Budidaya Tani

Dendrobium Potong: Surabaya Tersenyum Jakarta Mendung

Lonjakan harga pupuk dan pestisida 2 kali lipat sejak krisis ekonomi, membuat pekebun dendrobium potong gulung tikar. Maklum, kedua komponen itu menghabiskan 50% dari total biaya produksi pada budidaya intensif dan 30% semi intensif Daripada dipanen untuk bunga potong, lebih untung dijual pot plant. Namun, kini mereka yang bertahan di dendrobium potong berbalik mengecap keuntungan. Harga jual terdongkrak lantaran produksi bunga berkurang.

Keuntungan usaha dendrobium potong turun, meski tidak rugi. Selain itu, “Perputaran uang lambat,” ujar Ir Kamijono. Bila dijual sebagai pot plant, pekebun bisa menangguk untung Rp7.000/pot dalam waktu 8 bulan. Sementara bila dipasarkan sebagai bunga potong keuntungan yang diperoleh Rp5.700. Itu pun diperoleh setelah 4 kali petik atau 17 bulan.

Harga dendrobium pot plant relatif tinggi lantaran banyak dicari. Wajar kalau banyak pekebun tergoda beralih ke bunga pot. Budidaya repot karena perlu pemupukan rutin. Suramnya pasar dendrobium potong kian kentara bila hotel yang jadi pelanggan.

Kini tren rangkaian bunga berkiblat pada american dan european style yang menggunakan bunga berukuran besar. Ballroom Hotel Mulia, misalnya, memajang rangkaian bunga besar setinggi 1 sampai 2 m. Komponen rangkaian banyak menggunakan krisan, gladiol, gerbera, atau anyelir. “Ruangan besar lebih cantik dengan rangkaian besar juga,” ujar Gunawan Widjaja pemilik Widjaja, Orchid di Bogor.

Kewalahan

Asian style, dominan anggrek

Itu cerita 5 bulan lalu. Kini bisnis dendrobium potong justru menggiurkan. Setidaknya di Jawa Timur. G. Mochtar Rudy, pemilik Citra Orchid di Mojokerto kewalahan memenuhi permintaan dari Surabaya, Malang, dan Blitar.

Permintaan dari Bali ditolak karena tidak ada barang. Lahan 2 ha diisi 10.000 dendrobium hanya mampu memproduksi 5.000 kuntum/hari. Padahal order mencapai 6.000 kuntum/hari. Walaupun kekurangan barang ayah 4 putri itu enggan mengambil anggrek dari Jakarta. Alasannya, “Bunga layu dan tidak tahan lama,” ujarnya.

Untuk pesta pernikahan order yang masuk ke Annie Manegeng Siaria, pemilik RR Orchid di Surabaya, lebih dari 3.000 kuntum/hari. Terpaksa ia harus minta pasokan dari Jakarta. Sedangkan kebutuhan flower shop 1.000 sampai 2.000 kuntum/hari. Kontinuitas pasokan sangat dijaga dengan menyediakan 150.000 tanaman.

Yang juga kewalahan adalah Yeni Rusdianasrin, pekebun di Blitar. Lahan 192 m2 diisi 3.000 tanaman, tapi yang berproduksi baru 100 dendrobium sonia new bloom dan earsakul. Dari jumlah itu ia hanya mampu menyediakan 200 kuntum/bulan.

Padahal order dari 1 pembeli mencapai 500 kuntum/bulan. Yeni pontang-panting ke Surabaya untuk menutupi kekurangan. Di sana ia memperoleh harga Rp400/kuntum. Setibanya di Blitar harga berubah menjadi Rp750/kuntum.

Laba Yang Menggiurkan

Sonia, tetap favorit

Menurut Yeni memasarkan anggrek potong lebih gampang ketimbang anggrek pot. “Anggrek pot harus tunggu hobiis berburu, tidak boleh ketinggalan zaman, dan pemeliharaannya lama. Sedang anggrek potong jenis tidak berubah dan permintaan rutin,” papar alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.

Sebagai usaha sampingan anggrek potong cukup menguntungkan. Setiap hari ayah 4 putri itu mengantungi omzet Rp2-juta. Pendapatan itu lebih besar dibanding pekerjaan tetapnya sebagai notaris. Hanya 2 bulan saja Suro dan Safar-penghasilan merosot. Paling bisa menjual 2.000 kuntum/ hari dengan harga Rp300/kuntum. Biasanya saat itu dimanfaatkan untuk memacu produksi. Karena bulan berikutnya penjualan pulih kembali, terutama akhir tahun melonjak hingga 200%.

Usaha modal Rp100-juta yang dibenamkan Rudy untuk lahan seluas 6.000-m2 kembali setelah 1,5 tahun. Itu yang membuat alumnus Universitas Surabaya itu memperluas lahan menjadi 2 ha. Keuntungan lain, “Dengan menjual 1 tanaman apkir berarti sudah membayar biaya perawatannya selama 4 tahun,” lanjutnya. Yeni hanya mengeluarkan dana Rp25.000/bulan saat musim hujan dan Rpl5.000 musim kemarau untuk pupuk dan pestisida.

Jenis dendrobium potong yang jadi incaran berwarna ungu : sonia, earsakul; dan warna putih : snow white, chavine. Selain memang disukai konsumen, jenis tadi cocok untuk bunga potong. Terutama chavine, seperti mesin pencetak uang. Lantaran rajin berbunga, jumlah kuntum banyak, tangkai panjang, dan tahan lama. Setelah dipotong anggrek harus mampu bertahan 2 pekan tanpa bahan pengawet. Penggunaan anggrek potong beralih ke dekorasi mangan atau corsase pengantin sehingga warna pucat seperti kuning dan hijau tidak disukai.

Sempat Lesu

Manisnya bisnis dendrobium potong tidak dirasakan pekebun di Jakarta. Pasar Jakarta malah lesu. Gejala itu dirasakan sejak akhir 2020. “Padahal biasanya malah kekurangan stok,” ujar Toto Atmaja, staf Sawangan Orchid. Sebelumnya volume penjualan mencapai 10.000 tangkai per bulan, sekarang merosot menjadi 7.000 tangkai. Celakanya harga dipukul rata Rp 1.000 sampai 2.600 per tangkai. Saat berjaya ukuran XS 3 sampai 4 kuntum Rp 1.000; S (5 sampai 6 kuntum) Rpl.500; M (6 sampai 7 kuntum) Rp2.000; L (8 sampai 9 kuntum) Rp2.500; dan XL (lebih dari 10 kuntum) Rp3.000.

Sepinya pasar membuat beberapa pedagang rugi. H.M Aseli, pemilik Sari Wardati Florist, rugi mencapai separuh dari modal. Yang biasanya bisa menjual 400 tangkai/hari sekarang hanya laku 200 tangkai. Namun, itu tidak membuat H.M Aseli mundur. “Bisnis dendrobium potong lebih bagus dibanding bunga potong lain karena harga anggrek lebih stabil,” paparnya.

Pembayaran yang sering diutangkan kerap jadi masalah pekebun anggrek. Sawangan Orchid misalnya ratusan tangkai dendrobium potong pembayarannya seret. Untuk mengatasinya, langganan yang bermasalah tidak dipasok lagi.

Untuk menekan kerugian, pekebun menyisipkan beberapa anggrek pot untuk menutupi tipisnya keuntungan bunga potong. Sawangan Orchid menyingkirkan 40% anggrek potong. “Po/plant (anggrek pot, red) asal ada bunga pasti laku. Harganya lebih tinggi dibanding dijual bunga potong,” ujar Gunawan.

Pandu Dwilaksono