Budidaya Sayuran Dalam Naungan Greenhouse

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Berkebun organik lebih "aman" di greenhouse

Greenhouse berbentuk tunnel itu tampak berbeda. Di dalamnya tidak terlihat deretan rockwool, talang air, polybag dengan media sekam, lantai beralas semen atau sekadar ditutup mulsa plastik hitam. Yang tampak justru sederet bedengan selebar 120 cm lengkap dengan paritnya.

Tanah yang hitam legam pertanda kaya bahan organik penuh dengan pakcoy berwarna hijau segar dan mengkilap. Di bedengan lain, caisim dan selada juga tumbuh subur. Itulah greenhouse milik pekebun sayuran organik di Tainan, sentra sayuran di Taiwan.

Bacaan Lainnya

Greenhouse untuk berkebun organik lazim dipakai di sana. Teknik serupa kini diterapkan oleh Sania Larasati  yang bersangkutan enggan disebut namanya di Desa Sanggrahan, Kecamatan Cemani, Kabupaten Sukoharjo. Di lahan 13.000 m2, pemilik pabrik obat-obatan itu membangun 10 greenhouse khusus untuk bertanam sayuran organik.

Kebun organik yang terletak di seberang pabrik itu berbeda dari lahan kebun organik manapun. Sepuluh buah greenhouse kokoh berbentuk tunnel berderet rapi. Rumah tanam berukuran 8 m x 150 m x 5 m itu dibuat dari rangka dan kawat ram besi. Tentu dananya amat besar.

Sebagai gambaran untuk mendirikan sebuah greenhouse per m2 mencapai Rp50.000. Itu hanya memanfaatkan bambu. Di tengah-tengah greenhouse terdapat jalan setapak yang diapit bedengan-bedengan berukuran 1 m x 10 m. Sedangkan di bagian atas bedengan dipasang pipa-pipa irigasi. Sayuran disiram dengan teknik sprincle irrigation ketika tegak kran diputar.

Beraneka ragam sayuran seperti kangkung darat, sawi, bayam hijau, bayam merah, kembang kol, kucai, selada, kailan, dan pakcoy dalam greenhouse. Selain sayuran daun, asparagus hijau dan okra juga dibudidayakan. “Permintaan sayuran-sayuran itu tak pernah habis. Itu karena mereka menganggap sayuran tersebut wajib tersaji di meja makan,” ujar Aditya, salah seorang karyawan Sania.

Sania kadang-kadang menanam sayuran-sayuran baru. Sebut saja tongsan jenis sawi, dan selada dengan tepi daun rata yang benihnya diperoleh dari Singapura. Alasannya sekadar ingin mengetahui sosok sayuran baru.

Bebas pestisida

organik

Sania berkomitmen tidak menggunakan bahan kimia apa pun dalam budidaya sayuran. Selama ini ibu 4 anak itu menanam sayuran menggunakan kotoran ayam dan sapi matang sebagai pupuk. Tanah yang sudah dicangkul dicampur dengan 10 sampai 20 ton per greenhouse pupuk kandang.

Setelah tercampur merata, tanah dibuat bedengan. Pemberian pupuk itu hanya dilakukan sekali sampai panen. Jarak tanam yang digunakan berbeda-beda. Misalnya selada ditanam dengan jarak 20 cm x 20 cm, kembang kol yang sosoknya lebih besar, 50 m x 50 m.

Kebun organik itu tak luput dari serangan hama dan penyakit. “Belalang, ulat grayak, trips, dan aphid sering ditemukan di sini,” ujar Aditya. Untuk mengendalikan organisma pengganggu ia menggunakan campuran rempah-rempah.

Semua bahan direbus sampai mendidih, Kemudian disaring dan diendapkan 1 sampai 2 malam. Bahan-bahan itu menimbulkan aroma yang tidak disukai hama dan penyakit,” ujar Sania.

Selain menggunakan pestisida nabati, sebagai companion plant tanaman pendamping ia menanam kenikir. “Di samping bisa mengusir hama, kenikir sangat lezat dikonsumsi,” kata Aditya. Akar tanaman berbunga kuning itu mengeluarkan senyawa tiophen yang dapat mematikan nematoda.

Dengan pengawasan ketat, wajar jika sayuran itu tampil prima. Sayuran-sayuran itulah yang dikonsumsi perempuan energik saban hari. Bahkan ketika makan siang pun ia memilih untuk pulang ke rumahnya. Sania menyantap bahan pangan organik. Pola makan itu mungkin turut andil terhadap kesehatannya. Pada usianya yang ke 71, ia masih tampak segar.

Tak semua sayurannya dikonsumsi sendiri. Sebagian juga dipasarkan ke beberapa pasar swalayan di Surakarta dan Yogyakarta. Tercatat 5 supermarket terkenal yang memesan secara rutin yaitu Hero, Hypermarket, Indogrosir, Alpha, dan Gelael. Namun wanita Solo itu baru bisa memenuhi permintaan di Jawa Tengah. Mereka biasanya memesan 20 sampai 50 ikat/ jenis sayuran setiap minggu.

Dikemas apik

Area dalam greenhouse

Setiap greenhouse terdiri atas beberapa jenis tanaman dengan kuantitas disesuaikan pesanan pasar swalayan. Jika jumlah pesanan banyak mencapai 50 sampai 200 ikat/jenis sayuran untuk satu pemesan, penanaman dibuat blok-blok.

Misalnya, blok satu terdiri atas kangkung, bayam, kucai, pakcoy, dan selada pesanan dari Hero. Kemudian di blok lain ditanami sayuran serupa yang dipesan pasar swalayan lain. Setelah panen, lahan tidak ditanami tanaman sejenis. Itu menghindari kemungkinan serangan hama dan penyakit.

Teknik pascapanen pun tak luput dari perhatian Sania. Sayuran yang telah dipanen, dihindarkan dari sinar matahari langsung untuk mencegah penguapan tinggi. Pencucian dilakukan di bak berukuran 3m x 1m x 1m. Setelah dibersihkan, sayuran ditiriskan pada bilahan-bilahan bambu yang diletakkan di atas bak pencucian.

Tidak bisa dipungkiri, sampai saat ini harga jual produk organik tebilang tinggi. Misalnya kangkung nonorganik, Rp500/ikat, kangkung darat organik Rp2.000/ikat. “Walaupun harga tinggi, tapi untuk kalangan tertentu mereka tetap setia mengkonsumsi sayuran organik,” ucap wanita kelahiran Surakarta itu.

Sania bermain sayuran organik sejak 10 tahun silam. Ia menggunakan tanah kosong milik perusahaannya seluas 13.000 m2 yang terbengkalai. Untuk persiapan berkebun, ia banyak membaca literatur dalam dan luar negeri.

Pos terkait