Sabtu, 06 Maret 2021

Varietas Jahe Cimanggu Dongkrak Hasil Panen Hingga 35 Ton/ha

Sebuah terobosan baru di bidang pertanian telah menciptakan varietas jahe yang menghasilkan panen yang mengagumkan. Di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) di Bogor, para peneliti telah berhasil mengembangkan varietas jahe gajah baru yang memiliki potensi hasil tinggi. 

Varitas ini dikenal sebagai Jahe Gajah Var. Cimanggu 1 [1]. Dalam uji coba dan pengujian, varietas ini mampu menghasilkan panen antara 17 hingga 35 ton per hektar, jauh melampaui produksi rata-rata sebesar 8 ton per hektar [2].

jahe cimanggu

Penelitian dan Pengembangan Jahe Gajah Var. Cimanggu 1

Proses pengembangan varietas jahe ini melibatkan tim peneliti terampil di Balittro, Bogor, yang terdiri dari Dr. Ir. Nurlianie Bernawie, Drs. M Hadad EA, Hobir BA, dan rekan-rekannya. Melalui pengumpulan, evaluasi, dan seleksi yang cermat, varietas jahe putih besar yang unggul ini, dikenal dengan nama Cimanggu 1, akhirnya tercipta [1].

Keunggulan dari varietas jahe Cimanggu 1 ini telah diuji dan terbukti di 13 lokasi di Indonesia, termasuk Sukabumi Selatan, Boyolali, Salatiga, Majalengka, Garut, dan Sumedang. Produktivitas tinggi dan kestabilan produksinya pada berbagai kondisi agroekologi menjadikan varietas ini sangat diharapkan oleh petani jahe di seluruh negeri [2].

Produktivitas Tinggi dan Keistimewaan Jahe Cimanggu 1

Menurut Dr. Ir. Nurlianie Bernawie, banyak faktor yang mempengaruhi tingkat produksi jahe, dan salah satunya adalah penggunaan bibit unggul berkualitas. Bibit yang berkualitas tinggi adalah kunci awal dalam menciptakan hasil panen yang melimpah [3].

Cimanggu 1 terbukti sebagai varietas dengan produktivitas yang tinggi. Setiap hektar lahan pertanian dapat menghasilkan minimal 17 ton rimpang jahe segar, bahkan mencapai angka maksimal sebesar 35 ton per hektar di Sukamulya, Sukabumi [3]. Jumlah ini jauh melampaui produksi maksimal varietas jahe lainnya yang hanya mencapai 8 ton per hektar.

Selain itu, rimpang jahe Cimanggu 1 memiliki berat yang lebih besar, berkisar antara 400 hingga 1.200 gram per rumpun. Ini merupakan peningkatan sekitar 300 hingga 400 gram jika dibandingkan dengan varietas jahe putih besar lainnya. Namun, kandungan asiri dalam jahe Cimanggu 1 tergolong rendah, sekitar 2 hingga 3%, lebih rendah 1 hingga 1,5% dibandingkan dengan jahe emprit dan jahe merah [2].

Optimalisasi Pertanian dan Keberhasilan Jahe Kapur

Sebuah varietas jahe lainnya yang menunjukkan potensi hasil yang tinggi adalah jahe kapur. Jahe kapur, yang juga dikenal sebagai varietas Ampel, dapat menghasilkan panen antara 7 hingga 12 ton per hektar. Rimpang jahe kapur memiliki daging berwarna putih kekuning-kuningan yang mirip dengan kapur, dan kandungan minyak asiri dalamnya juga cukup tinggi, yaitu sekitar 2,5 hingga 4% [4].

Namun, untuk mencapai hasil maksimal dari kedua varietas jahe ini, diperlukan optimalisasi teknik budidaya. Pengolahan tanah yang baik dengan pencangkulan yang tepat, pemupukan yang memadai, dan penggunaan bibit berkualitas menjadi kunci keberhasilan dalam budidaya jahe ini [4].

Teknik Budidaya Jahe Cimanggu 1 dan Jahe Kapur

Untuk mencapai hasil panen yang optimal, petani jahe perlu memperhatikan beberapa langkah budidaya yang penting. Pertama, pengolahan tanah yang baik dengan pencangkulan sedalam 5 hingga 7 cm sangat dianjurkan. Kemudian, berikan pupuk dasar berupa pupuk kandang sebanyak 20 hingga 40 ton per hektar. Selang 7 hari setelah penanaman, berikan pupuk tambahan seperti 400 kg urea, 200 kg KCl, dan 200 kg SP36 per hektar. Pastikan penggunaan bibit yang berkualitas dengan jarak tanam antara 40 cm x 60 cm. Diperlukan sekitar 1,5 hingga 3 ton bibit untuk setiap hektar. Waktu panen untuk kedua varietas ini adalah antara 180 hingga 360 hari setelah penanaman [4].

Meningkatkan Kualitas dan Jumlah Panen

Pengembangan varietas jahe unggul seperti Cimanggu 1 dan jahe kapur memberikan peluang baru bagi petani jahe di Indonesia. Dengan menggunakan bibit berkualitas dan mengoptimalkan teknik budidaya, petani dapat meningkatkan kualitas dan jumlah panen mereka. Selain itu, perkembangan dalam bidang pertanian ini juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan, mengurangi ketergantungan pada impor jahe, dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal [5].

Mendorong Kemajuan di Bidang Pertanian

Pencapaian dalam pengembangan varietas jahe yang menghasilkan panen yang lebih tinggi adalah langkah maju yang signifikan di bidang pertanian. Dengan meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman rempah lokal, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai produsen jahe terkemuka di dunia. Hal ini juga berpotensi meningkatkan daya saing produk jahe Indonesia di pasar internasional.

jahe gajah cimanggu

Kesimpulan

Dengan ditemukannya varietas jahe unggul seperti Cimanggu 1 dan jahe kapur, potensi pertanian jahe di Indonesia semakin terbuka lebar. Petani jahe dapat mengoptimalkan produksi mereka dengan menerapkan teknik budidaya yang tepat dan menggunakan bibit yang berkualitas.

Dalam hal ini, peran pemerintah dan institusi pertanian dalam mendukung penelitian dan pengembangan varietas tanaman rempah sangat penting. Dengan adanya inovasi dan peningkatan dalam sektor pertanian, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai produsen jahe terkemuka dan mendukung pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan petani lokal.

Untuk informasi lebih lanjut tentang varietas jahe Cimanggu 1 dan jahe kapur, serta teknik budidaya yang optimal, silakan kunjungi sumber-sumber berikut:

  • agroinfotek.wordpress.com: https://agroinfotek.files.wordpress.com/2011/04/varietas-tanaman-biofarmaka.doc
  • Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Repository: http://repository.uin-suska.ac.id/55751/2/SKRIPSI%20LENGKAP%20KECUALI%20BAB%20IV.pdf
  • Sriwijaya University Repository : https://repository.unsri.ac.id/66843/55/RAMA_54204_05091281823030_0008126701_01_front_ref.pdf
  • repository.uir.ac.id https://repository.uir.ac.id/12262/1/164110069.pdf

Selain itu, bagi petani jahe yang tertarik untuk meningkatkan produksi dan mengoptimalkan hasil panen mereka, kami menyarankan untuk berkonsultasi dengan para ahli pertanian dan bergabung dengan komunitas pertanian untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Document last updated at: Sabtu, 6 Mar 2021