Minggu, 25 Oktober 2020

Udang Bongkok nan Menawan dari Meksiko

Litopenaeus stylirostris
Ekspor udang nasional

Ekspor udang nasional dirundung musibah. Negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat menolak si bongkok lantaran residu antibiotik melebihi ambang batas. Itu akibat kecemasan petambak terhadap serangan penyakit yang mengintai udang. Andai petambak mengetahui Litopenaeus stylirostris yang resisten penyakit peristiwa itu tak perlu terjadi.

Udang itu tiba di Indonesia setahun lalu setelah menempuh perjalanan 36 jam dari Hawaii. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara mendatangkan 96 pasang. Keunggulan udang asal Meksiko itu tahan salinitas tinggi hingga 40 ppt sekaligus salinitas rendah 0 ppt. “Jadi jika terjadi banjir yang menyebabkan salinitas drop bukan masalah,” ujar Ir Coco Kokarkin MS, peneliti di BBPBAP.

Keistimewaan lain, ia tahan serangan bercak putih dan Taura Syndrome Virus (TSV). Itu diperkuat hasil temuan James P. Brock dari Oceanic Institute di Hawaii. Virus yang disuntikan baru menjangkiti stylirostris pada hari ke-15 dengan tingkat kelulusan hidup (SR, survival rate) mencapai 93%. Bandingkan dengan kerabatnya L. vannamei yang terjangkit pada hari ke-4 dan dengan SR 20%.

Ia disebut stylirostris (diadopsi dari kata style) lantaran rostrum udang itu sangat proporosional dengan ukuran tubuh. Rostrum adalah kelopak kepala yang memanjang dan meruncing serta tepinya bergerigi. Itu yang menyebabkan penampilannya sangat menawan. Bandingkanlah dengan Penaeus marguiensis yang berostrum pendek atau P. indicus yang melengkung dan mudah patah.

Vannamei Doyan makan

udang putih
udang unggul

Sebelumnya L. vannamei disebut-sebut sebagai udang unggul. Siapa tak kepincut dengan produktivitas hingga 12 ton per ha? Itulah sebabnya petambak berlomba-lomba membeli benih udang putih itu. Celakanya, begitu permintaan melonjak, pengusaha kurang selektif dengan mendatangkan benih dari Taiwan yang terinfeksi TSV.

Harapan kemudian bertumpu pada L. stylirostris yang nafsu makannya lebih besar ketimbang windu. “Kecukupan pakan menjadi masalah yang harus dicermati untuk menghindari penurunan kualitas dan kanibalisme,” ujar master Budidaya Perairan alumnus Asian Institute of Technology Bangkok itu.

Ketika musim bediding—bagian dari kemarau ketika suhu sangat rendah nafsu makan stylirostris tetap tinggi. Pada kondisi sama nafsu makan udang windu turun 50% sehingga menghambat pertumbuhan. Dengan demikian stylirostris tetap dapat dikembangkan ketika kemarau. Begitu bandelnya dia sehingga namanya kerap diplesetkan menjadi udang no stress.

Pertumbuhan Dan Panen Yang cepat

Kepadatan tebar 51 ekor per m2
isolasi lahan tambak

Kepadatan tebar 51 ekor per m2 dengan FC R {feed convention ratio) 1,41. Artinya, dari 1 kilogram pakan dihasilkan 1,41 daging. Rata-rata produktivitas per ha 9,6 ton. Pertumbuhannya setara dengan Penaeu monodon yakni 30 g per 4 bulan. Pada kemarau ketika salinitas tinggi mencapai 38 ppt pertumbuhan jauh lebih cepat.

Untuk mengamankan produksi, Coco menyarankan agar petambak mengisolasi lahan. Itu untuk mencegah serangan bercak putih. Caranya, sekeliling lahan dibuat parit yang ditanami belanak dan nila yang berfungsi memangsa vektor penyakit itu. Teknik itu sudah diterapkan Ashari yang mengembangkan windu di Jepara. Hingga saat ini ia 6 kali menuai udang.