Banjir Orderan Berkah Dari Aquarama

Sambil bersandar ke kursi di sebuah stand aquarama Jap Khiat Bun mengusap-usap keningnya, la kebingungan setelah mendapat order ikan hias dari Belgia sekitar 200 boks per minggu. Belum lagi Taiwan dan Korea yang akan segera menandatangani kontrak jika bisa mendapat harga lebih murah.

“Bukan apa-apa, saya pusing memikirkan pengiriman. Importir menuntut harga diturunkan. Mau tidak mau harus potong jalur penerbangan,” ungkap Khiat Bun. Terlepas dari soal pengiriman, pemilik CV Maju Aquarium itu puas atas order yang didapat. Ikan yang diorder hampir semua jenis, seperti red nose, coridoras, maskoki, dan diskus.

Beberapa eksportir Indonesia juga mengalami hal sama. “Ada importir yang tertarik, tapi realisasinya tidak dalam waktu dekat,” tutur Barry Amru Emirza dari Harlequin Aquatics.

“Saya tengah mempelajari order permintaan cupang dari importir Rusia. Di antaranya masalah kualitas, kuantitas, dan sistem pembayaran. Pokoknya banyak hal,” kata Mulyadi, pengusaha ikan hias di Bandung. Termasuk di dalamnya kredibilitas importir. Sebab, tidak sedikit eksportir bangkrut gara-gara ulah importir. Ikan sudah dikirim, pembayaran ditunda-tunda hingga akhirnya tidak dibayar.

Order permintaan pasokan juga mengalir ke peternak di Bogor, Johannes Widjaja. “Tawaran untuk memasok banyak, tapi tidak boleh sembrono. Kalau tidak, bisa-bisa tertipu,” jelasnya. Ia yakin masalah kuantitas, kontinuitas, kualitas, dan harga yang diminta importir bisa dipenuhi.

Bagi para eksportir aquarama selalu dijadikan sebagai ajang mencari pasar.

Mulai tertarik

Beberapa importir menyatakan minatnya untuk mendatangkan ikan dari Indonesia. “Tadi saya sudah mengunjungi 2 stand Indonesia. Suatu saat saya akan mendatangkan ikan-ikan dari sana,” ucap Yasuhiko Ito, importir dari Jepang.

Pemilik Nager Aquarium itu membutuhkan ikan tangkapan alam (wild caught), seperti aligator dan palmas dalam jumlah banyak. Masyarakat Jepang sekarang tengah menggandrunginya.

Selama ini pria yang sudah 4 tahun menjadi importir itu mendapat pasokan ikan tangkapan alam dari Kolumbia, Peru, dan Brazil. Ia tidak mengambil dari Indonesia karena, “Setahu saya pusat ikan tangkapan alam di Amerika latin.”

Keinginan mengimpor ikan dan tanaman air dari Indonesia diungkapkan Mr Dipl Ing Siegfried dari Bremen, Jerman. Alasannya, ikan dan tanaman air dari Indonesia murah. Menurut Siegfred, permintaan tanaman air di Jerman cukup tinggi. Hampir setiap rumah tangga membutuhkan. Otomatis ikan-ikan kecil turut dicari untuk melengkapi isi akuarium.

Abdul Basir Kunhimohmed, Marketing & Business Development Manager Aquaculture Project, Malaysia, berminat menjalin kontak langsung dengan peternak Indonesia. Selama ini ia mengimpor arwana melalui orang ketiga, sehingga harganya relatif mahal. Arwana yang dibutuhkan berukuran 8 inci. Sekali belanja ia bisa menghabiskan sekitar 15.000 ringgit.

Tidak stabil

Berdasarkan lacakan Trubus, beberapa importir yang hadir di sana sudah menjalin kerjasama dengan Indonesia. Dr Gerold Jander, manager Aqua Global, Jerman, mengambil pasokan dari Aquarium Plaza di Jakarta. Pasokan utama berasal dari Malaysia, Srilanka dan Amerika Selatan. “Harga ikan dari Indonesia oke. Hanya saja kualitas tidak stabil. Kadang bagus, kadang jelek,” Gerold menilai.

Importir lain, Haier Dan, General Manager Dani Dag, Israel, sudah 5 tahun mengambil ikan dari eksportir Indonesia, misal Vivaria dan Suraya. Dari kedua eksportir tersebut setiap minggu masuk sekitar 50 boks. Jenisnya beragam karena semua ikan hias baik tawar maupun laut dibutuhkan.

Importir yang sudah berpengalaman 15 tahun itu mengaku senang berhubungan dengan eksportir Indonesia. “Belum pernah mendapat masalah. Kualitas ikan jauh lebih bagus dibanding Malaysia, Thailand, atau Singapura,” tegasnya. Ia menyebutkan permintaan ikan hias di negaranya terus naik. Sementara jumlah importir terbatas, paling 6 sampai 8 orang.

Komentar berbeda dilontarkan Inh Thomas Jung, asal Jerman. Sebagian besar eksportir mengirim ikan kualitas rendah. “Quality is main problem,” katanya terus terang. Untungnya ia berhubungan dengan mitra yang juga konsisten memperhatikan kualitas.

Importir yang sudah berhubungan selama 20 tahun itu lebih banyak membutuhkan ikan hias air laut. Setidaknya 20 sampai 30 boks diterbangkan dari Indonesia setiap minggu.

Proaktif

Importir-importir lain sebetulnya masih bisa digarap bila para eksportir proaktif membuka pasar. “Kenapa tidak, jika Indonesia memang punya kemampuan memasok,” ujar Miguel de Oliveira, dari Biblogo Coordenador Oceanario de Lisboa, S.A. Portugal. Importir sejak 1997 itu membutuhkan ikan hias untuk konservasi. Singapura, Asia Selatan, dan Amerika latin adalah negara pemasoknya.

Peluang pasar terbuka karena kualitas ikan Indonesia bagus. Eksportir bisa belajar dari Johnny, President Jaeco Aquatic & Pet Exporter, Nigeria. Ia mampu mengirim setidaknya 40 sampai 80 boks/minggu ke Jepang. “Kuncinya, jika ada pesanan saya tangani serius. Dalam waktu kurang dari seminggu ikan sudah harus diterima importir,” papar spesialis ekspor ikan hias laut itu.

Selain serius, pengaturan produksi penting untuk menjaga kontinuitas pasokan. Importir tak akan mau berhubungan jika produksi tersendat. Oleh karena itu eksportir harus memiliki kekuatan produksi secara pasti. “Dengan cara seperti itu saya tak pernah kekurangan atau kelebihan stok,” tutur Hemantha Perera, eksportir dari Sri Lanka.

Direktur Marketing Keells Aquarium (PVT) Ltd itu menyebut angka ekspor ikan hias lautnya 3.000 boks/minggu. Negara tujuan Australia, Jepang, Amerika, dan negara-negara Eropa. Pengiriman itu sudah berlangsung selama 10 tahun.

Niat mencari pembeli pula yang melandasi Guy Kaplan datang ke Singapura. Peternak guppy asal Israel itu selalu semangat menawarkan produk, padahal ia sudah punya pasar tetap ke Jepang dan Eropa sebanyak 250.000 ekor/ tahun.

Sedang tren di Jerman
tanaman

Pendapat sama dilontarkan Lena Iren Hansen dari Akva Importen, Norwegia, “Di sini kita bisa bertemu pembeli, penjual, atau teman lama. Jadi, saya kira mencari pasar lewat Aquarama sangat bagus,” kata wanita paruh baya itu.

Wajib datang

Tidak berlebihan jika Iwan Dharmawan, Direktur Tropical Fish Indonesia menempatkan Aquarama sebagai forum yang wajib dihadiri pelaku bisnis ikan hias. “Di Aquarama semuanya ada. Cari pasar, lihat perkembangan teknologi, memprediksi ikan hias di masa datang, atau sekadar say hello dengan importir lama,” tandas Iwan.

Namun, ada juga yang serius mencari pasar. Khiat Bun membawa 2 karyawan untuk memburu importir. Johannes Wijaya ditemani istri dan anak, di samping 2 staf pemasaran.

Sayangnya, aksi para pelaku bisnis ikan hias belum diimbangi kreativitas instansi terkait. Transportasi yang sejak dahulu menjadi batu sandungan tetap belum teratasi. Selain masalah tarif, jangkauan penerbangan pun terbatas. Akibatnya banyak order tak terpenuhi. Kini kendala lain muncul. Citra buruk Indonesia sebagai negara penuh kerusuhan mulai terasa. “Saya saja waktu ke Indonesia sebentar-sentar ditelepon keluarga,” ujar Foon Ching Loon importir dari Singapura. (Karjono/Peliput: Dian Adijaya)

Termahal di Aquarama

Diskus champion sekalipun tak bisa melawan si nongnong ini, harganya S$ 20.000 atau sekitar Rp120-juta. Yang “bayi” saja ukuran 5 cm dijual Rp 1 -juta. Harga mahal karena Pearl Swanhead Lohan Ciclid dianggap ikan keberuntungan. Di badannya berderet pola seperti tulisan Cina yang bisa berubah membentuk angka-angka.

Ekspos besar-besaran si kepala nongnong alias siklosoma tidak hanya terjadi di Singapura. Malaysia, Taiwan, dan Jepang yang terdapat etnis Cina juga menjadi sasaran pemasaran. Tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat Indonesia akan kebanjiran.

Sukses besar Nanyang Trading Aquarium menarik hobiis karena mengkaitkan si nongnong dengan Sun Go Kong dewa keberuntungan. Jidat nongnong sebesar bola bekel mirip ikatan rambut sang dewa keberuntungan itu.

“Tato” yang ada di sepanjang tubuh, “Betul-betul asli bukan buatan,” ucap Goh Yang Kang, assistant manager Kmn Cichlid Aquarium yang memajang Aequidens rivulatus itu. Tato muncul setelah umur mencapai 1,5 tahun.

Warna tubuh menawan bukan karena disuntik hormon. Pakannya cacing darah, ulat hongkong atau ikan-ikan kecil. Warna tubuh bisa berubah-ubah sesuai kondisi. “Silakan Anda ajak main dulu sekitar 2 jam sebelum membeli. Jika ikan menujukkan rasa senang warnanya akan terlihat bagus dan cemerlang,” tutur Goh sambil menggerak-gerakan jari di depan akuarium.

Lebih nongnong

Kepala besar, badan pendek dan warna cantik, itulah sosok tubuh yang dianggap bagus. Jantan berjidat lebih nongnong ketimbang betina. Namun, hal itu agak sulit dijadikan patokan karena ia punya beberapa varietas. Di antaranya jade spotted blood, blood kirin, hua oilin, hua luo han, dan kingkong. Ketiga varietas terakhir berkepala nongnong, sedang lainnya agak landai.

Si nongnong bisa membesar hingga 45 cm. Untuk mencapai ukuran itu dibutuhkan waktu lebih dari 5 tahun. Harganya mungkin bisa Rp1-miliar. Yang Rp120-juta itu baru berukuran sekitar 25 cm.

Halaman terakhir diperbaharui pada 17 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.