Jumat, 11 September 2020

Tabulampot melon: Berbuah Lebat Berkat Kompos

Bukan hanya Deddy yang tercengang melihat tabulampot melon. Belasan pengunjung Ekspose Inovasi Teknologi 2019 di Solok, Sumatera Barat, tampak berdecak kagum saat memandang 6 batang melon tumbuh dalam ember bervolume 24 liter. 

Tabulampot melon itu buah karya peneliti Balai Penelitian Buah (Balitbu), Solok. “Teknologinya sederhana, cocok untuk hobiis,” ujar Drs Bushamsyah dari Balitbu.

Tabulampot melon: Berbuah Lebat Berkat Kompos

Tabulampot melon memang belum populer di kalangan hobiis, karena kesannya mahal dan butuh lahan luas. TWM membutuhkan biaya nutrisi sebesar Rp800-ribu untuk sebuah greenhouse berpopulasi 600 batang yang ditanam dalam “bantal-bantal” media hidroponik. 

Dua tahun silam kesan mahal itu berusaha dibalikkan TWM. Tabulampot melon menjadi pilihan. “Biaya produksi bisa dihemat sampai 40%,” kata Guntoro, bagian lapangan TWM.

Kunci Keberhasilan Terletak Pada Penggunaan Kompos

Menurut Guntoro, kunci utama membuahkan tabulampot melon adalah media. Pria kelahiran Pekalongan 40 tahun silam itu memilih tanah, pupuk kandang, dan kompos. Komposisinya 1:2:3. Itu adalah formula khusus melon. 

Perhatikan pula pada bagian komposisi media tanam tabulampot, pupuk kandang, dan sekam dengan perbandingan 1:2:3. Pada melon, sekam digantikan kompos sebagai pemasok bahan organik. “Tanpa nutrisi hidroponik, melon membutuhkan bahan organik 3 kali lipat,” kata Guntoro.

Ke dalam media ditambahkan 5-15 g per pot pupuk dasar NPK 15:15:15, lalu aduk sampai merata. Lakukan persiapan media bersamaan dengan penyemaian. Tujuannya agar saat bibit dipindahkan ke pot, sejumlah reaksi kimia dalam media telah tuntas. 

Bila bibit dipindah pada media yang baru dicampur, terjadi reaksi kimia yang menimbulkan panas. Suhu tinggi menyebabkan bibit melon mati.

Dua minggu setelah penanaman maka masuk ke tahapan pemupukan melon, tambahkan NPK susulan berdosis sama. Caranya benamkan NPK di sekeliling media jauh dari batang. Perlakuan diulangi sekali lagi 2 minggu kemudian. Selama pemeliharaan, amati terus pertumbuhan tanaman. 

Bila terjadi gejala kekurangan unsur hara, tambahkan pupuk daun. TWM menggunakan Gandasil B untuk buah. Ia disemprotkan 2 minggu sekali dengan dosis 2 g/1. Umumnya, sebuah rumah tanam berpopulasi 624 tanaman membutuhkan 600 g Gandasil B.

Bunga 9—15

Batang melon harus tumbuh vertikal. Caranya, bentangkan benang sebagai rambatan batang sejak hari pertama tanam. Sulur yang tumbuh setiap hari dikontrol dan dirambatkan pada benang. Bersamaan dengan itu, buang bunga jantan dan bunga yang tidak dikehendaki.

Namun, pertahankan bunga yang berada di ruas 9-15. Itu adalah bunga yang disiapkan untuk buah. Ia disebut juga ruas produktif. Bunga di bawah ruas ke-9 dan di atas ke-15 kurang baik untuk dibuahkan. 

“Usia tanaman masih terlalu muda. Sebaliknya di atas ruas ke-15 melon sudah tua,” kata Guntoro. Ruas produktif itu lazimnya muncul pada hari ke-14-20 setelah tanam.

Goyangkan batang tanaman agar terjadi pembuahan. Buah yang muncul diseleksi pada hari ke-40. “Satu batang hanya 1 buah,” kata Guntoro. 

Agar pematangan buah sempurna, hentikan pertumbuhan vegetatif dengan memangkas pucuk batang melon pada hari ke-50-60. Seminggu sebelum panen, semprotkan KNO, dengan dosis 2 g/1. Itu bertujuan agar kematangan melon seragam dan rasanya manis.

Kunci Sukses tabulampot melon berbuah Lebat saat ini memang terjadi di rumah kaca. Toh, ia layak dicoba di halaman rumah. Buktinya, sistem paket hidroponik yang lebih rumit telah berhasil dilakukan hobiis.

 “cara membuat tabulampot melon pasti lebih mudah,” kata Guntoro. Di masa mendatang, Deddy Sutawijaya tak perlu keheranan melihat tabulampot melon memamerkan buah.