Budidaya Tani

Busuk Rimpang? Pakai Saja Irisan Bawang

Di hamparan itu sebanyak 100 dari 250 rumpun jahe berumur 5 bulan terkulai tak berdaya.Saat dicabut, rimpang yang seharusnya segar terlihat kering kehitam-hitaman. Busuk rimpang Fusarium oxysporum melanda kebun kecil itu.

Busuk rimpang memang momok menakutkan bagi pekebun jahe. Cendawan sang biang keladi bisa menyebar ke tanaman lain dalam hitungan hari. Busuk rimpang muncul gara-gara penggunaan bibit yang sebelumnya terkontaminasi. Jika dibiarkan, kerusakan akibat serangannya bisa meluluhlantakkan seluruh areal pertanaman.

Nun di Cilebut, Bogor, momok menakutkan itu bisa dikendalikan. Aripin, petani jahe, memakai bawang merah sebagai langkah penanggulangan. Taburkan irisan bawang merah di sekitar areal penanaman yang terserang. Ia menaburkan 20 g irisan bawang di seputar tajuk tanaman. Aduk merata irisan Allium ascalonicum itu dengan media tanah. Biarkan selama beberapa saat, kemudian siram secukupnya. Alhasil, rimpang yang diberi perlakuan tetap utuh dan bisa dipanen.

Coba dengan bawang

Dengan Irisan bawang, serangan fusarium ditekan

Ide itu terbesit pada pertengahan 2003 lalu. Seluas 220 m2 lahan jahe di pekarangan terserang penyakit busuk rimpang. Hampir 1.000 tanaman berumur 6 bulan terancam gagal panen. Namun, dewi fortuna masih menyertainya.

Limbah dapur berupa irisan bawang merah yang tidak terpakai dibuang ke kebun. Dua minggu kemudian Aripin mendapatkan sebagian rimpang tetap utuh meski sudah terserang. Sebanyak 100 kg jahe terselamatkan saat itu.

Coba-coba ala Aripin sejalan dengan basil penelitian Asman dan Dayat alumnus Fakultas Pertanian UGM di Yogyakarta. Mereka mencoba memakai abu sekam dan ekstrak bawang merah untuk mengurangi serangan fusarium.

Kombinasinya tanah dan arang sekam dengan perbandingan 3 : 1 dicampur 2 sendok makan ekstrak bawang merah. Tanah dan arang sekam diaduk. Adukan itu kemudian disemprot dengan ekstrak bawang merah. Hasilnya, campuran itu menurunkan serangan cendawan hingga 33%.

Menurut Ir Agus Kardinan, MSc dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor, bawang merah diduga mengandung asiri berupa allicin yang bersifat fungisida dan bakterisida. Senyawa itu dapat menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas solanacearum dan cendawan Fusarium oxysporum pada jahe.

3 kunci Faktor Utama

Sampai saat ini tindakan preventif masih menjadi prioritas petani jahe. Ada 3 kunci utama agar Fusarium oxysporum tidak menyebar cepat [efn_note]Cahyaningrum, Hermawati, et al. “Intensitas dan Luas Serangan Beberapa Isolat Fusarium oxysporum f.sp. zingiberi pada Jahe Gajah.” Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, vol. 21, no. 1, July 2017, pp. 16–22. jurnal.ugm.ac.id, doi:10.22146/jpti.17743.[/efn_note]. Menurut Agus, segera dilakukan eradikasi (pemusnahan, red) pada tanaman yang sudah terserang. Cabut dan bakar tanaman itu agar tidak sempat menularkan penyakitnya pada rimpang lain. Cara tersebut efektif menghentikan penyebaran penyakit busuk rimpang.

Hindari penanaman keluarga Zingiberaceae dan Solanaceae pada lahan yang telah terkontaminasi. Pasalnya, tanaman itu menjadi inang penyebaran spora fusarium. Meskipun gejala tidak tampak pada tanaman, spora tetap mampu bertahan hidup dalam sel-sel akar.

Pilihlah bibit yang sehat, tidak terdapat luka, cukup umur, dan penampilannya baik. Menurut Purseglove, peneliti jahe asal Inggris, dalam jurnal Agriculture of Spices, London and New York, perendaman bibit rimpang jahe dengan larutan ethoxyethyl mercury chloride dapat menekan serangan busuk rimpang. Cara lainnya, rimpang untuk bibit direndam larutan Agrimisin 250 ppm atau larutan fungisida Bavistin (0,25%) atau Dithane M-45 (0,25%) selama 24 jam [efn_note]Shanmugam, V. & Varma, A.S.. (1999). Effect of native antagonists against Pythium aphanidermatum, the casual organism of rhizome rot of ginger. 29. 375-379. [/efn_note].

Busuk rimpang sulit dicegah, tetapi pengalaman Aripin bagaikan angin segar di tengah kerontangnya hamparan jahe yang terserang Fusarium oxysporum. Ilmu dari lapangan itu diamini keampuhannya dari hasil penelitian di balik dinding laboratorium.

Pandu Dwilaksono