Rabu, 21 Oktober 2020

Budidaya Dendrobium Untung Dalam 4 Bulan

Setiap bulan pendapatan kotor Rp16-juta hampir pasti diterima Tumin Teguh. Itu hasil penjualan 800-an pot dendrobium berbunga dari kebun 1.000 m2. Setelah dikurangi biaya perawatan Rp500.000 dan tetek- bengek lain penganggrek itu masih mengantungi laba Rp14-juta. Inilah segmen dengan risiko terkecil, cocok untuk pemula. Dalam waktu 4 bulan, modal kembali berlipat.

Untuk mengisi kebun berkapasitas 20.000-an pot itu setiap hari Tumin berkeliling ke-7 petani langganan di seputaran jakarta Yang dicari 150-200 pot dendrobium siap berbunga dan berbunga. Terkadang pria tinggi besar itu masih harus berburu ke tempat lain, “Mendapatkan 200 tanaman berbunga sulit. Itu pun berebut dengan orang lain,” tuturnya. Setelah barang terkumpul baru ia mendatangkan mobil angkutan.

Manisnya berbisnis dendrobium juga dirasakan Herman Setiawan, penganggrek di Cilangkap, Jakarta Timur. Setiap bulan 1.000 pot keluar dari kebun milik pemasar di bidang farmasi itu. Dengan harga jual dendrobium berbunga di tingkat pedagang Rpl2.500-Rpl5.000 ia memperoleh tambahan pendapatan Rpl2,5-juta- Rp 15-juta per bulan. Wajar kalau H. Haryo Suroso tak perlu lama-lama memutuskan terjun ke bisnis itu. Hanya 3 bulan selepas pensiun ia membuka kavling di Taman Anggrek Indonesia Permai TMII.

Dendrobium mini, harapan masa depan

Batu sandungan

Dendrobium super
Tanaman berbunga paling dicari pembeli

Para penganggrek tentu tak begitu saja mengecap untung. Saat merintis usaha pada 1991, Kamijono menjajakan sendiri pot-pot dendrobium berbunga pada pedagang di Rawabelong, Jakarta Barat. Esa Sirat, MBA, bingung memasarkan dendrobium di tahun pertama produksi. “Akhirnya saya sewakan di hotel-hotel,” kata pemilik Hanaya Orchid itu. Risiko tanaman rusak saat kembali diabaikan daripada tak ada pemasukan sama sekali.

Tentu saja ini dibarengi “promosi” untuk merintis pasar potplant. Begitu pasar terbentuk, rental langsung ditinggalkan.

Melejitnya harga pupuk dan obat-obatan hingga 2 kali lipat pascakrisis ekonomi sempat membuat hati pekebun ketar-ketir. Bagaimana tidak, dengan pengusahaan intensif biaya keduanya mencapai 50% total biaya produksi; 30%, semi intensif. Solusinya, memilih pupuk yang lebih murah. Endah Malahayati terpaksa mengganti Gaviota dengan Hyponex. Bahkan sekafang ia lebih banyak menggunakan Pokon.

Jam terbang ikut menentukan keberhasilan. Misal saat memupuk. Dosis kurang tanaman tidak bereaksi kecuali kurus, tapi bila kelebihan tanaman langsung drop. Daun kuning semua bahkan bisa mati. Akibat pekerja salah menghitung dosis fungisida, beberapa tahun lalu, “Hampir separuh tanaman dewasa rontok dan “lodoh” seperti genjer sekali siram,” kenang Esa, mantan arsitek perusahaan pengembang itu. Lantaran tidak dijaga sendiri tanaman di kebun di Ciputat habis dijual pegawai atau rusak karena kurang perawatan pada 1996/1997.

Mulai kebanjiran permintaan

Batu sandungan itu sebenarnya cuma kerikil yang bisa dienyahkan kalau para pemula “rajin berguru” dan membuat jaringan dengan pekebun senior. Dengan sedikit bersusah-payah turun langsung di lahan, pekebun pasti untung. Apalagi pasar masih terbentang. “Sekarang ini orang Ragunan (Taman Anggrek Ragunan, red) susah cari tanaman berbunga,” tutur Endah, penganggrek sejak 1978 itu. Saking sulitnya, tanaman yang baru mengeluarkan tangkai bunga pun ludes diburu orang.

Dua tahun belakangan pasar di luar Jawa tumbuh pesat. “Sekarang ini konsumen di Bali teriak-teriak minta tanaman berbunga,” ujar Ir Sutikno Linuhung. Padahal pemilik Royal Orchid di Pasuruan itu rutin mengirim 500 pot/ minggu. Belum lagi dari penganggrek Jawa Timur lain dan Jakarta yang rata-rata juga melayani kebutuhan pulau dewata itu.

Permintaan juga datang dari Aceh, Pekanbaru, Dumai, Pangkalpinang, Bengkulu, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Bontang, Manado, Makassar, sampai Papua. Seminggu sekali Endah mengirim 300 dendrobium berbunga pada 3 pelanggan di Aceh. Permintaan tak seluruhnya bisa dipenuhi karena Endah harus membaginya ke pelanggan lain.

Saat ditemui BudidayaTani Kamijono baru saja mengepak 150 pot untuk pedagang di Balikpapan. Seminggu sebelumnya ia mengirim dalam jumlah sama. Padahal harga tanaman berbunga di kota-kota itu 2-3 kali lipat harga di Jakarta. “Di Samarinda pelanggan bisa menjual Rp75.000-Rp85.000, ambil dari saya paling Rp25.000-30.000,” tutur Endah.

Semua segmen, 4 bulan

Dendrobium mini
Dendrobium mini, harapan masa depan

Permintaan tinggi tanaman berbunga jelas jadi “lokomotif’ yang menarik segmen-segmen di bawahnya. Permintaan 2.000 bibit botolan dari Jakarta yang dilayangkan pada Sutikno belum bisa dipenuhi. Total produksi 2.000 botol per bulan masih harus dibagi-bagi untuk pelanggan di Jawa Tengah dan Bali.

Kamijono perlu bermitra dengan petani di Rawabelong yang mengusahakan tanaman kompot sampai remaja di lahan 100-200 m2. Pemilik kebun 5.000 m2 itu menyediakan botolan dan kompot. Para mitra membesarkan hingga tanaman remaja bahkan berbunga. Hasilnya dibeli lagi oleh Kamijono. Endah Malahayati juga menerima setoran dari “mantan murid” berbagai pelatihan anggrek yang dibinanya.

Konsumen lebih banyak memburu dendrobium lantaran mudah dirawat. Lagi pula variasi warna dan bentuk bunga beragam sehingga konsumen yang bosanan selalu punya pilihan. Wajar kalau Herman Setiawan berani mengatakan, “Satu dari 2 anggrek yang dibeli konsumen itu dendrobium.”

Kondisi itu jelas peluang buat pekebun baru. Menurut Endah melonjaknya permintaan tidak diimbangi pertumbuhan kebun produksi. “Banyak orang ragu menginvestasikan uangnya di sini karena membutuhkan waktu lama,” katanya. Bila seseorang memilih pembesaran dari botolan sampai tanaman berbunga ia harus menunggu 1,5 tahun. Padahal ia bisa memilih segmen tertentu: kompot, seedling, remaja, atau berbunga. Waktu yang diperlukan per segmen rata-rata 4 bulan.

Misal untuk usaha pembesaran dari kompot ke seedling (single pot ukuran 6- 8 cm, red) cukup dengan lahan 100 m2. Setelah dikurangi 25% untuk fasilitas jalan, lahan bisa diisi 10.000-an pot. Harga beli kompot berisi 35 tanaman Rp 12.500-Rp25.000, tergantung jenis dan kualitas. Setelah dibesarkan 4 bulan seedling dijual Rp3.000 per pot. Padahal biaya perawatan tak sampai Rp800. Artinya ada penambahan nilai minimal 2 kali lipat per tanaman.

Herman menyarankan semua segmen dimasuki. Kalau salah satu, misal seedling malah khawatir gagal karena jika tak laku, bibit dijual murah. Untuk pemula ia menyarankan memulai dari tanaman berbunga yang terendah risikonya. “Dengan modal tanaman berbunga lalu dijual ke pedagang di pinggir-pinggir jalan orang bisa meraup untung minimal Rp5.000,” tutur Esa.

Keuntungan dari perputaranan uang di segmen terakhir itu sebagian untuk membeli tanaman remaja. Sambil menunggu ia berbunga 4-6 bulan mendatang, penjualan tanaman berbunga terus dilanjutkan. Keuntungan pembesaran dari tanaman remaja ke berbunga mencapai 50-60%. “Keuntungannya dipakai lagi untuk membeli tanaman remaja dan seedling. Begitu seterusnya sampai semua segmen dimainkan,” kata Herman.

Seluruh penganggrek yang ditemui BudidayaTani sepakat, dendrobium keriting paling tren. Berawal dari Jawa Timur, kini menyebar ke berbagai tempat. Kavling-kavling di TAIP didominasi jenis itu selain dendrobium standar ungu dan putih. Malahan M Hasan Cahyanto dari H & W mulai menyilangkan sendiri jenis ini sejak 2 tahun lalu.

“Sebenarnya di Jawa Timur anggrek keriting sudah in sejak 5 tahun lalu,” tutur Wirakusumah, penganggrek di Prigen, Pasuruan. Namun, “wabahnya” baru sampai Jakarta 1-2 tahun terakhir.

Di Malaysia, Singapura, dan Filipina demam keriting berlangsung 5-8 tahun lalu. “Sekarang di Thailand orang malah kembali ke bentuk bulat,” kata Hasan. Meski begitu ia tak takut hasil silangannya yang bakal berbunga tahun depan ketinggalan zaman. “Tren biasanya bertahan 5 tahun, jadi tren dendrobium keriting masih bertahan sampai 3 tahun ke depan,” papar pemilik kavling 16 TAIP.

Dendrobium potong

Manisnya keuntungan tak hanya diecap pekebun potplant. Runtuhnya “kerajaan” dendrobium potong Pulau Bulan di Batam pada 1997/1998 berkah buat para petani kecil berskala 500-1.000 m2. Mereka kebanjiran order dari floris dan hotel. Sukedi, pekebun di Serpong, Tangerang sepanjang awal hingga pertengahan Maret panen setiap hari. Rata-rata ia menuai 200 tangkai dendrobium potong berbagai jenis.

Dulu dendrobium potong dipanen setelah 10-13 kuntum mekar penuh. Harga per kuntum Rp 100. “Sekarang bunga baru mekar 5 sudah dipotong karena pasokan tidak ada,” tutur pemain dendrobium potong sejak 1988 itu. Tengkulak yang langsung memanen. Dengan harga per tangkai Rp 1.500- Rp2.000 setiap bulan i’a mengantungi Rp9.000.000. Esa Sirat bahkan menikmati harga Rp650 per kuntum dendrobium potong yang masih dipertahankan.Wajar kalau Hasan tertarik membuat silangan dendrobium potong dan mengebunkannya.

Namun, ia tetap berhitung cermat. Untuk 1.000 m2 dibutuhkan modal Rp250-juta sampai tanaman siap panen umur setahun. Padahal menurut hitungan Herman yang menekuni dendrobium potong pada 1988-1995 lahan 1.000- 5.000 m2 masih kurang. Sebab, kebun mesti berisi tanaman dalam peremajaan, awal berbunga, dan masa panen. Lantaran butuh lahan luas dan sulitnya pembayaran oleh pelanggan-karena dihutangkan- membuat Herman, Esa, dan Sutikno beralih ke potplant.