Budidaya Tani

Cattleya Taiwan: Juara Itu Ada di Indonesia

“Wauww, cantiknya,” Kheissye Manuputty spontan memuji. Penganggrek asal Papua itu dengan cermat mengamati helai demi helai kuntum bunga Bic. chia lin ‘new city’. Kurang yakin akan ketebalan helai bunga, ia pun berulang-ulang meraba setiap petal dan sepal bunga silangan Blc. chia lin ‘oconee’ dan ‘maitland’ itu. Anda pun pasti melakukannya bila melihat langsung peraih grand champion dalam The Cattleya Japan Grand Prix itu.

Brassolaeliocattleya (Blc) yang dilihat Kheissye hanya salah satu dari 6 cattleya baru penghuni showroom H & W Orchids. Semuanya siap memanjakan mata Anda. Mereka tampil dengan warna mempesona. Mulai dari kuning mencolok, merah, hingga paduan serasi ungu tua dan ungu muda. Keistimewaan lain, epifit setinggi 30 sampai 35 cm itu berbunga besar, 16 sampai 22 cm. Setiap tanaman menghasilkan 2 sampai 3 tangkai bunga per tahun. Masing-masing memiliki sepasang bunga.

“Di luar negeri jenis itu termasuk anggrek favorit,” papar Wenny Herlina, pemilik nursery. Untuk mendapatkan silangan itu Wenny harus inden berbulan-bulan ke nursery di Taiwan. Malah saking banyaknya peminat, ia baru memperoleh 1 pot sampel per jenis. Itu pun setelah dibantu kolega asal Taiwan yang mengantar langsung ke Indonesia.

Berikut sekilas deskripsi koleksi-koleksi terbaru itu:

Blc. chia lin new city

Bic. chia lin new city

Dengan pinggiran lidah keriting bergelombang, penampilan silangan asal Taiwan itu amat unik. Warna merah keunguan benar-benar sempurna menutupi seluruh permukaan sepal dan petal – ciri khas Blc. chia lin. Garis-garis putih kuning di pangkal lidah yang tersebar merata ke segala arah melengkapi keindahannya. Asalkan kondisi lingkungan sesuai, pemegang penghargaan Award of Merit (AM) dari American Orchids Society (AOS) itu tak sulit dibungakan. Setiap tangkai menghasilkan sepasang bunga yang cukup tebal. Tak heran jika bunga mekar tahan hingga 2 minggu.

Blc. chun yeah good life

Bic. chun yeah good life

Penampilan peraih penghargaan AH/ AOS ini hampir serupa dengan varietas Blc. chun yeah yang lain seperti ‘tsun yeah#2’ dan ‘Yiesen#l’. Warna kuning bersih pada petal dan sepal berpadu dengan lidah merah keunguan membentuk kombinasi amat menarik. Hanya saja, warna kuning ‘good life’ lebih mencolok. Bunga tahan 2 sampai 3 minggu.

Pot. golden regal golden fatai

Pot. golden regal golden fatai

Tak salah ia menyandang nama itu. Warna kuning emas, solid dan bersih, merata di semua bagian bunga. Sepal bunga berbentuk lanset. Petal melebar dengan pinggiran bergelombang, mirip lembaran-lembaran daun selada. Tanaman setinggi 30 cm, menghasilkan 1 sampai 2 tangkai yang masing-masing digelayuti 2 kuntum. Pada lingkungan berhawa sejuk, bunga tahan 2 minggu.

Blc. pamela finney all victory

Bic. pamela finney all victory

Paduan warna cattleya itu lembut mempesona. Petal dan sepal berwarna ungu muda. Lidah ungu tua berhiaskan warna ungu muda bergaris kuning di bagian pangkal. Selintas penampilannya mirip kreasi kembang artifisial berbahan kertas krep. Hasil perkawinan Lc. irene finney ‘york’ x Blc. pamela hetherington ini adalah pemegang penghargaan HCC/JCGA. Bunga mekar hingga 2 minggu.

Lc. red empress orchid glade

Lc. red empress orchid glade

Tampilan wama hampir mirip Blc. pamela finney, kombinasi ungu muda dan ungu tua. Pangkal lidah juga ungu muda bergaris-garis kuning. Kalau petal pamela finney berwarna ungu muda merata, petal bunga silangan asal Hawaii ini memiliki wama kombinasi. Ungu muda di pangkal dan ungu tua di ujung petal. Bunga yang muncul di ujung tangkai itu tahan hingga 2 minggu.

Blc. san yang ruby

Blc. san yang ruby

Penampilan bunga mirip Blc. chia lin ‘new city’. Wama merah darah merata di setiap helai bunga. Hanya saja wama merah yang ditampilkan silangan klon W3027 x dan “new city” itu lebih tegas dibanding induknya. Wama kuning di bagian pangkal lidah juga lebih solid, tak hanya sekadar kumpulan garis. Hibrida terbaru di antara semua anggrek yang didatangkan Wenny itu pernah meraih gelar grand champion dalam salah satu kontes yang digelar American Orchids Society.

Pandu Dwilaksono