Bisnis Jahe Pasar Terbentang, Sejuta Kendala

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Produktivitas rendah butuh teknologi budidaya

Dengan harga jual Jahe Rp4.500/kg di kebun, menantu mantan Gubernur Papua Acub Zainal itu bakal meraup omzet Rp216-juta per bulan. ia tak perlu repot-repot mencari pasar, seorang eksportir sahabatnya siap menampung

Peluang itu mulai ditangkap oleh Novi. Kini ia membuka lahan seluas 10 ha di Tulungagung, Jawa Timur. Jahe itu bakal ditanam sebagai tanaman sela di kebun kelapa miliknya.

Bacaan Lainnya

Agar produksi jahe maksimal, ia mengontrak konsultan di Bali. “Saya lihat langsung. Produksi kebun jahe sang konsultan mencapai 25 ton per ha,” katanya. Padahal, rata-rata pekebun hanya 8 sampai 10 ton per ha.

Itu cerita pengusaha yang baru terjun ke bisnis jahe. Nun di Bandung, Jawa Barat, Hendra Djaja Dipl. Ing., rutin mengekspor jahe sejak 10 tahun silam ke berbagai negara. Sebut saja Dubai, Bangladesh, Pakistan,dan Singapura. “Setiap minggu saya kirim 2 kontainer ke Singapura,” kata pemilik PT Multi Fresh Farm itu. Ia memenuhi permintaan itu dari petani plasma di Jawa Barat dan Jawa Timur. Total jenderal luas kebun plasmanya mencapai 120 ha.

Kerikil tajam

Pekebun kapok menanam karena kendala penyakit

Tertarik terjun di bisnis jahe? Bersiap-siaplah menemui kerikil tajam. Andreas di Bengkulu misalnya. Ia berhenti memasok jahe ke salah satu eksportir besar lantaran merugi. “Kendalanya besar, penipuan timbangan dan penyusutan tinggi,” katanya.

Dari 1 truk jahe berbobot 12 ton yang dibeli di Rejanglebong, Bengkulu, menyusut menjadi 11 ton saat ditimbang di eksportir Jakarta. Dengan harga terendah pada 2000 sebesar Rpl.500 per kg, Andreas merugi Rpl,5-juta sekali kirim.

Lantaran itu ia hanya mampu bertahan memasok jahe selama 3 tahun, yaitu pada 1997 sampai 2000. Permintaan tinggi dari eksportir yang kerap mengirim ke Arab, Afganistan, dan Cina ditolaknya. Itu di tingkat pemasok, bergudang kendala juga ditemui oleh para pekebun.

Sebut saja Prasman Pasaribu, di Bandarlampung. Pada Mei 2003 ia menanam jahe di lahan seluas 4 ha karena tertarik harga tinggi, Rp5.000 per kg. Sayang, nasib malang menimpanya. Dari lahan seluas itu hanya dipanen 12 ton atau setara 3 ton per ha. Padahal, produksi jahe hanya menguntungkan bila produksi mencapai 8 sampai 10 ton per ha. Musababnya, penyakit dan hama sulit diatasi walau bermacam pestisida sudah dicoba.

Prasman kian merugi karena saat itu harga jahe anjlok, Rp2.000 per kg. Dengan asumsi biaya produksi terendah Rp6-juta per ha, dana Rp24-juta yang digelontorkan Prasman tak kembali. Ia hanya mengantongi pendapatan Rp6-juta atau merugi sebesar Rp 18-juta. “Saya kapok tanam jahe,” katanya. Belajar dari kerugian itu Prasman beralih menanam kakao, pisang, jeruk, durian, dan jati mas.

Pengalaman Andreas dan Prasman itu setali tiga uang dengan yang dialami beberapa narasumber yang dihubungi Trubus. Dari 19 pekebun jahe yang berkompeten di tanahair, 17 di antaranya berhenti berbisnis jahe. Semuanya sepakat: harga jahe sulit diprediksi, kendala di kebun juga besar. Apalagi saat ini, RRC dan Thailand ramai-ramai menawarkan jahe. Indonesia hanya bisa bersaing dengan mereka bila harga penawaran ke pasar dunia di angka Rp2.500 per kg.

Pasar lokal

Bagaimana dengan kebutuhan lokal? Di tanahair jahe banyak dipakai sebagai bahan baku industri jamu. “Setiap jenis jamu pasti pakai jahe, hanya kadarnya yang berbeda-beda,” kata Bambang Supartoko, bagian departemen pertanian PT Sidomuncul. Reumago, jamu untuk rematik misalnya, membutuhkan 60 sampai 70% jahe. Belum lagi produk lain seperti Kuku Bima, STMJ, tolak angin, dan ginger tea.

Karena setiap hari perusahaan membutuhkan jahe, maka ditetapkanlah sistem kuota. Sistem itulah yang menjadi patokan pekebun plasma untuk berproduksi. Namun, dari kuota 50 ton per tahun, pekebun plasma baru mencukupi 10 sampai 20% saja. Sisanya perusahaan yang dipimpin Irwan Hidayat itu menggantungkan pasokan jahe dari ratusan pemasok di Jawa. Sayang, jahe dari para pemasok baru bisa memenuhi kuantitas, tapi sulit mencapai standar kualitas yang sesuai.

Selain industri jamu, jahe juga diserap pasar tradisonal. Menurut Sidik Raharjo, ketua Asosiasi Tanaman Obat Yogyakarta (ATOY), permintaan jahe sangat besar. Tahun lalu ATOY mampu menampung dan menjual jahe 100 ton. Jahe itu diserap kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, Semarang, Lampung, Riau, Medan, dan Palembang. “Setengahnya habis terserap di Yogyakarta,” kata kelahiran Yogyakarta 30 tahun silam itu.

Permintaan itu kian besar sejak Maret 2004. Sidik mencontohkan, saat ini belum habis 2005, tapi serapan jahe sudah mencapai 100 ton. Yang menarik, ia terpaksa menghentikan pengiriman ke luar kota lantaran permintaan Yogyakarta meningkat. “Jangankan untuk ekspor, lokal saja payah memenuhinya,” kata putra ke-4 dari 5 bersaudara itu. Tingginya permintaan itu juga disambut pekebun lantaran harga yang cenderung stabil. Saat ini jahe emprit Rp5.500 sampai 7.000 per kg, jahe merah Rp5.757 sampai 7.500 per kg, dan jahe gajah Rp2.500 sampai 4.500 per kg.

Genjot produksi

Begitulah potret bisnis jahe di Indonesia. Menurut Hendra Djaja Dipl. Ing., peluang mengebunkan jahe masih terbuka lebar. Syaratnya, produksi harus dilipatgandakan dan pandai membaca pasar dalam dan luar negeri seperti RRC. Mereka menimbun jahenya di gua-gua bawah tanah saat pasar banjir jahe. Begitu di pasar langka, mereka membongkar jahenya dan membuat penawaran pasar. Akibatnya pekebun jahe di sana selalu untung.

Cara lain yaitu membuat beragam produk olahan. Di Ampel, Boyolali, Jawa Tengah misalnya. Pekebun di sana membuat serbuk jahe dan sirup jahe. Inovasi mereka sebaiknya disambut baik oleh pengusaha yang pintar memasarkan. Sedikit banyak cara itu mampu menolong pekebun saat harga jahe turun.

Pos terkait