Budidaya Tani

Dari Lembang Meretas Pasar Tiram

Dingin udara pagi Lembang, Kabupaten Bandung, bagai menusuk belulang. Sepagi itu Adjang Tarjana memulai aktivitas mengontrol kumbung jamur tiram di sisi kanan kediamannya. Bag log rusak akibat miselium yang gagal tumbuh disingkirkan. Sesaat kemudian 2 karyawannya menyusuri lorong di dalam kumbung untuk menuai satu per satu tiram. Dari kumbung yang satu kegiatan serupa beralih ke kumbung lain.

Rata-rata volume panen dari 6 kumbung yang dikelola Adjang mencapai 400 kg. Ukuran kumbung 25 m x 8 m mampu menampung 20.000 bag log. Supaya panen berkelanjutan, pria 42 tahun itu mengatur pola tanam. Setiap hari 1.000 bag log dimasukkan ke dalam kumbung untuk menggantikan yang selesai berproduksi.

Selain itu Adjang menerima pasokan tiram dari kelompok tani Kertawangi yang dipimpinnya. Total jenderal ia mampu memasarkan 600 kg per hari. Di tingkat pekebun harga tiram saat ini Rp5.000 sampai Rp5.500. Dari hasil produksi sendiri ayah 4 anak itu menangguk omzet Rp2-juta. Saat ini biaya produksi untuk menghasilkan 1 kg tiram Rp2.500. Artinya, laba bersih Rp 1-juta diraup Adjang per hari.

Tinggalkan KTP

Tiga belas tahun silam Adjang adalah peternak ayam pedaging. Lantaran harga jatuh akibat pasokan berlebih ia meninggalkan bisnis yang digeluti 3 tahun itu. Kandang ayam itulah yang disulap menjadi kumbung jamur. Semula shiitake yang dikembangkan. Namun, tingkat kesulitaan relatif tinggi dan masa produksi cukup lama, 8 bulan, menyebabkan ia beralih ke jenis lain.

Champignon sempat dilirik, tapi akhirnya ia mundur teratur lantaran butuh modal besar. Supa liat sebutan tiram bagi masyarakat Sunda akhirnya dipilih. Adjang memang pengalaman mengebunkan abalone, nama lain tiram. Itulah sebabnya ia menimba ilmu ke pekebun di Cibodas, Cianjur, 2 jam perjalanan dari Bandung ke arah timur. Meski demikian hambatan tetap menghadang.

“Waktu belajar di Cianjur skalanya kecil, hanya di laboratorium. Tapi waktu praktek di Cisarua kondisinya berbeda,” tuturnya.

Modal yang dibenamkan untuk berbisnis tiram Rp400.000 untuk membeli serbuk, plastik, dan bibit. Saat itu 3.000 bag log menjadi taruhan pertamanya. Dan jumlah itu hanya separuh yang dapat dituai. Selebihnya miselium gagal tumbuh. Kegagalan itu diduga akibat kesalahan sterilisasi media.

Masalah lain kembali muncul. Sekitar 5 sampai 10 kg produksinya per hari sulit dipasarkan. Adjang membawa tiram ke Pasar Pamoyanan, Bandung. “Saat itu orang masih takut untuk mengkonsums; jamur tiram karena dikira beracun,” katanya mengenang. Bungsu 2 bersaudara itu tak patah arang. Ditinggalkannya Kartu Tanda Penduduk kepada pedagang di pasar itu sebagai jaminar Itu dijalani selama 2 sampai 3 tahun. Perlahan masyarakat mulai percaya shimeji demikian sebutan da Jepang tak beracun. Adjang memperoleh harga Rp3.000 per kg.

Mulai Merintis pasar

Setelah pasar terkuak dai I mencecap keuntungan Adjang pun menambah produksi. Dari sebuah kumbung bekas kandang ayam kini ia mengelola 6 rumah tanam. Populasi perkumbung bervariasi dari 20.000 sampai 40.0 Sebuah bag log rata-rata menghasilkan 4 sampai 6 ons selama 5 bulan. Panen perdana pada umur 2 bulan usai penebaran bibit. Pria kelahiran Bandung 9 September 1961 itu pun langsung mengangin-anginkan tiram sesudah dipanen selama 1 sampai 2 jam.

Oyster mushroom dikemas dengan plastik transparan berbobot masing-masing 2,5 kg. Sayuran bergizi itu dipasarkan ke Jakarta seperti Pasarminggu, Kebayoranlama, Cibitung, Bekasi. Hotel-hotel di Surabaya dan Bali sempat digarap. Minimal 400 kg per pekan dikirim ke sana. Sayang, setahun terakhir pasokan dihentikan akibat penerbangan Bandung Bali hanya 2 kali sepekan. Itu pun kapasitas kargo terbatas.

Harga yang relatif tinggi dan stabil menjadi daya tarik. Menurut Adjang harga jatuh ketika 1997 menjadi Rp2.500. Saat itu untuk keluar dari belitan krisis moneter pemerintah menyediakan kredit agribisnis. Banyak calon pekebun yang tergiur, lantas mencemplungkan dana itu untuk budidaya tiram. Dampaknya, pasar kelebihan pasokan sehingga harga jatuh. Di luar kasus itu harga tiram cukup anteng.

Tak berlebihan bila keberhasilan Adjang kemudian diikuti pekebun lain. Semula hanya ada beberapa pembudidaya, kini di Cisarua, Lembang, jumlahnya melambung hingga 200-an pekebun. Enam ton tiram segar setiap hari keluar dari sentra itu. Menurut Adjang pasar yang selama ini dipasok akhirnya juga diisi pekebun lain. Meski tak berpengaruh besar terhadap harga yang diterima, Adjang tetap membuka pasar baru.
baglog jamur tiram

Menjajakan bag log

Menurut Adjang pasar tiram masih sangat terbuka. Buktinya, pasar-pasar tradisonal yang semula tak tersentuh seperti Bogor dan Subang sekarang mampu menyerap tiram. Malahan ia kewalahan memenuhi permintaan mereka yang mencapai 2 ton per hari. Yang mampu diproduksi Adjang cuma 500 sampai 600 kg per hari. Adjang hanya berkonsentrasi pada pasar tradisional.

Di luar memproduksi jamur, mantan pekebun sayuran itu juga menjual bag log. Setidaknya 3.000 bag log dikirim ke Surabaya per bulan. Ia menjual Rp 1.500 per bag log. Sementara biaya produksi hanya Rp800. Tambahan pendapatan bersih Rp2,1-juta menebalkan kocek pria sederhana itu.

Pasar potensial yang menanti digarap menjadikan ia bertekad memperluas kumbung jamur tiram. Kedua kaki Adjang telanjur terbenam di perniagaan tiram. Manis getir berbisnis Pleurotus ostreatus telah dirasakannya. (Sardhi Duryatmo)

Yudi Anto

Add comment