Bisnis Krisan Kembali Bersinar

Telepon genggam Piet Christian berkali-kali berdering. Berkali kali juga pebisnis krisan itu menolak secara halus permintaan si penelepon. “Bunga saya sudah habis dipesan, yang ada sisa panen, sedikit dan tidak begitu bagus,” ujarnya. Meski kecewa, konsumen itu bisa memaklumi. Apalagi setelah ia dijanjikan akan dikirim seminggu kemudian.

Kejadian yang dialami Piet bukan hal aneh lagi. Beberapa bulan belakangan ini permintaan krisan memang cenderung naik. Pernah suatu kali Piet akan membawa 100 ikat krisan ke Jakarta.

Saat ia menyempatkan mampir ke salah satu konsumen di Suryakencana, Bogor, bunganya langsung terjual habis. Akhirnya ia terpaksa balik lagi ke Cipanas tanpa sempat ke Jakarta.

Pengalaman serupa juga dialami sejumlah pekebun lain. Tak hanya pekebun kecil, manisnya bisnis krisan juga dicicipi produsen besar. Sebut saja Alam Indah Bunga Nusantara (AIBN) dan Kebun Ciputri. Getirnya bisnis krisan yang sempat dialami mereka seperti tak berbekas.

Produksi yang pernah ditekan hingga 50% sudah kembali normal. “Sudah hampir setahun Ciputri mengembalikan produksi sampai 100% lagi, ” ujar Budhi Hatjoko, salah satu manajer di Kebun Ciputri.

Balik ke Bisnis Krisan

bisnis krisan memang pernah terkena imbas lantaran krisis moneter awal 1998. Ketika itu banyak pekebun “gulung tikar” dan produsen besar menurunkan produksi besar-besaran.

Permintaan turun drastis. Selain masalah ekonomi, “Faktor keamanan juga ikut berpengaruh,” kata Budhi. Tak ayal harga pun terjun bebas. Harga eceran di pasar bunga Rawa Belong mencapai Rp 4.000/ikat. Bisa dibayangkan berapa yang diterima petani.

Tak heran bila beberapa pekebun bunga sempat goyah dan melirik bisnis lain. Ciputri contohnya, mengganti sejumlah luasan krisannya dengan aneka sayuran. Tomat, cabai merah, paprika, buncis, dan kentang jadi pilihan.

Namun yang terjadi bak keluar mulut singa pindah ke mulut buaya. Harga sayuran yang begitu fluktuatif ternyata bukan alternatif pas. Akhirnya mereka kembali ke bisnis semula, bertanam bunga potong.

Saat ini produksi bunga Ciputri mencapai 400 sampai 500 ikat per hari. Produksi itu ternyata belum menutupi permintaan yang ada. “Pemesanan sih sampai 1000 ikat/hari,” ungkap Budhi. Oleh karena itu mereka terpaksa berburu ke produsen lain untuk mencukupinya. Tentu dengan melakukan penyortiran kualitas lebih dahulu.

krisan Jenis Standar lagi in
Jenis Standar lagi in

Tak hanya Ciputri, produsen lain, AIBN merasakan pengalaman sama. Mereka bahkan telah bersiap-siap menghadapi permintaan bulan-bulan mendatang. “Kita sudah menjadwal produksi hingga 800 ikat/hari,” tutur Ir. Sarkad Saleh, General Manager.

Komoditas Ekspor Unggulan

Berkat krisis pula saat ini AIBN malah memiliki jaringan pasar yang lebih luas. Tindakan distributor yang menurunkan permintaan hingga 65% merupakan pengalaman pahit. Untung saja perusahaan yang berlokasi di Mariwati, Cianjur itu tak hanya berpangku tangan.

Peluang ekspor via bisnis krisan yang pernah dicoba sebelum krisis dirintis kembali. Setelah melewati berbagai kendala, akhirnya krisan AIBN bisa melanglangbuana. Pasar ekspornya dari Brunei, Singapura, Jepang, hingga Abu Dhabi.

Untuk krisan potong, negara yang rutin memesan adalah Singapura dan Brunei. Saat ini volume pengiriman setiap minggu mencapai 350 sampai 400 ikat isi 12 tangkai. Jumlah tersebut bakal meningkat, terutama ketika imlek tiba.

“Kebanyakan produksi kita dikirim lagi ke negara lain (re-ekspor, red),” ucap Sarkad. Tentu saja dengan label milik importir yang berlokasi di Far East, Singapura itu.

Jenis yang diminta kebanyakan jenis krisan standar berwarna kuning. Dengan standar yang tak terlalu rumit, pasar ini berpotensi besar untuk ditingkatkan. Apalagi dengan gonjang-ganjing nilai kurs dolar saat ini, margin pun bisa makin membengkak.

Selain ekspor, pasar lokal serius pula digarap. Mereka tak lagi tergantung pada distributor tunggal. Penambahan distributor lain makin memperluas pasar.

Meski harga yang dipatok tinggi, sekitar Rp 10.000 sampai Rp 12.000 per ikat, tetapi konsumen pun tak berkurang. “Ada pelanggan fanatik yang hanya mau memakai krisan kami,” tutur Sarkad yang mengaku konsumennya mengah ke atas.

Krisan Harus Memenuhi Standar Mutu

Di samping permintaan yang bertambah, terjadi perubahan selera konsumen pula. Jika dahulu krisan standar diabaikan, kini malah calon primadona baru. “Banyak pesanan yang meminta jenis standar,” kata Piet. Walau harga lebih mahal, tetapi tak menghalangi niat konsumen.

Beberapa produsen mematok harga per ikat Rp 9.500 sampai Rp 12.000 untuk krisan standar A. Berbeda dengan krisan spray yang hanya berkisar Rp 6.000 sampai Rp8.000.

Salah satu pemicu tingginya harga ialah faktor kesulitan menghasilkan yang berkualitas. “Jenis ini gampang terkena hama dan penyakit,” kata Ivan, staf Miranti Farm, produsen krisan di Cipanas. Oleh karena itu mereka hanya berharap memanen sampai 60% saja.

Jenis yang kini sedang in dan banyak dibudidayakan oleh pegiat bisnis krisan  ialah varietas Fiji, mulai yellow, dark, dan improve Fiji. Juga revert dan shamrock. Jenis shamrock yang berwarna hijau muda cerah itu bahkan bisa mencapai harga Rp 15.000/ ikat. Melihat tren pasar seperti itu, AIBN lebih senang memproduksi krisan standar lebih banyak.

Secara umum, pasar krisan tetap dipengaruhi bulan-bulan tertentu. “Umumnya meningkat mulai “musim” perkawinan, natal, lebaran, tahun baru, dan imlek,” kata Ivan.

Ia memperlihatkan semacam tabel berisi permintaan pasar berdasarkan bulan. Uniknya bulan tersebut disusun berdasarkan kalender Islam. Mungkin hal itu berhubungan dengan perhelatan yang sering diadakan masyarakat.

Ada bulan-bulan khusus yang harus dihindari. Di antaranya Ramadhan, Muharam, dan Safar. “Saat itu biasanya permintaan sepi,” ujar Ivan.

Halaman terakhir diperbaharui pada 26 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.