Budidaya Tani

Dampak Penyakit Sapi Gila Terhadap Kegiatan Impor Komoditas Peternakan

Bovine spongiform encephalopathy (BSE) alias Mad cow disease yang belakangan mencuat lagi di beberapa negara perlu mendapat perhatian pemerintah Indonesia. Wabah yang dikenal di tanah air sebagai sapi gila itu bisa jadi pil pahit sekaligus peluang [efn_note]Medicine, Center for Veterinary. “All About BSE (Mad Cow Disease).” FDA, July 2020. www.fda.gov, https://www.fda.gov/animal-veterinary/animal-health-literacy/all-about-bse-mad-cow-disease.[/efn_note].

Kegiatan impor komoditas peternakan yang mulai marak lagi usai krisis moneter perlu disikapi secara jeli. Tanpa pengawasan ketat, kegiatan itu potensial menyebarkan penularan penyakit akibat virus itu di sini. Bila itu terjadi membawa petaka besar. Yang paling nyata produk peternakan Indonesia bakal dicekal di berbagai negara.

Padahal di masa depan, Indonesia berpeluang menjadi eksportir ternak dan hasil ternak terbesar di kawasan Asia Pasifik. Ini berdasarkan fakta bahwa dari tahun ke tahun nilai ekspor terus meningkat. Pada 1993, nilai ekspor mencapai US$ 57,4-juta lalu meningkat menjadi US$ 61,8-juta pada 1996. Berarti terjadi peningkatan sebesar 8%. Nilai ekspor terus meningkat tajam meski krisis moneter berlangsung. Terbukti dalam kurun 1997 sampai 1999, nilai ekspor berubah dari US$ 58-juta menjadi US$ 113-juta.

Makin Mewabah

Tak berlebihan bila kasus sapi gila perlu mendapat perhatian. Selama 2001, di Jepang tercatat epidemi sebanyak 5 kali. Bukti sahih diperoleh dengan menguji spesimen otak dengan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) [efn_note]USDA APHIS | Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE). https://www.aphis.usda.gov/aphis/ourfocus/animalhealth/nvap/NVAP-Reference-Guide/Control-and-Eradication/Bovine-Spongiform-Encephalopathy. Accessed 15 Mar. 2021.[/efn_note].

Di Eropa Timur, 3 kasus sapi gila terjadi di Polandia selama 2002. Salah satunya menyerang 63 ekor, 31 di antaranya sedang bunting. Setelah melahirkan semua dimusnahkan untuk menghindari penularan lebih luas. Kasus sapi gila juga mewabah di Slovenia.

Kantor Kesehatan Hewan Slovenia berhasil mendiagnosis penyakit tersebut pada sapi berumur 6 tahun menggunakan metode western blot. Setelah spesimen diisolasi, pemerintah Slovenia langsung melarang ekspor ternak.

Wabah sapi gila juga merebak di Israel. Sapi Israeli holstein mati setelah menunjukkan gejala klinis berupa gangguan syaraf pusat. Kejadian serupa terjadi pada 60 sapi di Austria. Kanada pun tak luput dari serangan virus penyebab BSE, sebanyak 2.700 terjangkit penyakit mematikan itu.

Prion mad cow

Heboh penyakit sapi gila dimulai sejak 1985. Penyakit itu diidentifikasi oleh Wilesmith dan rekan-rekan, peneliti asal Inggris. Penyakit sejenis scrapie pada domba itu menyerang sapi perah. Pada Oktober 1987. sapi perah di Inggris bagian selatan menunjukkan tanda klinis berupa gangguan neurologis, sama seperti gejala scrapie pada domba. Jika terjadi pada sapi, disebut penyakit BSE. Diagnosis secara hispatologi dilakukan dan dilaporkan secara epidemiologi menyusul terjadinya 130 kasus wabah sapi gila [efn_note]Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) | Prions Diseases | CDC. 1 Feb. 2019, https://www.cdc.gov/prions/bse/index.html.[/efn_note].

Wabah penyakit itu terus menyebar di Inggris. Pada 1988 diperkirakan terjadi 60 kasus setiap bulan. Pada tahun berikutnya 50 sampai 60 sapi terinfeksi setiap minggu. Angka itu terus meningkat. Hingga 1992 tercatat 44.844 kasus dalam satu tahun dan menurun pada 1998 menjadi 4.292.

Penyebab penyakit sapi gila dikategorikan ke dalam penyakit Transmissible Spongiform Encephalopathy (TSE). Semula diperkirakan sebagai virus lamban yang disebut virino, kemudian disebut sebagai prion oleh Prusiner protein asing yang diketahui dapat menyebabkan penyakit sapi gila. Prion berbeda dengan jasad renik lainnya. Ia memerlukan karier dalam penularannya, tapi bukan sebagai inang. Pemicu penyakit sapi gila adalah pakan. Pakan seperti tepung tulang, tepung daging, dan minyak samin dapat menjadi karier prion.

Penyebab penyakit sapi gila

Virus itu mampu bertahan hingga 14 hari di dalam tubuh sapi. Masa inkubasi berkisar 2,5 sampai 8 tahun, atau rata-rata 6 tahun. Ternak yang paling sering diserang berumur 2 sampai 4 tahun.

Prion protein (PrP) dapat dijumpai pada penderita penyakit prion, dan banyak terdapat pada jaringan otak. Gejala yang terlihat berupa perubahan mental seperti ketakutan, gelisah, dan mudah terkejut. Perubahan sikap berupa ataksia, tremor, dan apabila terjatuh tidak dapat bangun lagi. Yang lebih hebat terjadi hiperastesia yaitu peka terhadap rangsangan suara dan rabaan. Gejala umum berupa penurunan berat badan dan produksi susu, sedangkan nafsu makan masih tetap.

Untuk mencegah mewabahnya sapi gila, pemerintah melarang impor sapi daging, bakalan, dan indukan dari negara-negara terserang hingga mereka dinyatakan bebas BSE oleh OIE. Indonesia bebas penyakit sapi gila. Kesempatan inilah yang harus dimanfaatkan untuk mendongkrak ekspor. ***

Yudi Anto