingga Rp600.000 menggelembungkan tabungannya. Bermitra memang sebuah pilihan, jika produksi sendiri tak mencukupi permintaan pasar.

Itulah yang juga ditempuh Daday, pekebun di Tasikmalaya. Pekebun sejak 1996 itu mengembangkannya di lahan 4 ha. Hasil panen dari luasan itu tentu tak mencukupi permintaan konsumen. Oleh karena itu seiring peningkatan permintaan ia bermitra dengan 70 pekebun. Setiap plasma mendapat pinjaman Rp7-juta— Rp10-juta per ha sebagai biaya produksi yang dikembalikan setelah panen kedua hingga penanaman berakhir.

Seluruh produksi plasma ia serap. Setiap hari ia memasarkan 1,5 ton cabai hijau ke Pasar Caringin, Bandung. Sementara ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta, hanya 2 hari sekali dengan volume 3 ton. Harga di Jakarta lebih tinggi daripada Bandung. Itulah sebabnya

Daday mengutip Rp400—Rp500 per kg untuk pemasaran Jakarta; Rp200, Bandung. Pada hari-hari tertentu seperti menjelang Lebaran atau Natal pasokan melonjak hingga 20%.

Lebih untung

Yang juga memanen cabai hijau adalah Uheng. Ia tertarik mengembangkan cabai hijau, lantaran, “Untuk mengurangi risiko terkena serangan patek seperti ini,” tutur Uheng sembari menunjukkan 5 buah yang terserang patek alias antraknosa itu. Ia menanam di lahan 1 ha di Cipicung, Tasikmalaya. Di daerah itu curah hujan tinggi sehingga mengundang Colletotrichum capsici dan Gloesporium piperatum biang kerok antraknosa.

Ayah 2 anak itu baru 3 tahun menanam sayuran buah itu. Bertahun-tahun ia menjadi petani padi dan sayuran noncabai.

Kepada Budidaya Tani di sela-sela kesibukan mengemas Capsicum annum, ia menuturkan, “Menanam cabai hijau jauh lebih menguntungkan daripada padi. Dari sehektar paling dapat 3,5 ton gabah. Sekarang harga sekilo gabah kering hanya Rp 1.200.” Walau begitu ia tak meninggalkan padi sama sekali. Setelah 3 kali penanaman cabai, lahan ditanami padi atau kacang panjang. Kemudian beralih ke cabai lagi.

Pekebun berumur 50 tahun itu mengemas cabai di karung waring. Bobot setiap karung 80—90 kg. Yang dikemas merupakan hasil panen ketiga. Panen perdana memperoleh 516 kuintal dan 2,1 ton pada panen kedua. Diperkirakan volume meningkat pada panen ketiga. Begitu selesai kemas, karung diletakkan di tepi lahan. Pengepul menghampiri dan memasarkannya.

Pekebun begadang

Menurut Daday harga dan permintaan cabai hijau relatif stabil. Ia menduga produksi cabai hijau di pasaran tak sebanyak cabai merah akibat sedikitnya pekebun cabai hijau. Hal senada diungkapkan Apong. “Sentra cabai hijau tak seluas cabai merah. Di Tasikmalaya yang terbesar hanya di Cigalontang,” katanya.

Harga tinggi seperti pada 2001 mencapai Rp7.000 per kg justru “menyulitkan” pekebun. Ketika itu banyak pencurian hingga pekebun mesti ronda. Seperti kata pepatah, hidup bagai roda pedati. Demikian pula pekebun cabai hijau. Pada pertengahan 2000 harga cabai hijau menukik tajam, hanya Rp400—Rp500 per kilo. Kucuran dana Kredit Usaha Tani dituding sebagai penyebab sehingga banyak pekebun dadakan tergiur laba cabai.

Dampaknya produksi melimpah sehingga melorotnya harga sulit terbendung. Apong menelan kerugian Rp60-juta. Meskipun demikian ia tak jera membudidayakan tanaman asal Amerika itu. Pada penanaman berikut ia justru menuai laba ketika harga membumbung hingga Rp5.500 per kg. Kerugian sebelumnya pun tertutupi. “Mungkin karena banyak yang kapok menanam sehingga harga naik,” tutur kelahiran Tasikmalaya 12 April 1958 itu.

Serangan penyakit juga meluluhlantakkan mimpi Uheng meraih laba. Serangan layu bakteri menyebabkan 5.000 tanaman berumur 50 hari gagal diselamatkan. Menyulam jelas tak mungkin karena perbedaan tanam relatif lama. Jika produksi per pohon 1,5 kg, 7,5 ton musnah. “Rugi sih tidak, hanya balik modal,” katanya. (Sardhi Duryatmo)