Alat Kocor Pupuk Hemat 75% Tenaga Kerja

mesin pupuk
Dirangkai dengan turbin, power sprayer dan wadah larutan

Apakah Anda ingin memupuk secara cepat, tepat dan hemat? Alat pengocor pupuk karya A.F. Kushianto, pekebun di Jember, jawabnya. Memupuk cabai seluas satu hektar bisa selesai dalam waktu enam jam hanya dengan lima orang. Dosisnya bisa tepat 100 cc/tanaman, sesuai kebutuhan.

Pemupuk cabai, tomat atau terung di atas mulsa plastik bukan pekerjaan mudah. Lubang plastik yang besarnya terbatas, membatasi kecepatan gerak. Jika tidak hati-hati, banyak larutan pupuk terbuang percuma.

Itulah sebabnya dengan cara konvensional kebutuhan tenaga kerja pemupukan cukup tinggi, “Mencapai 20 HKP (hari kerja pria). Bahkan dari jam 7 pagi sampai 4 sore kadang belum selesai,” ungkap Kushianto. Cara konvensional yang banyak dipakai ialah mengucurkan larutan pupuk menggunakan cangkir plastik.

Mirip tongkat

Pengocor pupuk bentuknya mirip tongkat, terbuat dari logam antikarat. Panjangnya tidak lebih dari 80 cm. Di bagian ujung yang lancip bagai peluru ada tiga buah mata nozel. Sementara di pangkal terdapat kran pembuka dan penutup yang mengatur masuknya pupuk.

Alat ini dihubungkan selang panjang ke wadah (drum plastik) berisi larutan pupuk melalui power sprayer. Penggerak power sprayer adalah motor diesel. Ketika kran dibuka cairan pupuk akan memancar deras karena tekanan dari power sprayer.

“Penggunaannya sangat praktis. Ujung tongkat cukup ditancapkan kedalam tanah di antara tanaman. Selanjutnya kran dibuka beberapa detik, lalu ditutup lagi setelah mencukupi kebutuhan,” jelas Kushianto. Di lapangan, aplikasi alat pengocor melibatkan paling sedikit tiga orang pekerja.

Seorang bertugas sebagai operator mesin disel dan melarutkan pupuk. Seorang menarik ulur selang, dan lainnya memupuk. Pemupuknya sendiri bisa lebih dari satu orang asal selang dibuat bercabang.

Kushianto memakai selang berkualitas baik. Selang biasa cepat pecah karena tekanan tinggi. Termasuk di dalamnya ring sambungan, jangan yang “murahan”. Sedangkan power sprayer tidak perlu yang bertekanan tinggi sampai 50 bar sebagaimana dipakai Kushianto.

Tekanan 10 bar pun, kelebihan volume hisapannya masih bisa dimanfaatkan untuk mengaduk larutan. “Jadi memang dengan rangkaian alat pengocor, pupuk bisa terlarut dengan baik tanpa harus diaduk langsung,” kata Kushianto.

Hitungan kelima

Larutan pupuk vang disemburkan dari alat pengocor akan meresap secara horizontal ke segala arah lahan pertanian. “Dampaknya, akar bisa lebih cepat menjangkaunya sehingga dalam waktu 3 hari pengaruh pupuk sudah tampak,” aku Kushianto.

Radius resapan ini dipengaruhi jenis tanah dan tekanan yang diberikan dari power sprayer. Tanah berpasir dengan tekanan 10 bar radius serapannya sekitar 20 cm; tanah aluvial, hanya 10 cm.

Radius resapan 20 cm untuk cabai yang berjarak tanam 70 cm x 60 cm atau 70 cm x 50 cm sudah efektif. Juga untuk terung, melon, dan tomat yang perakarannya panjang seperti cabai, memakai tekanan 10 bar. Kalau bawang yang berjarak tanam 22,5 cm x 22,5 cm, cukup 5 bar.

Komoditas yang ditanam lebih lebar bisa distel tekanan lebih besar, atau memperpendek jarak kocor dengan pangkal batang. Namun, konsekuensi tekanan besar, kekuatan selang, dan pipa pengocor harus yang benar-benar kuat.

Kedalaman pengocoran juga dibedakan untuk masing-masing komoditas. Cabai, tomat, terung dan melon yang perakarannya relatif dalam, mata alat pengocor harus menancap sekitar 8 cm dari permukaan tanah. Bawang yang akarnya dangkal cukup 3 cm.

“Di bagian ujung pengocor dipasang pembatas yang bisa digeser naik atau turun supaya kedalaman bisa seragam. Pembatas ini dijamin tidak merusak mulsa plastik karena dialasi karet yang sedikit lentur,” papar pekebun yang mengelola lahan sayuran seluas tujuh hektar.

Lamanya pengocoran sesuai dosis. Untuk menakar dosis, biasanya Kushianto berpatokan pada pengalaman. Misalnya, 100 cc atau 10 gram/tanaman, kran hanya dibuka sampai hitungan lima sebelum ditutup dan pindah ke tananaman berikutnya.

Jika perlu 200 cc/tanaman, dengan tekanan 10 bar hitungannya sampai sembilan. “Alat ini lebih akurat dibanding pemupukan konvensional yang umumnya asal-asalan kala tenaga kerja sudah lelah,” bandingnya. Apalagi alat yang belum ada di pasaran ini bisa dimanfaatkan untuk mensuplai oksigen di dalam tanah guna memperbaiki fisika tanah.