Aquarama: Selayang Pandang

It’s your gateway to worldwide ornamental fish industry. Itulah slogan yang didengungkan panitia penyelenggara Aquarama, Singapura.

Kegiatan dibuka tepat pukul 11.00 oleh Dr Ngim Tong Tau, Chief Executive Officer Agrifood & Veterinary Authority of Singapore (AVA).AVA adalah lembaga yang menetapkan lisensi kelayakan ekspor bagi eksportir Singapura. Acara pembukaan berlangsung meriah terutama saat ketua membagikan piala kepada para grand champion lomba ikan yang diselenggarakan sehari sebelumnya.

Acara yang berlangsung 31 Mei sampai 3 Juni itu memang mendapat perhatian luas. Mulai dari eksportir-importir, penangkar, penyedia pakan dan aksesori ikan hias. “Aquarama selalu menjadi ajang bisnis, lomba, dan pameran teknologi yang berhubungan dengan ikan hias,” jelas Foo Ching Loon, ketua Asosiasi Eksportir Singapura.

Lengang

Karena termasuk even penting di luar Interzoo di Jerman, banyak eksportir Indonesia menyempatkan hadir. Tercatat nama eksportir besar seperti Johannes Widjaja, Jap Khiat Bun, Thedy Gunawan, serta Iwan Dharmawan. Itu belum termasuk rombongan dari Dinas Perikanan, Balai Karantina Bandara Sukarno-Hatta, Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) serta beberapa hobiis. Tujuannya, “Untuk evaluasi, bahan banding dan acuan sejauh mana perkembangan industri perikanan,” ungkap Iwan, direktur Tropical Fish Indonesia.

Pengunjung dari negara lain pun terlihat cukup banyak dengan beragam kepentingan. Johnny A Ekwere misalnya,pria pengusaha asal Nigeria itu sengaja datang untuk melihat perkembangan ikan hias di Asia. “Jika suka, saya akan beli,” ucapnya. Lain dengan Jonathan A Rao, Chief Executive Pescina Indica, eksportir ikan hias asal India, la sengaja datang untuk mencari pembeli. “Kami datang untuk menawarkan produk unggulan kami,” jelasnya.

Dari pengamatan Kami, pengunjung dari tuan rumah sendiri sedikit. Bahkan sampai menjelang penutupan tidak menunjukan peningkatan berarti. Indikasi itu terliljat dengan lengangnya suasana pameran. Kebalikan dengan data panitia pada Aquarama 1999. Sejumlah 4.516 pengunjung dari 68 negara hadir.

Singapore expo

Sejak awal digelar pada 1989, even itu selalu berlangsung di World Trade Centre di kawasan antara Telok Blangah dan Tanjong Pagar. Namun, pindah ke Singapore Expo. Gedung yang dibangun dengan biaya S$220 miliar itu berada di kawasan Changi. Lokasi itu sengaja dipilih agar seluruh kegiatan pameran terkonsentrasi di sana. Transportasi pun mudah karena dekat Bandara Internasional Changi.

“Dari luas gedung dan peserta lomba ini yang terbesar,” ungkap Kelly Cho panitia dari Miller Freeman Pte Ltd, pengelola acara tersebut. Ukuran gedung lebih luas 20% dibanding World Trade Centre. Ikan yang dikonteskan tercatat 13 jenis. Padahal pada Aquarama sebelumnya, hanya 6 sampai 8 jenis yang dipertandingkan.

Jumlah peserta Aquarama terdaftar tidak kurang dari 100 perusahaan dari 20 negara di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Sebagian besar membuka stand di ruangan seluas 10.000 m2 dengan uang sewa S$550/m2. Dari Indonesia hanya 2 perusahaan yang membuka stand, CV Cahaya Baru dan PT Harlequin Aquatic.

Selama Aquarama berlangsung, tidak hanya pameran saja yang digelar. Seminar dan kunjungan ke beberapa farm di kawasan Lim Chu Kang pun ditawarkan panitia. Untuk setiap sesi seminar peserta yang berminat ditarik bayaran S$4 (1 S$= ±Rp6000, red). Bila tertarik mengikuti kunjungan ke farm, harus merogoh kocek S$120/orang. Jika ingin sekadar melihat stand atau ikan yang dilombakan, S$8 perlu disiapkan. Semua harga itu relatif mahal untuk ukuran kita. Namun, dari sana kita tahu perkembangan ikan hias dunia.

Varietas Baru Jebolan Singapura

Setelah puas melihat display beberapa varietas baru, pandangan Johannes Widjaja tertuju pada tetra berwarna merah transparan dengan garis tengah di badan. Niat memiliki tetra asal Amazon yang meraih juara 1 katagori varietas baru itu pun timbul. Namun, bagi orang sekaliber Johannes untuk mendapatkannya tidak mudah.

Bagi pemilik Tropical Fish Farm di kawasan Ciseeng, Bogor, tetra (Nanastomus red spencer) itu memang spesial. “Benar-benar baru. Kerabatnya ada di Indonesia. Tapi warnanya merah kehitaman, ada kuningnya.” Oleh karena itu, ia ingin menangkarkannya. Ditemani Trubus langkahnya berhenti di stand Daudo Aquarium (DA) Singapura. Namun, ketika bertanya apakah bisa dibeli, buru-buru seorang stafnya menjawab “Not for sale”.

Toh, peternak ikan hias itu tak kurang akal. Banyak jalan menuju Roma begitu kata pepatah. Ditolak DA, jalan lobi pun ditempuh. Melalui kenalan di Sunny Aquarium yang standnya bersebelahan dengan DA, tetra seharga S$2/ekor itu akhirnya bisa didapat. “Bapak tiba di rumah, tetra itu sudah ada,” kata salah satu staf Sunny Aquarium meyakinkan.

Bagi eksportir, memiliki varietas baru berarti mempunyai “tambang uang”. Ia tinggal menunggu pesanan saja. “Ikan-ikan baru itu nanti akan dicari importir,” papar Jap Khiat Bun, direktur CV Maju Aquarium salah satu eksportir besar ikan hias di Cibinong, Bogor. Terbukti Nir Avenir, eksportir-importir guppy dan platy asal Israel getol men-shoot satu persatu varietas baru dengan handycam. “Untuk data base kami bila mengimpor,” jelasnya.

Varietas baru memang akan berdampak pada bisnis. Tangkaran sedikit sedangkan permintaan banyak, otomatis harga akan mahal. “Karena itu nggak sembarang bisa membeli varietas baru,” ungkap Khiat Bun. Jadi wajar jika DA merasa tersaingi ketika ikan barunya akan dibeli Johannes. Apalagi Indonesia dikenal sebagai gudangnya penangkar ikan tetra serta berani menjual lebih murah.

Halaman terakhir diperbaharui pada 18 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.