Budidaya Gurami: Tetap Dicari di Semua Segmen Pasar

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Bermodal telur, Munajat bisa langsung menjual benih ukuran 1— 2 cm sebulan kemudian. Mereka rebutan benih, bahkan mau menjemput hasil temakan di farm. Yang dicari sebesar biji oyong atau umur 30 hari. “Di sini saya kewalahan memenuhi order,” ujar Munajat. Ayah 2 anak itu menghitung permintaan benih melonjak 2 kali lipat daripada jumlah produksinya sejak November 2020.

Ketua Kelompok Tani Mina Mandiri itu tidak sempat lagi membesarkan gurami sampai ukuran silet atau bungkus korek (5—7 cm). Benih ukuran 2 cm atau umur 40 hari sudah dibeli petani atau pedagang dari Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Majalaya, hingga Ciamis. Lonjakan permintaan terjadi karena musim hujan mulai tiba. Penyebab lain, banyak kolam yang kosong di beberapa sentra karena gagal panen akibat banjir. “Begitu harga naik, peternak mulai antusias kembali,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Persedian gurami lokal Masih kurang

Petani gurami lokal

Manisnya bisnis benih juga dialami Julius Tirtasanjaya, pembenih di Parung, Jawa Barat. Benih memang tengah dicari peternak pembesaran. “Permintaan terus meningkat. Padahal, benih sangat sulit didapat bila musim hujan karena tingkat kegagalan tinggi,” kata Uke, panggilannya. Benih mudah stres dan sensitif perubahan suhu, seperti ketika siang hari panas; malam, dingin. Pengalaman Uke tingkat kematian saat penghujan mencapai 50%.

Itulah sebabnya jumlah yang dihasilkan Uke sedikit, 200.000 ekor/bulan. Jumlah itu untuk mengisi kolam sendiri. Bahkan, saat ini ia membeli benih dari peternak lain dengan sistem borong. Artinya, peternak menjual semua hasil panen, mulai dari ukuran kecil hingga besar. Benih disortir sesuai ukuran, yang kecil dicemplungkan ke kolam; besar, dikirim ke pelanggan di Jakarta.

Naiknya permintaan benih sangat terkait dengan pola tebar peternak. Pasokan air melimpah ketika penghujan cocok untuk gurami. Tingkat kegagalan rendah menarik minat peternak untuk mengisi kembali kolam. Tak heran, petakan kolam di beberapa sentra seperti Purwokerto, Parung, Tasikmalaya, dan Tulungagung mulai terisi lagi.

Sebenarnya bukan hanya pembelian benih saja yang makin meningkat. Tapi, harga gurami juga melonjak. Untuk ukuran konsumsi, 500—800 gram di tingkat peternak cukup bagus, Rp1 7.500— Rp 18.000 per kilo. Dua tahun silam, harga itu anjlok hingga Rp14.000/kg. Saat itu peternak mengosongkan kolam daripada megap-megap menanggung rugi. “Kini mereka rebutan benih lagi setelah tahu harga gurami naik lagi,” kata Uke.

Dipasarkan pada Pelanggan tetap

Panen gurami

Wajar bila Uke melirik segmen pembesaran sebagai bisnis menggiurkan. Selain hasil panen kolam sendiri, ia juga menampung dari peternak lain. Toh, cara itu tak mencukupi permintaan. Saat ini ia rutin memasok 30 ton/bulan ke pelanggan tetap di seputar Jabotabek. Jumlah itu pun kadang susah didapat,” katanya.

Sutamo, pengepul di Purbalingga, Jawa Tengah pun harus berburu ke peternak di sekitar Banyumas untuk memenuhi permintaan pelanggan di Pemalang, Cirebon, dan Jakarta. Total jenderal yang harus ia kirim 1,5 ton/bulan. Namun, sejak 3 bulan silam pengiriman ke Jakarta mandeg lantaran sulit memperoleh ikan. Padahal, kebutuhan Jakarta mencapai separuh dari total pengiriman.

Usaha Sutarno sudah maksimal. Bagaimana tidak, sebanyak 14 kelompok tani yang mengelola kolam seluas 26 ha di Purbalingga dirangkulnya. Maksudnya agar kontinuitas pasokan tetap stabil. Toh, cara itu belum juga memenuhi kebutuhan.

Gara-gara sulit mencari ikan, Ahmad Farhan, pemasok di Lebakbulus, Jakarta Selatan menyetop beberapa pelanggan di Jakarta. Kini, hanya restoran dan swalayan saja yang masih rutin dikirim. Hero, misalnya, 100 kg/hari. “Untuk mengumpulkan 15 ton/bulan susah sekali. Beda dengan 2 tahun silam yang relatif gampang,” kata staf Cipta Aquatic itu.

Kebutuhan pasar akan gurami tidak pernah surut

Gurami tetap diminati sebagai menu istimewa

Menurut Farhan gurami selalu diminta restoran dan swalayan di kota metropolitan, termasuk Jakarta. Di swalayan Hero, gurami dipajang di akuarium karena dijual segar. Restoran selalu menyediakan gurami sebagai menu “wajib”. Gurami juga banyak dibutuhkan perusahaan catering.

Contohnya, restoran Ikan Gurami di Kebonsirih, Jakarta Pusat disitu disajikan menu gurami goreng dan bakar dengan aneka bumbu. Kebutuhan gurami segar mencapai 150 kg/minggu. Agar tetap mendapat ikan, ia mengandalkan 3 pemasok di Jakarta. Bila habis langsung kontak,” kata Ade Dahlan, staf restoran.

Dengan kondisi saat ini, Uke memprediksi bisnis gurami tetap menjanjikan. Dan naik turunnya tidak drastis karena pasokan belum melimpah,” katanya. Itu membuat semua segmen usaha ramai, mulai dari pembenihan, pendederan, hingga pembesaran.

Pembenih boleh dibilang paling enak karena bermodal cekak, ruang sempit, dan perputaran cepat. Namun, seabrek risiko harus ditanggungnya, seperti larva tiba-tiba mati. Terutama di musim hujan yang riskan perubahan suhu lingkungan. Bila ceroboh, bukannya untung diraih malah rugi yang didapat. Untuk menekan kematian, Munajat memasang penaung di atas kolam pembenihan. Dengan cara itu tingkat kelulusan hidup mencapai 80%.

Pembesaran pun tak kalah gurih. Itulah yang dialami Marulloh, peternak di Pondokrajeg, Cibinong, Jawa Barat. Dari 3 kolam ukuran masing-masing 40 m x 20 m dipanen 300 kg. Bila harga Rp17.000/ kg, maka sekitar Rp5,1-juta mengisi pundi-pundinya. Itu belum termasuk 2 kolam lain yang bakal dipanen 3 bulan mendatang.

Pos terkait