Budidaya Tani

Budidaya Auricularia Auricula Menggunakan Media Tanam Gulma

Agoes Poernomo memperlambat laju Land Rover ketika melintasi tepian Sungai Brantas di Mangunrejo, Tulungagung. Dari belakang kemudi pria 54 tahun itu menatap permukaan sungai yang dipenuhi eceng gondok. Kerisauan menuntun ayah 2 anak itu untuk memanfaatkan gulma air sebagai media jamur. Produksi jamur kuping dan tiram bermedia eceng gondok mencapai 70% setara dengan media konvensional.

Ketika siang hampir berlalu, pekebun jamur di Garum, Blitar, itu menghentikan jipnya. Ia turun di tepian sungai untuk menyerok tanaman asal Brazil itu. Setelah 2 karung penuh eceng gondok, ia membawanya pulang. Di halaman rumahnya eceng gondok termasuk batang kemudian dijemur selama 2 pekan. Warnanya yang semula hijau berubah kuning dijemur langsung di bawah sinar matahari. Ketika itu kadar airnya hanya 20%.

Tanaman yang masuk ke Indonesia pada 1894 itu lantas dicuci di bawah air mengalir. Warnanya berubah kecokelatan. Calon media itu lalu dipres agar kadar air hanya 50%. Setelah tiris, anggota famili Pontederiaceae itu dirajang sepanjang 2 sampai 3 cm. Rajangan eceng gondok dicampur dengan bahan media lain.

Jamur Cepat panen

Komposisi dominan, sekitar 78%, berupa gulma air itu. Campuran media berupa 15% bekatul padi, 5% bekatul jagung, 2% kalsium sulfat. Jika perlu tambahkan sedikit air bekas cucian beras. Semua bahan diaduk rata dan ditutup dengan terpal bersih semalaman. Bila suhu media meningkat hingga 60°C, indikasi proses dekomposisi berhasil. Keesokan hari campuran itu siap dimasukkan ke plastik baglog. Caranya sama dengan memasukkan media serbuk gergajian.

Selama ini Agoes telah 4 kali membudidayakan jamur tiram Pleurotus sp dan jamur kuping Auricula sp di media eceng gondok. Setiap uji coba terdiri atas 200 baglog. Dari pengamatan Agoes, miselium jamur tumbuh lebih cepat. Pada hari ke-10 miselium tampak menyebar. “eceng gondok kaya serat. Saya duga mampu mempertahankan kelembapan,” ujar pria kelahiran Blitar 5 Maret 1949.

Eceng gondok
Eceng gondok Layak sebagai media Jamur

Panen perdana pada hari ke-32. Ayah 2 anak itu menuai 60 sampai 75% setara dengan budidaya bermedia konvensional seperti serbuk gergaji. Artinya, jika bobot rata-rata baglog 1,5 kg ia memanen 0,9 sampai 1 kg. Volume itu diperoleh dari masa produksi selama 5 bulan. “Kalau kepadatan baglog kurang sempurna, masa produksi lebih singkat hanya 4 bulan,” katanya. Konsekuensinya, produksinya pun anjlok.

Dekat kumbung

Tanaman yang didatangkan oleh Kebun Raya Bogor itu layak sebagai media jamur. Ketika dikonfirmasi, pengamat agribisnis jamur, Ir Adiyuwono mengatakan, “Saya setuju eceng gondok untuk media jamur. Kalau gergajian kayu sulit dicari, eceng gondok dapat dimanfaatkan. Sekarang pun dapat dipakai untuk membersihkan lingkungan perairan,” ujar alumnus Universitas Islam Nusantara itu.

Biaya produksi sebuah baglog bermedia eceng gondok, mencapai Rp2.500; baglog gergajian, Rp800. Harap mafhum, Agoes memanfaatkan eceng gondok dari Tulungagung berjarak 50 km dari lokasi kumbung jamur di Blitar. “Saya harus mengeluarkan ongkos transpor. eceng gondoknya juga dibeli, bukan gratis. Dari sungai ke jalan raya, saya mesti membayar orang untuk mengangkut,” katanya. Toh ketika sekarang harga jual jamur Rp8.000 per kg, biaya produksi itu relatif rendah sehingga pekebun tetap untung.

Menurut perhitungan Agoes, biaya produksi baglog eceng gondok sejatinya bisa ditekan hingga menjadi Rp700. Syaratnya, memanfaatkan eceng gondok di dekat kumbung sehingga biaya transpor ditiadakan. Tanaman yang mengandung asam humat, asam sianida, triterpenoid, alkaloid, dan kaya kalsium itu selama ini belum pernah dimanfaatkan sebagai media jamur tiram dan kuping. Ketimbang mencemari setu, sungai, atau sawah lebih baik “mantan” tanaman hias itu dijadikan media jamur. Dengan begitu eceng gondok tak bikin gondok. (Pandu Dwilaksono)

Pandu Dwilaksono

Add comment