Budidaya Tani

Agar Minyak Jahe Layak Ekspor

Salah satu eksportir minyak asiri terbesar di Jakarta terpaksa harus kecewa. Pasalnya, “Sampel minyak jahe yang saya kirim ditolak calon pembeli di Amerika Serikat,” keluh eksportir yang enggan disebut namanya itu. Alasannya, kualitas minyak tak memenuhi standar. Padahal, pria paruh baya itu telah menampung banyak minyak jahe sulingan rakyat.

Tawar menawar tidak berlaku dalam hal standar mutu produk ekspor, termasuk minyak jahe. Standar mutu yang ditetapkan pembeli sebagai syarat mutlak yang harus dipenuhi eksportir. Essential Oil Association of USA (EOA) misalnya, menetapkan warna minyak kuning muda sampai kuning. Berat jenis pada 25°C berkisar 0,871 sampai 0,882 dan putaran optik -28° 45°

Indeks refraksi pada 20°C berkisar 1,488 sampai 1,494, bilangan penyabunan maksimal 20, serta larut dalam alkohol dengan sedikit keruh.

Pusat Standarisasi dan Akreditasi Departemen Pertanian telah mengeluarkan standar mutu minyak jahe yang tertuang dalam SNI 06-1312-1998. Menurut Ir Sofyan Rusli, pakar minyak asiri dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor, ada banyak faktor yang mempengaruhi kualitas minyak jahe. Selain jenis jahe dan kondisi rimpang, teknik penyulingan juga mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil.

Jenis jahe

Meski semua jenis jahe baik emprit, merah, maupun gajah mengandung minyak asiri, tidak semua disarankan untuk dijadikan bahan baku penyulingan. “Rendemen minyak asirinya harus dipertimbangkan,” papar Sofyan Rusli. Sebab, penyulingan baru efisien bila rendemen minyaknya di atas 2%.

Hasil penelitian Balittro membuktikan, rendemen tertinggi terdapat pada jahe merah yang mengandung 3,9% minyak. Jahe emprit memiliki rendemen 3,26% dan jahe gajah hanya 1,9%. Oleh karena itu, jahe gajah sebaiknya tidak dipakai.

Penggunaan jahe emprit sebagai bahan baku lebih menguntungkan. Selain kadar minyak asirinya tinggi, harga rimpangnya juga cukup murah. Pemakaian jahe merah kurang dianjurkan meski berkadar minyak paling tinggi. Harga rimpang jahe merah yang jauh lebih tinggi dibanding jenis jahe lain bakal mempengaruhi keuntungan.

Penggunaan rimpang sesuai umur panen menentukan kualitas dan rendemen minyak. Jika dipanen muda, rimpang memiliki rendemen tinggi, mencapai 5,6%. Sebaliknya, panen tua rendemen hanya mencapai 2 sampai 3,2%. Namun, kendati memiliki rendemen tinggi, jahe muda sebaiknya tidak disuling.

Sebab, kandungan zingiberol dan zingiberen pada jahe muda masih rendah. Padahal, kedua komponen kimia itu juga menjadi indikator penting dalam penentuan kualitas dan harga jual.

Perlakuan bahan

Untuk memperoleh minyak jahe bermutu tinggi, rimpang perlu diperlakukan secara khusus sebelum disuling. Rimpang dibersihkan dari akar dan tanah, lalu diiris dalam bentuk slice dan dikeringkan.

Jangan dikupas karena kandungan minyak asiri pada jaringan bawah kulit cukup tinggi. Penelitian Balai Besar Industri Hasil Pertanian (BBIHP) Bogor membuktikan, rimpang yang tidak dikupas menghasilkan rendemen 2,4 sampai 3,6%; dikupas hanya 1,9 sampai 3,0%.

Pengirisan dimaksudkan untuk membantu proses difusi minyak dari jaringan dan mempercepat proses pengeringan. Pengeringan cukup dilakukan dengan cara dikeringanginkan selama 7 sampai 10 hari. Penjemuran langsung di bawah sinar matahari menyebabkan rendemen minyak banyak berkurang akibat penguapan.

Pengeringan dapat juga dilakukan dengan oven, asal kondisi irisan tidak sampai mengkerut. Jika mengkerut jaringan tanaman lebih rapat sehingga minyak asiri sulit keluar. Efeknya, minyak yang dihasilkan berkurang. Untuk mendapatkan rendemen tertinggi kadar air rimpang sekitar 10 sampai 12%. Sebelum disuling irisan rimpang dihancurkan terlebih dahulu.

Rimpang dapat juga disuling segar tanpa pengeringan. Setelah dibersihkan, rimpang digiling kasar atau digeprak lalu dimasukkan ke dalam ketel penyulingan. PT Jasulawangi membuktikan, rendemen minyak dari jahe segar bisa lebih tinggi.

Dengan bahan baku jahe putih lokal pun menghasilkan rendemen 0,2%, setara 2% jika dikeringkan. Bahan baku rimpang segar untuk jenis lain seperti jahe emprit atau jahe merah menghasilkan rendemen 2,7 sampai 4%.

penyulingan minyak jahe
Jahe putih lebih murah

Teknik penyulingan minyak jahe

Yang juga menentukan rendemen adalah teknik penyulingan. Hasil penelitian menunjukkan, metode penyulingan dengan uap langsung bertekanan 8 atmosfir selama 16 sampai 36 jam menghasilkan rendemen tertinggi dan kualitas minyak terbaik. Teknik lain, penyulingan dengan air dan uap (metode kukus) selama 15 sampai 20 jam.

Sedangkan penyulingan dengan air atau metode rebus tidak baik karena bahan kontak langsung dengan air. Kandungan pati yang cukup tinggi pada rimpang jahe menyebabkan bahan menjadi bubur dan menyulitkan proses penyulingan.

Gunakan ketel dengan perbandingan diameter dan tinggi efektif 1 : 1,5 agar aliran uap berlangsung sempurna. Pipa pendingin terbaik menggunakan sistem multitubular. Pada sistem ini sejumlah pipa destilat disusun paralel dalam tabung kondensor supaya kontak antara pipa destilat dan air pendingin bisa maksimal.

Dengan cara itu proses pendinginan dapat berlangsung sempurna. Kemungkinan hilangnya minyak karena uap panas dapat dihindari. Ketel dan pipa destilat berbahan stainless steel menghasilkan minyak yang jernih dan tidak mengandung besi. (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment