Budidaya Tani

Ayam Aduan: Pertarungan Hidup Mati di Panatnikom

Sabetan kaki Black 3 kali ke arah kepala tak bisa menuntaskan pertarungan. Lawan cuma terhuyung dan terjengkang beberapa saat untuk kemudian bangun lagi. Daya tahan sang lawan berumur 8,5 bulan itu memang luar biasa, sekalipun bertubuh lebih kecil. Akhirnya, sabung ayam yang disaksikan sekitar 100 orang usai setelah juri menyatakan hasil seri.

Sejak awal Black begitu si empunya memanggil ayam kesayangannya karena berbulu hitam terus menggempur lawan. Babak demi babak ia menguasai pertarungan. Pukulan 4:1 untuk jago berperawakan gagah itu. Artinya 4 kali Black memukul hanya dibalas sekali oleh lawan. Itu pun tak telak mengena sasaran. Sampai-sampai pendukung memprediksi hanya dalam 2 sampai 3 ronde dari 5 ronde yang tersedia Black bisa mengakhiri pertarungan.

Arena sabung ayam
Arena sabung terbesar di Thailand

Namun, bukan jago bangkok namanya bila langsung menyerah. Kendati dihantam dan ditekan tak serta-merta sang lawan meninggalkan arena. “Banyak ayam yang sudah babak-belur dan jatuh tergeletak tapi tetap bertahan. Mereka memilih mati ketimbang lari,” kata Chilaphan, manajer lapangan Panat Nikom. Terbukti lawan si hitam pantang menyerah hingga bel ronde terakhir dibunyikan. Wajar para tifosi yang menjagokan Black agak kecewa. Sebaliknya pendukung lawan mengacung-acungkan jempol.

Nonton Gratis

Acara sabung ayam di Panat Nikom terletak di Tambon Thaboonmee, Subdistrik Koh Chand, Provinsi Chonburi berlangsung setiap hari. Saat Trubus berkunjung pada Selasa akhir Juli hanya 8 pasang yang menunggu giliran. Menurut Chalong Chai, pengelola, pada Sabtu dan Minggu peserta membludak mencapai 40 pasang. Hari lain rata-rata 20 pasang per hari. “Sekarang sedikit karena mulai musim hujan, ayam banyak yang rontok bulu,” ungkapnya.

Petarung tak hanya dari pelosok Chonburi. Ayam dari provinsi lain seperti Rayong, Chanthaburi, Pathumthani, dan Nakhonpathom banyak berdatangan. Mereka ingin menjajal keandalan jagoan asal Chonburi. Apalagi di tempat lain acara demontrasi begitu Chalong Chai menyebut sabung ayam hanya berlangsung seminggu sekali. Tak heran 200 tempat duduk yang disediakan tak pernah kosong. Apalagi penonton tidak dipungut bayaran.

Sebelum ayam turun gelanggang masing-masing pemilik mencari lawan sepadan. Jika sudah sepakat mereka segera mencatatkan diri. Data yang dicatat meliputi deskripsi umum sosok ayam, berat, dan asal-usul keturunan. Biaya pendaftaran 100 Bath setara Rp20.000/ ekor. Setelah itu petugas mengatur waktu turun gelanggang dan menetapkan 3 juri serta seorang wasit. Termasuk menyampaikan peraturan pertarungan terutama bagi pemain baru.

Setiap ayam berlaga selama 60 menit yang terbagi dalam 5 ronde. Setiap ronde menghabiskan waktu 10 menit, ditambah 2 menit untuk istirahat. Diawali aba-aba wasit, 2 petarung dibawa ke tengah gelanggang oleh masing-masing handler. Di tengah-tengah lingkaran berdiameter 5 m beralas karpet hijau tua itulah keduanya mengadu keterampilan. Begitu wasit memulai pertarungan, pengatur waktu digital di pojok atas gelanggang diaktifkan.

29 arena

Di Thailand sebetulnya ada 29 tempat sabung ayam tersebar di beberapa provinsi di bagian utara Bangkok. Namun, Panat Nikom-lah yang terbesar menempati areal seluas 6,5 ha. Arena yang didirikan 5 tahun silam itu hasil kerjasama antara Dinas Peternakan provinsi dengan pihak swasta. Berbagai fasilitas pendukung pengembangan ayam bangkok tersedia di sana. Mulai dari riset untuk menghasilkan indukan unggul hingga penyediaan sarana produksi.

“Kami juga membantu dan membina peternak. Setiap peternak diberi sepasang indukan berkualitas untuk dikembangkan,” tutur Chalong Chai. Awalnya pemberian indukan hanya pada peternak maju. Selanjutnya secara berantai peternak lain mendapat giliran, sehingga kini hampir seluruh peternak di Chonburi menjadi binaan Panat Nikom.

Menurut Chalong Chai dengan pola seperti itu kualitas ayam bangkok terjaga. Peternak bergairah mengusahakan karena tidak kesulitan passar. Selain dijual pada para hobis yang datang langsung ke farm, peternak membawa hasil temakan ke Panat Nikom. Lokasi itu memang tak sekadar tempat sabung ayam, tapi juga berfungsi sebagai pasar. Di sana berkumpul hobiis dari provinsi lain atau para importir dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Trubus melihat para peternak tidak hanya membawa jago siap diadu, tapi juga jejangkar, anakan umur 2 sampai 3 bulan, dan induk betina. Arena adu salah satu upaya untuk mengatrol harga jago siap adu berumur di atas 10 bulan. Ayam yang menunjukkan kemampuan bertarung terbaik bisa dijual dengan harga mahal.

Sertifikat ayam aduan
Sertifikat diberikan kepada pemenang

“Kami mengeluarkan serifikat untuk ayam-ayam yang menang dalam setiap pertarungan. Semakin banyak sertifikat yang dipunyai semakin mahal harga ayam bersangkutan,” kata Chilaphan. Ayam pemenang beberapa pertarungan dibandrol Rp7-juta sampai Rp10-juta. Bila baru sekali menang harga berkisar Rp 1,5-juta sampai Rp2-juta, tergantung kualitas bertarung.

Terpadu

Panat Nikom ditempuh dalam waktu 2 jam dari Bangkok berkendaraan pribadi. Lokasi mudah ditemukan karena ada ciri gapura setinggi 7 m dengan tulisan besar berwarna keemasan. Di kiri jalan masuk tampak 2 patung ayam jago bersosok kekar. Sebelah kanan berderet kios-kios penjual pakan, kurungan, tempat minum, dan wadah untuk membawa ayam.

Masuk lebih ke dalam terdapat ruang terbuka tempat peternak bertransaksi. Terlihat deretan kandang berisi ayam berbagai ukuran. Beberapa arena bertarung ada di sana, tapi berukuran kecil diameter 2 m. Itu tempat menguji coba ketika pembeli ingin mengetahui kelihaian ayam bertarung.

Di belakang tertata kandang-kandang penangkaran lengkap dengan beberapa indukan. Di sampingnya ada lahan seluas 600 m2 yang ditanami jagung dan beragam sayuran untuk pakan tambahan ayam. Panat Nikom tidak hanya surga para mania ayam adu, tapi arena rekreasi keluarga. Nah, Anda tertarik berkunjung? (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment