Binjai Punya Nama, Pekebun Raup Laba

  • Whatsapp
rambutan binjai asli

Agustus merupakan bulan baik bagi Sakirun. Panen 42 pohon rambutan binjai uar. brahrang menghasilkan 1,2 ton. Hanya dalam sepekan, semua rambutan itu ludes diborong pengijon. Kocek Sakirun mengelembung Rp1,2-juta. Hoki serupa menimpa pekebun rambutan di sentra lain.

Nasib baik Sakirun, pekebun di Desa Aracondong, itu diperoleh setelah terlibat Proyek Pengembangan Agribisnis Rambutan (P2AR) seluas 500 ha di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Dari lahan 1,5 ha milik ketua kelompok tani Wonogiri itu, sepertiga dipakai untuk P2AR.

Bacaan Lainnya

Sentra baru rambutan binjai di Kabupaten Langkat itu bagian dari program hibah dari pemerintah Jepang untuk pengembangan buah-buah unggulan nasional. Namun, bukan berarti para pekebun di kecamatan berjarak 60 km dari Medan itu, awalnya bersedia ikut serta.

“Siapa yang jamin kalau gagal?” tutur Sakirun. Karena diiming-imingi berbagai kemudahan, beramai-ramai para petani itu bersedia. Dari semula 66 pekebun kini melonjak mencapai 871 pekebun dalam 12 kelompok tani. “Semua sarana pendukung seperti bibit, rabuk, dan pestisida diberikan gratis sampai 5 tahun,” tutur salah satu staf P2AR dari Dinas Pertanian Stabat. Paket itu ditambah bonus pelatihan dan konsultasi budidaya.

Rambutan binjai di Tiga desa

Pekebun rambutan
Berburu rambutan hingga pedalaman

Rambutan binjai selama ini identik dengan kota Binjai. Nama kota yang dicomot dari nama pohon yang tumbuh di sungai Bingai itu setiap tahun memproduksi 2.400 ton rambutan di areal 425 ha. Kendati demikian, sungguh sulit mendapat rambutan yang benar-benar dikebunkan. Yang ada justru satu-dua pohon sebagai peneduh di pekarangan rumah.

Sebelum P2AR dimulai, kondisi seperti itu lazim dijumpai pula di Kabupaten Langkat. Baru periode 1997 sampai 1998, awal P2AR digalakkan, rambutan mulai dikebunkan secara komersial seperti di Thailand. Survei oleh konsultan pertanian dari Jakarta dan Jepang menetapkan 3 desa potensial; Pantai Geming, Banyumas, dan Palupake.

Waktu penanaman dan luas kebun masing-masing desa itu tidak sama. Pencanangan P2AR dimulai di Desa Pantai Geming pada lahan 50 ha. Berturut-turut pada kurun 1998 sampai 2000, dibuka di 2 desa lain kebun dengan luas 250 ha dan 200 ha. Kebun-kebun itu tidak berada di satu hamparan tetapi terbagi-bagi sesuai tempat tinggal. Rata-rata setiap kebun luasnya 0,5 sampai 1 ha.

Di sentra lain, Jawa Timur, kebun-kebun rambutan meluas. Pada 1928 rambutan di Blitar semula hanya di Desa Bajang, Kecamatan Talun. Kini meluas hingga Desa Bondosewu di kecamatan yang sama. Kecamatan-kecamatan diBlitar Selatan pun mengalami perluasan. Awalnya setiap rumah hanya 2 pohon, tapi belakangan kebun skala 0,5 ha atau 100 pohon mulai marak.

“Kalau ditotal di Kecamatan Talun saja mencapai puluhan ribu pohon,” kata Bambang Sutrisno, penyuluh pertanian di Kecamatan Talun. Yang banyak dibudidaya jenis binjai (60%) dan lebak bulus (40%). Hal serupa terjadi di sentra-sentra rambutan seperti Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri dan Jonggol, keduanya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tambahan pendapatan yang lumayan

Memiliki pohon rambutan menambah pendapatan cukup lumayan bagi masyarakat. Selain itu pemeliharaannya relatif ringan. Biasanya pekebun baru memberi pupuk setelah tanaman berbuah.

Sugeng di Desa Suwaru, Kecamatan Pagelaran, Malang hanya memberi pupuk kandang 25 gerobak untuk 102 pohon rambutan setiap 2 tahun. Harga pergerobak Rp20.000. Perawatan lain menyiangi, tapi itu dilakukan sendiri. Praktis, biaya operasional yang dikeluarkan hanya Rp500.000 per 2 tahun. “Produksi kebun itu 9 sampai 10 ton per musim,” paparnya. Karena tak ingin repot memasarkan, ia pun memborongkan ke tengkulak. Tahun lalu pengijon membayar tunai Rp1O-juta untuk sekali tebas.

Yang merawat intensif seperti kebun rambutan di Thailand pun ada. Misalnya pekebun P2AR di Kabupaten Langkat. Pada tahun pertama setiap pohon mendapat jatah 2 sampai 5 kg pupuk kandang dan 0,2 kg NPK. Tahun berikutnya, dosis dinaikkan menjadi 5 sampai 10 kg pupuk kandang, 0,4 kg NPK.

Insektisida disemprot setiap 3 bulan agar terhindar serangan ulat kantung, ulat grayak, dan belalang. Wajar kalau pohon berproduktivitas tinggi. Rata-rata setiap pohon berumur 4 tahun menghasilkan 15 sampai 20 kg per musim.

Pekebun Dan Pembeli Sama sama untung

Rambutan binjai

Bagi pekebun, anggota famili Sapindaceae itu tak sulit dipasarkan. Contoh pekebun di Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. “Masih pentil saja sudah ada tengkulak yang melirik,” papar H. Sa’ih. Ia tak perlu repot-repot memanen karena begitu berbuah sudah ada pengepul menyambangi. Pohon berumur 15 tahun laku ditebas Rp 150.000 sampai Rp300.000,tergantung jumlah buah. Meski demikian Sa’ih memilih menjual eceran seharga Rp2.500 sampai Rp3.000/ikat.

Di Banyuwangi, Sainoto Waruyo, memilih menenderkan panen di kebun 93 ha. Pasalnya, banyak broker alias calo berebut memetik buah di kebun yang ditanam sejak 1989 itu. “Yang menang langsung membawa kontainer ke kebun saat panen,” tutur Sainoto. Produksi sekitar 1.900 pohon rambutan binjai di lahan 50 ha mencapai 150 ton buah per musim. Harga binjai rata-rata Rp1.750/kg.

Pengepul kecil dan besar pun ikut kecipratan manisnya binjai. Pengepul di Blitar membawa rambutan ke luar kota, seperti Kediri, Malang, Surabaya, Banyuwangi. Jember, Jakarta, dan Lampung. Bahkan, hingga Kalimantan Timur. Di tempat tujuan, embel-embel binjai talun atau binjai bajang jaminan dagangan cepat laku.

Dari berbagai sentra, saat panen raya, rata-rata pengepul membeli Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per kg. Di tingkat konsumen harga melambung hingga Rp2.000 sampai Rp5.000 per kg tergantung kesegaran rambutan.

Maraknya penanaman rambutan binjai juga berarti rezeki buat para penangkar. Soetadi, penangkar bibit di Kecamatan Talun, misalnya. Ia membuat 2.000 bibit binjar setiap tahun ukuran 50 cm, 75 cm, dan 100 cm. Pada 2001 harga masing-masing minimal Rp5.000, Rp7.500, dan Rp 10.000. Bibit itu tidak hanya dijual lokal, tapi untuk memenuhi pesanan dari daerah lain, seperti Jember, Yogyakarta, dan Samarinda. Hal serupa dialami Lulu dan Ramly, penangkar rambutan di Cariu, Jonggol, Kabupaten Bogor.

Peluang Ekspor terbuka lebar

Beragam jenis rambutan seperti aceh lebak, parakan, binjai, hingga rambutan rapiah memang menjadi buruan eksportir. Mereka rata-rata membeli Rp4.500/kg dari pemasok di sentra-sentra produksi. Di mancanegara sekilo rambutan segar dihargai US$4.

Gudang PT Kertosari Gemilang (KG) lebih sibuk daripada biasanya begitu musim rambutan tiba. “Buyers mancanegara melayangkan pesanan jika di sini musim rambutan,” papar Ir Budi Mulyono, direktur KG.

Timur Tengah dan Eropa masing-masing meminta 2 sampai 3 ton per sekali kirim, 1 sampai 2 kali seminggu. Sayang, perusahaan itu hanya sanggup memenuhi separuh dari total permintaan itu. Padahal, beberapa sentra rambutan di Banten, Subang, Medan, dan Pekanbaru sudah disambangi.

PT Agroindo Usahajaya, eksportir buah di Jakarta, pun kelimpungan memenuhi pesanan rambutan segar. Kebutuhan 2 sampai 3 ton per sekali kirim ke Amsterdam, Paris, dan beberapa negara Timur Tengah, hanya 1 ton yang bisa dipasok. Salah satu negera petro dolar, Uni Emirat Arab malah tidak terlayani lantaran tak ada barang.

Pos terkait