Coba Lirik Merpati Balap

Seekor piyik berasal dari indukan trah juara, laku dijual seharga Rp5 sampai Rp10 juta. Bayangkan jika dalam 1 bulan bisa dihasilkan 10 ekor piyik. Alasan itulah yang membuat para hobiis merpati balap mulai mengembangkan hobinya ke arah bisnis.

Meningkatnya frekuensi lomba menandai bangkitnya balapan merpati. Tak hanya di kota besar, di pelosok daerah pun setiap minggu ada lomba. Bahkan agenda nasional lomba selama setahun sudah disusun.

Maraknya lomba mendorong hobiis mencari burungnya bagus. Farm penghasil trah juara jadi incaran. Beberapa hobiis kini mulai melirik bisnis penangkaran. Mereka yakin prospeknya cukup menjanjikan.

Tak akan rugi

“Adu merpati balap nggak akan ada habisnya. Sekali senang, pasti kecanduan,” kata Trisna Wijaya, pemilik Sampoema Bird Farm. Dengan asumsi itu merpati balap akan selalu dicari.

Penggemar merpati balap berasal dari berbagai kalangan sehingga segmen pasar juga beragam. Dengan keyakinan tersebut, pialang tanah itu tak segan menginvestasikan Rp 800-juta untuk membangun farm di kawasan Curug, Tangerang.

Sebanyak 60 kandang, masing-masing berukuran 1 m x 2 m, dihuni 60 pasang merpati. “Indukan bagus hanya 4 pasang. Selebihnya merpati balap kualitas biasa.” Untuk membiayai farm, Trisna mengucurkan Rp6-juta/bulan. Biaya itu antara lain digunakan membayar 2 joki dan 4 karyawan.

Setiap bulan piyik yang dihasilkan mencapai ratusan ekor. Namun, yang dijual Trisna hanya 1 sampai 2 pasang asal kandang unggulan. Yang lain kurang baik sehingga dipotong. Trisna mematok harga jual Rp5-juta/pasang keturunan dari Sri Rama, Dewi, Sampoerna, dan Talenta. Pelanggannya para pemain merpati balap yang sudah dikenal.

Herman Tanubrata, pemilik Masa Kini BF melakukan hal sama. Sejumlah 32 kandang berisi ratusan merpati balap menghiasi halaman. Kandang ia beli 1998 seharga Rp10-juta. Masa Kini, Mawar, CHO, dan Ninja adalah andalannya. Dari 7 pasang indukan dihasilkan 14 piyik tiap bulan. Sekitar 10 pasang di antaranya dilempar ke pasar.

Herman menetapkan harga berbeda untuk tiap kelas produksi. Piyik keturunan Masa Kini trade mark produknya dilepas Rp5-juta ke atas. Yang lain, keturunan Mawar, CHO, dan Ninja sedikit lebih rendah. “Untuk pasar daerah, seperti Medan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, saya berikan harga khusus. Istilahnya untuk subsidi,” tutur Herman.

Kelas ringan

Kepak bisnis merpati balap pun sudah merambah daerah. M. Yusuf, pemilik Red Devil BF di Yogyakarta, pada 1995 memulai dengan sepasang indukan seharga Rp2,5-juta.

Kini ia memiliki 4 pasang indukan yang mampu memproduksi 8 ekor piyik tiap bulan. Namun, Yusuf hanya melepas 1 sampai ‘2 pasang saja. Harganya Rp2-juta sampai Rp4-juta. “Jual merpati balap kan nggak seperti jual anak ayam. Saya latih dulu untuk melihat kemampuannya,” tuturnya.

“Jika tetap ingin beternak merpati balap, tapi modal pas-pasan, bisa saja main di kelas “ringan.” Merpati dengan harga ratusan ribu pun tetap ada peminatnya,” kata Herman. Merpati balap harga murah, bukan berarti jelek. Masih ada peluang untukjadi juara jika di latih secara teratur.

Untuk beternak kecil-kecilan, sepasang induk cukup ditempatkan di kandang seluas 80 cm x 80 cm. Bibit pun tak perlu mahal, harga Rp500-ribu sudah cukup bagus. Sebagai induk asuh bisa memakai burung kelas pasar.

Bisnis merpati balapnya mulai berkembang
Bisnisnya mulai berkembang

Herman menggambarkan, 5 pasang indukan setiap bulan bisa menghasilkan 10 piyik. Dalam tempo 3 bulan, piyik itu sudah bisa dilatih dan laku dijual. Jika dijual Rp500-ribu/ ekor dalam waktu 2 sampai bulan sudah pulang modal.

Perlu waktu

Untuk memulai bisnis merpati balap hingga bisa menangguk untung memang tak mudah. Jika ingin main di kelas kakap butuh modal dan nama besar. Sepasang indukan trah juara paling tidak butuh Rp 15-juta/pasang. Belum lagi biaya untuk joki yang melatih dan karyawan pengurus farm.

Nama besar juga harus dimiliki farm karena hobiis kelas berat hanya memburu merpati ternama. Padahal merintis nama perlu waktu. Pemilik farm harus aktif mengikuti lomba dan meraih juara untuk mendongkrak popularitas.

Piyik pun tak bisa langsung dijual. Ia harus dilatih lebih dahulu. Cara melatih inilah yang tidak bisa dilakukan semua orang. Masa latihan memakan waktu 1 bulan.

Setelah latihan ini kualitas piyik diketahui. Jika bagus, maka tinggal tunggu dering telepon dari para hobiis. Sebaliknya jelek, terpaksa harus menunggu lama. “Biasanya latihan jarang yang gagal,” tegas Trisna.

Halaman terakhir diperbaharui pada 25 Oktober 2021

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.