Budidaya Tani
sayuran organik online

Cara Meningkatkan Kualitas Tanaman Sayur Organik

Mimba, cengkih, lamtoro, dan srikaya laksana benteng kokoh mengelilingi kebun sayur organik seluas 3.000 m2. Begitulah cara Ina H Panggabean, pekebun di Bandung, melindungi 16 sayuran yang dibudidayakan secara organik dari serangan hama. Hasilnya, meski tak pernah menyemprotkan pestisida kimia sekali pun, sayurannya tetap tumbuh subur.

Sekarang citra sayuran organik memang bergeser. Lima tahun silam, sayuran organik dicirikan oleh lubang-lubang bekas gigitan ulat. Maklum, tanpa perlindungan insektisida, ulat leluasa mengganyangnya.

Kini, dengan berbagai jurus, pekebun sayuran organik dapat menuai sayuran bermutu berpenampilan prima. Endiv, selada, dan kubis yang dikembangkan secara organik oleh Ina Reno H Panggabean tampak mulus. Praktis tak banyak gigitan ulat di permukaan daun.

Sayuran umbi, sayuran buah, dan sayuran bunga pun demikian. Pekebun sayur organik di Lembang, Kabupaten Bandung, itu memegang prinsip lebih baik mencegah daripada mengatasi. Oleh karena itu kebun miliknya seluas 3.000 m2 dipagari tanaman perdu seperti tagetes, mimba, cengkih, lamtoro, dan srikaya.

Penanganan Hama Penggangu

tanaman sayur organik di rumah
bertanam sayuran organik

“Warna bunga tagetes yang kuning mencegah serangan thrips sehingga tidak menyerang sayuran,” ujar pemilik kebun organik Jardin de la Reina itu. Secara ilmiah serangga memang tertarik pada tanaman berbunga kuning.

Selain tagetes, bunga matahari, golden shower alias trengguli Cassia fistula, dan Brexia madagascariensis juga berfaedah sama. Mereka disebut atraktan. Serangga tertarik untuk datang dan berkerumun di bunga-bunga itu. Selamatlah sayur organik dari serangan hama.

Sedangkan 4 tanaman lain (mimba, cengkih, lamtoro, dan srikaya), berfungsi sebagai pembenah tanah, menahan polusi, dan insektisida nabati. Maklum, lahan di sekitar kebun Ina merupakan kebun sayuran konvensional.

Penangkal hama berupa serai wangi juga ditanam Ina di pematang. Aroma Cymbopogon nardus itu menyengat, membuat hama menjauh. Geranium, lavender, dan mint, dapat dimanfaatkan untuk tujuan serupa. Tanaman-tanaman itu disebut repellen[efn_note]Mohd. Noor, Mohamad roff & Sivapragasam, Annamalai. (2005). Chapter 7. Cropping Systems For Pest Management. [/efn_note] [efn_note]El-Shafie, Hamadttu Abdel Farag. “Insect Pest Management in Organic Farming System.” Multifunctionality and Impacts of Organic and Conventional Agriculture, Mar. 2019. www.intechopen.com, doi:10.5772/intechopen.84483.[/efn_note].

Jangan Menggunakan Sistim Tanam Monokultur

sayur organik merbabu
kebun sayuran organik

Pengaruh buruk dari kebun tetangga yang nonorganik diatasi Ina dengan membuat penyaring. Ibu 3 anak itu menyisakan lahan 4 m x 15 m yang berdampingan dengan lahan anorganik di sekitarnya. Lahan itu ditanami mangga, pisang, lemon, dan hamparan rumput.

Letaknya memotong arah aliran air hujan. Gunanya untuk menyaring zat kimia buatan yang terbawa air hujan dari kebun anorganik. Air untuk menyiram mesti dari sumber tidak tercemar.

Para pekebun organik senantiasa menghindari cara menanam sayuran organik dengan metode budidaya monokultur. Mereka memilih sistem tumpangsari untuk menekan atau menghindari serangan hama. Setiap 4 bedeng sampai 1 bedeng berukuran 1,2 m x 10 m Ina menanam tanaman berbeda.

Tomat biasanya ditumpangsarikan dengan brokoli. “Prinsipnya tanaman yang ditumpangsarikan tidak boleh satu famili,” ujar Ina. Itu untuk menghindari kemungkinan penyebaran hama lantaran memiliki tanaman inang yang sama.

Contoh tumpangsari lainnya adalah wortel dengan bawang daun. Aroma bawang daun yang menyengat tidak disukai serangga sehingga hama pun pergi. Selain bawang daun, sayuran aromatik yang bisa ditumpangsarikan adalah kemangi, mint, dan basil.

Kombinasi tumpangsari yang juga bisa menekan serangan hama adalah tomat dan kubis. Menurut Ir Subhan, periset Balai Penelitian Tanaman Sayuran, kombinasi tomat-tomat-kubis-tomat-tomat,dan seterusnya, dapat menekan hama Plutella xylostella dan Crocidolomia binotalis masing-masing 97% dan 72,6%.

Menurut Daryanto, dari Bina Sarana Bhakti, Dalam berkebun organik tak selamanya hama atau penyakit harus dibasmi. Bila populasinya masih di bawah ambang batas, keberadaan mereka tak perlu diusik.

Kalaupun harus diatasi, pekebun organik memilih pestisida nabati yang jauh lebih aman bagi tanaman, manusia, dan keberadaan serangga itu sendiri. Konsep ramah lingkungan menjadi salah satu ciri sistem budidaya organik.

Contoh, untuk mengontrol cendawan Phytophtora infestans penyebab busuk daun pada tomat, Ina melarutkan 100 g kapur sirih dan 100 g belerang dalam seliter air panas.

Setelah dingin, ia menambahkan tembakau, cabai rawit, bawang putih yang dihancurkan masing-masing 1 kg, ditambah 2 liter air bersih. Ramuan itu difermentasikan 2 sampai 3 malam. Dua liter fungisida nabati itu dicampur dengan 20 liter air bersih untuk mengendalikan cedawan.

Perhatikan Penggunaan Pupuk

harga sayuran organik di pasaran cukup tinggi

Ina menambahkan sumber nutrisi bagi tanaman sayur organik sekali dalam sepekan dengan menaburkan pupuk ramuannya. Ia memanfaatkan pupuk kandang kotoran kambing yang diberi pakan organik.

Itu untuk mencegah kontaminasi kandungan kimia berbahaya dalam kotoran ternak yang diberi pakan anorganik. Memang mencari pupuk kandang organik amat sulit. “Apalagi di sekitar kebun saya tidak ada peternak organik,” ujar perempuan 56 tahun itu.

Ina mendatangkan kotoran kambing yang dipelihara secara organik di Subang, Jawa Barat. Itu pun jumlahnya tidak banyak. “Paling hanya 600 sampai 800 kg sekali kirim dan tidak rutin,” katanya.

Tak mau kesulitan seperti Ina, Wieke Lorenz, pekebun organik di Desa Langensari, Lembang, memelihara 60 kambing ettawa, 2 sapi, ratusan ayam, angsa, dan lele yang diberi pakan organik.

“Jika berkebun organik, sebaiknya dirancang terpadu dengan peternakan sehingga meminimalkan sumber daya eksternal,” katanya. Selain itu, pekebun juga bisa memperoleh penghasilan tambahan dari hasil ternak. Setiap hari, Wieke rutin memerah minimal 2 liter susu kambing ettawa yang dijual Rp30.000 per liter.

Pupuk organik diramu dari 600 sampai 800 kg kotoran kambing, 50 kg dedak, 150 kg sekam, 15 kg daun tagetes, dan 15 kg kacang babi yang dihancurkan. Semua bahan dicampurkan. Siramkan 200 ml molase dan 1 liter efektif mikroorganisme (EM-4) untuk mempercepat penguraian [efn_note]Ali, Farida, et al. “Pengaruh penambahan EM4 dan larutan gula pada pembuatan pupuk kompos dari limbah industri crumb rubber.” Jurnal Teknik Kimia, vol. 24, no. 2, July 2018, pp. 47–55. ejournal.ft.unsri.ac.id, doi:10.36706/jtk.v24i2.431.[/efn_note].

Jika molase sulit diperoleh, gunakan 250 g gula putih lokal atau gula aren yang diencerkan dengan seliter air. Kemudian siram dengan air bersih secukupnya hingga merata agar lembap.

Tutup tumpukkan pupuk dengan karung plastik agar terjadi fermentasi. Setelah diperam sekitar 2 minggu sampai 1 bulan, pupuk siap digunakan. Dari campuran ketujuh bahan itu dihasilkan 1 ton pupuk.

Dengan beragam strategi, sayuran yang dihasilkan amat berkualitas dan berpenampilan aduhai. “Saat dipajang, sayuran organik harus terlihat menarik,” ujar Antonius Subarna, buyer perishable category pasar swalayan Yogya di Bandung.

Pasar swalayan itu mensyaratkan sertifikat hasil uji laboratorium bagi para pemasok. Sertifikat itu menjelaskan, sayuran organik yang diproduksi bebas zat kimia berbahaya. Selain itu, ia melakukan inspeksi mendadak ke kebun para pemasok.

Tujuannya untuk memastikan teknik budidaya yang dilakukan betul-betul organik. Tentu saja, juga dengan penampilan menawan. Dengan demikian sosok sayuran organik memang sehat di dalam dan cantik di luar.

Pandu Dwilaksono