Budidaya Tani

Bajubang di Batanghari

Malam itu, pukul 23.00. Dedy tampak berjalan menyusuri tepian sungai Batanghari, Jambi. Sarung kumal menyelimuti tubuhnya untuk melawan hawa dingin. Bermodal serokan kecil terbuat dari kelambu bekas, tangan pria paruh baya itu mengaduk-aduk lumpur di sisi batang kayu lapuk. Dua puluh botia ukuran 1 sampai 2 cm berhasil ditangkap, lalu dimasukkan ke dalam bubu kecil yang ditenteng di tangan kiri.

Datangnya musim hujan di Sungai Batanghari, Jambi, membawa berkah bagi para pemburu botia. Mereka berlomba-lomba menangkap ikan hias primadona itu. Pada saat itu berburu bajubang sebutan botia di Jambi bisa mendatangkan uang lebih banyak dibanding bekerja di sektor lain.

Wajar, bila Dedy, warga Desa Rantaupuri, Kecamatan Tebingtinggi meninggalkan pekerjaan sebagai penyadap karet. Dalam waktu semalam ia mampu mengumpulkan 500 botia. Ikan berwarna hitam kuning itu langsung dijual ke penampung yang datang menjemput. Seekor botia ukuran 1,5 sampai 2,5 cm dihargai Rp250. Itu berarti Rp 125.000 masuk ke koceknya.

“Botia ikan musiman. Biasanya jatuh pada September sampai Januari. Tapi, tahun ini mundur November sampai April karena tergantung datangnya musim hujan,” ujar Verawaty, penampung botia di Jambi. Karena itu pula pemilik CV Sindo Aquarium itu pontang-panting kala mendapat order di luar musim. Sewaktu musim ia tidak kesulitan memasok berapa pun yang diminta eksportir.

Laku keras

Buruan Botia macracantha memang komoditas ekspor. Clown fish itu laku keras di luar negeri lantaran bersosok unik. Ia lebih diminati ketimbang 3 strain lain, seperti Botia helodes, B. sidthimunki, dan B. modesta.

Indonesia termasuk beruntung memiliki botia yang sebarannya terbatas. Ia hanya dijumpai di sungai dan rawa di Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. “Menurut konsumen mancanegara yang terbagus berasal dari sini (Indonesia, red),” ujar Anton Saksono, pemilik Lovina Laras.

Di rantai perdagangan ikan hias dunia, botia masuk 10 besar jenis ikan yang dicari importir. Selain eksportir lokal, eksportir mancanegara pun memajang botia di dalam website sebagai salah satu item penjualan. Contoh Zang Exotic di Cina dan Qianhu Fish Farm di Singapura. Yang disebut terakhir malah menyediakan bak berukuran 3 m x 6 m untuk menampung sekaligus membesarkan botia di farmnya di kawasan industri ikan hias, Lim Cu Kang. Botia-botia itu didatangkan dari Indonesia.

ikan botia
Ditampung sebelum dikirim ke eksportir

Botia juga menjadi komoditas yang cukup laku di Fang Cun, Guangzhou, Cina Selatan. Di pasar ikan hias terbesar di Asia itu hampir beberapa gerai memajang botia berukuran 5 sampai 6 cm. “Ini asal Indonesia untuk dikirim lagi ke Eropa dan Amerika,” ucap Zhang Tsu salah seorang pedagang pada Trubus. Di sana seekor botia dijual 40 sampai 50 yuan setara Rp40.000 sampai Rp50.000. Harga rata-rata botia berukuran 8 cm di pasar internasional mencapai US$15 per ekor.

Botia Musiman

Sayang, hingga saat ini ikan bersosok mirip pesawat tempur itu masih mengandalkan tangkapan alam. Menurut Ir Budi Hartono, kontinuitas pasokan botia tergantung pada musim. “Puncaknya terjadi pada Maret Mei di saat air sungai Batanghari naik,” lanjut Kepala Sub Dinas Bina Usaha dan Pengolahan Hasil Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi. Di saat-saat seperti itu sungai di negeri Angsa Duo bisa menyuplai hingga 2,5-juta ekor. Namun, di luar musim, terutama Agustus Desember jangan berharap memperoleh botia.

Bila sedang musim botia ukuran 1,5 cm dijual Rp300 per ekor. Sedangkan ekportir melepas US$1 per ekor. Di luar musim, ukuran serupa bisa dijajakan Rp500 per ekor, eksportir melepas US$3 per ekor.

Makanya, Verawaty selalu menyetok botia. Ketika musim tiba eksportir sejak 1993 itu mengumpulkan dari nelayan. Dengan begitu ia rutin mengirim 1.000 sampai 2.000 ekor per pekan ke salah satu buyer di Singapura. “Permintaan kala musim tiba naik mencapai 200%,” ujarnya.

Aciang, pemilik CV Indomina Aquarium melakukan hal sama. Pemasok di Jambi itu sudah tak kesulitan mendapatkan botia. Nelayan menyetor botia setiap hari. Pasokan meningkat ketika musim tiba. Di farmnya, tidak kurang 600.000 botia dibesarkan untuk memenuhi permintaan eksportir di Jakarta.

Menurut pengusaha ikan sejak 15 tahun itu, botia ikan wajib para eksportir. “Ia primadona ikan hias yang selalu ditawarkan. Ikan lain hanya ikutan saja,” ujarnya. Wajar, bila eksportir di Jakarta pun ikut-ikutan menyetok botia.

Bahkan, eksportir di Singapura juga memborong botia ketika musim tiba. Agar tak kalah cepat, mereka sengaja menempatkan beberapa orang di lokasi penangkapan. Hasil yang diperoleh sebagian dijual lagi, tapi sisanya disetok dahulu. Di saat tidak musim, mereka baru melepas dengan harga tinggi.

Baru 40%

Anggota keluarga Cobitidae itu bukan tidak mungkin dipijahkan. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar sudah merintis pemijahan ikan cantik itu sejak 1993. Hasilnya, clown loach itu dapat ditangkarkan dengan mudah. Tekniknya induced breeding penyuntikan hormon untuk mematangkan gonad. Telur yang sudah matang segera di stripping, lalu dicampur dengan sperma jantan.

Sayang, penelitian itu belum berhasil. Tingkat kelangsungan hidup dari larva sampai benih baru mencapai 40%. Meski begitu keberhasilan itu patut diacungi jempol. Di Thailand belum ada yang mampu memelihara induk.

Peternak kurang berminat menangkarkannya. Mereka lebih tertarik memburu botia di alam. Toh, sumber botia masih melimpah. (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment