Burung-burung Dalam Dunia Agrikultur

Ada kalanya bangsa burung dimusuhi sebagai hama dan pembawa penyakit. Pipit diganyang sebagai pemakan
padi. Betet penggasak jagung. Merpati perusak gedung bangunan. Dan burung layang-layang musuh infrastruktur pertambangan lepas pantai.

Namun ada masa lain lagi, burung menjadi pahlawan, sumber kemakmuran dan kebahagiaan. Makanya ada rumah-rumah walet yang dibangun mahal-mahal. Ada lomba cucakrawa berhadiah jutaan rupiah. Ada pula ekspor impor robin, burung cinta, perkutut, nuri, jalak-bali, dan seterusnya.

Moralnya sama: benci atau cinta, burung sangat penting bagi manusia. Bahkan ada yang sampai bikin dongeng, bahwa adik bayi datang dibawa bangau putih, alias stork. Di tempat lain ada yang percaya bahwa bumi ini dititipkan pada burung emu yang besar, tapi tak bisa terbang.

Bagaimana sebenarnya peta historis perburungan? Adakah manusia cukup menghargai burung? Atau sebaliknya: melecehkan dan cenderung memusuhi burung-burung dunia? Yang terang ada sekitar 18 dari 200-an negara memuja garuda sebagai lambang nasionalnya. Di antaranya tentu Indonesia (elang jawa), Thailand (elang emas), Amerika Serikat (elang botak), Irak, Jerman, dan Mesir dengan elang masing-masing.

Sekarang, seberapa dekat Anda dengan dunia burung? Apakah Anda termasuk anggota Sahabat Burung Indonesia? Apakah Anda sempat melihat rombongan raptor, burung berbagai jenis alap-alap, elang, dan rajawali bermigrasi dari Asia ke Australia setiap akhir tahun? Apakah Anda berdiri di kawasan Puncak (Jawa Barat) dan meneropong rombongan mereka lewat bagaikan awan hitam berarak di langit senja?

Belakangan, keasyikan menonton burung (bird watch) telah tumbuh berkembang menjadi atraksi penting dalam ekoturisme. Sebagai gambaran, betapa besar bisnis yang telah digalangnya. American Bird Conservancy menghitung, di Florida saja, aktivitas bird watching menyumbangkan dana lebih dari 400 juta dolar setiap tahunnya.

Apakah burung-burung (terutama berbagai jenis bebek) itu ditembaki? Tidak! Cukup ditonton saja sudah mendatangkan banyak uang dan menggerakkan perekonomian. Ada bisnis topi, teropong, jas hujan, sepatu rawa,kamera dan film, yang ikut bergerak maju bersama aktivitas mengintai burung itu.

Jadi mulai sekarang, tidak ada alasan untuk menembaki burung di hutan, di taman-taman kota, maupun di kuburan. Burung adalah indikator kemakmuran sebuah bangsa. Kalau tak percaya, pergilah ke Menara London. Di sana burung gagak dilindungi, dan dipercayai: kalau sampai punah, runtuhlah ibukota kerajaan Inggris Raya.

Burung juga pertanda baik-buruknya agrikultur. Di danau-danau dan sungai di Midwest, kita akan melihat bebek-bebek liar, camar, dan berbagai burung air bertebaran. Begitu juga di tempat-tempat terlindung, termasuk di Indonesia, seperti di seputar Bandara Soekamo-Hatta. Kalau beruntung Anda akan melihat ratusan kuntul, sejenis bangau putih kecil, dan comoron (burung air berleher panjang) duduk-duduk atau berdiri termangu di sepanjang rawa dan rerumputan.

Namun sejak revolusi hijau berkobar, pestisida, insektisida dan racun disebarkan untuk membunuh serangga sawah, habislah semuanya. Serangga yang dicari kodok, habis. Lalu kodok, belut, bahkan cacing pun punah. Maka burung-burung itu tak datang lagi.

Pertanian organik

Loretta Brenner, seorang pakar sertifikasi pertanian organik di Amerika, menyatakan sulit membayangkan pertanian organik tanpa burung. Kenyataan di berbagai negara, terutama di Denmark dan Kanada, pertanian organik jauh lebih kaya akan burung daripada pertanian konvensional yang menggunakan bahan kimia untuk pupuk, pestisida, dan insektisida.

Hasil pengamatan 18 tahun di Inggris menunjukkan, berkurangnya jumlah burung diikuti oleh menurunnya kualitas gandum-ganduman. Secara turun-temurun burung membantu petani, mulai dari memberantas serangga, hingga memberikan pupuknya. Setelah penggunaan insektisida dan herbisida ditingkatkan, habis jugalah populasi burung yang sebetulnya turut berjasa.

Untungnya masih ada contoh petani-petani yang peduli. Misalnya di Oregon, AS, para petani menyediakan sarang-sarang burung di seputar ladang. Bahkan ada yang sengaja menanam pohon ceri kesukaan burung seriti, pemangsa serangga. Maka jangan heran bila melihat ladang dan sawah lebih indah, bukan hanya karena macam-macam rumah burung disana-sini, tapi juga karena musik alamnya tak pernah berhenti.

Yang menyedihkan merosotnya jumlah burung di seluruh bumi. Berbagai jenis bebek, burung air baik di danau, sawah-sawah, sungai, dan pantai berkurang jutaan ekor setiap tahun. Itu semua akibat pemakaian insektisida. Di Inggris, populasi burung diperhitungkan merosot dari 110 juta ekor sebelum Perang Dunia II tinggal 25 juta pada pertengahan 1980-an. Untuk menahan laju kepunahan akibat modernisasi pertanian ini, para omitologis mengajukan sejumlah usul.

Misalnya, agar setiap ladang menyisihkan jalur hijau selebar 6 meter di sekelilingnya. Kalau jalur hijau itu tidak disemprot dengan herbisida dan pestisida, bermacam gulma dan tanaman liar yang diperlukan burung bisa terus tumbuh. Dengan begitu burung-burung mendapatkan suaka yang relatif aman. Khusus mengenai upaya penyelamatan burung ini, kita boleh belajar dari Inggris yang punya kelompok remaja pencinta burung paling aktif di dunia.

Di Inggris pula, pelestarian jalak bali yang sudah hampir punah itu mendapatkan hasil menggembirakan. Jadi kalau di habitat aslinya, Taman Bali Barat, tinggal 50-an ekor jalak bali yang bebas di alam lepas, di Inggris konon sudah berbiak lebih dari 200 ekor. Dengan penghutanan tepian sungai dan perluasan “pematang” populasi burung dapat ditingkatkan hingga 30 persen setahun.

Kini lebih dari 62 jenis burung berhasil diidentifikasi di ladang-ladang yang telah mendapat penghijauan. Kawasan penyangga burung juga berhasil ditingkatkan hingga 400 persen dibanding satu generasi silam. Ada yang mengharapkan populasi burung idealnya lima kali jumlah manusia. Jadi kalau kepulauan Inggris dihuni 57 juta jiwa, diharapkan 285 juta ekor burungnya. Kalau Indonesia berpenduduk 200 juta orang, maka sedikitnya harus dijamin satu miliar burung hidup sejahtera di sekitar kita.

Artinya, setiap satu orang berteman dengan lima ekor burung! Jangan heran. Menurut perhitungan Birdlife Indonesia, 1.583 jenis burung hidup di negeri ini. Di antara jumlah itu ada 352 yang khas, atau endemik. Semua orang tahu, bahkan burung surgawi tinggal di Papua. Masyarakat internasional menyebutnya The Bird of Paradise. Kita bilang cenderawasih.

Sahabat Burung Indonesia

Sekali lagi, perkembangan burung di alam terbuka berbanding lurus dengan kemajuan petani mengelola pertanian organiknya. Hal ini juga terbukti di daratan Eropa, terutama Swiss dan Denmark.

Sekarang, pernahkah Anda melihat burung bersayap biru? Kalau paruhnya merah dan suaranya nyaring, ia dipanggil raja udang atau cekakakjawa. Kalau paruhnya hitam dan sedikit berkumis, namanya cekakak sungai. Kedua jenis burung ini hidup di daerah mata-air, di tepi sungai, atau di kolam-kolam. Mereka bersarang di tebing-tebing dengan membuat lubang di tanah. Kehadirannya bisa jadi indikator, kualitas air di daerah itu sangat bagus.

Dengan semakin sempitnya lahan, semakin sulit bagi mereka untuk berkembang. Burung yang suka tertawa tergelak-gelak ini, untungnya, sangat bersahabat dan mau dibuatkan rumah oleh manusia. Endang Budi Utami, seorang insinyur yang hampir 20 tahun berbakti di Taman Burung, mencoba membuat disain rumah-rumahan secara alami.

Perilaku masyarakat Indonesia terhadap burung juga semakin membaik dari tahun ke tahun. Sejak 2001, di Bogor berkembang kelompok Sahabat Burung Indonesia. Dengan menggunakan “Warta Teropong” kelompok ini mengadakan penyuluhan di kalangan remaja di berbagai kota. Sahabat Burung mendapat dukungan dari masyarakat internasional, termasuk dari John D & Catherine T. MacArthur Foundation. Dukungan juga datang dari pencinta burung di Belanda, Vogelbescherming; dan pencinta burung di Switzerland, SVS. Buletin “Warta Teropong” diterbitkan oleh BirdLife Indonesia.

Pertanyaan paling sederhana adalah: mengapa inisiatif untuk mencintai burung saja, harus didorong oleh berbagai kerabat dari luar negeri? Belum cukup mampukah kita mencintai unggasnya sendiri? Kita punya pasar burung di Ngasem, Yogyakarta, dan Pasar Pramuka, Jakarta. Keduanya termasuk besar, mempesona dan mencengangkan para pencinta satwa.

Dalam banyak kesempatan, burung-burung yang dilindungi justru dijualbelikan. Penyelundupan satwa langka masih sering menjadi berita. Sebaliknya, burung gelatik jawa yang dulu dimusuhi sebagai hama padi, kini semakin jarang terlihat. Ada kemungkinan mereka hampir punah dan memerlukan perhatian khusus.

Masih cukup banyak burung yang di luar negeri hidup alami, menjadi ternak dan obyek agribisnis di sini. Sekadar contoh, seorang pengusaha restoran di Palangkaraya, sedikitnya memerlukan 2.000 ekor anak merpati yang siap konsumsi setiap hari.

Kalau semalam laku sepuluh porsi dengan harga Rp 15.000 seekor, maka anak-anak merpati asal Yogya itu menyumbangkan omzet Rp 30-juta untuk sebuah restoran kelas menengah. Belum lagi yang diperlukan di hotel-hotel kelas atas dan di pesta-pesta pengantin. Kalau ada 100 restoran semacam itu, total perniagaan burung dara goreng dapat dihitung sendiri. Jumlah ini, bukan apa-apa jika dibandingkan dengan perdagangan burung eksotis seperti beo, cucakrawa, atau murai. Seekor perkutut yang diyakini membawa hoki, konon bisa laku ratusan juta rupiah.

Singkat kata: di mana pun, bagaimana pun, burung hidup jauh lebih mahal ketimbang yang sudah digoreng. Jadi, perkara yang paling mendesak adalah bagaimana manusia dapat hidup rukun, mencintai dan menjaga kelangsungan hidup burung, sebagai sesama mahluk, pewaris alam semesta. Tanpa burung, hutan akan habis, sumber air dan oksigen akan berkurang. Semakin jelas sudah, kesejahteraan burung berarti kemakmuran bagi manusia. ***