Kamis, 08 April 2021

Kentang Atlantik: Solusi Terbaik untuk Budidaya Kentang di Dataran Menengah

Kentang Atlantik adalah jenis kentang industri yang sangat diminati oleh pabrik keripik saat ini. Varietas ini telah berhasil tumbuh dengan baik di ketinggian 300 m dpi. Dalam budidayanya, produksi kentang Atlantik dapat mencapai 15 hingga 21 ton per hektar, setara dengan kentang varietas pegunungan. Keunggulan lainnya adalah umur panen yang lebih singkat, hanya membutuhkan waktu 70 hingga 80 hari. Kabar baiknya, jenis kentang ini juga sangat cocok untuk ditanam di lahan dataran menengah.

Di daerah Gondanglegi dan Sumberpucung, Kabupaten Malang, para petani telah membuktikan keberhasilan budidaya kentang Atlantik sejak tahun 1997. Inovasi dalam teknologi budidaya di dataran menengah telah membawa kegembiraan tersendiri. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan lahan kering di dataran tinggi yang sangat terbatas, padahal kebutuhan akan kentang segar maupun olahan terus meningkat. Selain itu, lokasi penanaman di dataran tinggi sering kali jauh dari pusat pemukiman, sehingga biaya operasional menjadi lebih tinggi.

Kentang Atlantik memiliki waktu tanam yang terbatas di dataran menengah. Tanaman ini membutuhkan suhu minimum antara 15° hingga 18°C pada awal pembentukan umbi, yang hanya terjadi selama 2 hingga 3 bulan setahun. Berdasarkan pengamatan di Gondanglegi dan Sumberpucung, suhu minimum tersebut biasanya terjadi pada bulan Juni hingga Agustus. Oleh karena itu, periode terbaik untuk menanam kentang Atlantik di dataran menengah adalah antara bulan Mei dan Juli. Dengan demikian, saat tanaman berumur sekitar 1 bulan dan mulai membentuk umbi, suhu minimum yang diperlukan dapat tercapai dengan baik, terutama pada malam hari.

Budidaya kentang Atlantik di dataran menengah dapat dilakukan dengan metode monokultur atau tumpangsari. Disarankan untuk memilih lahan sawah atau tegalan bekas padi agar risiko serangan penyakit seperti layu bakteri dapat diminimalisir. Selain itu, lahan yang dipilih sebaiknya berada dekat dengan sumber air, sehingga proses penyiraman dapat dilakukan dengan mudah, sekitar 5 hingga 8 hari sekali selama masa penanaman.

Dalam pengamatan selama 3 tahun, penggunaan pestisida di dataran menengah dapat ditekan hingga sekitar 10%. Hal ini karena gejala serangan layu bakteri pada tanaman baru terlihat setelah tanaman berumur sekitar 30 hari atau setelah bunga muncul. Berbeda dengan di dataran tinggi, di mana tanaman dapat terserang sejak dini. Selain itu, serangan hama ulat juga jarang terjadi di dataran menengah.

Sebelum penanaman dilakukan, lahan bekas padi perlu dibajak atau dicangkul untuk memastikan pertukaran udara yang baik dalam tanah. Jika menggunakan pola tanam baris ganda (double row), bedengan dengan lebar 1,2 m dan jarak antar bedengan sekitar 50 cm dibuat. Sedangkan, pola tanam baris tunggal hanya membutuhkan guludan setinggi 50 hingga 70 cm dengan jarak antarguludan sekitar 70 hingga 80 cm.

Setelah bedengan atau guludan terbentuk selama satu atau dua hari, taburkan pupuk kandang secara merata di atasnya. Jumlah pupuk kandang yang diperlukan adalah sekitar 10 ton per hektar untuk kotoran ayam, 15 ton per hektar untuk kotoran kambing, atau 20 ton per hektar untuk kotoran sapi. Biarkan selama 2 hari sebelum membuat larikan. Selanjutnya, tanah dibiarkan selama minimal 2 minggu sebelum melakukan penanaman, hal ini bertujuan agar tanah benar-benar matang.

Pada saat penanaman, pastikan benih yang digunakan bebas dari penyakit, terutama penyakit layu bakteri. Bobot per umbi yang ideal adalah antara 35 hingga 50 gram. Jarak tanam dalam barisan sebaiknya sekitar 25 hingga 30 cm, sedangkan untuk pola tanam baris ganda, jarak antar baris sekitar 50 cm. Jika menggunakan pola baris tunggal, jarak antar baris tergantung pada jarak antarguludan sekitar 70 hingga 80 cm. Populasi tanaman per hektar dapat mencapai 50.000 hingga 52.000 tanaman, dan dibutuhkan sekitar 2 hingga 2,2 ton benih.

Penanaman benih sebaiknya dilakukan dengan kedalaman 5 hingga 7 cm. Oleh karena itu, pastikan umbi sudah bertunas dengan panjang sekitar 2 hingga 3 cm. Penanaman sebelum umbi bertunas dapat menyebabkan umbi busuk. Bersamaan dengan penanaman, taburkan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 1 ton per hektar. Untuk menghemat biaya, campuran 400 kg Urea, 400 kg SP-36, dan 200 kg KCl juga dapat digunakan.

Pupuk NPK diberikan secara bersamaan saat penanaman. Jika menggunakan campuran Urea, SP-36, dan KCl, berikan pupuk tersebut dalam dua tahap. Dosis sebanyak 2/3 diberikan saat penanaman, dan sisanya diberikan 1 bulan setelah penanaman. Pupuk ditaburkan di dalam larikan pada jarak 5 cm dari baris tanaman, kemudian larikan pupuk ditutup kembali dengan tanah.

Hari setelah penanaman, lahan perlu disiram air, namun pastikan benih tidak terendam. Kedalaman irigasi yang cukup adalah mencapai 30 cm atau 3/4 tinggi bedengan, untuk menjaga kelembapan tanah di bedengan. Namun, air tidak boleh tergenang. Pengairan dilakukan setiap 5 hingga 8 hari.

Pada umur 15 hingga 21 hari setelah penanaman, lakukan penyiangan pertama. Setelah itu, tebarkan mulsa jerami dengan ketebalan sekitar 3 hingga 4 cm. Kebutuhan jerami per hektar sekitar 5 hingga 6 ton.

Pada umur 30 hari setelah penanaman, atau saat tanaman mulai berbunga, dilakukan pembumbunan. Hal ini dilakukan untuk melindungi umbi agar tidak terkena sinar matahari secara langsung. Paparan sinar matahari dapat mengganggu pertumbuhan umbi dan menyebabkan umbi kehijauan (greening), yang dapat menurunkan kualitas umbi dan membuatnya tidak dapat dikonsumsi.

Setelah tanaman berumur 55 hingga 60 hari, pengairan tidak boleh dilakukan lagi. Pada saat itu, tanaman sudah mencapai masa penuaan umbi. Panen kentang dilakukan setelah 75 hari, ketika sekitar 60% daun sudah mengering. Jika ingin mempertahankan kualitas umbi, panen harus dilakukan maksimal dalam waktu 80 hari. Di atas usia 80 hari, umbi dapat pecah dan mengurangi kualitasnya.

Pemanenan dilakukan dengan cara mencangkul bedengan. Umbi yang telah dipanen dihamparkan di atas bekas bedengan dan dibiarkan terkena angin agar tanah lepas dari umbi. Umbi yang memiliki bobot di atas 60 gram dikemas dalam keranjang bambu dan dipasok ke perusahaan industri. Sedangkan, umbi dengan bobot di bawah 60 gram dapat dijual di pasar lokal atau digunakan sebagai benih.

Document last updated at: Kamis, 8 Apr 2021