Kamis, 29 Oktober 2020

Durian Warisan Dari Lombok

Tong medaye berbentuk bulat seperti bola dengan warna kulit hijau cerah. Duri-durinya runcing berukuran sedang. Ukuran buah tidak terlalu besar, sebuah hanya berbobot sekitar 1 kg. Yang istimewa, daging buah berwarna kuning keemasan. Rasanya..., ehm manis, legit, pulen, dan halus. Aroma harum pun tercium.

“Sangat enak!,” tegas Prof Dr Sri Setyati Harjadi, guru besar Institut Pertanian Bogor, yang menjadi salah satu juri Lomba Buah Unggul Nasional 2004. Pantas bila bersama dewan juri lain, Sri Setyati Harjadi pun sepakat menobatkan tong medaye sebagai pemenang kategori durian dalam kontes yang diselenggarakan oleh Budidaya Tani itu.

Pesaing terberat, durian tembaga asal Batulayang, Bengkulu, pun mesti mengalah pada Durio zibethinus kebanggaan warga Lombok itu. Padahal tembaga tak kalah istimewa. Daging buah berwarna kuning tua, kering, dan manis sedikit pahit. Sayang daging tebal diikuti biji yang cukup besar pula. Menurut penilaian sebagian juri rasa tidak merata.

durian Tong medaye
durian lombok

Keluarga Pura

Budidaya Tani yang berkunjung ke Lombok masih dapat melihat pohon induk tong medaye di kebun di luar kompleks Istana Narmada, Kerajaan Karangasem Salak. Dengan umur lebih dari 110 tahun, tanaman meraksasa. Tingginya 30 cm dengan tajuk rimbun selebar 20 m. Dibutuhkan 3 orang dewasa untuk memeluk batang utama.

Meski terbilang uzur, produktivitas durian yang namanya dalam bahasa Sasak berarti tidak diragukan lagi rasa dan keunggulannya itu cukup tinggi. Setiap musim panen yang berlangsung pada akhir tahun dituai 900- 1.000 buah. Menurut Dr Ir Moh Reza Tirtawinata, MS, pakar buah di Bogor, kondisi itu istimewa.

Doktor dari Institut Pertanian Bogor itu hampir tidak pernah menemukan durian tua seproduktif tong medaye. Lazimnya durian tua seperti itu tidak lagi produktif karena batang sudah keropos terserang rayap. Tong medaye tetap menghasilkan buah lantaran tanaman sehat. Itu berkat perawatan intensif oleh anak-cucu Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem. Di bawah Yayasan Putra Krama, para keturunan sang raja mengelola kebun durian warisan seluas 3.000 m2. Tak hanya tong medaye, di sana pun ada si gula dan si payuk yang tak kalah lezat.

Bentara

king of fruit
pohon durian

Nun di Desa Batulayang, Kecamatan Kerkab, Kabupaten Bengkulu Utara, berdiri dengan tegar pohon durian tembaga pemenang harapan LBUN 2004. Dari pohon berumur 45 tahun itulah, setiap musim panen pada November-Januari, Sutarkam-sang empunya pohon-memetik 125-175 buah. Setiap buah rata-rata berbobot 2,5-4 kg.

Keistimewaan king of fruit itu sudah tidak diragukan lagi. Sosok buah besar dengan warna kulit cokelat keemasan. Daging buah kuning tua-nyaris oranye cerah, tebal, manis sedikit pahit, dan kering. Pantas bila pada kontes durian yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Solok, tembaga batulayang menggenggam juara pertama.

Berbekal keunggulan itu pula anggota famili Bombaceae itu lolos dalam penilaian sebagai varietas unggul nasional pada 16 Desember2004. Kelak ia akan dikenal sebagai durian tembaga bentara-akronim dari kata Bengkulu Utara-sentra pengembangan durian di provinsi terletak di pantai selatan Pulau Sumatera itu.

Sebenarnya kekayaan Bengkulu Utara tak hanya tembaga bentara. *Dari sana muncul pula tembaga trijono, rezak, si gabuk, dan gundul. Itulah raja-raja buah unggulan setempat yang sama enaknya dengan bentara. Durian gundul yang disebut terakhir diprediksi bakal jadi primadona baru. “Rasanya tidak kalah dengan bentara.

Sosok buah pun menarik. Durinya sedikit dengan 3-5 biji sempurna per buah sebesar jempol,” ujar Ir Suhardi Galib, kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Bengkulu.

Kini BPSB Provinsi Bengkulu tengah mempersiapkan 10.000 bibit bentara. “Tahun silam kami sudah mengembangkan 3.000 bibit untuk pengembangan di luar Kecamatan Kerkab,” tutur Suhardi.

Rival

rasa cukup manis
Tong medaye dan tembaga

Tong medaye dan tembaga sukses menggenggam gelar sebagai pemuncak LBUN 2004 setelah menyisihkan 9 durian lain. Sebut saja otong kiriman Mubin Usman, Depok, yang berukuran superbesar. Bobotnya mencapai 7-8 kg per buah. Bila disandingkan dengan kepala orang, sosoknya masih jauh lebih jumbo. Sayang daging buah yang dipetik dari tanaman berumur 6 tahun itu tidak konsisten.

Meski rasa cukup manis, tingkat kematangan tidak merata. Rival lain, si tarman yang beraroma tajam dan alkoholik, tapi daging buah tipis dan si midun yang berdaging menarik, tapi rasanya anyep. Ada juga krismon yang berpongge di tengah, pramuka AA, dan channee. Dua yang disebut terakhir termasuk favorit para juri.

Pramuka AA milik dr Fuadi Yatim dari Jakarta berdaging kuning mentega. Rasanya manis legit dan berbiji hepe. Hanya saja kualitas daging buah tidak seragam. Bagian luar kering, di dalam benyek.

Channee dari kebun Syamsul Rizal di Bogor sebenarnya pun istimewa. Warna daging buah kuning menarik, rasa manis legit bercampur pahit dengan tekstur lembut. Sayang dari 4 buah yang dikirim pada dewan juri, 1 buah tidak matang sehingga tidak layak nilai. Asa channee untuk menjadi pemenang pun tertunda.