Jumat, 23 Oktober 2020

Bisnis Kencur: Ukuran Rimpang Mini Harga Maksimal

Ukuran rimpang boleh mini, tetapi soal harga acapkali maksi. Itulah kencur gang banyak dibutuhkan industri kosmetik, minuman, rokok, dan jamu. Mereka penyerap kencur terbesar di pasaran. Harga relatif stabil dan cukup tinggi hingga Rp25.000 per kilo sangat menggairahkan pekebun. Sayang, pekebun sering memanen muda lantaran terdesak kebutuhan. Akibatnya, standar mutu yang diinginkan industri tak tercapai.

PT Mustika Ratu misalnya, membutuhkan setidaknya 1 ton kering atau setara 5-7 ton basah per bulan. Rimpang empon-empon itu dimanfaatkan untuk bahan baku handbody dan pelembap. Khasiatnya sebagai whitening alias pemutih. Kesinambungan pasokan terjamin lantaran perusahaan yang dirintis Mooryati Soedibyo Hadiningrat pada 1973 itu bekerjasama dengan 5 pengepul di Jawa Tengah.

Namun, pengepul pun tak lenggang kangkung tinggal mengirim lantaran bagian pengadaan menerapkan standar ekstraketat. Menurut staf pengadaan, Herchel Nayoan, Mustika Ratu menginginkan kencur emprit berkadar air kurang dari 10%, warna putih bersih, dan bebas kotoran. Lolos dari standar itu, kencur mesti melewati bagian kontrol kualitas yang dipimpin Kun Windaijati.

Di situlah anggota famili Zingeberaceae itu diuji di laboratorium meliputi tes mikrobiologi dan refakto indeks. Menurut Michel sapaan Herchel Nayaon perusahaan yang bermula dari garasi rumah itu membeli sekilo Rp25.000- g Rp30.000. “Harga berbeda-beda tergantung kualitas,” * ujar Michel. Dengan sederet persyaratan tak ayal lagi kadang pemasok mesti membawa pulang kencurnya akibat tak lolos seleksi.

Langkah pengujian serupa ditempuh PT Jamu Air Mancur (JAM). Namun, hasil uji kandungan kimia tidak dijadikan parameter penerimaan kencur. Soalnya, “Selama ini kandungan minyak asiri terlalu fluktuatif. Mungkin karena pengaruh musim dan kenyataan kencur dikembangkan di berbagai daerah yang kondisinya beragam,” ujar Saleh Ismadi dari bagian kontrol kualitas.

Untuk menyiasati itu Saleh biasanya mencampur antara kencur berkadar asiri tinggi dan rendah sehingga diperoleh angka standar, 4%.

Jadi, pasokan diuji laboratorium semata-mata untuk mengetahui kadar asiri. Standar mutu penerimaan lebih berdasar pada pengamatan visual seperti warna, kadar air, dan umur panen.

Setiap bulan produsen aneka jamu di Palur, Solo, itu membutuhkan 2-5 ton kering. Ia mengandalkan pasokan 10 pengepul di Boyolali, Jawa Tengah. Dengan begitu pasokan selama ini relatif lancar. Rimpang tanaman berbatang semu itu diolah menjadi aneka produk seperti jamu, minuman, dan parem.

kencur
Kebun kencur

Berawal Dari Industri rumah tangga

Yang juga membutuhkan kerabat temu kunci Kaempferia rotunda itu adalah anggota Koperasi Jamu Indonesia (Kojai). Menurut ketua Kojai Suwarsi Moertedjo, setiap bulan 40 anggotanya memerlukan minimal 7 ton kering. Kebutuhan setiap anggota tergantung skala usaha. Industri berskala kecil yang total berjumlah 10 orang perlu masing-masing 1 kuintal sebulan; sedang (20 orang) 3 kuintal; dan besar (1) 5 kuintal. Itu merupakan kebutuhan per bulan dalam bentuk kering.

Kojai yang didirikan mendiang Moertedjo pada 1977 beranggotakan para perajin jamu di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Mereka memperoleh pasokan dari pekebun di Boyolali lantaran, “Sudah coba ditanam di sini (Sukoharjo, red) tetapi tidak tumbuh. Daun kecokelatan kemudian mati. Padahal kunyit tetap tumbuh di lokasi yang sama,” ujar Suwarsi. Penanaman uji coba di pekarangan rumah itu umumnya hanya 100-200 m2 antara lain di Kecamatan Polokarto dan Nguter.

Selain Boyolali, sentra kencur di Jawa Tengah terdapat di Salatiga dan Ambarawa. Dari ketiga sentra itulah PT Herba Agro Nusa (HAN) memperoleh pasokan.

Panen raya di daerah itu biasanya jatuh pada Agustus-Oktober. Pada saat itulah HAN, pemasok aneka rempah di Semarang, membeli kencur hasil budidaya pekebun. Menurut Manajer Purchasing Department, Lily, setahun ia menyerap hingga 30 ton kering atau 150 ton basah.

Kata Lily ia dapat saja menerima lebih dari angka rata-rata itu sepanjang memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan. Standar mutu yang dikehendaki sama dengan Mustika Ratu. Sebab, setelah terkumpul kencur itu dipasarkan kembali ke produsen jamu dan kosmetik. Sayangnya, “Pasokan seringkah berbeda dengan sampel yang diajukan sehingga kami sering menolak,” ujar perempuan mungil itu. Menurut dia harga di tingkat pekebun relatif stabil, 25.000- 30.000 per kg. Itu bertahan sejak 1995 yang sebelumnya hanya Rp 15.000.

Padahal saat ini beredar kencur cina yang ukuran rimpang lebih besar dan lebih putih. Namun, “Banyak industri jamu mengeluh karena jika dibuat masker kelihatan pecah-pecah,” kata Lily.

Sebaliknya, masker asal kencur lokal setelah dioleskan di wajah justru rata tanpa pecah-pecah. Itu menandakan mutunya lebih baik. Lily menduga kandungan asiri kencur lokal lebih bagus ketimbang kencur cina yang harganya lebih murah.

bisnis kencur
Budidaya kencur

Pekebun bergairah

Kehadiran kencur impor terbukti tak menggoyahkan pasaran Kaempferia galanga lokal yang beraroma khas. Barangkali lantaran itulah pekebun di Boyolali tetap bergairah mengembangkan terna bersosok pendek.

Pengamatan BudidayaTani di sentra Kecamatan Simo, Boyolali, menunjukkan luas penanaman seorang pekebun berkisar 500-2.000 m2. Selain Simo sentra lain terdapat di Nogosari, Andong, dan Klego. Lokasi penanaman di sawah bersamaan atau setelah penanaman padi bertepatan Oktober- November.

Salah satu pekebun di sana Padmo Sukamto, hanya menanam di lahan 600 m2. Menurut perhitungannya dihabiskan biaya produksi Rpl,5-juta. Sepuluh bulan kemudian ia menuai 5 kuintal. Praktis tak ada kesulitan memasarkan rimpang terna itu. “Pengepul biasanya datang ke rumah-rumah petani setalah panen. Dari sawah kencur kan dibawa ke rumah untuk dibersihkan dari tanah,” katanya. Belum sempat dijemur pun pengepul menyambangi pekebun untuk memperoleh pasokan.

Di tangan pengepul-lah kencur itu dirajang dan dijemur hingga diperoleh kadar air kurang dari 10%. Cirinya jika dipatahkan cukup mudah, tampak tidak lembek, warna tetap putih bersih. Irisan kencur panen muda biasanya menggulung setelah kering sehingga kerap ditolak produsen.

Acapkali pekebun memang memanen dini lantaran terdesak kebutuhan sehari-hari. Inilah yang merusak kualitas rimpang di pasaran sehingga menjadi bumerang bagi pengepul. Dengan harga jual Rp7.000 per kg basah Padmo menuai untung Rp2-juta.

Dibandingkan budidaya padi, “Wah, jauh menguntungkan kencur,” kata pekebun di Talakbroto, Simo, itu. Di luasan sama hanya diperoleh 2,5 kuintal padi dengan harga jual Rpl.OOO perkg.

Wajar jika pekebun muda seperti Sutrisno Wahyudi juga memperluas penanaman hingga 2.500 m2 dari sebelumnya 1.000 m2. Dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm ayah seorang anak itu memanen 1 ton setelah mengeluarkan biaya produksi Rp3,5-juta. Biaya produksi terbesar untuk pembelian 3 kuintal benih Rp 1.650.000. Budidaya kencur relatif mudah dengan penyiangan rutin setiap 2 bulan. Seperti Padmo, ia pun tak kesulitan memasarkan hasil panen.