Kamis, 29 Oktober 2020

Leci Genggelang: Varian Istimewa Mampu Beradaptasi Di Dataran Rendah

Genggelang bukan dataran tinggi sebagaimana lazimnya habitat leci. Lokasinya cuma I g 500 m dpi. Desa itu berjarak 43 km di utara MP Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Menurut Sidik di Genggelang terdiri atas 280 kepala keluarga. Jadi, minimal terdapat 1.120 pohon leci. Tanaman asal Cina itu tak melulu ditemukan di Genggelang, tetapi juga di 3 desa lain di Kecamatan Gangga-Bentek, Rempek, dan Sambibangkol.

Leci mulai dikembangkan di Genggelang pada 1970-an. Pantas jika kini tingginya menjulang hingga 10 m dengan diameter 40 cm. Belakangan ini banyak pemilik meregenerasi pohon tua dengan mencangkok. Dari mana pohon itu? Sidik menduga tanaman itu dikembangkan oleh para pendatang dari Lombok Tengah dan Lombok Timur. “Sebelum ke Lombok Barat, para pendatang belanja buah di Mataram atau Cakranegara,” katanya.

Leci yang dibeli kemudian bijinya ditanam. Pohon-pohon itulah yang bertahan hingga sekarang. Tak ada cacatan tentang siapa yang mengembangkan leci pertama kali di sana. Kemudian leci menyebar ke seluruh pelosok Gangga yang termasuk daratan menengah. Buah hasil panen lebih banyak dikonsumsi sendiri ketimbang dijual ke pasar. Makanya lidah mereka tak lagi asing dengan kesegaran buah asal negeri Tirai Bambu itu.

buah leci
Leci payangan dituai dari pohon tua

Turun gunung

Selain dikonsumsi sendiri, ada juga buah yang dikirim ke karib-kerabat. Contoh, Sapta Surya, pekebun buah naga di Pasuruan, Jawa Timur, yang kerap mendapat leci dari saudaranya di Lombok. “Rasanya manis menyegarkan,” kata Sapta. Leci dataran rendah-menengah tak cuma terdapat di Nusa Tenggara Barat. Nun jauh di Desa Nakupia, Kecamatan Teon Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah, leci juga tumbuh subur.

Nakupia, lokasi budidaya lacing-nama lokal leci di sana-hanya 4 km dari bibir pantai. Di sana udara panas menyengat. Dalam kondisi ekstrem semacam itu Litchi chinensis mampu berbuah lebat setiap tahun. Padahal leci dikenal sebagai tanaman subtropis yang lazim tumbuh di dataran tinggi.

Leci “turun gunung” itu memang memungkinkan. Ahli Botani Gregori Garnadi Hambali mengatakan, “Tanaman mempunyai keragaman dan kemampuan beradaptasi. Peluangnya lebih besar jika diperbanyak dengan biji.” Sebab, tanaman yang diperbanyak dari biji mempunyai keragaman genetik. Itulah sebabnya “sentra” leci di Indonesia umumnya dataran rendah-menengah.

Selain Lombok dan Maluku, penenaman leci juga terdapat di Payangan, Kabupaten Gianyar, 35 km dari Denpasar. Wilayah itu berketinggian 350-400 m dpi. Menilik sosok tanaman, umur pohon mencapai puluhan tahun. Diamater pohon mencapai 1 m dan tinggi 6-7 m. Musim berbuah di sana jatuh pada Januari-Februari dengan produksi rata-rata 60 kg per pohon.

Umur kian renta menyebabkan rendahnya produksi yang dulu mencapai 300 kg per pohon. Pemilik pohon tak menghitung nilai ekonomis lantaran tanaman tak dirawat intensif. Pohon dibiarkan tumbuh dan berproduksi dengan perawatan sekadarnya. Ibarat kerakap tumbuh di batu, hidup segan berproduksi pun tak mau.

Harga di Tingkat pekebun yang terus Merosot

Harga di tingkat pekebun di Payangan saat ini sekitar Rp50.000 per kg. Toh, tingginya harga tak mendorong perkembangan leci. Di Payangan hingga saat ini belum ada yang mengebunkan leci secara komersial. Anggota famili Sapindaceae yang kian menua itu tumbuh di tepian jalan atau pekarangan. Praktis tanpa regenerasi. Buktinya populasi kerabat rambutan itu terus menyusut.

Menurut I Ketut Armadi dari Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, populasi leci pada 2004 tercatat 222 pohon; 2003, terdapat 228 pohon. Dua windu sebelumnya populasi leci payangan mencapai 2.700 pohon. “Masyarakat sebetulnya juga ingin menanamnya, tapi bibit tak ada,” kata Armadi. Menurut I Ketut Abhinawa, pemilik beberapa pohon di sana, pembangunan perumahan dan jaringan listrik salah satu penyebab merosotnya populasi.

Di Payangan, Gianyar, leci mulai dikembangkan pada 1901. Pedagang Cina bernama Lee Theong mempersembahkan leci kepada raja Payangan. Pohon tertua itu hingga sekarang tegak berdiri di Puri Payangan, Kabupaten Gianyar. Jadi kira-kira umurnya mencapai 104 tahun. Raja itulah yang akhirnya menyebarkan leci ke masyarakat. Cina-khususnya Provinsi Kwangtung dan Fukien-memang tanah leluhur leci hingga pada 1782 diabadikan dalam nama ilmiah buah itu: Litchi chinensis. Meski nama itu diubah menjadi Nephelium litchi, tapi akhirnya kembali seperti semula 47 tahun kemudian.

Menurut catatan Herbarium Bogoriense, leci lebih dulu masuk Indonesia di wilayah Jawa Barat, yakni Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Wilayah itu kini menjadi sentra perkebunan teh, tanaman yang juga berasal dari Cina. Namun,justru di wilayah timur Indonesia seperti Ambon dan Nusa Tenggara, tanaman berumah dua itu lebih banyak berkembang. Di Jawa Barat-tepatnya di Sumedang-kini terbentang perkebunan leci yang dikelola secara intensif oleh Grup Sungai Budi dan beberapa kali berproduksi.

Tumbuh secara Sporadis

Di Jawa Timur leci tumbuh di kaki Gunung Wilis, Kabupaten Madiun. Di sanalah Budi Haryanto mengebunkan 70 leci 10 tahun silam. Pelatih tinju itu tertarik mengebunkannya karena leci dinilai sebagai buah eksotis yang langka. Jarak tanam 4 m x 5 m. Bibit diperoleh dari pedagang di Semarang, Jawa Tengah.

Kini tinggi tanaman-tanaman itu rata-rata 3,5 m, diameter 12 cm. Sebuah pohon berbuah pada umur 6 tahun. Produksinya 30-40 kg.

Hingga sekarang hanya satu pohon itu yang rutin berbuah setiap tahun. Selebihnya 69 pohon, meski tumbuh sehat belum pernah berbuah. “Perlakuan saya sama. Saya ngga tahu mengapa pohon yang lainrtak berbuah,” ujar pemilik stasiun Radio Moderato di Madiun itu.

Di berbagai daerah leci juga tumbuh secara sporadis. Contoh di Bondongan, Bogor, berketinggian tak lebih dari 100 m dpi, 2 pohon leci tegak berdiri.

Menurut Ratna, pemiliknya, ayahnya menanam dari biji 10 tahun silam. “Papi mendapat oleh-oleh buah leci dari Cina. Bijinya itu kemudian ditanam,” kata Ratna. Hingga sekarang pohon itu telah 4 kali berbuah.

Artinya, pohon berbuah perdana pada umur 6 tahun. Rasanya manis-asam. Hasil panen hanya dibagikan kepada para kerabat. Di Prigen, Pasuruan, Allen Hartono juga menanam 3 pohon yang berbuah di penghujung tahun. Memetik buah eksotis dari pohon sendiri sebuah kenikmatan bagi pengusaha itu. Di kantor Instalasi Penelitian dan Pengkajian Pertanian Tlekung, Batu, Jawa Timur, juga tumbuh 6 varietas leci. Tanaman tumbuh menjulang hingga setinggi 12 m. Dari keenam varietas itu, yang rajin berbuah adalah leci payangan.

Datang dari negeri berjarak puluhan yojana, seabad berselang leci berkembang di negeri berjuluk Zamrud Khatulistiwa. Di tengah zaman yang melintas ada pohon rapuh yang merana, ada pula yang tumbuh sempurna di daratan rendah.