Rabu, 21 Oktober 2020

Raja Dendrobium dari Prigen

Sekitar 75% anggrek di kebun 3 ha adalah dendrobium. Selebihnya phalaenopsis, vanda, dan cattleya. Dari kebun di Prigen, Pasuruan, itu setiap bulan dipasok 10.000 pot dan 2.500 botol bibit ke berbagai daerah. Kerajaan bisnisnya diperluas dengan membuka outlet di 2 pasar terbesar: Jakarta dan Bali. Semua berkat ketekunan dan kerja keras mantan kontraktor listrik itu.

Setelah 27 tahun menggeluti bisnis anggrek, Royal Orchids, kerajaan anggrek yang dibangun Ir. Sutikno Linuhung itu kini menjadi produsen dendrobium koleksi terbesar. Itulah sebabnya ia pantas dijuluki raja dendrobium.

Meski begitu kelahiran Banyuwangi 58 tahun lalu itu belum puas. Hari-harinya banyak dihabiskan untuk berinovasi, meski ratusan jenis silangannya telah terserap pasar. Menyilangkan tanaman untuk menghasilkan varietas baru berkualitas demi memanjakan konsumen. “Agar konsumen tak bosan,” katanya.

Ia masih penasaran ingin menghasilkan silangan berbunga biru. Dendrobium kuning pun baru tahun lalu berhasil diciptakan setelah bertahun-tahun ia mengutak-atik. Anggrek kuning silangan Kasem Gold x Anching Lubac terjual US$200 dalam East Java Orchids Show 2001.

bisnis anggrek
Kompot pun laku dijual

Dendrobium Silangan baru

Untuk keperluan induk silangan Sutikno mengoleksi tak kurang dari 500 jenis. Mulai dari hibrida eks impor hingga spesies asli Indonesia. Hibrida eks impor di antaranya Imelda, Berta Chong, dan Kahlinwee asal Taiwan, serta Kasem Gold dan Mari Mechener asal Thailand. Spesies asli Indonesia yang dikoleksi antara lain laceantera, violaceoflaven, spectabile, goldii, nindii, helix, dan stratiotes.

Saat ini Sutikno sibuk menyilangkan spesies berpotensi pendek seperti Dendrobium cana caliculatum dan D. caronii asal Irian. Tujuannya, menghasilkan tanaman bersosok pendek.

“Lahan yang semakin sempit tidak memungkinkan lagi bagi kolektor mengoleksi dendro keriting setinggi 2 meter,” lanjut Sutikno.

Strategi ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) cabang Surabaya itu tampaknya jitu. Buktinya, di tengah ketatnya persaingan ia mampu menjaring konsumen. Kesibukan di kebun tak pernah surut. Puluhan pekerja tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Mengepak saja hampir setiap hari berlangsung. Pada hari libur kebun tak pernah sepi pengunjung.

Pasang strategi Semula Sutikno hampir tak senang anggrek. “Saya tanam J anggrek bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk bisnis,” tegasnya. Untuk memenuhi ambisinya, ia pun menentukan segmen pasar. Setelah itu ia membuat target jangka pendek dan jangka panjang yang harus dicapai.

Tekadnya, harus mampu melakukan ekspansi bisnis dalam 10 tahun ke depan. Ia pun menyusun “taktik perang” untuk memasuki dunia baru.

Termasuk mencari inovasi-inovasi baru di dunia anggrek. Itupun disesuaikan kemampuan. Dengan strategi terencana, ia tak kehabisan nafas menghadapi persaingan. Buktinya, dari 3 hektar lahan kini ia sanggup bermain di hampir semua segmen mulai dari botolan hingga siap berbunga.

Ekspansi usaha

Raja Dendrobium
Dendrobium

Kerajaan bisnis Sutikno tidak berdiri kokoh dalam sekejap. Ia yang masih aktif sebagai kontraktor ketika itu membangun secara bertahap. “Sedikit rezeki hasil proyek pada 1974 saya belikan tanah terlebih dahulu.” Berikutnya, pagar dibangun. Begitu seterusnya hingga semua sarana yang diperlukan tersedia. Karena itu baru setahun kemudian ia bisa memulai usaha. Itu pun hanya di lahan 1 ha.

Awalnya ia memilih anggrek potong. Waktu itu pasar cukup baik, perputaran uang cepat, dan tidak butuh modal besar. Karena alasan itu pula ia memilih anggrek murahan seperti kalajengking dan vanda. “Mahal atau murah indukannya harga bunganya hampir sama, Rp 150—Rp200/kuntum kala itu,” paparnya. Yang penting dipilih jenis yang produksinya minimal 10 tangkai/pot agar untung.

Pada akhirnya bisnis anggrek potong makin tidak menguntungkan. Persaingan semakin berat. Anggrek pot lantas jadi pilihan berikutnya. Ia tak salah pilih. Di pot plant kerajaan bisnisnya makin kokoh.

Dua hektar lahan di sekitar kebun dibebaskan untuk memperluas usaha. Itupun dirasa belum cukup untuk memenuhi permintaan. Januari dan Februari lalu misalnya ia hanya mampu memasok 3.000 pot plant per bulan dari total permintaan 1 Q.000 pot plant Akibatnya, permintaan Bali yang 500 pot/minggu tak mampu dipenuhi. “Sudah tiga minggu baru terkumpul 300 pot,” keluhnya ketika sedang mempersiapkan pengiriman ke Bali. Padahal ia harus pula melayani pelanggan lain di berbagai daerah.

Kini ia mempersiapkan 1 ha lagi di Prigen sebagai kebun produksi. Sayap bisnis Royal Orchids terus dikepakkan dengan merintis pembukaan kebun di dua cabang Royal Orchids di Jakarta dan Bali. Tujuannya hanya satu. Untuk memperkokoh kerajaan bisnis yang dibangun dengan susah payah.