Anggrek Bandung Borong Gelar

Bulbophyllum fletcherianum milik Rizal Djaafarer, penganggrek kawakan asal Bandung terpilih sebagai grand champion. Ia mengungguli Dendrobium Mildred Kazumura Anching Lubag milik Moling Simardjo. Anggrek pemilik Sien Orchids itu meraih The Best of Hybrid dalam Lomba Anggrek East Java Orchid Show (EJOS).

“Di mana istimewanya?” lontar seorang pengunjung ketika menyaksikan sosok peraih grand champion. Kalau Anda menyaksikan, mungkin akan berpendapat sama. Bulbophyllum fletcherianum yang tampil di Section 17 Class 65 itu hanya memamerkan daun rimbun panjang menjuntai.

Bunga besar berwarna merah tua dan berbulu yang dimilikinya justru “bersembunyi” di balik pot, di antara daun-daun tebal.

Meski terkesan jelek bagi orang awam, tapi M. Hasan Cahyanto, pemilik H & W Orchids, Jakarta justru menjagokan. “Tanamannya sehat dan rimbun. Susunan bunga kompak sekali,” nilai Hasan yang meraih The Best Section Oncydium untuk Odontocydium arthur alle miliknya.

Alasannya, anggrek spesies sulit dirawat, apalagi dibungakan. Oleh karena itu, meski banyak yang berbungaf erah, lebat, dan indah, sejak awal ia memprediksikan bulbo milik Rizal bakal memenangkan lomba.

Syahrizal Siregar, pemilik Regar Orchids di Ciwidey, Bandung juga berpendapat serupa. Menurutnya, anggrek spesies kualitas tinggi sulit diperoleh. Oleh karena itu, jika bulbo milik Rizal tampil dengan kualitas prima, ia layak meraih nilai tinggi.

Tampaknya, kepiawaian pemilik dalam merawat tanaman itu membuat sebagian besar juri yang dipimpin Syek Yusof Alsagoff, Direktur Orchid Society of South East Asia (OSSEA) memberi penilaian lebih.

“Membungakan dendrobium, phalaenopsis, dan anggrek silangan lain kini sudah biasa,” kata Alsagoff ketika diminta komentarnya. Berbeda dengan Bulbophyllum fletcherianum, tak semua penganggrek sanggup membungakannya. Karena itu Alsagoff berpendapat, “Pemiliknya layak mendapat penghargaan.”

Contents

Borong gelar

Sebelum mencapai puncak tangga juara, bulbo milik Rizal terlebih dahulu meraih juara kelas. Setelah itu merebut The Best of Section, mengungguli para juara kelas lain di seksi 17. Termasuk anggrek macan, Grammatophyllum scriptum.

Sukses meraih best section ia diadu lagi dengan best section lain. Termasuk dengan Dendrobium antennatum, yang terbaik di seksi lain.

Di tahap itu kelompok juri yang dipimpin DR. Kiat Tan dari Singapura sepakat memilih anggrek berbunga singkat itu sebagai spesies terbaik. Di tahap akhir bulbo meraih grand champion mengalahkan 320 kontestan asal Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Taiwan.

Atas prestasinya, ia berhak memborong piala dan penghargaan. Selain piala grand champion, bulbo berumur sekitar 10 tahun tersebut memperoleh Piala Menteri Pertanian untuk best of spesies, tropi AesZ section, dan medali emas untuk Juara I di kelasnya. Sedangkan Rizal Djaafarer, pemiliknya, menjadi pemelihara terbaik dan memperoleh certificate of culture merit award dari OSSEA.

Regar Rembulan

Selain kategori show judging yang menilai penampilan tanaman dan bunga secara utuh, lomba ini juga menggelar award judging. Dari tangkai bunga terbaik diambil 3 kuntum sempurna. Kemudian dilakukan penilaian untuk menentukan kategori award.

Paphiopedilum hangianum “Regar Rembulan” milik Syahrizal Siregar, juga asal Bandung, mendapat nilai tertinggi 79 dan meraih penghargaan high commendation certificate. Piala tetap Menteri Kehutanan akhirnya ikut pula diboyong ke Bandung.

Selain Paphiopedilum hangianum, Dendrobium ricky sie x helix milik Moling, dan Grammatophyllum scriptum Sp. milik Handojohardjo Orchids juga meraih penghargaan HCC. Dua penghargaan lain di atas HCC, yaitu first commendation class (FCC) dan award of merit (AM) tak dapat diraih para kontestan.

Menurut Wirakusuma, Ketua Bidang Lomba EJOS 2001, penilaian award pertama kali dilakukan di Indonesia. “Meski terlambat, ini menjadi awal yang baik menghadapi persaingan di pasar global,” papar Wira.

Sebab, penilaiannya bukan melihat semarak tanaman pada saat kontes, tetapi menitikberatkan pada potensi genetik. Hasilnya menjadi rekomendasi yang diakui dunia sebagai calon induk unggulan.

Secara keseluruhan dari 5 piala yang disiapkan panitia, PAI Bandung berhasil merebut 3 piala. Piala Gubernur Jawa Timur diberikan kepada dendrobium peraih the best hybrid milik Moling Simardjo yang juga Ketua Umum Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI). Sedangkan Mokara Sayan x V. Rasri Gold milik Mr. Chua Tian dari Singapura yang menjadi best of commercial cut flower menggaet Piala Bupati Pasuruan.

Sebagai wujud kepedulian terhadap anggrek Indonesia, Menteri Kehutanan Marzuki Usman yang membuka EJOS  menyempatkan diri menyilang Dendrobium “Cinta Aceh” dan Dendrobium “Cinta Papua”. Jika berhasil PAI akan menamakan hibrida itu sebagai “Dendrobium Indonesia Bersatu”. (Fendy R. Paimin)

Perjuangan Yang Tak sia sia

Untuk bertengger di puncak tangga juara ternyata tak mudah. Rizal Djaafarer contohnya, harus melewati perjuangan berat dan berliku untuk mengantarkan Bulbophyllum fletcherianum ke tangga juara.

Bagi Rizal, kemenangan itu merupakan anugerah. Pasalnya, Bulbophyllum fletcherianum tak setiap saat berbunga. Selama 9 tahun di tangannya, anggrek spesies asli Irian itu baru 3 kali berbunga. Bila berbunga pun, hanya bertahan seminggu.

Rizal sempat nervous memikirkan cara aman membawa ke arena lomba di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan. Apalagi sosok tanaman cukup besar sehingga harus dimasukkan ke gerbong bagasi KA ketika diberangkatkan dari Bandung. Untung saja, bunganya cukup tahan di dalam ruangan panas meski kondisi tanaman kurang segar setiba di lokasi.

Bulbophylum fletcherianum grand champion
Bulbophylum fletcherianum, dinobatkan sebagai grand champion

Sebelum lomba, Rizal segera memulihkan kondisi tanaman. Pemilik Rizal’s Orchid itu mengatur sendiri penempatan tanaman di ruang lomba. Alasannya, kalau dikerjakan orang lain, boleh jadi mereka akan meletakkan begitu saja di atas meja dengan daun terlipat.

Kalau sudah begitu, “Jangankan dapat nominasi, dilirik juri pun tidak,” jelasnya. Saat peserta lain masih terlelap pada pukul 11 malam, Rizal sudah berada di ruang pajang. Tanaman diletakkan di atas bangku penyangga yang sudah disiapkan. Lalu mulailah ia mengatur posisi daun hingga menjuntai bebas. Tanaman pun tampil menawan memancar kesan subur, segar, dan kompak sehingga “mencuri” perhatian juri.

Tiga bulan

Rizal sudah mempersiapkan tanamannya sejak 3 bulan sebelum lomba. Dari 200 bulbo miliknya, ia hanya memilih 1 tanaman paling subur dan prima.

Tanaman terpilih lalu dirawat khusus. “Yang terpenting adalah bagaimana mengkondisikannya hingga memenuhi persyaratan lingkungan,” jelas Rizal. Menurut kolektor anggrek spesies itu, selain butuh air cukup, temperatur ideal, kelembapan sesuai, dan pengaturan cahaya menjadi kuncinya.

Tanaman terpilih ditempatkan di tempat agak teduh dengan intensitas cahaya matahari 35%. Selain penyiraman 2—3 hari sekali pada musim hujan atau setiap hari di musim kemarau, tanaman dipupuk seminggu sekali dengan pupuk organik cair. Dosisnya 2 cc/liter.

Satu bulan menjelang lomba, intensitas cahaya matahari ditingkatkan menjadi 40% untuk merangsang keluarnya bunga. Frekuensi pemupukan juga ditingkatkan menjadi 2 kali seminggu dengan dosis 2 cc/liter

setiap aplikasi. Dengan perlakuan itu kondisi tanaman menjadi sangat prima, dan akhirnya berbunga menjelang lomba.

Saat lomba berlangsung, tanamannya baru 4 hari berbunga. Kualitas bunga prima, warna tegas, dan tersusun kompak. Sebagai sentuhan akhir, ia membuat bangku khusus sehingga daun panjang bebas menjuntai.

Tak berlebihan jika Rizal dinobatkan sebagai Pemelihara Terbaik (Certificate of Culture Merit). Sebab, perjuangannya telah mengantar Bulbophyllum fletcherianum meraih gelar grand champion dalam EJOS tahun ini.

Halaman terakhir diperbaharui pada 26 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.