Rabu, 11 November 2020

Nanas Merah nan Cantik Dari Blitar

Besarnya cuma sekepalan tangan orang dewasa. Toh, ia tak kalah menarik ketimbang "saudara-saudaranya" yang bersosok lebih besar. Kulit kuning kemerahan bersaput hijau. Begitu dibelah tampak daging kuning menggiurkan. Rasanya, hm manis dan nyaris tanpa serat.

Si madu itu dengan mudah ditemukan di Pasar Patok di Desa Sidorejo, Kecamatan Ponggok, Blitar. Buah berbobot 0,5-1 kg itu nanas subang atau palembang 2-3 kg menumpuk di lantai pasar khusus nanas dan kelapa. Bentuk buah membulat hingga bulat lonjong. Kulit kuning kemerahan saat matang dan bermata buah cekung ke dalam. Itu mirip jenis queen yang banyak ditanam di dataran rendah Australia.

Daging buah nanas mini kuning menarik, aroma harum menggiurkan, dan berkadar air sedikit.

Banyak orang menjulukinya nanas madu lantaran daging buah sangat manis. Itu tak berlebihan. Buktinya Budidaya Tani habis menyantap 2 buah. Daun tanaman sepanjang 90-100 cm hijau kemerahan di permukaan atas dan hijau keperakan di bawah.

Nanas Taiwan
Nanas Merah Taiwan

Buah Asli Daerah lahar

Asal usul kehadirannya di kota koi itu tidak jelas. Yang pasti, "Sejak 1950-an ia sudah menjadi salah satu buah andalan petani," papar Hari Budi Harto SP, staf Kantor Informasi Pertanian Kabupaten Blitar. Tak heran kata blitar disematkan di belakang nama buah itu.

Kini 3 kecamatan mengembangkan nanas mini, yakni Ponggok, Srengat, dan UdanAwu. Yang terbanyak di Kecamatan Ponggok. Sedikitnya 11 desa di kecamatan itu menjadi sentra penanaman. Terutama di daerah aliran lahar Gunung Kelud seperti Pojok, Ponggok, Candirejo, Bendo, dan Sidorejo. Pengembangan lewat proyek-proyek pemerintah dan swadaya pekebun. Luas kepemilikan lahan nanas di daerah itu beragam, mulai dari 0,5- 2 ha per pekebun.

Meski tidak ada angka pasti, tetapi Hari menduga luas penanaman nanas di kabupaten itu mencapai 1.000 ha. Pasalnya, setiap hari tak kurang dari 30 truk nanas dipasarkan ke luar daerah. Setiap truk berisi 6-8 ton.

60 ton/ha

Dari pengamatan Budidaya Tani, penanaman nanas kebanyakan monokultur. Contohnya di kebun H. Tambir di Desa Pojok, Kecamatan Ponggok. Pensiunan mantri tani Dinas Pertanian Kabupaten Blitar itu mengembangkan nanas di lahan 7.500 m2. Dengan j arak tanam rapat, 35 cm x 35 cm, daun-daun tanaman tampak saling berpaut hingga menutupi setiap jengkal tanah. Meski begitu tanaman terlihat subur.

Menurut H. Tambir, dari populasi 80.000 tanaman/ha dapat dipanen 60 ton pada umur 16 bulan. "Dengan memberikan perangsang buah pada umur 1 tahun, sekitar 90% tanaman bisa berproduksi," tuturnya. Perangsang yang dimaksud adalah larutan ethrel berkonsentrasi 10 cc/25 liter air. Selain itu, ia juga menambahkan 0,5 kg Urea ke dalam 25 liter larutan itu.

Hal berbeda dilakukan Budi Santoso, pekebun di Desa Bendo Tugurante, Kecamatan Ponggok. Nanas hanya dijadikan tanaman sampingan di kebun pepaya di kawasan hutan milik Perum Perhutani KPH Blitar. Kerabat bromelia itu ditanam di sela-sela pertanaman pepaya.

Meski hanya memanfaatkan tanah kosong di antara pertanaman pepaya, Budi tetap merasa untung. Malah, nanas ikut menggelembungkan penghasilan Budi. Harga per kg saat ini Rp300-Rp700 di lahan. Setiap ha dapat dihasilkan 10-20 ton dari nanas tumpangsari. Apalagi pemasaran tak sulit. "Agen langsung mengambil di lahan," papar Budi.

Kondisi Pasar Yang stabil

Nanas lucidus super
Nanas lucidus

"Dari sini saja tak kurang dari 20 truk dipasarkan setiap hari," papar Ny Purwadi, pedagang di Pasar Patok, Desa Sidorejo, Kecamatan Ponggok, Blitar. Sejak 1978 ia mengirim 5-10 truk/hari ke Surabaya, Semarang, Jakarta, dan Bali. Marni, pedagang lain, juga mengirim 2-5 truk/ hari ke Surabaya, Tuban, Pasuruan, dan Mojokerto.

Memang diakui Mami, permintaan nanas tak selamanya baik. "Pada musim hujan atau musim buah lain biasanya permintaan turun," papar pria yang telah 20 tahun berdagang nanas. Tak jarang mereka harus banting harga agar buah tidak menumpuk di pasar.

Contohnya April lalu saat Budidaya Tani berkunjung ke pasar itu. Saat harga jual di lahan petani Rp700/kg, Mami dan Ny Purwadi justru menjual dengan harga Rp500/kg saja. Itu pun tak semua diambil pembeli. Buktinya, di beberapa bagian pasar tumpukan nanas milik 13 pedagang grosir lain masih menggunung, menanti pembeli.

Taiwan kini mengembangkan nanas berkulit merah yang menarik dipandang mata. Nanas yang daunnya tidak berduri ini diduga keturunan dari Cayenne. Bentuk khas menyerupai ‘gentong’ dengan bobot 1,5 kg dan ‘mata’ pipih berwarna merah. Sayangnya, daging buah kuning pucat. Rasa asamnya juga masih terasa ‘menyedak’ bagi kebanyakan orang Asia yang menyukai rasa manis. Dalam simposium buah-buahan tropis di Pingtung, Taiwan, belum lama ini, nanas berkulit merah ini dipamerkan sebagai buah eksotik masa depan, la bakal menggusur popularitas nanas berkulit kuning.

Di Indonesia sendiri nanas berkulit merah sudah sulit dijumpai. Mungkin karena rasa daging yang sangat asam dan gatal. Contohnya nanas buaya yang dulu banyak dijumpai di sekitar Bogor sebagai tanaman pembatas pekarangan. Nanas berkulit merah lain seperti Ananas /ucidus lebih dikenal sebagai tanaman ornamental. Buahnya berukuran kecil dan mudah menghasilkan biji, la berpotensi sebagai bahan pemuliaan untuk menghasilkan hibrida-hibrida baru berkulit merah.