Kamis, 29 Oktober 2020

Lengkeng mata kucing: Buah Kelengkeng Asli Bulungan

Suara lumbung Alung, pedagang di Pasar Induk Bulungan, lantang bergemuruh. “Ayo...ayo...mata kucing...mata anjing,” ucapnya.

pasar buah
pasar buah di bulungan

Sontak para pengunjung pasar berlarian ke arah datangnya teriakan itu. Rasa penasaran membuncah lantaran kesannya ada yang menawarkan mata 2 hewan peliharaan sebagai dagangan.

Budidaya Tani pun turut berlari mendatangi sumber suara. Ternyata, tepat di hadapan Imbung terdapat 2 onggokan buah lengkeng. “Yang cokelat muda namanya lengkeng mata kucing. Yang hijau, mata anjing,” tutur Imbung sambil menunjuk dagangannya.

Jari-jemari para pembeli langsung sibuk memilih dan memasukkan buah itu ke dalam tas kresek. “Pak, saya minta sekilo,” ucap salah seorang ibu sambil menyodorkan kresek berisi mata kucing. Setelah ditimbang, sekantong mata kucing ditukar dengan selembar uang Rp5.000.

Suasana pasar seperti itu selalu teijadi saat lengkeng dataran rendah itu berbuah. Hampir di setiap sudut pasar, toko buah hingga lapak-lapak di tepi jalan di Bulungan memajang mata kucing.

Kelengkeng Mata kucing

Lengkeng mata kucing
Kelengkeng Mata kucing

Mata kucing bukan diamond river, pingpong, atau itoh yang semuanya disebut Nephelium longan. Ia saudara dekat dengan lengkeng dataran rendah introduksi itu. Mata kucing, Nephelium malaiense', mata anjing, Euphoria malaiensis. Perbedaan mencolok terletak pada sosok kulit. Mata kucing berwarna cokelat muda sedangkan mata anjing hijau terang. Lengkeng introduksi umumnya cokelat kekuningan.

Penampilan mata kucing sepintas mirip lengkeng pingpong. Sosoknya bongsor dan hampir bulat. Kulitnya yang cokelat muda berhias bintik kasar kehitaman. Sedangkan pingpong tampil cokelat kekuningan bersemburat merah di pangkal buah. Bedanya, tekstur kulit pingpong lebih halus dibanding mata kucing.

Saat famili Sapindaceae itu dibelah, air langsung mengucur dari dalam dan terasa lengket di tangan, tanda kadar air dan gula cukup tinggi. Soal rasa, mata kucing punya ciri khas tersendiri. Begitu dagingnya digigit, rasa manis langsung terasa. Namun, setelah dicecap, rasa manis itu langsung bercampur rasa asam. Biji besar dan cokelat kehitaman, persis seperti pingpong.

Di desa-desa sepanjang Sungai Kayan: Tanjungpalas, Penisir, Pejalin, dan Antutan ratusan pohon mata kucing tegak menjulang mencapai 30-50 m. Tajuk pohon kompak mirip diamond river. Daun berwarna hijau terang, lanset, dan panjang. Namun, tepi daun tidak bergelombang seperti diamond river.

Semua mata kucing di Bulungan tidak diperbanyak secara vegetatif, tetapi dikembangkan dengan biji. Wajar bila lengkeng itu mulai belajar berbuah pada umur 6 tahun. Pada panen perdana, ia mampu menghasilkan 30-50 kg per pohon. Hasil itu terus meningkat seiring bertambahnya umur. Pohon berumur puluhan tahun mampu berproduksi 250-300 kg/musim.

Kelengkeng Mata anjing

lengkeng Mata anjing
Kelengkeng Mata anjing

Berbeda dengan kulit mata kucing yang mulus, mata anjing berwarna hijau terang dipenuhi benjolan tumpul. Benjolan berwarna cokelat kehitaman itu tampak seram dan garang, seperti mata anjing. “Mulai kecil hingga matang warna buah hijau dan terdapat benjolan,” tutur Luthfi. Ukurannya besar setara mata kucing. Panen mata anjing berlangsung Januari-Februari bersamaan dengan mata kucing.

Daging buahnya tebal berwarna bening kehijauan. “Itu ciri khasnya,” kata Luthfi. Sari buah langsung menetes keluar tanda kadar air tinggi. Rasanya tak semanis mata kucing, malah asam dan pahit lebih dominan. Biji seperti mata kucing, besar berwarna cokelat kehitaman.

Itulah sebabnya mata anjing kalah populer sehingga areal penanaman tak seluas mata kucing. “Areal penanaman mata kucing dan mata anjing mencapai 50 ha. Namun, lebih banyak mata kucing,” ujar Luthfi.

Sekilas sosok pohon tidak jauh berbeda dengan mata kucing. Ia tumbuh menjulang tinggi dengan tajuk kompak. Daun muda berwarna kemerahan lalu berubah menjadi hijau terang. Bentuknya lanset dan agak pendek dibanding dengan saudaranya.

Dua buah kekayaan alam Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur, itu ditemukan Budidaya Tani saat berkunjung pada penghujung Februari 2005. Keduanya warisan nenek moyang yang tumbuh alami. Namun, kelebihannya yang mampu berproduksi di dataran rendah-50 m dpi-bersuhu 27- 30°C di tepian Sungai Kayan menjadi bukti, Indonesia memiliki lengkeng asli dataran rendah.