Bunga Kol Makin Ditunggu Pasar

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
petani kol
Para petani tengah memanen kembang kol

Aktivitas Helmin Sukandi kian padat. Maklum, ia mesti memenuhi permintaan 2 ton bunga kol setiap hari. Lahan 3 ha yang ia kelola secara tumpang sari, tak mencukupi kebutuhan pasar. Itulah sebabnya setiap pagi ia menyambangi pekebun plasma yang siap panen. Ia berharap memperoleh tambahan pasokan.

Sementara ia berkeliling, 5 karyawannya memanen di lahan sendiri di Lembang, Bandung. Dari 3 ha lahan hanya 1,5 hektar yang ditanami anggota famili Cruciferae itu, selebihnya beragam sayuran seperti sawi dan tomat. Ia memanen 20 sampai 50 kg per hari. Padahal untuk permintaan pasar swalayan di Jakarta seperti Hero dan Kemchick, serta pemasok pasar swalayan mencapai 500 kg per hari. Kekurangannya diperoleh dengan menebas milik pekebun lain.

Bacaan Lainnya

Bloemkool yang diperoleh hari itu disortir dengan kriteria warna kuning cerah, segar, krop padat, dan bebas dari gerekan serangga. Pasar swalayan memang hanya menghendaki bunga kol kualitas super. Helmin mendapat harga Rp3.500 per kg yang terdiri atas 1 sampai 2 bunga kol.

Selebihnya yang tak memenuhi standar kualitas dipasarkan ke Pasar Induk Caringin, Bandung. Volume per hari mencapai 1,5 to dengan harga jual Rp1.500 per kg. Jika total pasokan 2 ton sehari, berarti Rp3,5-juta mengalir deras ke koceknya. Setelah dikurangi biaya transpor, kemas, dan lainnya, Rp1,2-juta laba yang ia peroleh.

Permintaan pasar yang makin meningkat

kembang kol di pasar tradisional
Kebutuhan pasar akan kembang kol sangat tinggi

Desember lalu permintaan meningkat, “Tiga kali lipat dari biasanya,” ujar ayah 5 anak itu. Perayaan hari besar keagamaan yang berdekatan Lebaran dan Natal memicu peningkatan itu. Setelah itu disusul Imlek sehingga kebutuhan bunga kol mencapai puncaknya.

Menurut Helmin, menjelang Imlek permintaan bertambah hingga 300 sampai 400 kuintal sepekan. Harga jual juga mengikuti jejak peningkatan. Jika pada hari-hari biasa hanya Rp3.000 sampai Rp3.500 per kilogram, menjelang Imlek naik hingga Rp4.000.

Hal serupa dialami PT Bimandiri Kula Sentana Prima. Menurut Ahmad Rifani dari Bimandiri, menjelang Idul Adha harga cenderung melonjak. Jika biasanya hanya Rp3.000 per kg, naik hingga 20%, volume pasokan stabil. Pada saat itu bunga kol sangat dibutuhkan lantaran banyak keluarga yang menyelenggarakan hajatan. Setiap hari Bimandiri memasok pasar swalayan di Jakarta, 2 kuintal.

Rifani mengandalkan pasokan 10 pekebun plasma yang tersebar di sekitar Lembang. Menurut Rifani, pekebun tetap meraih untung dengan harga penjualan Rp1.500 per kg. Biaya produksi untuk menghasilkan sekilo bunga kol hanya Rp500 sampai Rp700. Sementara Bimandiri mendapat harga Rp5.000 sampai Rp6.000 per kilo. Keuntungan memang bukan monopoli pekebun besar.

Contohnya, Sarman yang menanam 5.000 benih di lahan 1/4 ha. Petani di Kecamatan Ngablak, Magelang itu menuai 1,5 ton bunga kol setiap panen. Jika harga di tingkat petani Rp 1.000 sampai Rp 1.300 per kg dan biaya produksi Rp500, setidaknya Saman untung Rp750.000.

Hadangan dan kendala yang sering ditemui

petani panen
Para petani tengah memanen kembang kol

Tak semua pekebun seberuntung Helmin Sukandi. Banyak pula yang mundur teratur karena kendala budidaya. Misalnya, Rebo, petani di Desa Babrik, Kecamatan Ngablak, Magelang. Walau 4 periode berturut-turut mengembangkan Brassica oleracea var. botrytis itu, sulit memperoleh krop. “Setiap tanam rugi terus karena panen sedikit,” jelas ayah berputra satu itu. Pada 2000 saja, rugi Rp2-juta dari penanaman 0,5 hektar.

Kendala lain dialami pekebun di Lembang, Bandung. Untuk mendapatkan curd bakal bunga yang belum mekar terdiri atas 500 kuntum mulus dan krop kompak berwarna kekuningan, dibutuhkan 4 kali penanaman. Jika umur produksi 62 hari, berarti untuk mendapatkan krop bagus perlu 248 hari. “Kalaupun dipaksa panen turunan pertama, krop pasti jelek karena tidak rapat,” papar Aceng, petani di Lembang.

Pada musim hujan, curd terbentuk relatif sedikit, berukuran kecil, dan berwarna putih pucat. Celakanya petani mempunyai kebiasaan buruk. Mereka acapkali menanam sepanjang tahun. Akibatnya, “Hasil panen banyak yang jelek, hanya 30% yang memenuhi standar kualitas,” jelas Windu Priyo staf produksi Putri Segar di Lembang.

Serangan ulat Plutella xylostella juga menciutkan nyali petani. Pasalnya sekali menyerang alamat bunga kol rusak. Pemanfaatan insektisida pun nyaris tak berdampak. “Seperti merawat bayi jadinya.

Kita mesti telaten mengambil ulat satu per satu,” tutur Pratikno, petani di Kecamatan Muntilan, Magelang. Pekebun di Cijengkol, Lembang, lebih diuntungkan. Jarak antara curd dan batang relatif singkat sehingga ulat sulit ditembus. Sepanjang kendala itu teratasi, laba menanti pekebun.

Pos terkait