Budidaya Tani

Ada Pasar untuk Puyuh Pedaging

Sepiring puyuh goreng ditemani lalap dan sambal tersaji di meja. “Ehm rasanya gurih, lebih enak daripada dara goreng. Tekstur lembut dan tidak alot'” komentar Fahmi saat mulai menikmati pesanannya. Di Yogyakarta menu puyuh alias gemak disukai kawula muda.

Menu puyuh gampang dijumpai sepanjang jalan Kaliurang, Bugisan, Wirobrajan, dan Bantul, menjelang malam. Tak kurang 200 warung lesehan berderet di kiri dan kanan jalan sepanjang 2 km. Harga satu porsi komplet hanya Rp3.000 sampai Rp3.500. Kelezatannya dijamin membuat lidah terus bergoyang.

Menjamurnya warung daging puyuh goreng seiring dengan meluasnya peternakan puyuh petelur. Di Yogyakarta yang dikenal sentra utama peternakan Coturnix coturnix japonica diperkirakan populasi puyuh petelur mencapai 1,5-juta sampai 2-juta ekor. Artinya, kalau masa produktif 12 bulan, 4.300 sampai 5.000 ekor diapkir setiap hari. Puyuh-puyuh inilah yang diserap warung-warung lesehan.

Menu Favorit Para Mahasiswa

“Semalam paling tidak habis 35 sampai 50 ekor,” kata Suwarto, pemilik warung Ojolali di Kaliurang, Yogyakarta. Pada hari-hari khusus seperti malam Minggu atau libur volume malah melonjak 2 kali lipat. Penikmat unggas bertubuh buntek itu sebagian besar para mahasiswa. Maklum,Jl Kaliurang berada di lingkungan kampus. kami menyaksikan deretan motor sangat panjang diparkir di depan warung-warung lesehan.

Menurut Suwarto, sejak 1990-an daging puyuh sudah dijajakan warung di sepanjang Jl. Kaliurang. Namun, waktu itu jumlahnya terbatas. “Dulu sekitar 30 buah, tapi kini meningkat 2 kali lipat,” ucapnya.

Lihat saja setiap jarak 10 m di kanan kiri jalan ditemukan warung penyedia daging puyuh goreng maupun bakar. Setiap warung rata-rata menghabiskan 40 ekor per malam.

Suasana serupa didapati di Jl. Mataram, dekat Malioboro, Yogyakarta. Yang duduk bersimpuh di hadapan sepiring nasi dan daging puyuh adalah para pelancong dari luar kota, dan warga sekitar. Ada sekitar 30 warung yang semakin ramai menjelang petang. “Kami mulai buka pukul 17.30 sampai pukul 24.00. Jika tidak habis disimpan untuk besok,” kata pemlik warung yang enggan disebut namanya. Ia menyebut angka 50 ekor setiap malam terjual.

Masuk hotel

Di Jawa Barat dan Jakarta meski belum ditemukan pusat penjualan khusus, tapi olahan puyuh banyak ditemukan di restoran dan hotel. Restoran Simpang Rawi, Bogor, misalnya, setiap hari tak pernah luput dari menu puyuh goreng. “Sejak 5 tahun kami melengkapi menu masakan sunda dengan puyuh goreng. Tidak banyak, paling 100 ekor per hari,” ungkap salah seorang pramusaji. Harga seekor puyuh lengkap dari kaki hingga kepala siap makan Rp4.000.

Ia mengatakan, peminat puyuh dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada saat perkenalan dulu paling sehari laku 10 ekor. “Sekarang di atas 100 ekor pun bisa. Cuma kita sulit dapat barang,” tuturnya. Selama ini pasokan puyuh datang dari 1 sampai 2 peternak sekitar Bogor. Itu pun sebetulnya bukan puyuh pedaging malainkan puyuh petelur yang diapkir.

“Saya kira daging puyuh mulai merambah hotel-hotel berbintang di Jakarta. Mereka sering menghubungi,” kata Ir Ekotomo H Santoso, peternak di Gadog, Bogor. Di Hotel-hotel berbintang makanan dari puyuh dikenal dangan nama wild menu. Daging puyuh disajikan utuh setelah dibumbui. Tarifnya untuk cailles roties aus trois fruits dan with sause abricot and drilled masing-masing Rp200.000. Sedangkan drilled quail ala Cina Rp60.000 per porsi.

Kurang pasokan

Ekotomo mengakui pasokan puyuh pedaging selama ini masih kurang. “Sebab tak ada yang beternak. Jika mengandalkan puyuh apkir tentu jumlahnya terbatas,” tambahnya. Sebagai gambaran, dari 30.000 puyuh petelur yang diternak ia hanya bisa memasok 100 ekor per hari. Sebelumnya malah 60 ekor karena puyuh masih produktif. Jumlah sebanyak itu hanya cukup untuk memasok 1 restoran.

Memang pada saat harga telur jatuh biasanya peternak segera mengapkir. “Kondisi itu tak membuat pasar banjir. Buktinya harga tetap stabil,” ucap Barokah, pedagang pengumpul di Desa Gulurejo, Kulonprogo, Bantul. Ayah dua anak itu setiap hari menampung 300 sampai 500 ekor. Ia mendistribusikan ke warung-warung lesehan di Patangpuluhan dan Kaliurang yang diperkirakan kebutuhannya mencapai 6.000 sampai 10.000 ekor/hari.

Barokah membeli puyuh dari peternak Rpl.l00/ekor. Unggas itu dijual ke warung lesehan Rpl ,500/ekor. “Lumayan masih ada untung setelah dipotong Rp200/ ekor untuk biaya tenaga kerja dan transpor,” ujar lelaki yang berdagang puyuh sejak 1998 itu. Ketika memulai usaha keuntungan lebih tinggi karena harga puyuh di peternak rendah. Dulu cuma Rp450/ekor, lalu naik menjadi Rp750/ekor pada 2000 sehingga Barokah masih bisa memasok rutin ke Jakarta 100 ekor per hari.

Prediksi Barokah harga puyuh akan terus naik sejalan harga pakan dan permintaan konsumen meningkat. Wajar, puyuh semakin sulit didapat sehingga pedagang berebut. “Sekarang saja saya harus menyiapkan di dalam freezer untuk kebutuhan 6 bulan. Kalau tidak, repot,” lanjurnya. Lemari pendingin bersuhu 12°C tak mengubah kualitas daging baik warna maupun rasa.

Rugi

“Puyuh petelur apkir dijual sebagai puyuh pedaging dengan harga Rp2.000 cukup menguntungkan. Itu artinya bisa menutup biaya pembelian DOQ dan pemeliharaan selama pembesaran hingga siap produksi,” kata Ekotomo. Sarjana Arsitektur itu bisa menjual puyuh apkir Rp2.000/ekor mungkin lantaran di Bogor belum banyak peternak dan langsung ke pengguna.

Jika puyuh dibesarkan khusus untuk pedaging? “Rugi,” ujar Tirto Hartono, peternak di Yogyakarta. Lelaki yang sudah lebih 20 tahun menggeluti puyuh itu merinci. Seekor puyuh menghabiskan pakan 640 g atau senilai Rp 1.400 selama pemeliharaan dari piyik hingga siap potong. Di tambah pembelian DOQ jantan Rp50.

Total biaya dengan ongkos produksi tenaga kerja,penyusutan kandang, dan bunga bank mencapai Rp 1.600 sampai Rp 1.800/ ekor.Selain itu, pemilik warung menyukai yang apkir karena daging puyuh tua lebih kenyal. Sedangkan puyuh jantan muda amat lembut sehingga gampang hancur. Kecuali puyuh jenis pedaging unggul yang dikembangkan Ronny Budhisastra di Semarang. Puyuh yang didatangkan dari Belanda itu, “Bongsor dan sosok besar. Pada umur 37 hari berbobot 220 g, padahal lokal 160 g,” papar Ronny.

Ronny yang mantan peternak puyuh petelur membesarkan hingga umur 45 hari sesuai keinginan konsumen. Bobotnya mencapai 300 g/ekor. Sayang, karena sosok besar inilah orang menyangka burung dara sehingga agak menghambat pemasaran. ’’Gara-gara itu, pasar Jakarta yang sempat dirambah terhenti,” sesal Ronny.

Oleh karena itu Ronny kini harus puas memasok pasar Semarang dan sekitar yang hanya mampu menyerap 300 ekor per minggu. Mau tidak mau ia harus bergerilya lebih giat untuk memperluas pasar. Sebab, sekalipun burung puyuhnya lebih enak, soal harga mesti bersaing dengan puyuh lokal. Ia melempar puyuh londo itu Rp5.000/ekor.

Pandu Dwilaksono