Budidaya Tani

APEL CINTA PALING GRES

Varietas tomat terus diperbaiki demi produksi maksimal, tahan serangan penyakit dan hama, serta bercita rasa lezat. Enam sosok di antaranya kini menjadi pilihan pekebun. Kehadiran pomme d’amour alias apel cinta teranyar itu kian menyemarakkan pasar. Mereka unggulan lokal, hibrida hasil seleksi, dan asal Jepang.

Umbul-umbul, leaflet, dan spanduk bertuliskan “Tomat Kaliurang” terpampang di depan puluhan kios di Yogyakarta, lengkap dengan segudang keunggulannya. Tomat lokal asal kawasan wisata Kaliurang, Yogyakarta, itu berpotensi hasil tinggi, 40 sampai 60 ton/ha dan tahan simpan 21 hari.

Tomat kaliurang mungkin tak sepopuler TW atau tomat cherry. Namun, bagi pekebun di seputaran Yogyakarta, ia menjadi idola, dan sudah lama dikembangkan. Tak heran jika di kios-kios pertanian banyak dijual.

Sudah dirilis

Tomat kaliurang diminati pekebun lantaran, “Tanamannya bandel dan tahan penyakit,” papar Ir Martapa Indria Wiweko. Pengawas benih tanaman pada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Daerah Istimewa Yogyakarta, itu menilai, tomat kaliurang tahan serangan penyakit layu bakteri Pseudomonas solanacearum dan busuk akar Fusarium oxysporum.

Meski varietas lokal, tanaman adaptif di ketinggian 100 sampai 850 m dpi itu memiliki banyak keunggulan. “Kualitas dan kuantitas produksinya tak kalah dibanding tomat hibrida unggulan,” papar Indra, panggilan akrab Martapa Indria.

Tomat kaliurang berbobot 110 sampai 175 g/ buah. Bentuk bulat, seragam, buah masak berwarna jingga sampai merah. Daging buah tebal, rata-rata 0,75 cm. Tekstur daging kurang berair, padat, dan keras. Cocok untuk transportasi jarak jauh.

Tomat lokal yang dikembangkan BBI Hortikultura Ngipiksari, Pakem, Sleman, itu mulai dipanen sejak umur 90 sampai 100 hari setelah tanam dengan periode panen 6 sampai 8 kali selama 2 bulan. Potensi hasil 2 sampai 3,5 kg/tanaman, setara dengan tomat hibrida yang berkisar 40 sampai 60 ton/ha.

Varietas Idola baru

Pekebun juga mempunyai pilihan lain berupa idola. Varietas baru itu merebut hati banyak pekebun di Pujon dan Wajok, keduanya di Malang, serta Garut dan Lembang, Bandung.

Potensi hasil 65 ton/ha menjadi alasan pekebun mengembangkannya. Di lapangan tomat hibrida itu menghasilkan hingga 12 tandan, masing-masing digelayuti 8 sampai 10 buah. Ia mulai dipanen 60 hari setelah tanam dengan interval 2 kali seminggu. Pemanenan 15 sampai 20 kali hingga tanaman berumur 90 sampai 100 hari.

Selain warna buah sangat menarik merah cerah mengkilap saat masak ia tahan simpan hingga lebih dari 14 hari. Ukuran buah besar dan seragam, 80 sampai 90 g/buah. Daging keras, padat, renyah, dan manis.

Idola tahan busuk daun, layu bakteri, dan fusarium. Ia paling cocok ditanam di dataran menengah dan tinggi, dari 500 sampai 1.300 m dpi. “Di luar ketinggian itu pertumbuhan dan perkembangannya kurang optimal,” papar Zaenuri dari Tanindo Subur Prima.

Tomat jepang

Selama ini momotaro, satu-satunya tomat jepang yang dibudidayakan di Indonesia. Ia bakal punya pesaing baru. Tomat jepang teranyar itu dikembangkan PT Saung Mirwan, produsen sayuran di Ciawi, Bogor. Benih tomat yang ditanam di rumah kaca itu didatangkan dari Jepang pada Januari 2004.

Lantaran tidak diketahui varietasnya, ia dinamakan tomat Meski masih dalam tahap ujicoba, hasil panen 200 tanaman diminati konsumen. Warna buah merah muda mengkilap sangat menggiurkan. Ukuran buah 150 sampai 200 gram. Daging buah tebal, padat, dan manis. Kadar air tinggi. Di dalam cold storage ia tahan seminggu.

Menurut Bambang Siswantoro dari Saung Mirwan, tomat bertipe indeterminate itu cocok ditanam di dataran menengah sampai tinggi. Di lahan Saung Mirwan, “Setiap hari dipanen 20 sampai 25 kg dari 200 tanaman,” papar Bambang. Masa panen 15 minggu sejak pemetikan perdana umur 60 hari. Sayangnya, ia rentan defisiensi kalsium yang membuat penampilan luar buah mengering dan membusuk.

Cosmonaut Volkov Tomato

Varietas dataran tinggi itu diminati banyak pekebun di Jawa Barat dan Jawa Timur, terutama di daerah berketinggian di atas 1.100 m dpi. Beberapa daerah penanaman di antaranya Garut dan Lembang di Jawa Barat serta Pujon, Malang, di Jawa Timur.

Cosmonot berbunga 24 hari setelah tanam. Panen perdana umur 60 sampai 65 hari setelah tanam. Buah bulat lonjong, warna merah mengkilap. Ukuran buah sedang hingga besar, 65 sampai 90 g/buah. Daging buah tebal, padat, dan manis.

Vigor tanaman bertipe semi intermediate itu kokoh. Batang dan percabangan utama besar dengan diameter 1,5 cm. Ia tahan penyakit hawar daun. Produksi 3 sampai 5 kg/tanaman, atau 60 sampai 70 ton/ha.

Untuk pekebun di dataran rendah hingga menengah, kafila yang diproduksi oleh PT Seminis Vegetable Seed Indonesia bisa jadi pilihan. Keistimewaan kafila, ukuran buah besar, 80 sampai 90 g per buah, tomat dataran rendah lain rata-rata berbobot 60 g.

Di dataran rendah ia dipanen 95 hari setelah tanam, di dataran medium lebih lama 6 hari. Potensi hasil mencapai 3,5 ton per ha. Ia pun toleran terhadap serangan layu fusarium.

Timat cosmonaut
Timat cosmonaut tanpa biji

Buah berbentuk oval itu berkulit tebal dan keras sehingga tahan simpan hingga 40 hari. Kafila bercitarasa sedikit asam itu cocok sebagai tomat olahan. Tomat dengan tipe pertumbuhan determinate itu cocok ditanam di musim hujan maupun kemarau.

Tomat Sahara

Satu lagi tomat keluaran PT Seminis. Sahara ditujukan untuk penanaman di dataran medium hingga tinggi. Keistimewaannya, buah tak mudah retak, “ini jadi kendala besar bagi pekebun di sentra Jawa Barat,” tutur Ir Agus Setiyono, sales manager PT Seminis. Tingkat kerusakan akibat buah pecah pada musim hujan mencapai 40% di dataran menengah; dataran tingi, 90%.

Potensi produksi tomat berbentuk oval itu mencapai 3,5 ton per ha. Buah mulai dipetik 90 hari setelah tanam di dataran menengah. Di dataran tinggi lebih lambat 35 hari. Bobot buah mencapai 120 g, kulit tebal dan elastis sehingga tidak mudah lecet ketika berbenturan. Tomat yang cocok untuk dikonsumsi segar maupun olahan ini tahan simpan hingga 2 minggu di dalam suhu kamar. (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment