Budidaya Tani

Budidaya Koi: Setelah Herpes Berlalu

Herpes mengamuk, pundi-pundi Chriestina ES tumpah. Pendapatan peternak koi di Blitar, Jawa Timur, itu melorot hanya Rp14-juta per bulan. Sebelum herpes mewabah, ibu 4 anak itu meraup hingga Rp35-juta. Omzet yang ditangguk perlahan pulih seiring berlalunya virus mematikan itu.

Ketika ditemui Trubus penghujung Maret silam, Chriestina mengatakan kewalahan memenuhi pesanan. Pelanggan-pelanggan lama dari Semarang, Surabaya hingga Bandung minta dipasok lagi. Permintaan sekitar 2.000 ekor per bulan untuk kualitas kropyok ukuran 10 sampai 15 cm, seharga Rp5.000/ekor, hingga kini belum seluruhnya terlayani. Order burayak berumur 21 hari terpaksa ditolak.

Volume permintaan itu memang baru separuh dari jumlah yang biasa dipasok sebelum herpes merebak. Ketika itu kebutuhan koi kropyok rata-rata mencapai 7.000 ekor/bulan. Itu belum termasuk sesekali penjualan koi kualitas kontes Rp15-juta/ekor.

Begitu KHV (koi herpes virus) melanda, konsumen menghentikan pembelian. Chriestina pun terpaksa mengobral ratusan anakan koi dari kolam 3 ha. Seekor koi cuma dibandrol Rp2.500. “Semua itu untuk membayar sewa tanah, listrik, dan tenaga kerja,” ucap pemilik Pondok Koi itu. Kolam-kolam itu lantas ditanami kangkung.

Selama 6 bulan wabah merajalela, penjualan hanya 3 sampai 5 ekor per bulan berukuran sedang 20 sampai 40 cm. Dengan kisaran harga Rp3-juta sampai Rp5-juta per ekor, Chriestina hanya menangguk Rp14-juta per bulan.

Wajar bila nenek 3 cucu itu pontang-panting memburu induk koi siap pijah tatkala order besar menghampiri. Pasalnya, dari 125 ekor induk yang disimpan selama KHV [efn_note]Kathleen H. Hartman, Roy P. E. Yanong. Koi Herpesvirus Disease (KHVD). 22 Nov. 2019, https://edis.ifas.ufl.edu/vm113.[/efn_note] merajalela tak bisa tiba-tiba dipacu menelurkan banyak burayak. Yang dijual pun sebetulnya burayak yang menetas selama induk itu I diisolasi.

Proses Recovery yang cukup lama

Pendapatan Chriestina melorot drastis saat herpes menyerang

Nasib seperti Chriestina ES dialami pula oleh sekitar 800 penangkar lain di Blitar. Ngalimun, di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, misalnya, kini hanya mampu melayani 100 ekor per bulan ukuran 10 sampai 15 cm kualitas kropyok ke pelanggan di Semarang dan Surabaya. Ia mematok harga rata-rata Rp20.000/ekor. Untuk kualitas A harga itu melonjak 4 kali lipat. Volume itu memang turun 75% dibanding permintaan tahun sebelumnya.

“Untuk kembali seperti sediakala perlu waktu agak lama,” ucap anggota Sumber Harapan Koi Club itu. Ia berhitung, sebelum KHV meneror, omzet penjualan rata-rata Rp7,5-juta/bulan. Begitu bencana tiba, sontak aliran fulus anjlok hingga Rp700.000 per bulan, (baca: Yang Menangis karena Herpes, ).

Kamus menyerah tak berlaku untuk ayah 1 putra itu. Berbekal 20 induk yang selamat, sejak akhir November , petak kolam seluas 1.400 m2 mulai berproduksi lagi. Ia berancang-ancang menggenjot volume penjualan hingga 1.000 ekor/bulan. Harga dipatok minimal Rp35.000/ekor untuk menutupi segala kerugian.

Impor bangkit lagi

Maraknya permintaan koi pascaherpes bukan monopoli peternak lokal saja. Para importir pun kini mulai bangun dari tidur sejalan dicabutnya larangan impor. Surat yang diterbitkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI itu bertujuan untuk mengisolir penyebaran herpes yang diduga menyusup dari Taiwan, Cina, dan Israel. Larangan itu efektif berlaku dari Mei sampai Desember .

Berbekal surat izin impor baru dari Dinas Kelautan dan Perikanan RI, Fajar Surya, kembali mendatangkan 100 ekor aneka ukuran dari Jepang tahun lalu. “Ikan itu baru untuk stok dulu,” tutur pemilik Fajar Koi di Surabaya itu. Volume itu akan ditambah seiring ramainya kontes dan pameran ikan di tanah air.

Menurut Fajar selama herpes berjangkit tak ada satu ikan pun yang terjual. Penyebabnya, pembeli masih diliputi ketakutan. Jangankan datang membeli, sekadar melongok ikan di showroom pun langka terjadi. Namun, kini konsumen mulai menengok lagi.

Tan Peng Lung pada bulan yang sama juga memasukkan 100 koi ukuran 10 cm dari Miyajima, Jepang. Memang volume itu menyusut 70%. Bukan karena ia tak mampu membeli, tetapi tersandung selektifnya perizinan. “Izin keluar dan masuk ikan di karantina di Jepang dan Indonesia diperketat gara-gara herpes,” ucap pemilik Royal Koi Center di Jakarta itu.

“Di negeri moyangnya koi, Jepang, penjualan koi sempat merosot,” ujar direktur PT Wira Griya Mustika itu. Itu antara lain dialami Miyajima farm yang dikenal memproduksi sanke, yamabuki, kohaku, dan showa. Farm di kota Tomomichi itu setiap bulan memproduksi 500.000 ekor. Menurut Toshiaki Miyajima pemilik farm hanya 1 % alias 5.000 yang lolos seleksi, selebihnya dibuang.

Dari total produksi itu 5% di antaranya terserap pasar Indonesia. Pasar gemuk baginya adalah negera-negara Eropa yang menyerap 50%. Meski serapan kecil, Miyajima tetap waswas ketika epidemi herpes melanda Indonesia. Hanya konsumen dari negara-negara Uni Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Jerman yang masih berani mengimpor. Sebab, selama ini kasus herpes belum pernah ditemukan di negara-negara itu.

Memasuki 2003, ketakutan penangkar, importir, dan hobiis tanah air terhadap herpes kian berkurang. Buktinya, kontes besar koi yang vakum selama setahun lebih mulai berjalan kembali. Baru-baru ini kontes tahunan ZNA diadakan lagi di Kemayoran, Jakarta Pusat. Lomba serupa pun rencananya diselenggarakan di Semarang pertengahan tahun ini.

Penyebab sekunder

Herpes disinyalir pertamakah muncul di Israel dan Afrika Selatan pada 1998. Wabah itu sempat pula melanda Amerika Serikat, 2 tahun kemudian sebelum akhirnya menjalar ke Asia. “Penyebab herpes adalah virus,” ucap Drs Hambali Supriyadi, MSc, peneliti Balai Riset Penelitian Budidaya Air Tawar di Pasarminggu.

Menurut Hambali justru penyebab sekunder yang membikin ikan cepat mati. Bakteri Flexicbacter columnaris perusak insang kerap mendompleng tatkala herpes menyerbu. “Efek serangan ganda itu membuat ikan berumur pendek,” tutur Hambali. Serangan terhebat terjadi saat musim peralihan karena saat itu kualitas air menurun.

Ikan terserang menunjukkan gejala lesu, lemas, dan muncul bintik putih di insang. Lama kelamaan kulit menarah seperti melepuh. Mayoritas peternak di Blitar dan Sukabumi mengobati dengan antibiotik seperti Oxytetracycline, streptomysin, dan Choloromycetin. Ketiga obat itu biasanya dicampur dengan pakan. Padahal, “Pemakaian antibiotik tak menolong ikan yang terinfeksi,” ucap Cece A.Pi, Kepala Seksi Dinas Kelautan dan Perikanan Karjono Kabupaten Sukabumi. Sampai kini pun belum ditemukan obat penangkalnya.

Rugi miliaran

Kontes koi mulai marak lagi pasca herpes

Pantas jika dampak epidemi herpes cukup besar. “Di Blitar sejak wabah menyerang kerugian mencapai Rp15-miliar,” ujar Sumarlie, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Blitar. Kerugian itu menampar pula sentra lokal lain, Sukabumi. Untuk kurun April sampai Oktober kerugian ditaksir Rp2,7-miliar.

Peternak yang tertimpa musibah cuma bisa mengelus dada. Imam Muhson di Blitar, misalnya tekor Rp15-juta dari kematian 500 ekor di 2 kolam seluas 200 m2 selama Mei sampai September. “Hanya semalam ikan terinfeksi langsung mati dengan insang terluka,” tutur peternak di Desa Kuwut itu.

Celakanya, 20 ekor kualitas A ukuran 15 sampai 20 cm seharga Rp500.000/ekoryang tersisa batal dipasok ke Kalimantan. Ada pencekalan dari Departemen Kelautan dan Perikanan RI untuk jual-beli ikan antarpulau terutama asal Jawa. Kalaupun terpaksa mengirim perlu dispensasi karantina. “Kesehatan ikan wajib dicek agar penyakit tak meluas. Itu berarti butuh biaya ekstra,” tuturnya.

Meski tak sejelek nasib peternak lokal, beberapa importir sempat panik ketiban musibah itu. Hasan Suratio buru-buru mengungsikan seluruh koi impor setelah didapati 5 ekor koi ukuran 30 sampai 40 cm mati pada Januari. Kerugian yang diderita mencapai Rp10-juta. Agar kejadian itu tak terulang, pemilik Indo Koi di Jakarta itu mengeringkan kolam secara berkala 2 hari sekali.

Air hujan

Gonjang-ganjing herpes disikapi berbeda-beda. Meski telah dinyatakan reda, penangkar di Sukabumi memilih berhenti beternak. Pasalnya, kas yang dimiliki sudah habis terkuras untuk menanggulangi serangan herpes. Apalagi rasa khawatir serangan itu kembali masih menyelimuti kebanyakan penangkar.

Kecemasan itu tak beralasan bagi Suroyo, peternak di Sleman, Yogyakarta. Meski terpuruk hingga rugi Rp25-juta selama April sampai September, ia tetap memilih koi sebagai ladang usaha. Sepuluh induk tersisa, sejak November mulai berproduksi kembali. “Kalau pesanan 50 sampai 100ekor/bulan ukuran 10 sampai 15 cm masih bisa,” tutur ayah 1 putra itu. Setiap ikan rata-rata dijual Rp50.000 sampai Rp 150.000.

Totok Subihandono di Desa Nglegok, Kecamatan Nglegok, Blitar, punya harapan sama. Meski pemasukan dari koi sempat terputus selama 8 bulan, kini ia sibuk lagi mengumpulkan ikan-ikan dari peternak sekitar. Seluruhnya untuk memenuhi pasar Jakarta. Setiap bulan minimal 300 sampai 400 ekor beragam ukuran, 9 sampai 15 cm, Rp15.000/ekor; 20 sampai 25 cm, Rp60.000 sampai Rp80.000/ekor; di atas 30 cm, Rp200.000/ekor rutin dikirim.

Bencana herpes memang merebak selama kemarau panjang berlangsung, la bukan untuk ditakuti,’ tapi diwaspadai. Itulah yang diyakini oleh Ngalimun. “Herpes akan lenyap seiring turun hujan. Saat itu air di kolam-kolam akan berganti,” ucapnya.

Pandu Dwilaksono